LOGINMasuk ke akademi pria demi menggantikan saudaranya yang sakit ternyata adalah mimpi buruk bagi Rosemary. Ia tidak hanya harus menyembunyikan identitasnya sebagai wanita, tapi juga bertahan di antara dua pria paling berbahaya di akademi. Di satu sisi, teman sekamarnya, Lord Harrington, terlalu jeli dan selalu berada terlalu dekat. Di sisi lain, Pangeran Henry yang tersenyum penuh arti karena perlahan mulai menyadari rahasia terbesar Rosemary. Suara yang terlalu lembut. Tatapan yang terlalu gugup. Dan rahasia di balik kemeja yang tidak pernah dilepas. “Jauhi dia,” kata Benedict dingin. Henry hanya tersenyum. “Kenapa? Karena dia berbahaya… atau karena kau mulai menginginkannya?”
View More“Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”
Langkah Rosemary terhenti.
Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.
Jantung Rosemary berdetak kencang. Keringat mulai menetes di pelipisnya.
Pelan-pelan ia menoleh.
Seorang pria berdiri di hadapannya. Rambut pirangnya tersisir licin, wangi minyak rambut menyengat dari jaraknya. Matanya menyipit.
“Lalu aku harus terlihat seperti apa?” Rosemary menekan suaranya supaya terdengar lebih rendah dan mantap, namun suaranya bergetar di ujung kalimat.
Pria itu melangkah mendekat, sedikit membungkuk hingga wajah mereka nyaris sejajar. “Entahlah,” katanya. “Seingatku, kau seharusnya tidak sependek ini.”
Rosemary tidak menjawab. Ia membuka mulut—lalu menutupnya lagi.
Satu kata yang salah saja … semuanya berakhir.
Tangannya yang basah oleh keringat mengepal disisi tubuhnya.
“Kau ini aneh, Sterling.” Lord Vane meluruskan punggung, tapi sorot matanya tidak berubah. “Aku ingat kau dulu hampir setinggi aku. Sekarang … kau bahkan tidak sampai ke bahu Harrington di belakangku.”
Rosemary refleks melirik ke belakang Lord Vane.
Dan di sanalah ia—Lord Benedict Harrington. Bersandar di dinding, dengan tangan terlipat, dan tatapan mata abu-abu yang tidak bisa dibaca.
Tidak seperti Lord Vane yang sorot matanya penuh curiga, tatapan Harrington kosong. Dan entah kenapa, itu jauh lebih meresahkan.
“Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Vane,” jawab Rosemary akhirnya. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat—sebuah senyum tipis yang dilatihnya di depan cermin berkali-kali. “Orang berubah. Kau sendiri … rambutmu dulu tidak semengilap itu.”
Vane mengerutkan kening. Tapi sebelum mulutnya terbuka—
“Vane.”
Satu kata. Diucapkan dengan suara rendah dan datar. Tapi koridor terasa lebih sempit seketika, membuat bulu kuduk Rosemary berdiri.
Satu kata itu membuat koridor mendadak sunyi. Bahkan Vane langsung tutup mulut.
Benedict Harrington akhirnya bergerak. Ia mendorong tubuhnya dari dinding perlahan, tanpa tergesa, namun entah mengapa gerakan itu terasa seperti ancaman. Ia tidak melihat Vane. Matanya tertuju pada Rosemary.
“Kita akan terlambat untuk upacara pembukaan.” Ia berhenti sejenak. “Dan buang-buang waktu di sini tidak akan mengubah apapun.”
Lord Vane menoleh ke arah Benedict, lalu kembali ke Rosemary. Seringai tipis muncul di wajahnya. “Benar juga." Tangannya menepuk bahu Rosemary dengan keras, lebih keras dari seharusnya. Lalu jari-jarinya mencengkeram kerah mantel coklat lusuh yang dipakainya. “Apa gunanya menginterogasi Viscount miskin yang bahkan tidak bisa membeli jubah akademinya?” Seringai Vane melebar. “Aku dengar pelayan terakhir keluarga Sterling bahkan sudah menjual perabot rumah kalian.”
Kata-kata itu menampar harga diri Rosemary. Namun ia mengunci mulutnya kuat-kuat. Matanya tidak berkedip. Ia sudah terlatih menelan penghinaan.
Benedict melangkah pergi tanpa menoleh, dan Vane mengikutinya.
Saat mereka berjalan di koridor, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan mahasiswa tingkat akhir mundur memberi jalan.
Namun tepat sebelum ia menghilang di tikungan koridor, mata abu-abu itu melirik sekilas ke arah Rosemary. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat jantung Rosemary berdetak dua kali lebih cepat.
Koridor kembali sunyi. Rosemary menghela napas panjang.
Jemarinya masih gemetaran. Ia menyembunyikannya di saku mantel, mengepal kuat-kuat sampai kuku-kukunya menekan telapak tangan. Tenang, perintahnya pada dirinya sendiri. Kau belum gagal.
Ia menegakkan punggungnya, meluruskan bahunya, dan melangkah menuju aula.
“Lord Sterling!”
Rosemary hampir tersentak saat seseorang memanggilnya. Untuk sepersekian detik, ia pikir penyamarannya akan terbongkar.
Oliver Finch berlari kecil ke arahnya, kacamatanya melorot. “Kau di sini! Aku mencarimu ke mana-mana. Upacara pembukaan lima menit lagi!”
Rosemary mengangguk. Ia meluruskan bahunya, menegakkan posturnya.
“Ayo.” Suara Rosemary kembali rendah, kembali stabil. “Kita tidak boleh terlambat.”
Rosemary baru menyadari telapak tangannya mati rasa.
Sial. Sedikit lagi saja dan semuanya bisa terbongkar.
Mereka berjalan menuju aula. Tapi di sepanjang jalan, pikiran Rosemary tidak ikut melangkah bersamanya.
Benedict Harrington berbahaya. Bukan hanya karena ia adalah pewaris dari pria yang telah menghancurkan keluarganya. Pria itu adalah ancaman nyata. Caranya menatap Rosemary—dingin, menguliti, dan tajam layaknya elang yang memantau mangsanya—membuat sekujur bulu kuduk Rosemary meremang.
Dan Rosemary tahu, jika ia tertangkap, semuanya akan berakhir.
Mereka akhirnya tiba di aula, namun pemandangan yang mereka lihat bukan deretan mahasiswa yang berbaris tertib, melainkan kerumunan para mahasiswa membentuk lingkaran.
Rosemary dan Oliver mendekat, berjinjit untuk melihat ke tengah kerumunan.
Dan Rosemary terhenti.
Di tengah lingkaran itu berdiri dua pemuda. Salah satunya berdiri tegak. Posturnya lebih tinggi dari siapapun di ruangan itu, dengan bahu lebar yang dibalut jubah akademi biru tua yang tampak sangat pas di tubuhnya. Rambut hitamnya yang pekat kontras dengan kulitnya yang pucat, dan bahkan dari jarak itu, Rosemary bisa melihat sorot mata warna abu-abu itu.
Rosemary membeku.
Benedict Harrington berdiri di tengah lingkaran mahasiswa. Dan di bawah kakinya—seseorang sedang berlutut.
Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan
Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen
Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam
Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore