Home / Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Menghadapi Sang Penguasa

Share

Menghadapi Sang Penguasa

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2025-10-12 06:00:44

Meski masih ada tanda tanya besar dalam dirinya, Moza memilih untuk berjalan meninggalkan ruang makan.

Di belakangnya, tawa Abigail masih terdengar. Namun, Moza berusaha memusatkan perhatian pada tugas utamanya untuk mengantar makanan ke kamar Tuan Markus.

Karena sudah hafal jalannya, Moza tiba di kamar Tuan Markus tanpa kesulitan berarti. Ia berdiri di depan pintu, lalu mengetuk tiga kali. Kali ini, ia tidak ingin membuat kesalahan seperti yang terjadi di kamar Kageo.

Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka dari dalam oleh perawat pribadi Tuan Markus. Ia mengangguk sekilas, memberi isyarat agar Moza masuk.

Di dalam, suasana tetap sama: hangat, tenang, dipenuhi aroma kayu cendana dari diffuser. Hanya saja, Tuan Markus kini tidak berada di atas ranjang, melainkan duduk di meja kerja antik. Jarinya memegang pena emas, tampak sedang menulis sesuatu di bukunya.

Moza mendekat perlahan, lalu membungkuk hormat. “Selamat malam, Tuan Besar. Saya membawa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rini Rosyani
oohhh inikah Dastan????
goodnovel comment avatar
Culuu Culkeng
penasarannnn
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Itu Papa

    Kata-kata Radit seperti petir di siang bolong. Didorong oleh insting perlindungan diri yang tajam, Moza mendorong dada Radit dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Alhasil, kursi roda pria itu mundur beberapa sentimeter. Moza berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menyalakan api kemarahan.Ia segera berdiri dan menarik Kayden ke belakang tubuhnya, menjauhkan sang putra dari jangkauan tangan Radit yang tidak stabil.Tuan Sentosa bergegas mendekat untuk menenangkan putranya. Ia meraih pegangan kursi roda Radit dan menariknya menjauh dari Moza. "Radit, kendalikan dirimu. Jangan membuat Moza salah paham," ujarnya cemas sekaligus malu. Ekspresi Radit pun kembali datar, seperti tombol yang dimatikan paksa. Dia memandang ke arah lain, seolah kejadian tadi tidak pernah ada.Tuan Sentosa kemudian berpaling kepada Moza. "Maafkan Radit, Moza. Dia hanya terlalu bersemangat melihatmu lagi setelah bertahun-tahun."Namun, Moza tidak mendengarkan. Matanya justru te

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria Berbahaya

    Sembari menggandeng Kayden, Moza melangkah di atas ubin marmer yang akrab di bawah alas kakinya. Ribuan kenangan langsung membanjiri benak Moza. Namun, sebelum ia sempat menggali lebih dalam, sosok pria berseragam pelayan muncul dari balik pintu."Non Moza...." panggil suara itu bergetar.Dia adalah Pak Galih, pelayan kepercayaan sang ayah yang sudah mengabdi sejak Moza masih belajar berjalan.Pria yang rambutnya telah memutih itu berdiri di depan Moza dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat lega melihat Non Moza baik-baik saja."Moza merasakan matanya memanas. Di rumah yang penuh aturan kaku, Pak Galih adalah sedikit dari orang yang memberinya kasih sayang tulus. "Terima kasih, Pak Galih. Saya juga senang bisa melihat Bapak masih sehat dan bekerja di sini."Pandangan Pak Galih lalu beralih ke bawah, ke arah bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Moza."Ini pasti jagoannya Non Moza. Kau tampan sekali, Nak. Siapa namamu?""Kayden," jawab bocah itu mantap, meskipun ma

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perkenalan Pertama

    Setibanya di unit apartemen, suasana hangat langsung menyambut Moza.Ia melihat Abigail dan Kayden duduk di meja makan, asyik menikmati potongan kue cokelat dengan bibir belepotan. Keceriaan mereka mampu mengalihkan rasa lelah yang mendera Moza selepas acara seminar."Mama sudah pulang!" seru Kayden riang.Moza mendekat dan mengecup kening kedua anaknya bergantian. "Apa kalian sudah makan siang?""Sudah, Ma. Tadi Bi Isna masak ayam katsu dan brokoli," jawab Abigail sambil tersenyum manis."Bagus kalau begitu," ujar Moza.Usai berganti pakaian, Moza bergabung lagi dengan anak-anaknya di ruang makan. Sambil menyuap makan siangnya yang terlambat, ia menatap Kayden dengan lembut. "Sayang, nanti jam enam sore, apa kamu mau ikut Mama ke suatu tempat?"Kayden menghentikan kunyahannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ke mana, Ma?""Ke rumah Opa.""Ketemu Opa Markus?" timpal Abigail dengan mata berbinar, mengira mereka akan berkunjung ke mansion.Moza meletakkan sendoknya, lalu me

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kembalinya Cinta Lama

    Rezon baru saja menyelesaikan kunjungan rutin di bangsal VVIP. Ia memeriksa kondisi mantan menteri yang selesai menjalani bedah bypass jantung, serta seorang pemilik jaringan hotel yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor jinak. Sebagai dokter penanggung jawab, Rezon harus memastikan kondisi mereka tetap stabil. Ketegangan itu terbawa hingga ia kembali ke ruangannya.Begitu duduk di kursi, pandangan Rezon langsung tertuju pada benda di sudut meja kerjanya. Rantang makanan bertingkat empat dari Izora. Sambil menghela napas panjang, Rezon menarik rantang itu. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dokter ingusan itu selain membuatku kesal," gumamnya skeptis.Satu per satu, Rezon membuka penutup rantang makanan. Bagian paling atas berisi salad buah dengan potongan apel, stroberi,dan anggur, yang diberi dressing yogurt tipis. Bagian kedua adalah tumis brokoli wortel, sedangkan bagian ketiga diisi dada ayam panggang beraroma lada hitam. Untuk lapisan terakhir, Izora menyajikan na

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perjodohan yang Tak Diinginkan

    Melihat keraguan yang masih membayangi wajah Moza, Tuan Hadinata menggenggam tangan putrinya lebih erat. Suaranya melunak, sarat dengan nada penyesalan. "Moza, Papa pasti akan menerima anakmu. Bagaimanapun juga, dia adalah cucu pertama Papa. Darah dagingmu merupakan darah daging Papa juga."Moza menarik napas panjang, mencoba melapangkan dadanya yang terasa sesak. Ia berpikir mungkin tidak ada salahnya berkata jujur. Toh, lambat laun ia harus memperkenalkan Kayden pada sang kakek.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Moza lantas merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia menggeser layar galeri, mencari sebuah foto yang diambilnya saat mereka masih di kota Sarima. Foto Kayden yang sedang tersenyum lebar dengan latar belakang perbukitan hijau."Ini anakku, Pa. Namanya Kayden," ucap Moza sambil menunjukkan layar ponselnya kepada sang ayah."Kayden adalah satu-satunya kekuatanku yang membuat aku tetap tegar menjalani hidup."Tuan Hadinata tertegun. Ia memandangi foto bocah laki-laki itu s

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ayah dan Putrinya

    Mulut Moza mendadak terasa kering. Kini, semua mata tertuju padanya, bahkan Prof. Reza di sampingnya ikut melirik penuh perhatian.Tak hanya Moza, Dastan yang duduk di bangku belakang juga terkejut mendengar pertanyaan itu. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak tegang. Ia tahu lebih dari siapapun, bahwa pertanyaan tentang kehamilan pasti akan memicu rasa sakit dan trauma yang pernah dialami Moza. Mungkin, Moza akan langsung teringat tentang masa-masa terkelam dalam hidupnya. Dastan hampir saja melangkah maju untuk menjadi tameng bagi Moza. Namun sebelum ia bisa bergerak, suara Moza terdengar lantang dan lugas dari podium."Terima kasih atas pertanyaannya," jawab Moza dengan suara yang berwibawa. "Tindakan pencegahan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri untuk menjaga tubuh, martabat, dan memahami batasan. Seorang wanita hendaknya tidak menyerahkan diri kepada pria yang belum atau bukan menjadi suaminya. Itu adalah langkah paling bijaksana."Moza berhenti sejenak. Matanya tanpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status