Home / Urban / Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan / 7. Aku Butuh Kamu Secepatnya!

Share

7. Aku Butuh Kamu Secepatnya!

Author: Leva Lorich
last update Last Updated: 2026-01-22 14:03:51

Simbiosis mutualisme terhenti menggantung tatkala mobil station tersebut memasuki area kampus dimana Intan berkuliah.

Intan merapikan kembali pakaiannya, kemudian membuka pintu. “Mas Pram, tunggu saja disini sebentar. Aku nggak lama kok. Cuma mau ambil jas almamater yang ketinggalan di loker,” Intan melongokkan kepala sejenak ke dalam mobil sebelum pergi.

Pram keluar dari mobil, menyalakan sisa puntungnya yang masih separuh sambil menunggu Intan kembali.

Sesekali tatapan Pram bergerak mengikuti para mahasiswi yang berlalu lalang dengan pakaian menggoda.

'Ini kampus atau catwalk? Banyak banget modelnya!' gumam Pram, matanya tak pernah berhenti memindai setiap onderdil mahasiswi.

Tak lama kemudian dari jauh Pram sudah bisa melihat Intan yang berjalan cepat, atau lebih mirip berlari kecil. Di belakangnya, seorang mahasiswa mengejar tanpa henti.

Hingga akhirnya keduanya tiba di dekat mobil.

“Sayang, kamu jangan salah paham dong. Aku sama Dwi itu cuma temenan, nggak lebih!“ ucap pria yang tadi mengejar Intan.

“Temenan? Temen di ranjang maksud kamu? Nggak usah berkelit deh, Bono. Aku sudah tahu semuanya!“ balas Intan sengit.

Pria yang bernama Bono tersebut masih tak mau menyerah. Ia sangat takut kehilangan donatur tetap sekaya Intan.

“Intan, jangan begitu. Kamu nggak boleh nuduh aku yang tidak-tidak!“ Bono nekat menarik tangan Intan.

Intan serta merta mengibaskan tangannya. “Lepasin, Bono!“

Namun Bono semakin erat menggenggam tangan Intan. “Aku nggak akan lepasin kalau kamu masih marah sama aku,” ancam Bono mulai kehabisan cara.

“Lepaskan!“ Intan semakin emosi, membuat keduanya terlibat dalam aksi tarik menarik yang tak sedap dipandang mata.

Pram yang melihat kondisi semakin tidak kondusif, akhirnya datang memberikan bantuan. “Mas, lepaskan dia!“ bentak Pram memasang mode galak.

“Kamu siapa? Nggak usah belagu deh!“ Bono ikut mengeraskan suara.

“Intan adalah majikanku. Aku sopir keluarganya, jadi wajib untuk melindunginya!“ jawab Pram masih dalam postur tenang.

“Oalah, cuma sopir ternyata. Jangan ikut campur urusanku, Pir. Aku bisa bikin kamu babak belur kalau masih ngeyel. Intan itu pacarku, jadi aku punya hak untuk mengintervensi,” dengus Bono mulai tak sabar.

“Pacar apaan?! Kita sudah putus, Bono, camkan itu!“ tepis Intan tak terima.

“Kalau aku ikut campur, kamu mau apa? Hahh?!“ imbuh Pram menantang.

Intan buru-buru menenangkan Pram. “Mas, jangan diteruskan. Dia itu anggota geng kampus. Lebih baik kita cepat pergi dari sini!“

Perkataan Intan terlambat. Lima orang mahasiswi sudah berdiri di samping Bono dengan tatapan bengis.

“Teman-teman, hajar dia!“ perintah Bono tegas.

Pram segera mendorong Intan mundur. “Biar ku selesaikan mereka,” tukas Pram pendek dan segera menyambut tiga serangan mahasiswa yang datang secara bersamaan.

Tubuh Pram bergerak lincah, seperti menari, menghindari setiap serangan dengan mulus.

Detik berikutnya berubah mencekam saat serangan balasan Pram langsung menjatuhkan satu diantara mereka.

Bamm!

Tak berhenti disitu, Pram dengan beringas kembali mengirimkan satu pukulan dan tendangan yang membuat dua pria lainnya terjengkang ke tanah.

Serangan itu sangat keras hingga membuat ketiganya kesulitan untuk bangkit kembali.

Intan melotot kaget. Selama ini ia hanya tahu Pram yang mahir bertukang, merawat taman, dan mengemudi. Ia tak menyangka jika Pram juga ahli dalam bela diri, terlebih lawan yang dihadapi Pram adalah kawanan geng kampus yang terlatih.

Bono meraung marah. “Brengsek! Kita serang dia!“ ia dan dua pria tersisa segera merangsek maju memperpendek jarak dengan Pram.

Namun lagi-lagi Pram menunjukkan level bela dirinya yang jauh melampaui mereka.

Tap!

Tapp!

Ia menangkis serangan dengan sangat apik. Membuat Bono dan dua temannya tercengang.

Tak ingin berlama-lama, Pram segera menuntaskan pertarungan dengan mengirim satu putaran tendangan di udara yang menghempas ketiganya sekaligus.

Ketiganya meraung kesakitan di tanah.

“Aku peringatkan kalian, dan terutama kamu, es bonbon. Jauhi Intan dan jangan sekali-kali mengusiknya lagi! Jika besok-besok aku masih melihat upaya bodoh yang kalian lakukan, jangan menangis jika kaki atau tangan kalian patah!“ seru Pram tegas.

Mobil kembali melaju di jalanan Ibu Kota. Intan masih terpana melihat aksi heroik Pram tadi yang seperti Iko Uwais.

“Mas Pram, terima kasih bantuannya,” ucap Intan tulus.

Pram hanya tersenyum ringan. “Sudah menjadi tugasku, Tan. Meski aku tidak bekerja di rumahmu, aku tetap adalah tetanggamu yang tak bisa abai begitu saja,” jawabnya datar.

“Tapi itu tadi benar-benar bertaruh nyawa loh, Mas. Pokoknya terima kasih. Sebagai tanda terima kasih, Mas boleh minta traktir makan atau yang lain. Aku pasti dengan senang hati mengabulkannya. Mas ingin apa?“ tanya Intan menawarkan.

Pram kembali menggeleng. “Belum terpikirkan. Kapan-kapan saja, ya.“

Intan mengangguk, “Oke deh. Anggap saja aku berhutang satu janji sama Mas Pram,” balasnya.

Namun obrolan itu terganggu oleh nada dering ponsel milik Intan. “Bunda menelepon,” bisik Intan sebelum mengangkatnya.

“Iya, Bun…”

“Intan, berikan ponselmu pada Mas Pram. Bunda ingin berbicara sebentar dengannya,” ucap Sisil dengan intonasi cepat.

Intan segera memberikan ponselnya pada Pram. “Iya, Bu. Saya masih dijalan ini.“

“Pram, cepat pulang. Kalau Intan ngajak mampir-mampir, tolong kamu tolak. Aku butuh kamu secepatnya!“

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   7. Aku Butuh Kamu Secepatnya!

    Simbiosis mutualisme terhenti menggantung tatkala mobil station tersebut memasuki area kampus dimana Intan berkuliah.Intan merapikan kembali pakaiannya, kemudian membuka pintu. “Mas Pram, tunggu saja disini sebentar. Aku nggak lama kok. Cuma mau ambil jas almamater yang ketinggalan di loker,” Intan melongokkan kepala sejenak ke dalam mobil sebelum pergi.Pram keluar dari mobil, menyalakan sisa puntungnya yang masih separuh sambil menunggu Intan kembali. Sesekali tatapan Pram bergerak mengikuti para mahasiswi yang berlalu lalang dengan pakaian menggoda.'Ini kampus atau catwalk? Banyak banget modelnya!' gumam Pram, matanya tak pernah berhenti memindai setiap onderdil mahasiswi.Tak lama kemudian dari jauh Pram sudah bisa melihat Intan yang berjalan cepat, atau lebih mirip berlari kecil. Di belakangnya, seorang mahasiswa mengejar tanpa henti.Hingga akhirnya keduanya tiba di dekat mobil.“Sayang, kamu jangan salah paham dong. Aku sama Dwi itu cuma temenan, nggak lebih!“ ucap pria yang

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   6. Obat Duka Lara

    “Tari! Apa-apaan sih? Kamu kelewatan, Tar!“ Pram tentu saja marah menerima perlakuan itu.“Hei, hei, hei! Aku nggak kelewatan tuh. Cuma bantu mandiin kamu biar agak bersihan,” senyum puas Tari terkembang. “Tapi kamu memang ada benarnya. Harga dirimu tak jauh lebih berharga dari air mineral bekas ini,” imbuhnya penuh penghinaan.Wajah Pram merah padam. Ia terpaksa pulang demi meredam emosinya yang bisa berakibat fatal jika terus meladeni Tari.—Beberapa hari kemudian, panggilan datang dari Intan, anak angkat kedua Sisil. Usianya 25 tahun. Tak kalah dari Sisil dan Dara, wajah Intan juga cantik.“Mas Pram, tolong antar aku ke kampus. Sopir keluarga lagi cuti, istrinya melahirkan,” pinta Intan menemui Pram di taman rumah.“Aku lagi ada tugas menata taman, Tan. Kalau bundamu marah gimana hayo?“ tampik Pram karena memang ia sudah ada tugas hari itu.“Ini juga atas persetujuan bunda, Mas. Kata bunda sebaiknya aku diantar Mas Pram aja. Bunda justru nggak tenang kalau aku naik ojek online,” t

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   5. Sangat Terhina

    Secepatnya ia meraih pinggang Dara untuk menghindar, namun—Sratt!Ujung runcing rak besi yang roboh masih sedikit mengenai paha Dara. “Aduhhh, Mas Pram!” Dara menekan paha atasnya yang mengeluarkan darah, wajahnya berkerut menahan sakit.Reflek Pram menyingkap rok pendek Dara untuk memeriksa luka tersebut, namun seketika ia menjadi tertegun mendapati segitiga berwarna merah muda yang terpampang jelas di depan matanya.Dara segera menyadari tatapan Pram ke bagian tersebut. “Biar aku sendiri, Mas,” tangannya bergerak hampir menyentuh luka goresan di pahanya sendiri.Namun gerakan tangan Pram menghentikan niat itu. “Ini bukan luka biasa, Ra. Kalau salah ditanganin malah tetanus gimana?“ tegur Pram.Dara akhirnya menarik kembali tangannya, membiarkan paha itu kembali terbuka bebas mempertontonkan kain segitiga murah muda yang sedikit ketat karena kekecilan.Plekk!Plekk!Bukannya mengobati, Pram justru menampar-nampar bagian paha Dara di sekeliling luka tersebut.“Mas, kok—”“Ini disebu

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   4. Mulai Gila

    Selama memperbaiki kaki ranjang, pikiran Pram menjalar kemana-mana. Ia benar-benar tidak bisa fokus. Pasalnya, Sisil mondar-mandir di belakangnya sambil sesekali mengecek pekerjaan Pram. Wanita itu menunduk dan mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada lengan Pram. “Gimana, Mas? Bisa nggak?” tanya Sisil. Pram menangkapnya seperti sebuah bisikan. “B-bisa, Bu, sebentar,” jawab Pram terbata. Pram melirik Sisil sejenak, pandangan wanita itu fokus kepada kaki ranjang yang tengah dibetulkan Pram. Sisil lalu mengangguk. Untuk sesaat, Pram lega karena tidak ada ucapan apa-apa lagi dari Sisil yang bisa membuatnya berpikir macam-macam. Namun, ia salah.Tangan Sisil tiba-tiba mengelus lengan bagian atas milik Pram sebelum beranjak pergi. Bulu-bulu di tubuh Pram naik seketika. Perkakas di tangan Pram juga lepas begitu saja karena terkejut. “Eh- aduh!”“Kenapa, Mas?” Sisil berseru.“Nggak, Bu!” katanya. Tangannya yang berkeringat terasa semakin basah karena gugup. Setelah beberapa lama, Pra

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   3. Mau Yang Kokoh

    “Ma-maaf, Bu!” Pram kalang kabut menutup pusat pancaran air dengan tangannya. Namun karena panik, tangannya jadi tidak cekatan dan justru membuat air semakin menyebar tanpa terkendali. Sekujur badan Pram sudah basah oleh air, begitu juga dengan Sisil. Lekuk tubuh Sisil terlihat meremang dari balik gaun tidurnya yang basah tersebut. Pram meraih karet bannya kembali dan menyumpalkannya pada bagian paralon yang mengeluarkan air. Keadaan teratasi. Air berhenti mengalir seketika. Namun keadaan menjadi berubah sedikit canggung bagi Pram. Ia terpaku diam. Ia memerhatikan Sisil yang sigap mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi. Sisil lalu memberikannya pada Pram. “Pakai handuk, Mas. Nanti kamu kedinginan!” perintahnya, bahkan sambil membantu menggosokkan handuk ke tubuh Pram. Pram membeku, bukan karena perlakukan Sisil yang menggosokkan handuk ke tubuhnya, melainkan adanya gesekan lembut dan tak disengaja dari bagian depan tubuh Sisil yang menempel di lengannya. “Maa

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   2. Basah-basahan

    Sekujur tubuh Pram mendadak kaku. Pikirannya kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu tangan Pram yang lain memeluk pinggang Sisil yang begitu ramping. Tubuh keduanya saling menempel.Setelah beberapa saat, Pram pada akhirnya kembali sadar. Ia lalu melepaskan Sisil dari genggamannya perlahan, memastikan wanita itu dapat berdiri tegap. “Ma-maaf, Bu! Saya nggak sengaja!” seru Pram dengan nada panik.Sisil menggeleng. “Ahh.. bukan salah kamu, Mas…. Aku yang nggak hati-hati,” ia seolah mengabaikan tangan Pram. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku tadi sudah jatuh ke lantai.”Pram kembali kaget. Suara Sisi lagi-lagi seperti mendesah.Pram bahkan sampai menggoyangkan kepalanya beberapa kali, berpikir ia sedang berhalusinasi lagi.“Makasih ya, Mas, sudah nolongin aku,” Sisil meletakkan tangannya di dada Pram.“I-iya, Bu,” jawab Pram terbata. Di hadapannya, Sisil masih tersenyum.Ketika Sisil menjauhkan tangannya dari dada Pram, Pram merasakan wanita itu seperti mengelus dadanya sin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status