공유

102. Rindu

작가: Rosa Rasyidin
last update 게시일: 2026-02-21 19:00:17

Ye Lin memacu kudanya hingga sampai di depan gerbang kediaman Keluarga Ye. Ia langsung melompat turun dan berlari menemui ayahnya. Sesampainya di kamar utama, Gadis Pembaca Kematian itu melihat ayahnya terbatuk-batuk parah dan sedang meminum obat dari mangkuk yang disodorkan seorang tabib.

“Ayah, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Ye Lin pada para pelayan yang menunduk cemas.

“Tidak apa-apa.” Jenderal Besar Ye menarik napas dalam-dalam, suaran

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   166. Canggung

    "Nona, maaf, sepertinya kau salah orang. Namaku Ye Wanqing, bukan Ye Lin," balas Wanqing dengan tatapan sedikit curiga. Ia menatap aneh wanita berbalut mantel putih tebal di depannya yang tiba-tiba mematung dengan mulut menganga.Belum sempat Xu Wen menjawab untuk menutupi kengangaannya, kaca jendela mobil perlahan turun, terlihat Pak CEO Yan Muchen yang sedikit tidak sabar."Nona Xu," panggil sang CEO di antara kebengongan dua perempuan itu. "Silakan Nona duduk di kursi depan saja bersebelahan dengan sopir. Atau kalau mau, Nona boleh duduk di bagian paling belakang."Xu Wen mengerjap cepat. Ia menunjuk ke arah bagian belakang jip tersebut dengan wajah tak suka."Pak CEO, baris di sana kan sudah penuh dengan tumpukan koper dan peralatan medis darurat. Kalau aku duduk di sana, aku bisa tambah kurus tergencet tabung oksigen. Berarti pilihan satu-satunya ya aku duduk di sebelah sopir!""Baguslah kalau begitu," sahut Muchen tanpa dosa. Pandangan lelaki itu beralih menatap Wanqing yang mas

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   165. Mantel Putih

    Lagi-lagi Xu Wen bermimpi tentang lelaki berambut putih alias Shen Yuan yang terus memanggilnya dalam mimpi hingga ia insomnia. Lalu akibatnya ia jadi tidur terlalu larut dan terlambat bangun pagi, padahal hari itu harusnya ia datang on time karena akan berangkat ke Desa Beihan.“Gawaaat, rambutku bahkan belum aku luruskan,” ucapnya sambil menggosok gigi. Ia baru bangun dan memilih memberi makan dua ekor kucingnya dulu.“Ibu, aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa, telepon saja dan minta tolong teman-teman Ibu dulu. Semua kebutuhan di kulkas sudah aku isi, jangan lupa beri makan dua pussy. Sepertinya aku akan lama kembali.” Xu Wen memakai sepatu terburu-buru.“Eh, sarapan dulu, nanti kau sakit perut.” Namun, ucapan ibunya tertelan oleh suara pintu apartemen yang tertutup.“Tidak biasanya Wen’er melewatkan sarapan sambil menonton variety show.” Ibunya hanya bisa menghela napas pendek saja. Jadilah sarapan di pagi yang menjelang siang itu ia nikmati seorang diri, lalu berbaur bersama tem

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   164. Klik

    Peluit ditiup sebagai tanda pertarungan gaya bebas dan tangan kosong dimulai. Ketegangan terasa di arena matras. Seorang lelaki dengan otot besar memandang remeh ke arah Wan’er. Gadis itu membalas mengejeknya dengan menjulurkan lidah.Sepuluh orang di dalam matras mulai bergerak saling mengunci target. Seperti yang sudah diduga, lelaki berotot besar itu langsung mengincar Wan’er, karena menganggap ia sebagai mangsa paling lemah yang harus disingkirkan pertama kali."Menyerahlah, Gadis Kecil. Pulang, main boneka, masak, dan punya anak saja!" ejek lelaki itu sambil mengayunkan tinjunya ke rahang Wan’er.Tatapan mata Wan’er seketika menyipit. Sorot matanya berubah dingin dan mematikan, persis seperti tatapan Jenderal Ye Lin saat berdiri di garis depan Dinasti Hanlu puluhan ribu tahun lalu.Gaya bertarung Wan'er sama sekali tidak seperti preman jalanan yang mengandalkan otot dan teriakan semata. Ia sangat taktis, lincah, dan tepat sasaran.Di sepersekian detik sebelum tinju itu mendarat,

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   163. Siapa Gadis itu?

    Ye Wanqing—gadis berusia 24 tahun itu duduk dan menyeka keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya. Ia baru saja mengantar pesanan makanan siap saji, kemudian melihat sisa uang di rekeningnya.Wan’er, begitu panggilannya, hanya menghela napas panjang. Ia harus bekerja keras karena kedua adik lelakinya yang sedang menempuh pendidikan SMA sebentar lagi akan ujian masuk universitas, dan butuh biaya yang banyak.“Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan yang gajinya besar, padahal aku sudah sarjana.”Wan’er yang memiliki postur tinggi semampai sekitar 175 cm sudah mencoba melamar kerja ke sana kemari, tetapi hasilnya belum ada hingga ia hanya menjadi pekerja paruh waktu di dua kedai makanan, termasuk kedai mi milik ibunya sendiri.Ayah Wan’er bekerja sebagai pelatih kungfu di sebuah dojang di pinggir kota. Dulu dojang itu sangat ramai, tetapi seiring perkembangan zaman dan ayahnya yang sudah tua, muridnya semakin sedikit hingga pemasukan berkurang.Wan’er memang mewarisi keahlian kungfu a

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   162. Pak CEO

    Suara ketukan sepatu terdengar menggema di sepanjang lorong ruang VIP rumah sakit. Setiap ketukan langkahnya memancarkan keyakinan seseorang yang selalu menatap lurus ke masa depan.Namanya adalah Yan Muchen, CEO Grup Yan yang pagi itu menjadi topik utama di berbagai portal berita.Sosoknya menjulang tinggi. Balutan jas hitam pesanan khusus yang melekat sempurna di tubuhnya sama sekali tak mampu menyembunyikan bentuk otot dada dan bahunya yang tegap dan kokoh.Ia tidak mengenakan kacamata, dan membiarkan sepasang matanya yang tajam dan gelap memindai sekitar dengan karisma yang sanggup membuat siapa saja menundukkan kepala.Di usianya yang matang dan bergelimang harta, Yan Muchen masih menyendiri. Tidak ada satu pun wanita yang pernah terlihat digandengnya di depan publik. Konon, gosip di kalangan sosialita menyebutkan bahwa CEO itu tidak normal dan tidak tertarik pada wanita. Namun, kenyataannya sama sekali tidak demikian.Yan Muchen hanya memiliki standar yang tak bisa dijelaskan ol

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   Dunia Modern

    Rasa penasaran serta ketakutan yang bercampur aduk membuat Xu Wen benar-benar tidak bisa duduk tenang. Sensasi pelukan, ciuman, dan sentuhan dingin di dalam mimpinya terasa terlalu nyata, meresap sampai ke tulang-tulangnya.Bahkan ia merasa lelaki berambut putih itu ada di sisinya dan memandangnya dengan tajam seolah ingin menyedot jiwanya sampai tulangnya kering. Mengerikan! Tetapi begitu yang ia rasakan karena masih terbawa mimpi.Mengabaikan tubuhnya yang masih sedikit lemas, Xu Wen diam-diam memesan test pack melalui layanan antar cepat rumah sakit dan segera membawanya ke dalam kamar mandi VIP tempatnya beristirahat.Tiga menit menunggu terasa seperti tiga tahun di Istana Utara. Jantung Xu Wen berdebar kencang saat ia mengangkat benda pipih itu dan menatap hasilnya.Satu garis merah. Negatif."Astaga naga beruang babi anjing kucing angsa, syukurlah aku tidak hamil," gumam Xu Wen.Ia mengembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan di kedua lubang hidungnya. Ia menyandarkan pungg

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   129. Naluri Dokter

    A Ruo yang berada di dalam Istana Dingin sejak tadi, benar-benar tak tahan untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar. Ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menahan gigil di badan. Lalu Selir Agung menarik dirinya agar mendekat ke tungku api.“Jangan pergi, Pangeran Yuan sudah menyuruhmu u

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   125. Pasukan Mayat Hidup

    Setelah meninggalkan perjamuan pernikahan yang sangat sepi itu, Shen Yuan dan A Ruo kembali ke Paviliun dengan langkah cepat. Waktu mereka tidak banyak.Ketika sampai di dalam kamar yang mulai dingin, A Ruo sibuk memasukkan beberapa jubah tebal dan perlengkapan medisnya ke dalam buntelan kain, seme

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   124. Kebangkitan

    "Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tinda

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   123. Sah

    Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya p

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status