ANMELDENDastan segera memesan makanan dari restoran Italia langganan keluarganya. Sementara itu, Moza memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Di bawah kucuran air hangat, pikirannya mengembara ke masa lalu. Sejak perpisahan mereka di Rumah Kaca, ini adalah pertama kalinya ia benar-benar berdua dengan Dastan tanpa suara tawa anak-anak. Ada gejolak emosi yang tak bisa ia pungkiri—campuran antara rindu, kasih sayang, dan sedikit rasa takut akan keintiman yang akan kembali terjalin.Sekitar empat puluh menit kemudian, bel pintu berbunyi. Dastan menerima pesanan makanan dan menatanya di atas meja.Ia sengaja menggeser meja makan dan kursi lebih dekat balkon apartemen, untuk menciptakan suasana intim. Tak lupa, Dastan juga menyalakan beberapa lilin untuk menerangi acara makan mereka.Moza keluar dari kamar dengan mengenakan gaun tidur satin berwarna marun yang dibalut outer tipis. Saat ia melangkah ke balkon, ia terpaku melihat usaha Dastan."Kau menyiapkan ini semua sendiri?" tanya Moza pelan.Da
Garis-garis cahaya sore yang menerpa ranjang, seolah menjadi saksi bisu kedamaian antara Moza dan Dastan. Tanpa mereka sadari, kehangatan pelukan dan rasa lelah yang menumpuk membuat keduanya terhanyut dalam tidur.Aroma parfum maskulin Dastan yang bercampur dengan wangi lembut rambut Moza telah menjadi obat tidur alami bagi mereka berdua.Perlahan, Moza terusik dari alam mimpi saat merasakan sentuhan lembut yang menyapu pipinya. Sebuah ciuman ringan tetapi penuh perasaan. Ia mengerang pelan, lalu mengerjapkan matanya yang terasa masih berat."Sayang, bangun... ini sudah sore," suara serak Dastan menyapa tepat di samping telinga Moza. "Kita harus bersiap untuk menyambut anak-anak. Mereka bisa pulang kapan saja."Moza mengucek matanya dengan bingung. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ia masih berada di kamar utama, dalam dekapan suaminya.Ia langsung terduduk tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan."Astaga! Kenapa aku juga ikut tertidur?" seru Moza panik.
Hening mulai merayap di dalam kamar utama apartemen. Moza duduk bersandar pada kepala ranjang, mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membuka ponsel.Jemarinya bergerak malas melintasi layar, menelusuri artikel berita dan media sosial. Namun, setiap beberapa detik, telinganya menangkap suara napas Dastan yang berat, atau gesekan halus selimut saat suaminya itu bergerak gelisah. Moza melirik pria di sampingnya. Meski mata Dastan terpejam, Moza tahu pria itu belum benar-benar terlelap."Kau belum bisa tidur?" tanya Moza lirih. "Mau minum obat atau minum air hangat?"Dastan membuka matanya sedikit, menoleh ke arah Moza dengan tatapan sayu yang membuat hati wanita itu berdesir. "Tadi sebelum menjemputmu, aku sudah minum obat dari Rezon. Aku memang tidak terbiasa tidur siang.”Melihat Dastan yang kesulitan tidur, Moza menggeser posisinya lebih dekat. Tanpa menunggu persetujuan, jemari Moza merayap menuju bahu dan tengkuk pria itu. Ia memulai pijatan dengan tekanan ringan, menyentuh otot
Ketika sampai di dalam mobil, Moza meraih botol air mineral dari cup holder dan menyodorkannya pada Dastan. "Minum dulu," ucapnya, masih dengan nada lembut.Dastan menerima botol itu dan meneguk airnya perlahan, berusaha meredakan rasa gatal di tenggorokannya yang terus memicu batuk. Moza memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan kening berkerut. "Apa kau masih bisa menyetir?" tanya Moza cemas.Dastan menghela napas pendek, matanya tetap fokus ke jalan. "Hanya batuk, tentu saja bisa. Aku bukan anak kecil.""Aku bisa menyetir mobil, tapi memang sudah lama tidak melakukannya. Apa aku saja yang mengemudi?" tawar Moza ragu-ragu."Tidak, Moza. Aku tidak mau membahayakanmu,” tolak Dastan, sembari menjalankan mobil dengan sangat hati-hati.Di sepanjang perjalanan, Moza berkali-kali melirik ke arah Dastan. Memantau setiap kali pria itu terbatuk atau memejamkan mata saat lampu merah. Ia berpikir mungkin Dastan jatuh sakit karena kelelahan dan tekanan dari drama keluarganya kemarin.Begitu
Pada akhirnya, Dastan membuka pintu mobilnya dan mengajak Moza masuk.Saat Moza melangkah masuk, ia mendengar suara Dastan yang memang lebih serak dari biasanya, seperti tenggorokannya penuh dengan pasir.Moza menoleh saat Dastan duduk di kursi kemudi, lalu mulai memasang sabuk pengaman. "Kata Elzen kau sedang kurang sehat, lalu kenapa masih memaksakan diri mengemudi sendiri?"Dastan membelokkan mobil keluar dari parkiran, tangannya kokoh di kemudi meski wajahnya tampak sedikit pucat."Para sopir juga butuh hari libur untuk berkumpul bersama keluarganya di akhir pekan," jawab Dastan. Suaranya yang parau terdengar jelas di dalam kabin yang sunyi."Aku tidak akan mengganggu waktu mereka hanya karena urusanku."Mendengar itu, Moza terdiam sejenak. Rasa kagum yang tak terduga menyelinap di hatinya.Tak disangka, di balik citra Dastan yang dingin dan otoriter, ternyata pria itu memiliki sisi peka dan manusiawi terhadap kebutuhan para karyawannya. Sesuatu yang jarang ditemukan pada pria di
Ditanya seperti itu oleh putranya sendiri, Moza bingung harus bagaimana. Apalagi, saat ia melihat Abigail juga menatapnya dengan binar mata yang sama besarnya. Menolak permintaan ini bukan hanya mengecewakan Kayden, tetapi juga akan melukai hati kecil Abigail yang merindukan kebersamaan keluarga.Tak ingin merusak keceriaan dua buah hatinya, Moza akhirnya tersenyum tipis."Mama mandi dulu ya, Sayang. Setelah itu, kita putuskan akan jalan-jalan ke mana, baru Mama menelepon Papa."Kayden dan Abigail langsung bersorak gembira. "Yeyyyy!!!" Mereka melompat kegirangan di atas ranjang hingga seprai yang sudah rapi kembali berantakan."Aku mau beli cupcake rasa stroberi, es krim cokelat yang besar, terus kita ke Fantasy World!" seru Abigail dengan wajah berseri-seri. Jarinya sibuk menghitung rencana yang sudah tersusun di kepalanya.Moza mengangguk sambil tertawa kecil. "Tunggu Mama sebentar ya, kalian bisa bermain dulu di sini."Tanpa menunda lagi, Moza masuk ke kamar mandi. Di bawah kucur







