Share

Teman Seperjalanan

Penulis: Risca Amelia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-07 21:04:10

Elzen menyandarkan siku kirinya di pagar balkon besi tempa yang dingin. Sambil menatap pendar lampu kota Lyon yang mulai menyala satu per satu, ia menempelkan ponsel di telinga.

Di seberang sana, terdengar suara frustrasi dari kakaknya, Rezon.

"Jadi, dia mengira kau masih mengharapkan Celine? Dan sekarang, dia ingin menyerahkanmu padanya?"

Elzen terkekeh, suara tawa rendahnya tertiup angin senja. "Kak, kau ini Kepala Rumah Sakit, tapi urusan wanita kau seperti anak koas tingkat pertama."

"Diaml
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Teman Seperjalanan

    Elzen menyandarkan siku kirinya di pagar balkon besi tempa yang dingin. Sambil menatap pendar lampu kota Lyon yang mulai menyala satu per satu, ia menempelkan ponsel di telinga.Di seberang sana, terdengar suara frustrasi dari kakaknya, Rezon."Jadi, dia mengira kau masih mengharapkan Celine? Dan sekarang, dia ingin menyerahkanmu padanya?"Elzen terkekeh, suara tawa rendahnya tertiup angin senja. "Kak, kau ini Kepala Rumah Sakit, tapi urusan wanita kau seperti anak koas tingkat pertama.""Diamlah, Elzen. Katakan saja apa yang harus kulakukan. Izora merawatku dengan sabar saat tanganku sakit, tapi sekarang dia berencana meninggalkan aku," keluh Rezon, layaknya remaja yang patah hati.Elzen tersenyum simpul, jemarinya mengetuk-ngetuk pagar. "Sederhana. Wanita seperti Izora tidak butuh kata-kata manis, rayuan, maupun bunga. Dia butuh kejujuran dan kegigihan,” pungkas Elzen.“Datangi rumah Izora. Tunjukkan luka di tanganmu itu dengan ekspresi dramatis, seolah perbannya akan lepas karena k

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tetangga Kamar

    Roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Lyon-Saint Exupery dengan mulus, ciri khas pendaratan seorang Elzen Limantara. Suara mesin yang menderu, diikuti pengumuman pramugari yang menandakan akhir dari perjalanan melintasi benua.Brielle, yang kini masih bersembunyi di balik identitas "Brion", merasakan perutnya melilit. Bukan karena guncangan, melainkan karena kecemasan yang kini berpindah dari langit ke daratan.Lekas saja, ia menyambar tas ranselnya yang berisi peralatan penting dan jurnal arkeologi."Semoga perjalanan Anda menyenangkan di Lyon, Tuan Wangsa," suara itu menghentikan langkah Brielle di pintu keluar kabin.Elzen berdiri di sana. Senyumnya tampak santai, tetapi matanya tetap tajam mengawasi."Terima kasih, Kapten," jawab Brielle dengan suara yang diberatkan. Buru-buru, ia melangkah keluar. Brielle tidak menyadari bahwa saat ia bergerak melawan arus angin, topinya sedikit terangkat.Seuntai rambut hitam panjang yang halus dan berkilau lolos dari balik wig pendekny

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Rahasia di Balik Sentuhan

    Melihat kelakuan Elzen, Brielle memantapkan hatinya untuk tidak banyak bicara pada sang Kapten. Brielle bertekad untuk tetap menjadi "Brion" yang dingin, agar tidak menarik perhatian.Hanya saja, saat ia masih sibuk menghakimi karakter Elzen di dalam kepala, alam semesta seolah punya rencana lain.Sekitar dua jam kemudian, saat sebagian besar kabin VIP sudah meredupkan lampu untuk tidur, suasana tenang berubah menjadi kepanikan. Pesawat tiba-tiba berguncang hebat, diiringi lampu indikator sabuk pengaman yang berdentang keras. Barang-barang di atas meja kabin mulai bergeser jatuh, menciptakan bunyi gemeretak.Gelas kopi Elzen terguling, tetapi pria itu dengan sigap menangkapnya sebelum tumpah ke kursi. Ini bukan sekadar turbulensi biasa, melainkan Clear Air Turbulence yang terjadi secara mendadak.Brielle, yang sejak kecil memiliki fobia terhadap guncangan dan ruang tertutup, mendadak pucat pasi. Napasnya mulai memburu, pendek-pendek, dan tidak teratur.Matanya terbelalak. Tangannya m

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria "Wanita"

    Udara di dalam kabin First Class pesawat Airbus A350-1000, terasa begitu tenang. Di ketinggian ribuan kaki, di atas hamparan awan yang mulai menggelap ditelan senja, Kapten Elzen Limantara melangkah keluar dari kokpit. Tubuhnya yang atletis dibalut seragam putih dengan empat garis emas di pundak, tetapi kancing kerahnya sedikit terbuka.Sebagai pilot utama untuk penerbangan rute panjang Jakarta menuju Paris, Elzen memiliki jadwal istirahat yang diatur ketat. Ia baru saja menyerahkan kendali pesawat kepada First Officer senior dan pilot cadangan, yang sudah berpengalaman untuk mengawasi fase penerbangan stabil di atas Samudra Hindia. Elzen tidak langsung menuju ruang istirahat kru. Ia memutuskan untuk duduk sejenak di salah satu kursi kosong di kabin VIP. Sekadar menyesap kopi atau memakan kue, sebelum benar-benar memejamkan mata. Akan tetapi, perhatian Elzen teralihkan pada penumpang yang berada tepat di sebelahnya. Di kursi 2A, duduk seorang pria muda dengan penampilan aneh. Penu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kau Tidak Penting Baginya

    Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Rezon. Ia berdiri di dekat jendela besar, dadanya naik turun menahan amarah yang masih bergejolak. Sesaat kemudian, suara sekretarisnya terdengar dari interkom."Dokter, menurut perawat asisten spesialis yang mendampingi Dokter Celine, Beliau baru saja menyelesaikan jam praktek. Dokter Celine sudah turun, sepertinya berencana untuk langsung pulang."Mendengar itu, Rezon lekas menutup telepon tanpa menjawab. Dengan wajah sekeras batu, ia masuk ke dalam lift, tak menghiraukan tatapan ngeri dari para staf.Ketika pintu lift terbuka di lantai basement, Rezon setengah berlari menuju area parkir khusus dokter. Ia tidak lagi memedulikan rasa sakit fisik yang masih mendera. Mata Rezon menyapu jajaran mobil mewah di sana, dan akhirnya ia menangkap sosok yang familiar.Di ujung barisan, Celine tampak anggun dengan tas branded yang tersampir di bahu. Ia sedang memegang gagang pintu mobilnya, bersiap untuk masuk."Celine, tunggu!" seru Rezon, suaranya me

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kemarahan Tak Terbendung

    Langkah kaki Rezon menggema nyaring di lantai lobi Rumah Sakit Limantara Medika. Aura kepemimpinan yang biasanya berwibawa, kini berubah menjadi badai yang siap menghantam siapa saja. Para petugas keamanan dan staf administrasi di barisan depan terlonjak kaget. Mereka saling berbisik, tertegun melihat sang Kepala Rumah Sakit muncul tiba-tiba.Wajah Rezon masih pucat, dengan balutan perban tebal yang masih membungkus telapak tangannya. Namun, sorot matanya tampak menyala."Dokter Rezon? Bukankah Anda sedang cuti?" sapa seorang perawat senior, sambil memberikan salam hormat.Rezon mengangguk sekilas tanpa menjawab. Fokusnya hanya satu: lantai paling atas. Dengan tangan kirinya, ia menekan tombol lift khusus petinggi rumah sakit. Tak berselang lama, pintu lift berdenting terbuka. Sekretaris pribadi Rezon, yang sedang merapikan jadwal, hampir menjatuhkan tablet di tangannya kala melihat sang atasan."Dokter, Anda... Anda sudah kembali ke rumah sakit?" tanyanya terbata-bata."Panggilkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status