Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal

Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-05-07
โดย:  Noah harun อัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
6บท
5views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Zhuang Ling terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan seorang Jenderal Besar yang mengabaikannya, hingga ia dicap mandul dan terus direndahkan oleh ibu mertuanya. Di tengah keputusasaan saat sang suami justru menghamili selirnya, Zhuang Ling memutuskan untuk bercerai. Namun, hal itu justru mengundang kemurkaan sang suami, yang bertekad untuk menghukum dan mengejar Zhuang Ling yang kabur. Bertahun-tahun kemudian, wanita yang terusir dengan tak terhormat itu kembali lagi, kini dengan kekuatan keturunan sang Kaisar di tangannya!

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1 Perselingkuhan

Di kediaman Jenderal Huang, tepatnya di paviliun bunga…

Di dalam kamar megah yang diterangi cahaya lilin, seorang jenderal dan seorang pelayan sedang larut dalam keintiman yang seharusnya tidak terjadi.

Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai sutra, namun tak satupun dari mereka terganggu.

Seolah dunia di luar kamar itu tidak lagi ada.

“Jenderal… kau memang luar biasa…” suara Lie Ming bergetar pelan, menggigit bibirnya.

Ada sedikit jeda dalam napasnya, seolah ia sendiri tak percaya dengan posisinya sekarang—takut, tapi juga tidak ingin berhenti.

Jenderal Huang tersenyum puas, mengusap peluh di dahinya.

“Lie Ming… kau jauh lebih mengerti aku dibanding istriku yang kaku dan membosankan itu.”

Lie Ming tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sebentar, lalu bersandar di dada sang jenderal.

Ada rasa aman sesaat… tapi juga rasa gelisah yang tidak bisa ia buang.

“Jenderal… kapan aku bisa menjadi istri utama? Aku tidak ingin terus disembunyikan seperti ini…”

Suaranya lebih pelan dari sebelumnya, seperti menahan sesuatu yang sudah lama dipendam.

Jenderal Huang mengelus dagunya dengan tenang.

“Tenang. Jika kau melahirkan anak laki-laki, aku akan menjadikanmu istri.”

Ucapan itu terdengar ringan dari mulutnya, tapi bagi Lie Ming, itu seperti janji yang menentukan hidupnya.

Namun di balik itu, kegelisahan masih ada di hati Lie Ming.

Ia menggigit bibirnya, ragu sebelum berbicara lagi.

“Aku takut… Nyonya Zhuang Ling akan marah dan mengusirku…”

Begitu nama itu disebut, suasana di kamar sedikit berubah.

Bukan karena suara keras, tapi karena perubahan ekspresi.

Wajah Jenderal Huang langsung berubah.

Matanya menajam.

“Dia tidak akan berani melakukan apa pun,” ucapnya dingin.

Nada suaranya turun, lebih berat dari sebelumnya.

“Selama aku yang berbicara, dia harus patuh.”

Lie Ming terdiam, tidak berani menatap langsung.

Lalu Jenderal Huang menambahkan dengan suara lebih tajam:

“Dia bukan siapa-siapa bagiku. Hanya perempuan yang tidak mampu memberi keturunan.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa ragu, tanpa penyesalan.

Di luar kamar, suasana malam tetap tenang.

Tapi di dalam, sesuatu sudah selesai—seolah harga seseorang baru saja dihapus tanpa sisa.

Tanpa mereka sadari, percakapan itu terdengar oleh seorang pelayan dari kediaman Nyonya Zhuang Ling yang sedang melintas di kejauhan.

Awalnya pelayan itu hanya ingin lewat cepat.

Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara dari dalam paviliun.

Ia menoleh perlahan.

Diam.

Lalu perlahan mendekat.

Saat melihat dari celah pintu…

seluruh tubuhnya langsung kaku.

“J-jenderal Huang… di kamar pelayan Lie Ming…?”

Tangannya langsung menutup mulut.

Jantungnya berdegup cepat, terlalu cepat sampai ia merasa sulit bernapas.

Ia ingin segera pergi, tapi kakinya tidak langsung menurut.

Ada rasa takut… tapi juga rasa bersalah karena tahu sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

“Aku harus memberitahu Nyonya…”

Akhirnya ia berbalik dan berlari.

Langkahnya tergesa, hampir tersandung beberapa kali.

Di paviliun anggrek, Nyonya Zhuang Ling sedang merias diri.

Hari itu ia ingin terlihat sempurna di hadapan Jenderal Huang.

Seperti biasa, ia memperhatikan setiap detail wajahnya di depan cermin.

Namun ada sedikit keheningan di matanya.

Keheningan yang tidak ia sadari sendiri.

Tiba-tiba…

“Nyonya…! Nyonya!”

Pelayan itu masuk dengan panik dan langsung bersujud.

“Ada apa sampai kau berteriak seperti itu?” suara Nyonya tenang, tapi alisnya mengerut.

“Bangun. Katakan apa yang terjadi.”

Pelayan itu masih gemetar, napasnya belum stabil.

“Hamba melihat Jenderal Huang masuk ke kamar pelayan Lie Ming…”

Ia berhenti sebentar, seperti takut melanjutkan.

“Dan… mereka berdua…”

Nyonya Zhuang Ling menatap tajam.

“Lanjutkan.”

“Mereka… sedang bermesraan, Nyonya…”

Ruangan itu hening.

Tidak ada suara.

Bahkan udara terasa berhenti sebentar.

Nyonya Zhuang Ling terdiam lama.

Bukan karena tidak percaya.

Tapi karena pikirannya sedang mencoba memahami sesuatu yang sebenarnya sudah mulai ia curigai sejak lama.

Wajahnya tidak langsung marah.

Namun ada sesuatu yang perlahan retak di dalam dirinya.

“Ternyata jenderal lebih suka… pelayan rendahan daripada aku—putri sah pejabat kerajaan,” lirihnya.

Kalimat itu keluar pelan, seperti bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk dirinya sendiri.

Padahal ia sudah berusaha keras.

Minum ramuan dari tabib istana.

Merawat diri, mempercantik wajah.

Selalu tampil sempurna di hadapan suaminya.

Namun semua itu… terasa tidak berarti.

“Semua itu… tidak ada artinya baginya,” gumamnya pelan.

Pelayan di depannya tidak berani bersuara.

Amarah perlahan muncul dari dalam dirinya.

Tapi ia tidak meledak.

Tidak sekarang.

Untuk sesaat ia hanya diam.

Lalu ia berkata dingin:

“Quang Ling, tinggalkan aku sendiri. Kamu boleh keluar.”

Pelayan itu ragu.

“Ny… Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?”

Nyonya Zhuang Ling mengangguk pelan.

“Pergi.”

Quang Ling akhirnya menunduk.

“Baik, Nyonya.”

Ia pun keluar dari ruangan itu.

Nyonya Zhuang Ling duduk dalam diam beberapa saat.

Tangannya yang tadi memegang sisir kini diam di atas meja.

Lalu ia berdiri.

Matanya berubah.

Bukan berubah menjadi marah yang meledak.

Tapi menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Ia berjalan keluar dari kamarnya, menuju paviliun bunga—tempat Jenderal Huang berada.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Tapi juga tidak ragu.

Setiap langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Di paviliun bunga, dari kejauhan, bangunan itu tampak tenang.

Tapi bagi Zhuang Ling, itu sudah tidak lagi sama.

Langkahnya semakin dekat.

Semakin cepat.

Amarahnya mulai memuncak… tapi masih tertahan.

Dan kini…

Ia sudah berdiri di depan pintu paviliun bunga.

Tatapannya tajam.

Ke dalam ruangan itu.

Terdengar samar tertawa kecil di dalam ruangan itu, membuatnya kian semakin memuncak emosinya.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
6
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status