Share

Tantangan Bagi Pria

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-03-08 15:34:37

Mau tak mau, Brielle menyusuri trotoar batu di kawasan Presquîle bersama Elzen. Tangan kiri Elzen memegang ponsel, yang menampilkan peta digital ke sejumlah titik restoran tradisional.

"Jaraknya hanya sekitar tujuh ratus meter dari sini. Lebih baik kita berjalan kaki daripada terjebak macet,” pungkas Elzen sambil melirik Brielle.

“Lagi pula, suasana malam di Lyon terlalu sayang untuk dilewatkan para pria seperti kita."

Brielle hanya mengangguk canggung, lehernya mulai terasa pegal.

Ketika ia se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Mabuk Berat

    "Tolong, jangan banyak bertanya," bisik Brielle dengan suara tertahan. Angin malam Lyon yang berhembus kencang membuat tubuhnya menggigil."Panggil saya kalau sudah ada taksi yang bersedia mengantar kita. Tetaplah berdiri seperti itu."Elzen terdiam. Punggungnya yang lebar menjadi perisai sempurna bagi Brielle. Meski posisinya membelakangi Brielle, insting Elzen tidak bisa dibohongi. Tanpa perlu menoleh secara mencolok, ia menggunakan pantulan bayangan pada etalase toko untuk memindai situasi.Matanya yang tajam menangkap siluet tiga pria berbadan tegap di seberang jalan.Mereka tidak terlihat seperti turis yang sedang mengagumi arsitektur Renaissance Lyon. Melainkan lebih mirip bodyguard yang sering disewa oleh keluarga Limantara.Seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Elzen yakin perjalanan "Brion Wangsa" bukanlah sekadar mencari situs sejarah. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya yang membayangi pemuda ini.Di kejauhan, sebuah sedan putih dengan tanda lampu “Taxi" men

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Istri Kelinci

    "Tentu saja saya pria!" seru Brielle mantap, meski hatinya menjerit jijik. "Baiklah, akan saya makan."Brielle memotong bagian kecil dari daging itu dengan gerakan kaku.Saat ia menyuapkannya ke mulut, teksturnya yang kenyal dan rasa rempah yang tajam membuatnya hampir tersedak. Buru-buru, ia menelannya dan langsung menyambar gelas anggur.Selesai makan, Brielle menyuapkan potongan besar Brioche ke dalam mulutnya. Rasa manis dari gula merah muda itu seketika menetralisir rasa aneh yang membuatnya mual.Elzen bersandar santai, memperhatikan ekspresi lega di wajah Brielle. Detik berikutnya, ia memajukan tubuh secara mendadak ke arah meja, membuat Brielle tersentak."M-mau apa, Kapten?" tanya Brielle gugup, tubuhnya sedikit menjauh."Panggil Elzen saja. Kita tidak sedang di dalam pesawat," ujar Elzen sambil menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menantang. "Bukankah kita berteman mulai sekarang? Tidak perlu memakai bahasa yang formal.”Brielle hanya bisa mengerjapkan mata, bingung harus

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tantangan Bagi Pria

    Mau tak mau, Brielle menyusuri trotoar batu di kawasan Presquîle bersama Elzen. Tangan kiri Elzen memegang ponsel, yang menampilkan peta digital ke sejumlah titik restoran tradisional."Jaraknya hanya sekitar tujuh ratus meter dari sini. Lebih baik kita berjalan kaki daripada terjebak macet,” pungkas Elzen sambil melirik Brielle.“Lagi pula, suasana malam di Lyon terlalu sayang untuk dilewatkan para pria seperti kita."Brielle hanya mengangguk canggung, lehernya mulai terasa pegal.Ketika ia sedang mencari cara untuk menjauhi Elzen, langkahnya mendadak terhenti. Tatapan Brielle tertuju pada sebuah kedai di sudut jalan yang dikerumuni orang. Aroma manis mentega, cokelat panas, dan adonan panggang yang harum tercium oleh hidungnya. Itu adalah Brioche aux Pralines—roti manis khas Lyon dengan kacang almond berlapis gula merah muda yang ikonik. Sebagai pencinta kuliner, Brielle tahu roti itu adalah camilan wajib di kota ini. "Saya ingin ke sana sebentar, Kapten."Tanpa menunggu persetuj

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Teman Seperjalanan

    Elzen menyandarkan siku kirinya di pagar balkon besi tempa yang dingin. Sambil menatap pendar lampu kota Lyon yang mulai menyala satu per satu, ia menempelkan ponsel di telinga.Di seberang sana, terdengar suara frustrasi dari kakaknya, Rezon."Jadi, dia mengira kau masih mengharapkan Celine? Dan sekarang, dia ingin menyerahkanmu padanya?"Elzen terkekeh, suara tawa rendahnya tertiup angin senja. "Kak, kau ini Kepala Rumah Sakit, tapi urusan wanita kau seperti anak koas tingkat pertama.""Diamlah, Elzen. Katakan saja apa yang harus kulakukan. Izora merawatku dengan sabar saat tanganku sakit, tapi sekarang dia berencana meninggalkan aku," keluh Rezon, layaknya remaja yang patah hati.Elzen tersenyum simpul, jemarinya mengetuk-ngetuk pagar. "Sederhana. Wanita seperti Izora tidak butuh kata-kata manis, rayuan, maupun bunga. Dia butuh kejujuran dan kegigihan,” pungkas Elzen.“Datangi rumah Izora. Tunjukkan luka di tanganmu itu dengan ekspresi dramatis, seolah perbannya akan lepas karena k

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tetangga Kamar

    Roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Lyon-Saint Exupery dengan mulus, ciri khas pendaratan seorang Elzen Limantara. Suara mesin yang menderu, diikuti pengumuman pramugari yang menandakan akhir dari perjalanan melintasi benua.Brielle, yang kini masih bersembunyi di balik identitas "Brion", merasakan perutnya melilit. Bukan karena guncangan, melainkan karena kecemasan yang kini berpindah dari langit ke daratan.Lekas saja, ia menyambar tas ranselnya yang berisi peralatan penting dan jurnal arkeologi."Semoga perjalanan Anda menyenangkan di Lyon, Tuan Wangsa," suara itu menghentikan langkah Brielle di pintu keluar kabin.Elzen berdiri di sana. Senyumnya tampak santai, tetapi matanya tetap tajam mengawasi."Terima kasih, Kapten," jawab Brielle dengan suara yang diberatkan. Buru-buru, ia melangkah keluar. Brielle tidak menyadari bahwa saat ia bergerak melawan arus angin, topinya sedikit terangkat.Seuntai rambut hitam panjang yang halus dan berkilau lolos dari balik wig pendekny

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Rahasia di Balik Sentuhan

    Melihat kelakuan Elzen, Brielle memantapkan hatinya untuk tidak banyak bicara pada sang Kapten. Brielle bertekad untuk tetap menjadi "Brion" yang dingin, agar tidak menarik perhatian.Hanya saja, saat ia masih sibuk menghakimi karakter Elzen di dalam kepala, alam semesta seolah punya rencana lain.Sekitar dua jam kemudian, saat sebagian besar kabin VIP sudah meredupkan lampu untuk tidur, suasana tenang berubah menjadi kepanikan. Pesawat tiba-tiba berguncang hebat, diiringi lampu indikator sabuk pengaman yang berdentang keras. Barang-barang di atas meja kabin mulai bergeser jatuh, menciptakan bunyi gemeretak.Gelas kopi Elzen terguling, tetapi pria itu dengan sigap menangkapnya sebelum tumpah ke kursi. Ini bukan sekadar turbulensi biasa, melainkan Clear Air Turbulence yang terjadi secara mendadak.Brielle, yang sejak kecil memiliki fobia terhadap guncangan dan ruang tertutup, mendadak pucat pasi. Napasnya mulai memburu, pendek-pendek, dan tidak teratur.Matanya terbelalak. Tangannya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status