LOGIN"Nona, maaf, sepertinya kau salah orang. Namaku Ye Wanqing, bukan Ye Lin," balas Wanqing dengan tatapan sedikit curiga. Ia menatap aneh wanita berbalut mantel putih tebal di depannya yang tiba-tiba mematung dengan mulut menganga.Belum sempat Xu Wen menjawab untuk menutupi kengangaannya, kaca jendela mobil perlahan turun, terlihat Pak CEO Yan Muchen yang sedikit tidak sabar."Nona Xu," panggil sang CEO di antara kebengongan dua perempuan itu. "Silakan Nona duduk di kursi depan saja bersebelahan dengan sopir. Atau kalau mau, Nona boleh duduk di bagian paling belakang."Xu Wen mengerjap cepat. Ia menunjuk ke arah bagian belakang jip tersebut dengan wajah tak suka."Pak CEO, baris di sana kan sudah penuh dengan tumpukan koper dan peralatan medis darurat. Kalau aku duduk di sana, aku bisa tambah kurus tergencet tabung oksigen. Berarti pilihan satu-satunya ya aku duduk di sebelah sopir!""Baguslah kalau begitu," sahut Muchen tanpa dosa. Pandangan lelaki itu beralih menatap Wanqing yang mas
Lagi-lagi Xu Wen bermimpi tentang lelaki berambut putih alias Shen Yuan yang terus memanggilnya dalam mimpi hingga ia insomnia. Lalu akibatnya ia jadi tidur terlalu larut dan terlambat bangun pagi, padahal hari itu harusnya ia datang on time karena akan berangkat ke Desa Beihan.“Gawaaat, rambutku bahkan belum aku luruskan,” ucapnya sambil menggosok gigi. Ia baru bangun dan memilih memberi makan dua ekor kucingnya dulu.“Ibu, aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa, telepon saja dan minta tolong teman-teman Ibu dulu. Semua kebutuhan di kulkas sudah aku isi, jangan lupa beri makan dua pussy. Sepertinya aku akan lama kembali.” Xu Wen memakai sepatu terburu-buru.“Eh, sarapan dulu, nanti kau sakit perut.” Namun, ucapan ibunya tertelan oleh suara pintu apartemen yang tertutup.“Tidak biasanya Wen’er melewatkan sarapan sambil menonton variety show.” Ibunya hanya bisa menghela napas pendek saja. Jadilah sarapan di pagi yang menjelang siang itu ia nikmati seorang diri, lalu berbaur bersama tem
Peluit ditiup sebagai tanda pertarungan gaya bebas dan tangan kosong dimulai. Ketegangan terasa di arena matras. Seorang lelaki dengan otot besar memandang remeh ke arah Wan’er. Gadis itu membalas mengejeknya dengan menjulurkan lidah.Sepuluh orang di dalam matras mulai bergerak saling mengunci target. Seperti yang sudah diduga, lelaki berotot besar itu langsung mengincar Wan’er, karena menganggap ia sebagai mangsa paling lemah yang harus disingkirkan pertama kali."Menyerahlah, Gadis Kecil. Pulang, main boneka, masak, dan punya anak saja!" ejek lelaki itu sambil mengayunkan tinjunya ke rahang Wan’er.Tatapan mata Wan’er seketika menyipit. Sorot matanya berubah dingin dan mematikan, persis seperti tatapan Jenderal Ye Lin saat berdiri di garis depan Dinasti Hanlu puluhan ribu tahun lalu.Gaya bertarung Wan'er sama sekali tidak seperti preman jalanan yang mengandalkan otot dan teriakan semata. Ia sangat taktis, lincah, dan tepat sasaran.Di sepersekian detik sebelum tinju itu mendarat,
Ye Wanqing—gadis berusia 24 tahun itu duduk dan menyeka keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya. Ia baru saja mengantar pesanan makanan siap saji, kemudian melihat sisa uang di rekeningnya.Wan’er, begitu panggilannya, hanya menghela napas panjang. Ia harus bekerja keras karena kedua adik lelakinya yang sedang menempuh pendidikan SMA sebentar lagi akan ujian masuk universitas, dan butuh biaya yang banyak.“Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan yang gajinya besar, padahal aku sudah sarjana.”Wan’er yang memiliki postur tinggi semampai sekitar 175 cm sudah mencoba melamar kerja ke sana kemari, tetapi hasilnya belum ada hingga ia hanya menjadi pekerja paruh waktu di dua kedai makanan, termasuk kedai mi milik ibunya sendiri.Ayah Wan’er bekerja sebagai pelatih kungfu di sebuah dojang di pinggir kota. Dulu dojang itu sangat ramai, tetapi seiring perkembangan zaman dan ayahnya yang sudah tua, muridnya semakin sedikit hingga pemasukan berkurang.Wan’er memang mewarisi keahlian kungfu a
Suara ketukan sepatu terdengar menggema di sepanjang lorong ruang VIP rumah sakit. Setiap ketukan langkahnya memancarkan keyakinan seseorang yang selalu menatap lurus ke masa depan.Namanya adalah Yan Muchen, CEO Grup Yan yang pagi itu menjadi topik utama di berbagai portal berita.Sosoknya menjulang tinggi. Balutan jas hitam pesanan khusus yang melekat sempurna di tubuhnya sama sekali tak mampu menyembunyikan bentuk otot dada dan bahunya yang tegap dan kokoh.Ia tidak mengenakan kacamata, dan membiarkan sepasang matanya yang tajam dan gelap memindai sekitar dengan karisma yang sanggup membuat siapa saja menundukkan kepala.Di usianya yang matang dan bergelimang harta, Yan Muchen masih menyendiri. Tidak ada satu pun wanita yang pernah terlihat digandengnya di depan publik. Konon, gosip di kalangan sosialita menyebutkan bahwa CEO itu tidak normal dan tidak tertarik pada wanita. Namun, kenyataannya sama sekali tidak demikian.Yan Muchen hanya memiliki standar yang tak bisa dijelaskan ol
Rasa penasaran serta ketakutan yang bercampur aduk membuat Xu Wen benar-benar tidak bisa duduk tenang. Sensasi pelukan, ciuman, dan sentuhan dingin di dalam mimpinya terasa terlalu nyata, meresap sampai ke tulang-tulangnya.Bahkan ia merasa lelaki berambut putih itu ada di sisinya dan memandangnya dengan tajam seolah ingin menyedot jiwanya sampai tulangnya kering. Mengerikan! Tetapi begitu yang ia rasakan karena masih terbawa mimpi.Mengabaikan tubuhnya yang masih sedikit lemas, Xu Wen diam-diam memesan test pack melalui layanan antar cepat rumah sakit dan segera membawanya ke dalam kamar mandi VIP tempatnya beristirahat.Tiga menit menunggu terasa seperti tiga tahun di Istana Utara. Jantung Xu Wen berdebar kencang saat ia mengangkat benda pipih itu dan menatap hasilnya.Satu garis merah. Negatif."Astaga naga beruang babi anjing kucing angsa, syukurlah aku tidak hamil," gumam Xu Wen.Ia mengembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan di kedua lubang hidungnya. Ia menyandarkan pungg
“Ye Lin, apa yang terjadi padamu, katakan?” Yanzuo mendesak gadis itu untuk bicara. Lalu matanya yang merah tertuju pada tangan Ye Lin yang dibalut kain, darah merembes dari sana.“Api itu pasti membakarmu.”“Pangeran,” ucap Ye Lin perlahan. “Aku berhasil membawa obatmu.”“Jangan pikirkan aku, kau
Istana selatan yang megah dengan banyak paviliun kosong di dalamnya, sudah sangat dekat dari mata Ye Lin. Jenderal penjaga roh itu keluar dari tenda dan tubuhnya melayang di atas angin. Saat ia menoleh tenda pengantin hantu telah menghilang.Ye Lin terbang turun dengan perlahan. Istana itu tidak di
Ye Lin sedang berpatroli seperti biasanya. Namun, firasat gadis itu sedang tidak enak ditambah ia merasa bahwa Pangeran Api sedang merintih kesakitan.“Ah, mungkin hanya perasaanku saja,” gumamnya menepis kegundahan. “Tapi sejak kapan aku punya perasaan?”Dengan langkah ragu-ragu ia melompat dari a
Lian Ruo sedang membuat obat untuk kekasih hatinya—sang Pangeran Salju yang kini duduk dalam posisi semedi. Gadis itu mengipasi bara api dengan sabar, menjaga panasnya tetap stabil agar tidak merusak khasiat obat.Tangannya yang cekatan mulai memilah bahan-bahan langka yang sebagian dibawa dari Ist







