登入Emily merasakan dingin menjalar hingga ke ujung jarinya saat ia menatap gelas wiski yang diletakkan Kael tepat di depannya. Tawaran itu, atau lebih tepatnya instruksi, itu terdengar seperti lonceng kematian bagi penyamarannya.Jika ia berada terlalu dekat dengan Kael, setiap gerak-geriknya akan diawasi secara mikroskopis. Satu kesalahan kecil, dan identitasnya sebagai Emily Dawson akan terungkap.“Tuan Duke, Anda pasti bercanda,” Emily tertawa kecil yang dipaksakan, mencoba mengalihkan ketegangan.“Saya ini Elian, anak desa yang lebih sering menjatuhkan piring daripada menyusun kalimat. Jangankan dokumen negara, menghitung jumlah sendok di dapur saja saya sering keliru.”Kael menyesap wiskinya perlahan, matanya tidak sekalipun beralih dari wajah Emily.“Kecerobohan adalah alasan bagi orang-orang yang malas melatih fokus mereka, Elian. Kau tidak bodoh. Seorang pria bodoh tidak akan bisa menganalisis jalur pelayaran Selat Hitam sepertimu tadi.”“Itu hanya keberuntungan, Tuan! Saya bersu
Kael berbalik dan memberi isyarat dengan lambaian tangan agar Emily mengikutinya menuju sebuah bangunan kayu permanen yang berdiri kokoh di ujung dermaga.Itu adalah kantor otoritas pelabuhan pribadi milik keluarga Ravenshire. Begitu pintu kayu jati yang berat itu terbuka, aroma tembakau cerutu yang pekat langsung menyergap, bercampur dengan bau kertas perkamen tua dan minyak pelumas mesin yang menyengat.Ruangan itu berantakan dengan cara yang sangat maskulin. Peta-peta navigasi berukuran besar dipaku secara serampangan di dinding, beberapa menunjukkan rute laut menuju benua seberang dengan garis-garis merah yang tegas. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni besar tertimbun dokumen-dokumen yang disegel lilin.“Duduklah, Elian. Aku benci bicara dengan orang yang berdiri di belakangku seolah mereka sedang bersiap untuk menusuk,” perintah Kael sambil melangkah menuju kursinya yang empuk.Emily menarik sebuah kursi kayu sederhana dengan ragu. “Tempat ini... sangat penuh dengan informasi,
Emily terkesiap, kepalanya segera tertunduk dalam hingga dagunya hampir menyentuh kerah seragamnya yang kasar. Ia bisa merasakan aliran darah menderu di pelipisnya.“Tentu saja tidak, Tuan Duke. Ampuni kelancangan saya. Saya hanya seorang pelayan ceroboh yang khawatir jika keterlambatan kita akan membuat Nyonya Habbart murka karena makan malam Anda mendingin.”“Makan malam bisa dipanaskan kembali, Elian. Tapi rasa ingin tahu yang meluap-luap? Itu sering kali berakhir dengan tragedi,” sahut Kael, suaranya tenang namun memiliki ketajaman seperti mata pisau yang baru diasah.Dalam tunduknya, batin Emily bergolak hebat. Ia teringat pada sore-sore yang panjang di perpustakaan rumah keluarga Dawson, di mana aroma cerutu ayahnya bercampur dengan bau kertas perkamen kuno.“Emily, jangan hanya melihat gambar petanya,” suara ayahnya terngiang jelas di benaknya.“Lihatlah rute perdagangannya. Siapa yang menguasai pelabuhan, dia yang memegang nadi kekaisaran. Diplomasi bukan soal siapa yang palin
Kael mulai melangkah menyusuri dermaga kayu yang berderit, tangannya disilangkan di balik punggung yang tegak lurus.Emily mengikuti di belakang, setiap langkahnya terasa berat seolah-olah papan kayu di bawah kakinya adalah jerat yang siap mengunci.Langit di ufuk barat telah berubah menjadi palet jingga dan ungu, memantulkan cahaya tembaga yang berkilauan di atas riak air laut yang tenang.Pemandangan itu seharusnya indah, namun bagi Emily, warna merah di langit itu mengingatkannya pada kobaran api yang menghanguskan hidupnya di Bea Cukai.Keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh pekikan burung camar yang terbang rendah dan deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga.Emily meremas tas kulit yang ia bawa, merasakan tekanan dari kertas yang tersembunyi di balik korsetnya. Ia merasa tercekik oleh kesunyian ini.“Tuan Duke,” suara Emily keluar tipis, nyaris tertelan angin laut.Kael tidak menoleh. Ia terus berjalan dengan langkah panjang yang efisien.“Bicaralah jika
Emily duduk di atas bongkahan batu besar yang menjorok ke bibir pantai, tak jauh dari dermaga tempat kapal uap Duke bersandar. Lucian duduk di sampingnya, memegangi kedua tangannya yang sedingin es.“Lucian, pikirkanlah,” bisik Emily, matanya terpaku pada buih ombak yang menghantam karang.“Bagaimana mungkin seorang pria secermat Kael meninggalkan bukti sepenting itu di laci yang bisa dibuka dengan kunci yang ditinggalkan begitu saja di atas nakas? Apakah aku yang terlalu cerdik, atau dia yang sengaja membiarkan pintunya terbuka?”Lucian menarik napas berat, uap putih keluar dari mulutnya. “Kau berpikir dia memancingmu?”“Itu masuk akal, bukan?” Emily menoleh, matanya berkilat di bawah cahaya bulan yang redup.“Dia tahu aku sering masuk ke kamarnya sebagai pelayan. Dia tahu aku punya rasa ingin tahu yang besar. Jika dia sengaja menaruh kertas itu di sana untuk melihat apakah aku akan mengambilnya, maka saat ini aku sedang berjalan menuju perangkap yang sudah ia siapkan sejak awal.”“J
“Hentikan bicara sembarangan itu, Emily,” bisik Lucian dengan suara parau yang tertutup deru angin laut yang mulai masuk lewat celah pintu kereta.“Kau tidak akan mati malam ini. Kau harus hidup untuk mencari tahu siapa pria berjubah hitam itu. Sebelum Kael mencium bau pengkhianatan di kastilnya, kau harus sudah memegang leher musuhmu yang sebenarnya.”Emily menarik napas panjang, aroma garam dan amis laut kini memenuhi paru-parunya. “Bagaimana aku bisa mencarinya jika setiap sudut tempat ini terasa seperti jebakan? Surat ini, Lucian... surat ini adalah kuncinya, tapi juga sekaligus vonis matiku.”Emily mengeluarkan kertas hangus itu sekali lagi, membiarkan cahaya lampu minyak yang bergoyang menyinari tulisan tangan yang kejam itu. Lucian mendekat, membaca baris demi baris dengan tangan yang mulai gemetar hebat. Wajah pria tua itu tampak sangat terguncang, lebih dari yang Emily duga.“Demi Tuhan, Emily...” gumam Lucian, suaranya bergetar karena ngeri. “Hancurkan kertas ini. Sekarang j