MasukZhuang Ling terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan seorang Jenderal Besar yang mengabaikannya, hingga ia dicap mandul dan terus direndahkan oleh ibu mertuanya. Di tengah keputusasaan saat sang suami justru menghamili selirnya, Zhuang Ling memutuskan untuk bercerai. Namun, hal itu justru mengundang kemurkaan sang suami, yang bertekad untuk menghukum dan mengejar Zhuang Ling yang kabur. Bertahun-tahun kemudian, wanita yang terusir dengan tak terhormat itu kembali lagi, kini dengan kekuatan keturunan sang Kaisar di tangannya!
Lihat lebih banyakKaisar Zhang Ziyi menatap sekilas ke arah Jendral Huang. Lalu dengan tatapannya yang tajam, ia berkata, " Jendral!... Aku tidak ingin berperang melawan Zhang Xin. Jika kau ingin balas dendam, itu urusanmu!" " Jangan bawa-bawa kerajaan ini!" teriak Kaisar Zhang Ziyi. Jendral Huang tetap tidak beranjak dari tempatnya. Kata-kata Kaisar membuatnya membeku. Amarahnya memuncak saat itu juga. Ia merasa diperlakukan bukan seperti seorang Jendral yang telah memenangkan banyak peperangan bagi kerajaan. Namun... Ia tidak berani membantah. Setelah Kaisar berlalu meninggalkan aula istana. Jendral Huang perlahan bangkit dari tempatnya. Wajahnya tetap tenang. Tetapi di dalam hatinya, amarah itu terus membakar. Ia lalu berjalan keluar dari ruangan istana. Para menteri dan pejabat negara yang berada di sana memandang ke arahnya. Sebagian menatap sinis. Sebagian lagi saling berbisik satu sama lain. Namun ada juga yang diam-diam mendukungnya. Mereka tahu. Jendral Hu
Setelah melewati malam bersama Lie Ming, Jendral Huang masih terlelap tidur di pagi itu. Lie Ming sudah lebih dulu bangun dan melangkah keluar dari kamarnya. Hari itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Sudah lama Jendral Huang tidak menemaninya seperti semalam. Namun... kegelisahan yang berkembang di dalam hatinya belum juga menghilang. Lie Ming masih diliputi kekesalan terhadap Jendral Huang yang tetap bersikap semena-mena terhadap bawahannya. Kematian Ming Sien menjadi titik balik bagi Lie Ming. Ia mulai menyadari bahwa suatu hari nanti, bisa saja dirinya menghadapi nasib yang sama. Saat ia duduk termenung di pekarangan depan rumah. Udara pagi masih terasa segar. Embun pagi masih menyelimuti rerumputan di sekitar halaman. Lie Ming memperhatikan Shao Yang yang berlari kecil sambil bermain. Tawa anak itu terdengar riang dan lepas. Tak ada beban pikiran. Tak ada kesedihan. Semuanya terasa begitu polos di mata Shao Yang. Lie Ming terseny
Dalam perjalanan pulang menuju kediamannya, Jendral Huang tak banyak bicara. Ia masih terngiang kata-kata Zhuang Ling yang mengatakan, " Bila kita bertemu lagi... maka aku akan membalas dendam atas kematian Ming Sien!" Kata-kata itu membuatnya semakin memikirkan bagaimana caranya untuk segera menghabisi nyawa Zhuang Ling dan Zhang Xin. Namun... ia tak mau gegabah dalam hal ini. Ia harus mencari celah untuk menyerang Zhang Xin tanpa membuat pasukan kerajaan istana menyerang kediamannya. Wajahnya muram dan tak bisa menyembunyikan kekesalan yang semakin memuncak. Sesampainya di kediamannya, Jendral Huang langsung masuk ke dalam ruangan kamarnya. Tiba-tiba ia menghunus pedangnya dan menghantam meja hingga terbelah dua. " Brak!..." Para pelayan di kediaman Jendral Huang terkejut setengah mati mendengar suara keras itu. Di luar ruangan, para pelayan yang melayani Jendral Huang ketakutan dan tak berani mendekat. Mereka segera berlari menuju tempat Lie Ming, istri Jendral
Zhang Xin yang sedang memimpin upacara pemakaman terdiam membisu ketika mengetahui kedatangan Jendral Huang. Wajahnya langsung berubah tegang. Di dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. " Rencana apa lagi yang sedang dipikirkan Jendral Huang?" " Kenapa ia datang ke tempat pemakaman ini?" Zhang Xin tidak berani meremehkan Jendral Huang. Ia tahu pria itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Karena itu ia segera mengambil tindakan. Zhang Xin lalu memerintahkan pasukan kerajaan untuk mencegah Jendral Huang dan pasukannya masuk ke area pemakaman. " Pengawal!... cegah Jendral Huang masuk ke dalam!" " Ini pemakaman istana. Orang luar dilarang masuk!" " Jika ia memaksa, lakukan apa yang harus kalian lakukan!" Perintah Zhang Xin dengan suara tegas. " Baik Yang Mulia!" Jawab para pengawal serempak. Tak lama kemudian. Pasukan kerajaan langsung bergerak. Mereka membentuk barisan dan mengepung jalan masuk menuju area pemakaman. Pedang-pedang mulai dihu
Di kediaman istana, Zhuang Ling tengah berbicara dengan Ming Sien. " Ming Sien... kamu tetap di sini saja. Aku tidak akan membiarkan Jendral Huang mengusikmu." " Aku akan melawannya... jika ia memaksamu untuk kembali ke kediamannya." Ming Sien menundukkan kepalanya. Ia terdiam sejenak. Ma
Jendral Huang menyipitkan matanya. Ia melihat ke arah kejauhan, ingin mengetahui siapa yang berani menghalangi urusannya. Semakin dekat, semakin jelas sosok yang berada di balik kerumunan pasukan kerajaan itu. Jendral Huang sedikit terkejut. Ternyata yang datang menghampirinya adalah Kaisar
Zhuang Ling masuk dan menemukan Ming Sien berada di dalam kamar itu. " Ming Sien... kamu di sini?" " Siapa yang menaruhmu di tempat ini?" Tanya Zhuang Ling heran. Ming Sien tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah kolong ranjang. Zhang Xin masih berada di sana sambil menutup mulutnya
Ming Sien masih berdiri di depan pintu. Tatapannya tidak lepas dari pintu kayu yang tertutup rapat itu. Ia kembali mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga. Namun pintu itu tetap tidak bergerak sedikit pun. Ming Sien kemudian mundur beberapa langkah. Ia mulai memperhatikan ruangan tempat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan