เข้าสู่ระบบMobil yang dinaiki Kayden meluncur meninggalkan area pinggiran kota, menuju jalur hijau yang terletak di perbatasan. Di kursi belakang, Kageo duduk tegak di samping sang keponakan, tetap menampakkan gestur melindungi. Sementara Kayden yang masih trauma, menyandarkan kepalanya di pelukan Kageo."Kita berangkat ke rumahku," perintah Kageo dengan nada datar.Sang sopir hanya mengangguk melalui spion tengah. Ia mengerti betul bahwa tujuan mereka adalah sebuah properti pribadi, yang namanya tidak pernah terdaftar dalam aset keluarga Limantara.Kayden, yang mulai sedikit tenang, mendongak menatap Kageo dengan mata bulatnya yang masih kemerahan. "Paman... kenapa aku nggak diantar pulang ke apartemen? Mama pasti sedang mencariku."Kageo menoleh, memberikan senyum paling lembut kepada Kayden."Kay, dengar Paman," Kageo merendahkan suaranya agar terdengar seperti sebuah rahasia penting. "Para penjahat tadi sangat licik. Mereka pasti sudah tahu alamat apartemen Papa Dastan. Jika kamu kembali
Moza sudah hampir memerintahkan sopirnya memutar arah menuju mansion Limantara. Namun, tepat saat bibirnya hendak berucap, akal sehatnya menariknya kembali ke kenyataan.Jika ia tiba-tiba muncul di mansion dengan wajah sembab dan melabrak Kageo, seluruh pelayan akan gempar. Terlebih ada Opa Markus di sana. Pria tua itu menyayangi Kayden, dan Moza takut berita penculikan ini akan memicu serangan jantung yang fatal. Belum lagi, ia sama sekali tidak punya bukti fisik. Kalau ia salah tuduh, ia akan dianggap memfitnah dan memicu perpecahan besar di dalam keluarga Limantara.Pada akhirnya, Moza memutuskan tetap kembali ke apartemen. Setiba di sana, Moza bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dengan napas yang masih tersengal, ia meraih ponselnya untuk menghubungi Thalia. "Halo, Bu Thalia," sapa Moza saat panggilan tersambung. Ia berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil. "Saya ingin bertanya, apakah Kageo ada di mansion saat ini? Ada sesuatu yang ingin saya diskusikan.""Sel
Ban mobil yang dinaiki Moza berdecit nyaring saat berhenti di pelataran parkir Eagle Sport Hall. Moza hampir tidak sabar menunggu sopirnya membukakan pintu. Ia langsung melompat keluar dengan napas memburu, mengabaikan rasa mual yang sesekali hadir.Pemandangan di depan lobi gedung olahraga itu tampak memprihatinkan.Wulan terduduk lesu di atas bangku dengan wajah sepucat kapas, air matanya tak henti-henti mengalir. Di sampingnya, Nuri berusaha memeluk bahu Wulan, memberikan ketenangan yang sia-sia. Pak Nata berdiri tak jauh dari sana dengan gurat wajah yang penuh sesal dan kebingungan. Sementara Abigail mematung di samping sang sopir, menggenggam tasnya erat-erat."Wulan!" seru Moza dengan suara nyaring.Ia langsung menghambur dan mencengkeram bahu Wulan, menuntut jawaban. "Wulan, kenapa Kayden bisa dibawa orang? Bukankah kalian seharusnya menunggu di dalam gedung sampai Pak Nata menjemput?"Wulan mendongak, matanya sembap dan merah. "Maafkan saya, Nyonya...Tadi Kayden bilang dia
Di gedung pengadilan, Moza yang baru saja keluar dari ruang sidang merasakan ponsel di tasnya bergetar. Ia pun berjalan menjauh sembari mengangkat panggilan tanpa rasa curiga."Halo, Wulan, apa Kayden sudah selesai latihan futsal? Pak Nata sudah menjemput kalian?”"N-Nyonya Moza..." Suara Wulan terdengar pecah oleh tangis yang tak tertahankan. "Maafkan saya, Nyonya... Kayden ditarik orang masuk ke mobil. Dia diculik dan dibawa pergi.”Mendengar ucapan Wulan, ponsel di tangan Moza nyaris terlepas. Detik itu juga, seluruh kekuatan di kakinya terasa lenyap tak bersisa. Moza terpaksa bersandar pada dinding, tubuhnya yang sedang mengandung tampak goyah. Dunianya mendadak menjadi sangat gelap di tengah hiruk-pikuk orang-orang.Reva dan Elbara yang melihat ada sesuatu yang tidak beres, segera berlari menghampiri Moza.Saat Moza menoleh, Reva terperanjat melihat mata sahabatnya itu memerah dan digenangi air mata yang meluap."Moza? Ada apa?" tanya Reva dengan nada panik yang kentara.Moza be
Gedung Eagle Sport Hall sore itu terasa begitu hidup. Di tengah lapangan indoor yang luas, belasan anak laki-laki dengan kostum futsal tampak berlarian. Mereka seperti anak ayam yang baru saja lepas dari induknya. Di antara riuh rendah suara sepatu karet yang berdecit dan tawa polos anak-anak, sosok Kayden tampak paling menonjol.Kayden mengenakan jersey biru dengan nomor punggung favoritnya.Meskipun ini adalah hari pertama latihan, ia tidak menunjukkan tanda-tanda canggung. Sebaliknya, Kayden tampak sangat fokus saat mengikuti instruksi Coach Rendy, sang pelatih futsal."Oke, Anak-anak! Sekarang kita latihan dribbling pendek. Ikuti garis kuning ini dan jangan sampai bolanya lepas dari kaki!" seru Coach Rendy seraya meniup peluitnya pendek.Kayden mulai menggiring bola. Gerakannya sangat akurat untuk anak seusianya. Jika anak-anak lain cenderung menendang bola terlalu jauh, lalu mengejarnya dengan napas terengah-engah, Kayden justru menjaga bola tetap menempel di dekat kakinya. Ia
Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa berat.Moza duduk di barisan terdepan kursi pengunjung, tepat di belakang pagar pembatas kayu yang memisahkan area publik dengan area hukum. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu, saat melihat tiga kursi hakim yang masih kosong.Tak lama kemudian, pintu samping terbuka. Sesuai dengan prosedur persidangan pidana, pihak yang dipanggil pertama adalah Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum. Elbara melangkah masuk dengan tenang dan penuh wibawa, duduk di sisi kanan meja pengacara. Ekspresi wajahnya menunjukkan profesionalisme yang dingin."Hadirin dimohon berdiri, Majelis Hakim memasuki ruang sidang," seru panitera.Semua orang berdiri serentak. Tiga hakim dengan jubah merah-hitam mereka melangkah naik ke kursi pimpinan. Setelah hakim mengetuk palu tiga kali sebagai tanda sidang resmi dibuka, hakim ketua memerintahkan petugas untuk menghadirkan Terdakwa, Arseno.Suasana mendadak tegang. Pintu belakang ruang sidang terbuka, da







