MasukBau karat, kelembapan batu tua, dan hawa dingin yang menusuk tulang menyambut langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz saat ia menuruni tangga batu melingkar menuju ruang interogasi terlarang di dasar Menara Barat.Di dalam ruangan minim cahaya itu, dua buah tungku tembaga raksasa menyala membara. Arang merah menyala memancarkan panas yang menyengat udara, membakar ujung-ujung batang besi tebal hingga memerah pijar.Di sudut lain, dari balik jeruji besi sel isolasi yang gelap, suara rintihan dan isak tangis ketakutan Zeydan Melik yang babak bunur terdengar samar, kian menambah atmosfer teror yang mencekik tempat itu.Selin terikat erat di atas kursi besi tebal. Rantai besi berat mengunci kedua pergelangan tangan dan kakinya. Wajahnya yang berbedak kusam kini berantakan oleh air mata, keringat dingin, dan riasan yang luntur. Ketika pintu besi dihantam terbuka dan sosok tinggi tegap Rayyan melangkah masuk dengan aura tiran yang amat kelam, tubuh Selin seketika bergetar hebat."Y-Yang Mulia...
"A-apa yang Anda bicarakan, Yang Mulia?!" jerit wanita itu seraya terbatuk-batuk, matanya membelalak lebar memancarkan penolakan yang luar biasa.Ia memegangi pergelangan tangan Rayyan yang mencekik lehernya, berusaha keras menggelengkan kepala."Hamba bukan Puan Selin! Hamba hanyalah pelayan dapur bernama Marna! Ampun, Yang Mulia! Wajah hamba... wajah hamba sama sekali tidak mirip dengan mantan selir Puan Selin! Lihat hamba, Yang Mulia! Anda pasti salah orang!"Farhan yang berdiri di dekat mereka melangkah mendekat, menyipitkan mata mengamati wajah pelayan itu di bawah pendar temaram cahaya pagi. Panglima Pengawal Bayangan itu mengerutkan keningnya, mendadak diliputi keraguan.Jika diingat kembali, sketsa wajah Selin yang tersebar di seluruh papan buronan lima tahun lalu memiliki bentuk wajah bulat dengan hidung agak pipih dan mata lebar. Sedangkan wanita di hadapan mereka ini memiliki rahang tirus yang tajam, hidung mancung melengkung tinggi, dan lipatan mata yang jauh berbeda. Seca
Bunyi gemerincing rantai besi yang mengunci pintu ganda Sayap Kanan Kamar Agung dari luar bergema berat di sepanjang koridor menara. Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz berdiri tertegun sejenak di depan pintu yang tertutup rapat itu. Dadanya naik-turun memburu, merasakan nyeri yang menghantam jiwanya tatkala mengingat wajah Amira yang basah oleh air mata dan jejak memar kemerahan di pipi halus gadis itu.Gadis itu mempercayainya... namun manipulasi iblis dari Paviliun Utama hampir saja merusak jembatan cinta yang baru mereka bangun."Panglima Farhan!" panggil Rayyan dengan suara bariton yang amat dingin dan pekat."Siap, Yang Mulia!" sahut Farhan seraya membungkuk tegap."Biarkan dua puluh prajurit bayangan terbaik bertaruh nyawa membentengi kamar ini. Jika ada satu ekor lalat pun yang berani mendekati peraduan Selirku tanpa izinku, tebas kepalanya di tempat!""Siap laksanakan, Yang Mulia!"Dengan jemari yang mencengkeram erat hulu pedang utamanya, Rayyan berbalik. Langkah kaki bertelanjang yan
Hujan gerimis membungkus gerbang utama Istana Agung Al-Fariz pagi itu. Udara dingin merayap menusuk tulang, namun atmosfer di sekitar gerbang besi tempa setinggi lima meter tersebut justru membara oleh ketegangan yang nyaris meledak.Di hadapan belasan prajurit penjaga berzirah lengkap, Amira berdiri tegap dengan tubuh yang gemetar. Ia memeluk erat koper kusam kecil di dadanya—koper yang sama yang dulu dibawanya saat pertama kali menginjakkan kaki di istana iblis ini. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap oleh lelehan air mata yang tak henti mengalir sepanjang malam."Buka gerbangnya!" jerit Amira dengan suara parau yang pecah. "Hamba bukan lagi pelayan di sini! Hamba berhak pergi!"Para prajurit penjaga berdada kaku itu saling melirik dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh Amira, apalagi mengarahkan senjata pada wanita yang baru saja diumumkan sebagai Selir Agung Utama Kesultanan. Namun, membiarkan wanita milik Sultan melangkah
Uap ketegangan melingkupi peraduan Sayap Kanan Kamar Agung hingga ke taraf yang menyesakkan. Rayyan terpaku menatap kertas dokumen berstempel merah darah di tangannya, sebelum akhirnya memutar pandangannya ke arah Amira. Bukannya memberikan penjelasan dengan kepala dingin, rasa terluka yang amat mendalam mendadak memicu amarah dan ego Sang Sultan. Setelah semua hal yang ia pertaruhkan—menghancurkan aliansi, menantang Dewan Tetua, hingga membuka seluruh hatinya di pulau pribadi—Amira justru dengan mudah menuduhnya sebagai iblis pembunuh tanpa bertanya terlebih dahulu. "Kau menuduhku?!" suara Rayyan mengalun rendah, bergetar oleh amarah yang membakar. "Kau melihat Stempel Agung itu dan langsung menyimpulkan bahwa aku yang membunuh ibumu, Amira?!" "Lalu siapa lagi, Yang Mulia?!" jerit Amira histeris, air matanya meluncur deras melintasi pipinya yang pucat. "Stempel itu adalah milik Sultan Al-Fariz! Hak mutlak penguasa kerajaan ini! Apakah Anda ingin membual bahwa ada orang lain yan
Uap darah dan hawa dingin dari sel bawah tanah menguap seiring langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz yang membelah koridor menuju Sayap Kanan Kamar Agung. Pria itu telah membersihkan jemarinya, meninggalkan kekejaman terhadap Zeydan Melik di dalam kegelapan sel isolasi tanpa menyampaikan sepatah kata pun pada Amira. Bagi Rayyan, masa lalu yang kotor itu tidak layak mencemari kedamaian wanita yang paling ia cintai.Rayyan mendorong pintu ganda peraduan pribadi dengan pelan. Suasana kamar terasa begitu sunyi, hanya dihiasi oleh pendar temaram lampu minyak dan hembusan angin malam dari celah jendela.Di tepi ranjang pualam, Amira duduk mematung. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra longgar, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang tertangkup kaku di atas pangkuan.Melihat sosok Amira yang jelita di bawah temaram cahaya, naluri posesif dan rasa rindu Rayyan seketika meledak. Pria itu melangkah mendekat tanpa suara, melucuti jubah luarnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Dari belakan







