LOGINDemi menyelamatkan keluarganya yang bangkrut, Rosemary Sterling terpaksa menyamar sebagai saudara kembar laki-lakinya dan masuk ke Akademi Kingsley. Rencana Rosemary nyaris sempurna, sampai ia harus berbagi kamar dengan Benedict Harrington, pewaris Duke yang keluarganya terlibat dengan kejatuhan keluarga Rosemary. Satu langkah salah, satu kecurigaan kecil, dan seluruh rencananya bisa hancur berantakan. Rosemary tahu aturannya sendiri: jaga jarak, jaga rahasia, jangan sampai ketahuan. Tapi Benedict Harrington bukan orang yang mudah diabaikan. “Kau memang aneh, Sterling … kenapa wajahmu memerah hanya karena aku berdiri di belakangmu?”
View More“Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”
Langkah Rosemary terhenti.
Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi saudaranya.
Jantung Rosemary berdetak kencang. Keringat mulai menetes di pelipisnya.
Pelan-pelan ia menoleh.
Seorang pria berdiri di hadapannya. Rambut pirangnya tersisir licin, wangi minyak rambutnya menyengat. Matanya menyipit.
“Lalu aku harus terlihat seperti apa?” Rosemary menekan suaranya supaya terdengar lebih rendah dan mantap, namun suaranya bergetar di ujung kalimat.
Pria itu melangkah mendekat, sedikit membungkuk hingga wajah mereka nyaris sejajar. “Entahlah,” katanya. “Seingatku, kau seharusnya tidak sependek ini.”
Rosemary tidak menjawab. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Satu kata saja yang salah … semuanya berakhir.
Tangannya yang basah oleh keringat mengepal di sisi tubuhnya.
“Kau ini aneh, Sterling.” Lord Vane meluruskan punggung, tapi sorot matanya tidak berubah. “Aku ingat kau dulu hampir setinggi aku. Sekarang … kau bahkan tidak sampai ke bahu Harrington di belakangku.”
Rosemary refleks melirik ke belakang Lord Vane.
Dan di sanalah ia—Lord Benedict Harrington. Bersandar di dinding, dengan tangan terlipat, dan tatapan mata abu-abu yang tidak bisa dibaca.
Tidak seperti Vane yang sorot matanya penuh curiga, tatapan Harrington kosong, namun terasa lebih meresahkan.
“Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Vane,” jawab Rosemary akhirnya. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat—sebuah senyum tipis yang sudah dilatihnya berkali-kali di depan cermin. “Banyak hal terjadi. Kau sendiri … rambutmu dulu tidak semengilap itu.”
Vane mengerutkan kening. Tapi sebelum mulutnya terbuka—
“Vane.”
Hanya satu kata, yang diucapkan dengan suara rendah dan datar. Tapi koridor terasa lebih sempit seketika, membuat bulu kuduk Rosemary berdiri.
Rosemary tidak yakin apakah itu karena suara baritonnya yang menggema di dinding batu, atau karena cara ia mengucapkan satu kata itu—bukan sebagai panggilan, tapi sebagai perintah yang tidak mengizinkan adanya bantahan.
Benedict Harrington akhirnya bergerak. Ia mendorong tubuhnya dari dinding perlahan, tanpa tergesa, namun entah mengapa gerakan itu terasa seperti ancaman. Ia tidak melihat Vane. Matanya tertuju pada Rosemary.
“Kita akan terlambat untuk upacara pembukaan.” Ia berhenti sejenak. “Dan buang-buang waktu di sini tidak akan mengubah apapun.”
Lord Vane menoleh ke arah Benedict, lalu kembali ke Rosemary. Seringai tipis muncul di wajahnya. “Benar juga." Tangannya menepuk bahu Rosemary dengan keras, lebih keras dari seharusnya. Lalu jari-jarinya mencengkeram kerah mantel coklat lusuh yang dipakainya. “Apa gunanya menginterogasi Viscount miskin yang bahkan tidak bisa membeli jubah akademinya?”
Kata-kata itu menampar harga diri Rosemary. Namun ia mengunci mulutnya kuat-kuat. Matanya tidak berkedip. Ia sudah terlatih menelan penghinaan.
Benedict melangkah pergi tanpa menoleh, dan Vane mengikutinya.
Namun tepat sebelum ia menghilang di tikungan koridor, mata abu-abu itu melirik sekilas ke arah Rosemary. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat jantung Rosemary berdetak dua kali lebih cepat.
Koridor kembali sunyi. Rosemary menghela napas panjang.
Jemarinya masih gemetaran. Ia menyembunyikannya di saku mantel, mengepal kuat-kuat sampai kuku-kukunya menekan telapak tangan. Tenang, perintahnya pada dirinya sendiri. Kau belum gagal.
Ia menegakkan punggungnya, meluruskan bahunya, dan melangkah menuju aula.
“Lord Sterling!”
Ada yang memanggilnya lagi. Kali ini suaranya dari arah berlawanan. Oliver Finch berlari kecil ke arahnya dengan kacamata yang selalu melorot seperti biasa. “Kau di sini! Aku mencarimu ke mana-mana. Upacara pembukaan lima menit lagi!”
Rosemary mengangguk. Ia meluruskan bahunya, menegakkan posturnya.
“Ayo.” Suara Rosemary kembali rendah, kembali stabil. “Kita tidak boleh terlambat.”
Mereka berjalan menuju aula. Tapi di sepanjang jalan, pikiran Rosemary tidak ikut melangkah bersamanya.
Pikirannya berputar pada pria tadi.
Benedict Harrington berbahaya. Bukan hanya karena ia adalah pewaris dari pria yang telah menghancurkan keluarganya. Pria itu adalah ancaman nyata. Caranya menatap Rosemary—dingin, menguliti, dan tajam layaknya elang yang memantau mangsanya—membuat sekujur bulu kuduk Rosemary meremang.
Dan Rosemary tahu, jika ia tertangkap, semuanya akan berakhir.
Mereka akhirnya tiba di aula, namun pemandangan yang mereka lihat bukan deretan mahasiswa yang berbaris tertib, melainkan kerumunan para mahasiswa membentuk lingkaran.
Rosemary dan Oliver mendekat, berjinjit untuk melihat ke tengah kerumunan.
Dan Rosemary terhenti.
Di tengah lingkaran itu berdiri dua pemuda. Salah satunya berdiri tegak. Posturnya lebih tinggi dari siapapun di ruangan itu, dengan bahu lebar yang dibalut jubah akademi biru tua yang tampak sangat pas di tubuhnya. Rambut hitamnya yang pekat kontras dengan kulitnya yang pucat, dan bahkan dari jarak itu, Rosemary bisa melihat sorot mata warna abu-abu itu.
Rosemary membeku.
Itu Benedict Harrington.
Kepalan tangannya terangkat.
Waktu seolah berhenti. Mata abu-abu Benedict menatap langsung ke dalam mata Rosemary. Hening. Hanya napas mereka yang terdengar—napas Rosemary yang memburu, dan napas Benedict yang tenang.Lalu alis Benedict bergerak sedikit. Nyaris tak terlihat. Tapi cukup untuk membuat darah Rosemary membeku.“Kau …,” suaranya pelan, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu.“Lord Harrington!” Suara Master Alden memotong ketegangan. “Cukup. Biarkan dia bangun.”Benedict tidak langsung bergerak. Matanya masih menatap Rosemary. Lalu, dengan gerakan lambat, ia mencabut pedangnya. Ia berbalik dan melangkah pergi, melewati mahasiswa lain yang menyingkir memberinya jalan. Rosemary masih terbaring di lantai, dadanya naik turun. Oliver sudah berlari ke arahnya, tapi pikiran Rosemary bukan pada rasa sakit di punggungnya. Pikirannya pada kata yang belum selesai diucapkan—kau…—dan pada tatapan yang mengikutinya bahkan setelah Benedict pergi. “Kau tidak apa-apa?” tanya Oliver membuyarkan pikiran Rosemar
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, lebih keras dari seharusnya. Otak Rosemary kosong melompong. Semua teori postur tubuh dan teknik tangkisan yang tadi dijelaskan Master Alden menguap tak bersisa. Insting mengambil alih kesadarannya. Mundur. Ia harus mundur dan menjaga jarak.Kaki kanannya melangkah ke belakang, disusul kaki kirinya. Lantai kayu berderit di bawah sepatunya. Benedict tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana dengan pedangnya yang masih terangkat.“Kau tidak akan belajar apa-apa dengan mundur,” suaranya terdengar datar dari balik topengnya.“Aku tidak punya pedang yang sama,” kata Rosemary. Suaranya bergetar di ujung, meskipun ia sudah berusaha menekannya. “Pedangmu asli.”Benedict menurunkan pedangnya dengan p
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Kalau begitu,” Master Alden menjawab datar, “kita semua akan belajar sesuatu.”Henry tertawa kecil. Lalu ia memasang topengnya, mengangkat pedangnya, bersiap dengan posisi sempurna, dan menatap Benedict.“Aku sudah menunggu ini.”Benedict tidak menjawab. Ia hanya memasang topengnya, lalu mengangkat pedang. Ujung pedangnya berkilat terkena cahaya sore yang masuk dari jendela tinggi. Rosemary menelan ludah. Bahkan dari kejauhan, ia bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Udara di arena terasa lebih pengap. Master Alden mengangkat tangan. “Mulai.”Benedict melesat. Langkahnya menimbulkan bunyi derit di lantai kayu yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Tebasannya cepat mengarah ke bahu
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling tampaknya akan menyanggah,” ucap Profesor Vance. “Silakan. Katakan apa pendapatmu.”Rosemary membuka mulut.“Kehormatan yang dibangun di atas kebohongan,” ia memulai, suaranya rendah dan stabil, “bukanlah kehormatan."Beberapa alis terangkat. Oliver, di sampingnya, tersenyum kecil mendengarnya.“Apa yang kita lindungi ketika kita menyembunyikan kebenaran? Nama? Reputasi?” Rosemary melanjutkan. “Atau kita hanya ingin orang lain melihat kita dengan cara tertentu? Keluarga yang benar-benar terhormat adalah keluarga yang berani menghadapi kebenaran, bukan yang bersembunyi di balik kebohongan."Ia berhenti sejenak. Ia menatap sekitarnya. Di bangku depan, seseorang mengangguk pelan ke arahnya. Dor
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.