Share

Bab 16

Penulis: Leona Valeska
last update Tanggal publikasi: 2026-04-06 21:51:44

Pagi hari telah tiba. Hal pertama yang Emily rasakan adalah hilangnya beban berat di pinggangnya; lengan Kael sudah tidak lagi melingkar di sana.

Duke itu sudah berdiri di dekat mulut gua, membelakangi Emily sambil mengenakan sarung tangan kulitnya dengan gerakan yang presisi dan tenang.

“Bangun, Elian. Kita kehilangan waktu,” ucap Kael dengan nada datarnya.

Emily segera bangkit, merapikan seragamnya yang kusut dengan tangan gemetar. Ia mengikuti Kael keluar dari gua.

Di luar, beberapa prajurit
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 17

    Lembah kabut yang curam itu menjadi saksi bisu betapa cepatnya situasi berubah dari perburuan menjadi pembantaian.Emily memacu kudanya di belakang Kael, berusaha menjaga keseimbangan di atas tanah yang licin. Suara gonggongan anjing pelacak tiba-tiba berubah menjadi lengkingan kesakitan yang memilukan.“Berhenti!” teriak Komandan Penjaga, namun peringatan itu terlambat.Dua prajurit di barisan depan terperosok saat tanah yang mereka pijak amblas seketika. Itu bukan lubang alami; itu adalah jebakan maut yang ditutupi dengan ranting tipis dan lapisan salju yang menipu.Emily tersentak, ia mengenali pola penyamaran lubang itu. Ayahnya dulu sering mengajarkan Johan cara membuat jebakan seperti ini untuk berburu babi hutan di perkebunan mereka. Strategi ini murni teknik keluarga Dawson.‘Kak Johan benar-benar ada di sini,’ batin Emily dengan jantung yang berdegup kencang.Belum sempat para prajurit menolong rekan mereka yang terperosok, suara denting logam yang dilepaskan terdengar dari b

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 16

    Pagi hari telah tiba. Hal pertama yang Emily rasakan adalah hilangnya beban berat di pinggangnya; lengan Kael sudah tidak lagi melingkar di sana.Duke itu sudah berdiri di dekat mulut gua, membelakangi Emily sambil mengenakan sarung tangan kulitnya dengan gerakan yang presisi dan tenang.“Bangun, Elian. Kita kehilangan waktu,” ucap Kael dengan nada datarnya.Emily segera bangkit, merapikan seragamnya yang kusut dengan tangan gemetar. Ia mengikuti Kael keluar dari gua.Di luar, beberapa prajurit sedang memeriksa area sekitar dengan waspada. Salah satu dari mereka berlutut di dekat tumpukan abu yang masih mengeluarkan sisa uap tipis.“Jejak api unggun, Tuan Duke. Masih sangat baru. Mungkin mereka baru pergi satu jam yang lalu,” lapor prajurit itu.Kael tidak menjawab. Dia hanya menatap abu itu dengan mata abu-abunya yang dingin, seolah sedang menghitung jarak kematian mangsanya.Sementara itu, Emily melangkah sedikit menjauh, berpura-pura memeriksa tanaman di sekitar semak berduri untuk

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 15

    Udara di dalam gua terasa membeku, seolah-olah dinginnya batu meresap langsung ke dalam sumsum tulang.Di luar, badai salju menderu-deru, menutup mulut gua dengan tirai putih yang tebal.Satu api unggun kecil di tengah ruangan hanya menyisakan bara merah yang lemah, memberikan cahaya remang yang tidak cukup untuk mengusir kegelapan di sudut-sudut gua.Para prajurit tidur dalam barisan yang rapat di sisi lain gua, saling berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing.Namun, sebagai pelayan pribadi, Emily tidak memiliki kemewahan untuk bergabung dengan mereka.“Elian. Kemari,” ucap Kael dengan suara beratnya.Emily yang sedang mencoba menggosok kedua telapak tangannya yang membiru, menoleh dengan ragu.“Suhu di sini bisa membunuhmu dalam satu jam jika kau tidur sendirian di pojok itu,” ucap Kael tanpa membuka mata. “Tidur di sini. Kita harus berbagi panas tubuh agar tidak membeku sebelum pagi.”Emily menelan ludah. “Tuan Duke, saya ... saya bisa tidur di dekat api unggun. Saya tidak ingin

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 14

    Malam telah tiba.“Cepat ikat kembali peti-peti itu! Kita harus segera mencari tempat berteduh sebelum badai ini menutup jalur!” teriakan Komandan Penjaga memecah suara angin.Emily bergegas menghampiri kuda cokelatnya yang membawa pasokan senjata cadangan. Tangannya yang masih kaku akibat kedinginan mencoba menarik tali pengikat yang mulai membeku.Jalur yang mereka lalui kini menjadi sangat berbahaya; sisi kanan adalah dinding tebing hitam yang tegak lurus, sementara sisi kiri adalah jurang dalam yang tertutup kabut dan salju.Tiba-tiba, kuda logistik di depan Emily meringkik panik. Tanah lumpur yang bercampur salju di bawah kaki hewan itu amblas. Kuda itu tergelincir, kaki belakangnya menggantung di udara.“Tunggu! Jangan jatuh!” teriak Emily tanpa pikir panjang.Ia lalu melompat dari kudanya dan menerjang maju, mencoba mencengkeram tali kekang kuda yang tergelincir itu agar tidak terseret jatuh ke jurang.Namun, berat beban peti senjata dan kekuatan tarikan kuda yang panik justru

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 13

    “Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih hangat. Saat logam tajam itu menyobek lapisan kulit luar, suara robekan jaringan tubuh hewan itu terdengar nyata di telinganya.Emily memejamkan mata sejenak, sementara jemarinya yang pucat kini mulai berlumuran cairan merah yang lengket.Lucian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang nampan kayu kosong, menatap Emily dengan tatapan iba.Ia tahu Emily adalah seorang wanita yang tidak pernah menyentuh bangkai seumur hidupnya. Lucian ingin sekali merebut pisau itu dan menyelesaikannya dalam sekejap, namun ia sadar bahwa Kael sedang mencari alasan untuk menghukum mereka lebih berat.Dengan langkah pelan, Lucian mendekat seolah-olah ingin memberikan nampan tersebut kepada Emily agar dag

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 12

    Selama perjalanan yang melelahkan, mereka tak kunjung menemukan makanan yang bisa mereka makan.Perut Emily melilit perih, rasa lapar mulai mengikis konsentrasinya, namun ketegangan di sekitarnya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri.Di depannya, Duke Kael memacu kudanya dengan pelan, punggungnya tegak lurus, menolak untuk menunjukkan kelelahan sedikit pun.Di punggung Kael tersampir busur besar yang terbuat dari kayu hitam yang diperkuat dengan lempengan besi di bagian tengahnya. Emily menatap busur itu dengan perasaan ngeri.Ia tahu seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tali busur sekuat itu, dan ia tahu seberapa mematikan akurasi sang Duke.Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya. Pasukan di belakangnya berhenti seketika tanpa suara. Kael turun dari kuda, dia bergerak seperti seringan kucing hutan meski ia mengenakan zirah besi.Ia mengambil busur besarnya, memasang anak panah dengan ujung perak yang tajam, dan mulai membidik ke arah semak belukar di kejau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status