MasukGerbang besi tempa setinggi lima meter yang membatasi area belakang Istana Agung Kesultanan Al-Fariz berdiri kukuh bagaikan raksasa yang siap menelan siapa saja. Dua orang pengawal berseragam militer lengkap dengan senjata laras panjang menatap Amira Nabila dengan pandangan menyelidik yang teramat dingin.
Di bawah tatapan intimidasi tersebut, Amira merasa tubuhnya kian mengecil. Ia berdiri gemetar, tangan kanannya mencengkeram erat pegangan koper kusam yang berat, sementara tangan kirinya yang terbalut sapu tangan bernoda darah masih setia mendekap pigura foto ibunya di dada. Setelah memeriksa kartu identitas Amira dengan ketat, salah seorang pengawal memberi isyarat agar gerbang dibuka. Suara derit besi yang bergesekan terdengar berat, seolah membuka pintu menuju dunia lain yang sama sekali tidak Amira kenal. "Ikut aku. Jangan menengok ke mana-mana jika kau masih ingin menghirup udara esok hari," tegur seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan pakaian pelayan linen putih yang rapi. Pria itu adalah Tuan Malik, Kepala Pengawas Dapur Utama istana yang beberapa menit lalu menerima telepon keputusasaan Amira. Amira hanya mengangguk pelan, melangkah tergesa mengekor di belakang Tuan Malik. Mereka menyusuri lorong-lowong bawah tanah istana yang terbuat dari batu granit abu-abu. Meskipun ini adalah area pelayan, kemewahan tetap terasa dari lampu-lampu dinding perunggu yang berpendar temaram, memantulkan bayangan panjang mereka di dinding yang dingin. Semakin mereka mendekati area dapur utama, telinga Amira mulai menangkap kegaduhan yang luar biasa. Suara benturan logam, pekikan panik, dan langkah kaki yang berlarian saling bersahutan, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat dada Amira kian sesak. Saat Tuan Malik mendorong pintu ganda kayu jati yang membatasi dapur utama, pemandangan di dalam ruangan seluas lapangan basket itu seketika membuat Amira terpaku. Kekacauan total tengah terjadi. Jajaran peralatan masak modern berbahan baja antikarat yang berkilau mewah kini tampak berantakan. Di sudut ruangan, beberapa orang juru masak profesional berpakaian putih bersih tampak sedang mengemas pisau-pisau mereka dengan tangan yang gemetar hebat. Beberapa pelayan wanita bahkan terisak pelan sembari menyeka air mata mereka di sudut dinding. Di tengah-tengah ruangan, sebuah piring emas murni tergeletak mengenaskan di atas lantai marmer, dengan sisa hidangan domba panggang mewah yang berserakan tak tersentuh. "Cepat keluar dari sini sebelum pengawal pribadi Sultan menyeret kalian ke penjara bawah tanah!" teriak Tuan Malik dengan suara menggelegar, membuat seluruh pasang mata di ruangan itu menatapnya penuh ketakutan. "Sultan Rayyan sudah menitahkan pemecatan kalian semua! Tidak ada ampun bagi siapa pun yang menyajikan makanan yang buruk kepada Yang Mulia!" Amira terengah, bulu kuduknya meremang saat mendengar nama penguasa tertinggi kesultanan itu disebut dengan begitu penuh ketakutan. Sultan Rayyan Al-Fariz. Pria misterius yang rumornya sangat terkenal di kota, di mana ia dikenal bagai tiran berdarah dingin tanpa belas kasihan. Tuan Malik berbalik, menatap Amira dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan yang mendalam. Matanya beralih sejenak pada tangan Amira yang berbalut sapu tangan bernoda darah, lalu naik menatap wajah Amira yang sembap. Di tengah situasi gila ini, ia tidak memiliki waktu untuk memedulikan latar belakang atau luka di tangan gadis di hadapannya. "Kau gadis yang menelepon tadi, bukan?" tanya Tuan Malik, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Siapa namamu?" "A-Amira, Tuan," jawab Amira dengan suara parau yang hampir menghilang. "Dengar, Amira. Mulai detik ini, kau resmi menjadi buruh dapur rendahan di sini. Tugasmu adalah membersihkan area pemanggangan dan menyiapkan bahan dasar," Tuan Malik menunjuk ke arah sudut dapur khusus yang memiliki jajaran oven industrial besar. "Seluruh tim juru masak sayap barat baru saja didepak secara terhormat karena hidangan mereka membuat Sultan murka. Selera makan Yang Mulia sedang berada di titik paling mengerikan. Beliau tidak menyentuh makanan apa pun selama tiga hari ini, dan siapa saja yang gagal menyajikan makanan yang bisa ditelan oleh beliau akan berakhir tragis." Tuan Malik mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan peringatan yang mengunci pergerakan Amira. "Aku tidak peduli apa masalahmu di luar sana hingga mengemis pekerjaan di tengah malam begini. Namun di istana ini, peraturan pertamanya adalah patuh. Di siang hari, kau harus menghilang dari pandangan para bangsawan. Dan di malam hari, kau harus bekerja tanpa suara. Paham?" "Paham, Tuan," Amira mengangguk patuh. Kehilangan tempat tinggal dan dikejar hutang miliaran membuatnya tidak memiliki kemewahan untuk memilih atau merasa takut. "Bagus. Cepat taruh kopermu di barak pelayan di ujung lorong sebelah kanan. Lalu, bersihkan tanganmu, pakai apron, dan mulailah bekerja. Dapur pemanggangan harus steril dalam waktu satu jam, sebelum tim pengawas kesehatan istana datang memeriksa," titah Tuan Malik sebelum berbalik untuk kembali mengomandani para pelayan lain yang tersisa. Amira melangkah gontai menuju barak pelayan yang ditunjukkan Tuan Malik. Di dalam bilik sempit yang sunyi itu, ia meletakkan koper kusamnya. Kemudian, dengan kedua tangan yang bergetar, ia mengeluarkan pigura foto ibunya. Di atas sebuah rak kayu kecil yang aman, ia meletakkan pigura itu dengan sangat hati-hati, memastikan wajah sang ibu tetap menghadap ke arahnya. "Aku pasti akan menyelamatkan rumah kita, Bu... Percaya padaku," bisik Amira parau, menahan sesak yang menyumbat dadanya. Sebelum memulai pekerjaan, Amira melangkah ke kamar mandi pelayan. Dengan perlahan, ia membuka balutan sapu tangan di tangan kirinya yang basah oleh rembesan darah. Ssst... Amira merintih pelan saat air dingin dari keran mengalir membasahi telapak tangannya. Luka robek akibat pecahan kaca pigura siang tadi tampak memerah, menganga, dan perih, menyengat saraf-saraf jarinya. Namun, Amira menolak untuk menangis lagi. Air matanya sudah habis dikuras habis oleh pengkhianatan Zeydan dan arogansi para preman bank. Dengan ketegaran yang dipaksakan, ia membersihkan sisa darah dengan selembar kain kasa steril yang ia temukan di kotak obat, membalutnya kembali dengan ketat, lalu mengenakan sarung tangan lateks untuk menutupi lukanya. Setelah mengenakan gaun pelayan abu-abu sederhana dan apron linen putih yang kaku, Amira kembali ke dapur utama dan berjalan mendekati meja marmer besar di area pemanggangan. Keheningan yang mencekam mulai merayap setelah para juru masak yang dipecat meninggalkan ruangan. Hanya tersisa beberapa buruh kasar yang bekerja jauh di sudut lain dalam diam, tak berani bersuara karena takut memicu amarah pihak istana. Sesuai perintah Tuan Malik, Amira mengambil kain lap steril untuk mensterilkan meja marmer island tersebut. Namun, di atas permukaan marmer luas itu, tumpukan tepung gandum yang sudah ditakar, gumpalan mentega, dan sisa bahan baku lainnya tampak tercecer berantakan. Amira berdiri termangu, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua bahan yang telantar ini. Tiba-tiba Tuan Malik datang melintas kembali di dekatnya. Pria tambun itu mendengus gusar sembari menunjuk permukaan meja dengan ketus. "Lihat kekacauan yang ditinggalkan oleh para koki yang dipecat itu! Sudah, buang saja semuanya!" Amira menatap barang-barang itu dengan penuh keengganan setelah Tuan Malik kembali berlalu. Sekali lihat saja, Amira yang sudah bertahun-tahun terbiasa bergelut dengan bahan-bahan itu langsung tahu bahwa bahan membuat roti yang tercecer di sana adalah kualitas terbaik yang sangat mahal. Rasanya teramat berdosa jika bahan premium itu harus berakhir di tempat sampah. Bersamaan dengan itu, perut Amira mendadak berbunyi keroncongan, terasa perih karena ia belum menelan makanan apa pun sejak pagi akibat rentetan nasib buruknya. Setelah membersihkan singkat area meja yang diperintahkan Tuan Malik, Amira memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan telantar itu untuk membuat roti bagi makan malamnya sendiri, dan mungkin untuk beberapa buruh lain yang menginginkannya. Didorong oleh rasa rindu dan naluri alaminya sebagai seorang pembuat kue berbakat, Amira mulai mengambil mangkuk besar, menuangkan air hangat ke tepung gandum yang sudah ditakar koki sebelumnya, dan memasukkan ragi. Jemarinya yang terluka mulai bergerak menguleni adonan di atas meja marmer. Kehangatan adonan seketika mengirimkan gelombang kehangatan yang akrab ke dalam jiwanya. Ini adalah dunianya. Dunia yang diajarkan oleh mendiang ibunya dengan penuh kasih sayang sebelum tokonya hancur tak bersisa. Setiap tekanan yang ia berikan pada adonan tersebut seolah menjadi pelampiasan atas seluruh rasa sakit, amarah, dan pengkhianatan yang ia terima hari ini, hingga rasa perih di telapak tangannya yang robek sama sekali tidak terasa. "Ibu..." bisik Amira pelan sembari mengingat wajah tersenyum ibunya di pigura yang hancur tadi. Dalam waktu singkat, dengan keahlian yang luar biasa, Amira membuat adonan gandum itu terbentuk menjadi tekstur yang teramat kalis dan sempurna. Ia lalu membentuknya menjadi beberapa potong croissant klasik dan roti gandum tradisional upeti. Aroma mentega berkualitas tinggi yang berpadu dengan kehangatan ragi mulai menguar perlahan, memotong atmosfer dingin dan mencekam yang sejak tadi menyelimuti dapur utama istana. Aroma manis vanila alami dan gurihnya mentega itu begitu memikat, begitu jujur, seolah memiliki kekuatan magis untuk menenangkan jiwa siapa pun yang menghirupnya. Tepat saat Amira memasukkan loyang berisi adonan tersebut ke dalam oven industrial yang panas, pintu ganda dapur kembali terbuka dengan sentakan kasar. Seorang pria muda dengan pakaian pelayan senior berlari masuk dengan wajah sepucat mayat. "Tuan Malik! Tuan Malik! GAWAT!!!" ………………………………Bau karat, kelembapan batu tua, dan hawa dingin yang menusuk tulang menyambut langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz saat ia menuruni tangga batu melingkar menuju ruang interogasi terlarang di dasar Menara Barat.Di dalam ruangan minim cahaya itu, dua buah tungku tembaga raksasa menyala membara. Arang merah menyala memancarkan panas yang menyengat udara, membakar ujung-ujung batang besi tebal hingga memerah pijar.Di sudut lain, dari balik jeruji besi sel isolasi yang gelap, suara rintihan dan isak tangis ketakutan Zeydan Melik yang babak bunur terdengar samar, kian menambah atmosfer teror yang mencekik tempat itu.Selin terikat erat di atas kursi besi tebal. Rantai besi berat mengunci kedua pergelangan tangan dan kakinya. Wajahnya yang berbedak kusam kini berantakan oleh air mata, keringat dingin, dan riasan yang luntur. Ketika pintu besi dihantam terbuka dan sosok tinggi tegap Rayyan melangkah masuk dengan aura tiran yang amat kelam, tubuh Selin seketika bergetar hebat."Y-Yang Mulia...
"A-apa yang Anda bicarakan, Yang Mulia?!" jerit wanita itu seraya terbatuk-batuk, matanya membelalak lebar memancarkan penolakan yang luar biasa.Ia memegangi pergelangan tangan Rayyan yang mencekik lehernya, berusaha keras menggelengkan kepala."Hamba bukan Puan Selin! Hamba hanyalah pelayan dapur bernama Marna! Ampun, Yang Mulia! Wajah hamba... wajah hamba sama sekali tidak mirip dengan mantan selir Puan Selin! Lihat hamba, Yang Mulia! Anda pasti salah orang!"Farhan yang berdiri di dekat mereka melangkah mendekat, menyipitkan mata mengamati wajah pelayan itu di bawah pendar temaram cahaya pagi. Panglima Pengawal Bayangan itu mengerutkan keningnya, mendadak diliputi keraguan.Jika diingat kembali, sketsa wajah Selin yang tersebar di seluruh papan buronan lima tahun lalu memiliki bentuk wajah bulat dengan hidung agak pipih dan mata lebar. Sedangkan wanita di hadapan mereka ini memiliki rahang tirus yang tajam, hidung mancung melengkung tinggi, dan lipatan mata yang jauh berbeda. Seca
Bunyi gemerincing rantai besi yang mengunci pintu ganda Sayap Kanan Kamar Agung dari luar bergema berat di sepanjang koridor menara. Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz berdiri tertegun sejenak di depan pintu yang tertutup rapat itu. Dadanya naik-turun memburu, merasakan nyeri yang menghantam jiwanya tatkala mengingat wajah Amira yang basah oleh air mata dan jejak memar kemerahan di pipi halus gadis itu.Gadis itu mempercayainya... namun manipulasi iblis dari Paviliun Utama hampir saja merusak jembatan cinta yang baru mereka bangun."Panglima Farhan!" panggil Rayyan dengan suara bariton yang amat dingin dan pekat."Siap, Yang Mulia!" sahut Farhan seraya membungkuk tegap."Biarkan dua puluh prajurit bayangan terbaik bertaruh nyawa membentengi kamar ini. Jika ada satu ekor lalat pun yang berani mendekati peraduan Selirku tanpa izinku, tebas kepalanya di tempat!""Siap laksanakan, Yang Mulia!"Dengan jemari yang mencengkeram erat hulu pedang utamanya, Rayyan berbalik. Langkah kaki bertelanjang yan
Hujan gerimis membungkus gerbang utama Istana Agung Al-Fariz pagi itu. Udara dingin merayap menusuk tulang, namun atmosfer di sekitar gerbang besi tempa setinggi lima meter tersebut justru membara oleh ketegangan yang nyaris meledak.Di hadapan belasan prajurit penjaga berzirah lengkap, Amira berdiri tegap dengan tubuh yang gemetar. Ia memeluk erat koper kusam kecil di dadanya—koper yang sama yang dulu dibawanya saat pertama kali menginjakkan kaki di istana iblis ini. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap oleh lelehan air mata yang tak henti mengalir sepanjang malam."Buka gerbangnya!" jerit Amira dengan suara parau yang pecah. "Hamba bukan lagi pelayan di sini! Hamba berhak pergi!"Para prajurit penjaga berdada kaku itu saling melirik dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh Amira, apalagi mengarahkan senjata pada wanita yang baru saja diumumkan sebagai Selir Agung Utama Kesultanan. Namun, membiarkan wanita milik Sultan melangkah
Uap ketegangan melingkupi peraduan Sayap Kanan Kamar Agung hingga ke taraf yang menyesakkan. Rayyan terpaku menatap kertas dokumen berstempel merah darah di tangannya, sebelum akhirnya memutar pandangannya ke arah Amira. Bukannya memberikan penjelasan dengan kepala dingin, rasa terluka yang amat mendalam mendadak memicu amarah dan ego Sang Sultan. Setelah semua hal yang ia pertaruhkan—menghancurkan aliansi, menantang Dewan Tetua, hingga membuka seluruh hatinya di pulau pribadi—Amira justru dengan mudah menuduhnya sebagai iblis pembunuh tanpa bertanya terlebih dahulu. "Kau menuduhku?!" suara Rayyan mengalun rendah, bergetar oleh amarah yang membakar. "Kau melihat Stempel Agung itu dan langsung menyimpulkan bahwa aku yang membunuh ibumu, Amira?!" "Lalu siapa lagi, Yang Mulia?!" jerit Amira histeris, air matanya meluncur deras melintasi pipinya yang pucat. "Stempel itu adalah milik Sultan Al-Fariz! Hak mutlak penguasa kerajaan ini! Apakah Anda ingin membual bahwa ada orang lain yan
Uap darah dan hawa dingin dari sel bawah tanah menguap seiring langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz yang membelah koridor menuju Sayap Kanan Kamar Agung. Pria itu telah membersihkan jemarinya, meninggalkan kekejaman terhadap Zeydan Melik di dalam kegelapan sel isolasi tanpa menyampaikan sepatah kata pun pada Amira. Bagi Rayyan, masa lalu yang kotor itu tidak layak mencemari kedamaian wanita yang paling ia cintai.Rayyan mendorong pintu ganda peraduan pribadi dengan pelan. Suasana kamar terasa begitu sunyi, hanya dihiasi oleh pendar temaram lampu minyak dan hembusan angin malam dari celah jendela.Di tepi ranjang pualam, Amira duduk mematung. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra longgar, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang tertangkup kaku di atas pangkuan.Melihat sosok Amira yang jelita di bawah temaram cahaya, naluri posesif dan rasa rindu Rayyan seketika meledak. Pria itu melangkah mendekat tanpa suara, melucuti jubah luarnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Dari belakan







