เข้าสู่ระบบLangkah kaki Izora terasa berat saat ia menapaki teras rumahnya. Skorsing yang dijatuhkan oleh Wakil Kepala Rumah Sakit terasa bagai hantaman bagi karier yang ia bangun dengan tetesan keringat. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa keberadaannya kini hanya menjadi beban bagi orang-orang di sekelilingnya.Tiga puluh menit dihabiskan Izora di bawah kucuran shower, berharap air dingin itu bisa meluruhkan rasa sesak di dadanya.Setelah merasa lebih tenang, Izora mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana kain. Kemudian, ia melangkah ke depan, memilih membantu sang ibu di kios bunga."Kau pulang cepat hari ini, Zora?" Virda bertanya dengan dahi berkerut heran, saat putrinya memasuki kios.Izora mengambil gunting rumput, jemarinya mulai memotong dahan yang layu."Aku diskorsing, Ma. Pihak rumah sakit menganggap aku sebagai penyebab tangan Dokter Rezon terluka. Setelah ini, aku akan mencari pekerjaan di rumah sakit lain atau klinik kecil."Virda menghentikan kegiatann
Sesampainya di pelataran hotel, Elzen harus bekerja ekstra. Ia merangkul bahu Brielle, membawanya masuk melewati lobi dengan cepat, supaya tidak menarik perhatian petugas keamanan. Di dalam lift menuju lantai empat, Brielle semakin tidak terkontrol. Ia menggantungkan seluruh berat tubuhnya pada Elzen.Tiba di depan pintu kamar 402, Brielle sudah tidak sanggup berdiri sendiri, hingga Elzen harus menahannya dengan satu tangan. Mau tak mau, Elzen harus mencari sendiri kartu akses milik Brielle supaya bisa membuka pintu.Ketika tangan Elzen mulai merogoh ke dalam saku jaket, tanpa sengaja ia menyentuh bagian samping tubuh Brielle. Detik itu juga, jari-jari Elzen merasakan sesuatu yang berbeda di balik kain kaos yang longgar. Sesuatu yang kenyal dan lembut, jelas hanya dimiliki oleh seorang wanita.Elzen langsung terkesiap. Napasnya tertahan sesaat. Sentuhan itu terbilang singkat, tetapi cukup untuk mengonfirmasi segala spekulasi dalam kepalanya."Sstt... diamlah, Brion. Kita sudah samp
"Tolong, jangan banyak bertanya," bisik Brielle dengan suara tertahan. Angin malam Lyon yang berhembus kencang membuat tubuhnya menggigil."Panggil saya kalau sudah ada taksi yang bersedia mengantar kita. Tetaplah berdiri seperti itu."Elzen terdiam. Punggungnya yang lebar menjadi perisai sempurna bagi Brielle. Meski posisinya membelakangi Brielle, insting Elzen tidak bisa dibohongi. Tanpa perlu menoleh secara mencolok, ia menggunakan pantulan bayangan pada etalase toko untuk memindai situasi.Matanya yang tajam menangkap siluet tiga pria berbadan tegap di seberang jalan.Mereka tidak terlihat seperti turis yang sedang mengagumi arsitektur Renaissance Lyon. Melainkan lebih mirip bodyguard yang sering disewa oleh keluarga Limantara.Seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Elzen yakin perjalanan "Brion Wangsa" bukanlah sekadar mencari situs sejarah. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya yang membayangi pemuda ini.Di kejauhan, sebuah sedan putih dengan tanda lampu “Taxi" men
"Tentu saja saya pria!" seru Brielle mantap, meski hatinya menjerit jijik. "Baiklah, akan saya makan."Brielle memotong bagian kecil dari daging itu dengan gerakan kaku.Saat ia menyuapkannya ke mulut, teksturnya yang kenyal dan rasa rempah yang tajam membuatnya hampir tersedak. Buru-buru, ia menelannya dan langsung menyambar gelas anggur.Selesai makan, Brielle menyuapkan potongan besar Brioche ke dalam mulutnya. Rasa manis dari gula merah muda itu seketika menetralisir rasa aneh yang membuatnya mual.Elzen bersandar santai, memperhatikan ekspresi lega di wajah Brielle. Detik berikutnya, ia memajukan tubuh secara mendadak ke arah meja, membuat Brielle tersentak."M-mau apa, Kapten?" tanya Brielle gugup, tubuhnya sedikit menjauh."Panggil Elzen saja. Kita tidak sedang di dalam pesawat," ujar Elzen sambil menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menantang. "Bukankah kita berteman mulai sekarang? Tidak perlu memakai bahasa yang formal.”Brielle hanya bisa mengerjapkan mata, bingung harus
Mau tak mau, Brielle menyusuri trotoar batu di kawasan Presquîle bersama Elzen. Tangan kiri Elzen memegang ponsel, yang menampilkan peta digital ke sejumlah titik restoran tradisional."Jaraknya hanya sekitar tujuh ratus meter dari sini. Lebih baik kita berjalan kaki daripada terjebak macet,” pungkas Elzen sambil melirik Brielle.“Lagi pula, suasana malam di Lyon terlalu sayang untuk dilewatkan para pria seperti kita."Brielle hanya mengangguk canggung, lehernya mulai terasa pegal.Ketika ia sedang mencari cara untuk menjauhi Elzen, langkahnya mendadak terhenti. Tatapan Brielle tertuju pada sebuah kedai di sudut jalan yang dikerumuni orang. Aroma manis mentega, cokelat panas, dan adonan panggang yang harum tercium oleh hidungnya. Itu adalah Brioche aux Pralines—roti manis khas Lyon dengan kacang almond berlapis gula merah muda yang ikonik. Sebagai pencinta kuliner, Brielle tahu roti itu adalah camilan wajib di kota ini. "Saya ingin ke sana sebentar, Kapten."Tanpa menunggu persetuj
Elzen menyandarkan siku kirinya di pagar balkon besi tempa yang dingin. Sambil menatap pendar lampu kota Lyon yang mulai menyala satu per satu, ia menempelkan ponsel di telinga.Di seberang sana, terdengar suara frustrasi dari kakaknya, Rezon."Jadi, dia mengira kau masih mengharapkan Celine? Dan sekarang, dia ingin menyerahkanmu padanya?"Elzen terkekeh, suara tawa rendahnya tertiup angin senja. "Kak, kau ini Kepala Rumah Sakit, tapi urusan wanita kau seperti anak koas tingkat pertama.""Diamlah, Elzen. Katakan saja apa yang harus kulakukan. Izora merawatku dengan sabar saat tanganku sakit, tapi sekarang dia berencana meninggalkan aku," keluh Rezon, layaknya remaja yang patah hati.Elzen tersenyum simpul, jemarinya mengetuk-ngetuk pagar. "Sederhana. Wanita seperti Izora tidak butuh kata-kata manis, rayuan, maupun bunga. Dia butuh kejujuran dan kegigihan,” pungkas Elzen.“Datangi rumah Izora. Tunjukkan luka di tanganmu itu dengan ekspresi dramatis, seolah perbannya akan lepas karena k







