مشاركة

Bab 96

مؤلف: Leona Valeska
last update تاريخ النشر: 2026-05-10 19:55:58

Kael mulai melangkah menyusuri dermaga kayu yang berderit, tangannya disilangkan di balik punggung yang tegak lurus.

Emily mengikuti di belakang, setiap langkahnya terasa berat seolah-olah papan kayu di bawah kakinya adalah jerat yang siap mengunci.

Langit di ufuk barat telah berubah menjadi palet jingga dan ungu, memantulkan cahaya tembaga yang berkilauan di atas riak air laut yang tenang.

Pemandangan itu seharusnya indah, namun bagi Emily, warna merah di langit itu mengingatkannya pada kobara
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 96

    Kael mulai melangkah menyusuri dermaga kayu yang berderit, tangannya disilangkan di balik punggung yang tegak lurus.Emily mengikuti di belakang, setiap langkahnya terasa berat seolah-olah papan kayu di bawah kakinya adalah jerat yang siap mengunci.Langit di ufuk barat telah berubah menjadi palet jingga dan ungu, memantulkan cahaya tembaga yang berkilauan di atas riak air laut yang tenang.Pemandangan itu seharusnya indah, namun bagi Emily, warna merah di langit itu mengingatkannya pada kobaran api yang menghanguskan hidupnya di Bea Cukai.Keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh pekikan burung camar yang terbang rendah dan deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga.Emily meremas tas kulit yang ia bawa, merasakan tekanan dari kertas yang tersembunyi di balik korsetnya. Ia merasa tercekik oleh kesunyian ini.“Tuan Duke,” suara Emily keluar tipis, nyaris tertelan angin laut.Kael tidak menoleh. Ia terus berjalan dengan langkah panjang yang efisien.“Bicaralah jika

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 95

    Emily duduk di atas bongkahan batu besar yang menjorok ke bibir pantai, tak jauh dari dermaga tempat kapal uap Duke bersandar. Lucian duduk di sampingnya, memegangi kedua tangannya yang sedingin es.“Lucian, pikirkanlah,” bisik Emily, matanya terpaku pada buih ombak yang menghantam karang.“Bagaimana mungkin seorang pria secermat Kael meninggalkan bukti sepenting itu di laci yang bisa dibuka dengan kunci yang ditinggalkan begitu saja di atas nakas? Apakah aku yang terlalu cerdik, atau dia yang sengaja membiarkan pintunya terbuka?”Lucian menarik napas berat, uap putih keluar dari mulutnya. “Kau berpikir dia memancingmu?”“Itu masuk akal, bukan?” Emily menoleh, matanya berkilat di bawah cahaya bulan yang redup.“Dia tahu aku sering masuk ke kamarnya sebagai pelayan. Dia tahu aku punya rasa ingin tahu yang besar. Jika dia sengaja menaruh kertas itu di sana untuk melihat apakah aku akan mengambilnya, maka saat ini aku sedang berjalan menuju perangkap yang sudah ia siapkan sejak awal.”“J

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 94

    “Hentikan bicara sembarangan itu, Emily,” bisik Lucian dengan suara parau yang tertutup deru angin laut yang mulai masuk lewat celah pintu kereta.“Kau tidak akan mati malam ini. Kau harus hidup untuk mencari tahu siapa pria berjubah hitam itu. Sebelum Kael mencium bau pengkhianatan di kastilnya, kau harus sudah memegang leher musuhmu yang sebenarnya.”Emily menarik napas panjang, aroma garam dan amis laut kini memenuhi paru-parunya. “Bagaimana aku bisa mencarinya jika setiap sudut tempat ini terasa seperti jebakan? Surat ini, Lucian... surat ini adalah kuncinya, tapi juga sekaligus vonis matiku.”Emily mengeluarkan kertas hangus itu sekali lagi, membiarkan cahaya lampu minyak yang bergoyang menyinari tulisan tangan yang kejam itu. Lucian mendekat, membaca baris demi baris dengan tangan yang mulai gemetar hebat. Wajah pria tua itu tampak sangat terguncang, lebih dari yang Emily duga.“Demi Tuhan, Emily...” gumam Lucian, suaranya bergetar karena ngeri. “Hancurkan kertas ini. Sekarang j

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 93

    Pikirannya melayang kembali ke malam kebakaran hebat di Bea Cukai. Ingatan tentang lengan kokoh yang menggendongnya keluar dari kobaran api kini berubah menjadi sentuhan yang menjijikkan.Jika pesan “Tikus-tikus Dawson” itu ada di sini, di tangan Kael, maka pria berjubah hitam itu bukanlah malaikat pelindung, melainkan algojo yang mungkin sedang memastikan korbannya benar-benar habis, atau lebih buruk lagi, menjadikannya tawanan dalam rencana yang lebih besar.“Kenapa dia menyelamatkanku jika dia bagian dari mereka?” bisik Emily pada kekosongan.Kesadaran itu menghantamnya seperti gada besi yang telak mengenai ulu hati. Identik. Tidak ada keraguan lagi. Tulisan itu, diksi yang kejam itu, semuanya berasal dari sumber yang sama.“Jika dia menyelamatkanku malam itu hanya untuk mengawasiku...” bisik Emily, suaranya tertelan suara derap kaki kuda. “Berarti aku bukan diselamatkan. Aku sedang dipelihara untuk dihancurkan pada waktu yang tepat.”Ia merasa mual. Perutnya melilit memikirkan bag

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 92

    Dengan tangan gemetar, Emily membuka laci tersebut. Jantungnya berdentum begitu keras, seolah-olah detaknya bisa terdengar hingga ke koridor luar tempat para prajurit mungkin sedang berjaga.Emily tidak membuang waktu lagi, jemarinya yang gemetar namun cekatan segera menyapu bagian dalam laci yang gelap. Di antara tumpukan kunci cadangan dan segel lilin, ia merasakan tekstur kertas yang kasar dan tepian yang rapuh.“Dapat,” bisik Emily. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.Ia menarik kertas itu keluar. Aroma sangit bekas terbakar langsung menyerang indra penciumannya, bercampur dengan bau kayu lama. Emily menoleh sekilas ke arah pintu yang tertutup rapat, memastikan tidak ada bayangan Ben atau prajurit yang mengintai di celah bawah pintu.Di bawah cahaya remang lampu minyak yang ia bawa, ia mulai membuka lipatan kertas itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah satu gerakan kasar akan menghancurkan satu-satunya bukti yang ia miliki.Matanya yang tajam mulai menelusuri baris demi baris

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 91

    Tangan Emily baru saja menyentuh gerendel pintu kayu yang menuju lorong rahasia ketika suara dentum bot militer menghantam lantai batu dengan irama yang mematikan.Dug! Dug! Dug! Suara itu bukan berasal dari satu orang, melainkan sepasukan kecil yang bergerak dengan presisi.Emily tersentak mundur, napasnya tertahan di kerongkongan. “Sial, apakah aku ketahuan?” batinnya panik.Dia pun segera merapatkan punggungnya ke dinding yang lembap, berharap kegelapan malam akan menelannya bulat-bulat. Namun, cahaya obor yang dibawa para prajurit itu lebih cepat darinya.Dua prajurit berseragam biru tua dengan lencana perak berbentuk kepala serigala, pengawal pribadi Duke Kael, muncul dari balik tikungan koridor. Mereka berhenti tepat di depan Emily, menghalangi jalan menuju Menara Barat.“Elian!” bentak salah satu prajurit yang memiliki bekas luka melintang di pipinya. “Kenapa kau masih berkeliaran di sini? Bukankah jam malam pelayan sudah dimulai?”Emily menunduk dalam, mencoba menyembunyikan k

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status