LOGINSuara serak milik Tuan Markus memecah keheningan di ruang tengah mansion. Pria tua itu menatap cucu-cucunya dengan binar mata yang lembut."Aku senang melihat kalian semua berkumpul di sini, apalagi dengan membawa pasangan masing-masing," ucap Tuan Markus sambil mengedarkan pandangan. "Sekarang, mari kita makan. Aku tidak mau dua calon cicitku di perut Moza lapar, karena terlalu lama menunggu."Moza tersenyum haru mendengar perhatian sang kakek. "Terima kasih, Opa," jawabnya lembut.Rombongan keluarga besar itu pun beranjak menuju ruang makan yang megah. Di sana, Thalia bersama beberapa pelayan sudah berdiri siaga di samping meja panjang yang dipenuhi hidangan istimewa. Aroma lezat dari berbagai masakan menggoda selera, menciptakan suasana hangat di Mansion Limantara.Mereka mulai menempati kursi masing-masing. Reva, yang masih merasa sedikit asing dengan kemegahan ini, memilih duduk di samping Moza untuk mencari ketenangan. Setelah semua duduk, Tuan Markus memberikan isyarat."Sil
Ketika mobil Dastan memasuki gerbang mansion, seperti ada aliran listrik yang menjalar di udara. Kehadiran tiga mobil mewah yang terparkir di halaman depan, menjadi pertanda bahwa seluruh “Tuan Muda” keluarga Limantara telah berkumpul di sarang mereka.Moza menyentuh lengan Dastan, matanya memancarkan kegelisahan. "Dastan, ayo kita masuk lebih cepat. Kita harus membantu Reva dan Bara,” bisik Moza. “Aku takut situasi di dalam memanas, karena masalah pergantian calon pengantin itu."Dastan mematikan mesin mobilnya, lalu menatap sang istri penuh ketenangan. Ia merapikan anak rambut Moza yang sedikit berantakan karena angin malam. "Tenanglah, Sayang. Elbara seorang pengacara handal yang pandai bicara. Dia pasti bisa membela dirinya dan Reva di hadapan Opa Markus. Aku sangat yakin pada kemampuan adikku."Moza menggelengkan kepala, bibirnya mengerucut tipis. "Bara memang hebat, tapi aku memikirkan Reva. Dia belum pernah mengalami situasi seperti ini, berhadapan langsung dengan otoritas te
Dastan benar-benar membuktikan ucapannya. Di sebuah salon premium di pusat kota, pria itu duduk tenang di sofa lobi dengan laptop di pangkuannya.Kehadiran Dastan tampak kontras dengan suasana sekitarnya yang penuh dengan wanita. Meski ia hanya mengenakan setelan kasual, tetapi kharisma seorang Dastan Limantara tidak dapat disembunyikan.Beberapa wanita yang baru masuk atau sedang menunggu giliran berkali-kali melirik. Bahkan, ada yang sengaja memperlambat langkah hanya untuk mencuri pandang.Ketampanan Dastan yang maskulin, serta sikap telatennya menunggu pasangan di salon, membuat banyak wanita berbisik iri."Lihat itu, jarang sekali ada pria setampan dia mau bersabar di salon sampai membawa pekerjaan," bisik seorang wanita muda kepada temannya."Istrinya sangat beruntung," sahut yang lain.Namun, Dastan tetaplah Dastan. Ia bersikap dingin dan acuh tak acuh. Baginya, lobi salon itu tak ubahnya ruang kerja sementara. Matanya hanya terpaku pada deretan angka dan laporan di layar lapt
Selepas penyatuan raga yang meluruhkan segala pembatas, terjadi perubahan drastis dalam diri Kageo. Pria itu menanggalkan jubah monster yang selama ini ia pakai.Kageo menunjukkan sisi manjanya yang tak terduga—sisi polos yang selama ini terkubur di bawah lapisan dendam. Di meja makan, ia hanya menatap piringnya dengan pandangan malas sampai Aya duduk di sampingnya."Suapi aku," pintanya menuntut perhatian.Aya tidak lagi mendesah kesal atau merasa terancam. Ia mengambil sendok dan menyuapi Kageo dengan gerakan yang penuh ketulusan. Tak hanya itu, Kageo seperti enggan melakukan apa pun sendiri. Ia meminta Aya membantunya mengenakan kemeja, menyisir rambut, dan bersikeras agar sang istri menemaninya melukis.Aya melakukan semua itu dengan hati yang ringan. Menyadari bahwa di balik keangkuhannya, Kageo hanyalah jiwa yang sangat haus akan kasih sayang.Suasana kamar kembali sunyi di malam hari. Aya sibuk merapikan pakaian mereka ke dalam koper besar di sudut ruangan. Setelah selesai, i
Hujan di luar sana seolah menjadi saksi atas pergeseran atmosfer yang terjadi di dalam kamar.Suhu tubuh Kageo yang tadinya sedingin es, kini merayap naik hingga terasa membara. Panas ini bukan lagi akibat demam atau reaksi anemia aplastik, melainkan lahir dari hasrat yang tersulut di tengah kesunyian.Aya bisa merasakan deru napas Kageo yang semakin memburu di ceruk lehernya. Begitu pula detak jantung pria itu yang berpacu kencang.Kageo membuka matanya, menatap Aya dengan rasa lapar yang tak terbendung."Cahaya..." suara Kageo terdengar sangat serak. "Aku ingin menciummu."Sebelum Aya sempat menjawab, jemari Kageo menyelusup ke dagunya, mengangkat wajahnya sedikit untuk mengunci tatapan mereka. Detik berikutnya, Kageo menunduk dan menyesap bibir Aya. Ciuman itu dalam dan menuntut, sebuah luapan emosi dari seorang pria yang baru saja ditarik dari ambang kematian.Lidah mereka pun saling bertautan, menghapus hawa dingin yang masih tersisa.Tatkala oksigen mulai menipis, Kageo melepas
Pagi itu, langit di desa tampak kelabu, menumpahkan hujan deras yang membasahi pintu dan kaca jendela. Di dalam kamar, Aya mengerjapkan mata karena mendengar bunyi guntur yang bersahut sahutan. Empat hari telah berlalu sejak pernikahan paksa yang terasa seperti mimpi buruk. Kini, kakinya yang terkilir berangsur membaik, tetapi hatinya masih tertatih. Kageo adalah teka-teki yang sulit ia pecahkan. Pria itu bisa sangat jahat, tetapi juga bisa mendadak tenang dan lembut.Hari-hari ia lalui dengan duduk di samping Kageo, menemaninya melukis atau sekadar menggubah lagu untuk mengisi waktu. Aya pun menyibak selimutnya, bermaksud untuk mengambil air minum. Namun, alangkah kagetnya ia saat mendengar suara desisan dari samping. Kageo masih terpejam, tetapi rahangnya mengatup rapat. Tubuh jangkung itu menggigil hebat. Aya terkejut, ia segera menyentuh lengan Kageo yang menempel di dahi.Dingin. Sangat dingin, seolah ia menyentuh bongkahan es dari dasar lautan."Kageo, kau kenapa?" bisik A
Setelah percakapan singkat di gerai donat, Moza kembali duduk di samping Abigail. Sementara Rezon mengambil tempatnya di balik kemudi, dan melajukan mobil dengan kecepatan stabil.Abigail menyambut kotak donat dengan girang, memakannya dengan lahap selama perjalanan pulang.Moza berusaha melupakan
Merasa Moza telah menyerah, lidah Dastan menerobos masuk. Dengan terampil, ia membelit dan menguasai rongga mulut wanita itu, seolah ingin menelan habis seluruh udara dari paru-parunya.Napas Moza pun terputus-putus seperti ikan yang terlempar ke daratan. Sesaknya bukan hanya datang dari ciuman Das
Di sisi lain, Moza langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia menyandarkan tubuh di pintu, berusaha menenangkan deru napas dan debaran jantungnya yang masih memburu. Lega sekali dia berhasil memenangkan pertaruhan itu. Dengan keangkuhan Dastan yang setinggi langit, pria itu pasti akan mene
Wajah Bu Lintang berubah pucat, tangannya yang masih mengupas mangga langsung berhenti bergerak."Saya hanya bercerita tentang mangga, Tuan Besar. Saya bawa mangga dari pohon di rumah. Sudah masak sempurna.”Tuan Markus tidak serta-merta percaya. Tatapannya tertuju pada Bu Lintang sebelum akhirnya b







