Masuk"Silakan, Bu. Biar sisanya saya yang beresin," jawab Pram dengan suara yang sedikit parau.
Pram menatap punggung Sisil yang melenggang masuk ke dalam rumah, memperhatikan goyangan bantalan belakangnya yang sangat padat di balik daster basah itu. Setelah Sisil menghilang di balik pintu, Pram segera duduk di kursi teras garasi untuk melepas lelah. Ia menyandarkan punggungnya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang sekaligus berusaha menidurkan si tongkat baseball di balik celananya yang sudah menegang keras sejak tadi. "Duh, Bu Sisil... bener-bener pinter banget bikin orang jantungan pagi-pagi begini," gumam Pram sambil mengusap wajahnya yang masih terasa panas. — Karena Sisil ada urusan lain, keesokan harinya Pram melayani permintaan putri angkat kedua Sisil, Intan, untuk mengantar ke kampus. “Mas Pram, tunggu saja disini sebentar. Aku nggak lama kok. Cuma mau ambil jas almamater yang ketinggalan di loker,” Intan melongokkan kepala sejenak ke dalam mobil sebelum pergi masuk ke gedung kampus. Pram keluar dari mobil, menyalakan sisa puntungnya yang masih separuh sambil menunggu Intan kembali. Sesekali tatapan Pram bergerak mengikuti para mahasiswi yang berlalu lalang dengan pakaian menggoda. 'Ini kampus atau catwalk? Banyak banget modelnya!' gumam Pram, matanya tak pernah berhenti memindai setiap onderdil mahasiswi. Tak lama kemudian dari jauh Pram sudah bisa melihat Intan yang berjalan cepat, atau lebih mirip berlari kecil. Di belakangnya, seorang mahasiswa mengejar tanpa henti. Hingga akhirnya keduanya tiba di dekat mobil. “Sayang, kamu jangan salah paham dong. Aku sama Dwi itu cuma temenan, nggak lebih!“ ucap pria yang tadi mengejar Intan. “Temenan? Temen di ranjang maksud kamu? Nggak usah berkelit deh, Bono. Aku sudah tahu semuanya!“ balas Intan sengit. Pria yang bernama Bono tersebut masih tak mau menyerah. Ia sangat takut kehilangan donatur tetap sekaya Intan. “Intan, jangan begitu. Kamu nggak boleh nuduh aku yang tidak-tidak!“ Bono nekat menarik tangan Intan. Intan serta merta mengibaskan tangannya. “Lepasin, Bono!“ Namun Bono semakin erat menggenggam tangan Intan. “Aku nggak akan lepasin kalau kamu masih marah sama aku,” ancam Bono mulai kahabisan cara. “Lepaskan!“ Intan semakin emosi, membuat keduanya terlibat dalam aksi tarik menarik yang tak sedap dipandang mata. Pram yang melihat kondisi semakin tidak kondusif, akhirnya datang memberikan bantuan. “Mas, lepaskan dia!“ bentak Pram memasang mode galak. “Kamu siapa? Nggak usah belagu deh!“ Bono ikut mengeraskan suara. “Intan adalah majikanku. Aku sopir keluarganya, jadi wajib untuk melindunginya!“ jawab Pram masih dalam postur tenang. “Oalah, cuma sopir ternyata. Jangan ikut campur urusanku, Pir. Aku bisa bikin kamu babak belur kalau masih ngeyel. Intan itu pacarku, jadi aku punya hak untuk mengintervensi,” dengus Bono mulai tak sabar. “Pacar apaan?! Kita sudah putus, Bono, camkan itu!“ tepis Intan tak terima. “Kalau aku ikut campur, kamu mau apa? Hahh?!“ imbuh Pram menantang. Intan buru-buru menenangkan Pram. “Mas, jangan diteruskan. Dia itu anggota geng kampus. Lebih baik kita cepat pergi dari sini!“ Perkataan Intan terlambat. Lima orang mahasiswi sudah berdiri disamping Bono dengan tatapan bengis. “Teman-teman, hajar dia!“ perintah Bono tegas. Pram segera mendorong Intan mundur. “Biar ku selesaikan mereka,” tukas Pram pendek dan segera menyambut tiga serangan mahasiswa yang datang secara bersamaan. Tubuh Pram bergerak lincah, seperti menari, menghindari setiap serangan dengan mulus. Detik berikutnya berubah mencekam saat serangan balasan Pram langsung menjatuhkan satu diantara mereka. Bamm! Tak berhenti disitu, Pram dengan beringas kembali mengirimkan satu pukulan dan tendangan yang menbuat dua pria lainnya terjengkang ke tanah. Serangan itu sangat keras hingga membuat ketiganya kesulitan untuk bangkit kembali. Intan melotot kaget. Selama ini ia hanya tahu Pram yang mahir bertukang, merawat taman, dan mengemudi. Ia tak menyangka jika Pram juga ahli dalam bela diri, terlebih lawan yang dihadapi Pram adalah kawanan geng kampus yang terlatih. Bono meraung marah. “Brengsek! Kita serang dia!“ ia dan dua pria tersisa segera merangsek maju memperpendek jarah dengan Pram. Namun lagi-lagi Pram menunjukkan level bela dirinya yang jauh melampaui mereka. Tap! Tapp! Ia menangkis serangan dengan sangat apik. Membuat Bono dan dua temannya tercengang. Tak ingin berlama-lama, Pram segera menuntaskan pertarungan dengan mengirim satu putaran tendangan di udara yang menghempas ketiganya sekaligus. Ketiganya meraung kesakitan di tanah. “Aku peringatkan kalian, dan terutama kamu, es bonbon. Jauhi Intan dan jangan sekali-kali mengusiknya lagi! Jika besok-besok aku masih melihat upaya bodoh yang kalian lakukan, jangan menangis jika kaki atau tangan kalian patah!“ seru Pram tegas. — Mobil kembali melaju di jalanan Ibu Kota. Intan masih terpana melihat aksi heroik Pram tadi yang seperti Iko Uwais. “Mas Pram, terima kasih bantuannya,” ucap Intan tulus. Pram hanya tersenyum ringan. “Sudah menjadi tugasku, Tan. Meski seandainya aku tidak bekerja di rumahmu, aku tetap adalah tetanggamu yang tak bisa abai begitu saja,” jawabnya datar. “Tapi itu tadi benar-benar bertaruh nyawa loh, Mas. Pokoknya terima kasih. Sebagai tanda terima kasih, Mas boleh minta traktir makan atau yang lain. Aku pasti dengan senang hati mengabulkannya. Mas ingin apa?“ tanya Intan menawarkan. Pram kembali menggeleng. “Belum terpikirkan. Kapan-kapan saja, ya.“ Intan mengangguk, “Oke deh. Anggap saja aku berhutang satu janji sama Mas Pram,” balasnya. Namun obrolan itu terganggu oleh nada dering ponsel milik Intan. “Ibu menelepon,” bisik Intan sebelum mengangkatnya. “Iya, Bu…” “Intan, berikan ponselmu pada Mas Pram. Ibu ingin berbicara sebentar dengannya,” ucap Sisil dengan intonasi cepat. Intan segera memberikan ponselnya pada Pram. “Iya, Bu. Saya masih dijalan ini.“ “Pram, cepat pulang. Kalau Intan ngajak mampir-mampir, tolong kamu tolak. Aku butuh kamu secepatnya!“"Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke
"Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum
"Ada apa lagi, Dara? Masih ada tugas lain? Aku lagi tanggung nih nyuci mobil kamu tadi," tanya Pram sesaat setelah pintu kayu jati kamar Dara terbuka sedikit dari dalam.Dara tidak langsung menjawab. Wajah cantiknya nampak sangat datar, matanya menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun menyimpan bara yang siap meledak. Ia hanya memberikan perintah singkat dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Masuk!"Pram melangkah masuk dengan ragu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Dara segera menutup pintu itu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Clak!Clak!Pram berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu, menanti apa yang akan dilakukan oleh putri sulung Sisil tersebut.Dara berjalan dengan langkah tegas menuju lemari pakaian mewahnya. Amarah yang ia rasakan sejak di bangunan milik Sonya tadi nampaknya belum surut sama sekali. Ia membuka laci rahasia di b
Clak! “Toiletnya bersih banget, Tante. Airnya juga kenceng, pas banget buat kenyamanan pelanggan nanti," ujar Dara sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar setelah membasuh muka.Pembicaraan rahasia antara Pram dan Sonya seketika terhenti. Pram segera menarik diri satu langkah menjauh dari Sonya, memasang wajah sedatar mungkin seolah mereka hanya sedang membicarakan teknis bangunan. Jantungnya masih berdegup kencang karena tuduhan tak berdasar dari Sonya.Dara kemudian mendekat ke arah jendela besar di lantai satu, menatap ke arah jalan raya. "Kira-kira kapan bangunan ini udah bisa aku gunain, Tante? Aku pengen secepatnya masukin interior sama barang-barang butik."Sonya tersenyum profesional, mencoba mengabaikan sisa ketegangan dengan Pram. "Sebaiknya setelah minggu depan aja, Mbak Dara. Biar kami bersihin dulu sebelum ditempati."Dara mengangguk setuju, ia nampak tidak sabar untuk memu
"Iya, aku kenal beliau," jawab Pram dengan nada kaku, berusaha menutupi kepanikan.Dara justru nampak antusias, ia melangkah maju dengan gaya anggunnya dan berdiri di samping Pram.“Wah, bagus dong kalau gitu. Jadi lebih enak kita bicaranya kalau udah saling kenal. Kenal di mana kalian sebelumnya? Kok Mas Pram nggak pernah cerita punya kenalan pemilik bangunan sehebat Tante Sonya?"Sonya segera membuka mulutnya, matanya melirik ke arah Pram dengan dahi berkerut. "Kebetulan aku adalah ibu kos dari—""Sarah!" potong Pram dengan cepat, suaranya naik satu oktaf demi mencegah Sonya menyebutkan nama Tari yang bisa memicu perang dunia di keluarga Sisil. Pram melemparkan tatapan penuh isyarat pada Sonya, sebuah tatapan memohon sekaligus peringatan agar wanita itu mengikuti permainannya.Sonya segera menangkap maksud dari kode mata Pram. Ia berdehem pelan dan memperbaiki posisi kacamatanya."Sarah? Sarah siapa, Mas?" tanya Dara
"Dara, nggak usah ya. Simpan aja tenagamu buat aktivitas hari ini. Mas beneran lagi nggak mood buat begituan sekarang," kata Pram sambil menepis pelan tangan Dara yang sudah mulai merayap liar di atas pahanya.Dara seketika memundurkan duduknya kembali ke posisi semula. Wajahnya yang tegas mendadak berubah murung, bibirnya ditekuk kebawah dengan raut kecewa. "Kenapa sih, Mas? Kok ditolak mentah-mentah gitu? Apa karena servis mulut aku kemarin-kemarin kurang enak ya? Atau Mas bosen sama aku?"Pram menghela napas panjang, ia melirik sekilas ke arah Dara yang nampak sangat tersinggung. "Bukan gitu, Dara. Kamu itu hebat, aku selalu suka cara kamu pakai bibir kamu itu. Tapi jujur, Mas lagi nggak mood aja. Pikiranku masih ke mana-mana, badan juga rasanya nggak enak."Dara terdiam sejenak, ia merapikan blazernya yang sedikit terbuka memperlihatkan renda penyangga dadanya yang menggoda. "Terus, apa yang bisa bikin mood Mas Pram membaik lagi? Ak







