Beranda / Romansa / Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan / Bab 60: (21+) Hadiah Sultan?

Share

Bab 60: (21+) Hadiah Sultan?

Penulis: Nama Pena Anar
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 23:59:33
Sentuhan lembut nan mendadak di bibirnya seolah menghentikan seluruh detak waktu di dalam lorong batu yang remang itu.

Sultan Rayyan Al-Fariz terpaku. Pupil matanya membesar. Rasa hangat, manis dari bibir Amira menghantam pertahanan dirinya bagaikan ledakan dahsyat.

Namun.. Hanya butuh dua detik bagi sang Sultan untuk menguasai kembali kesadarannya.

SRET!

Bukannya melepaskan, cengkeraman tangan kekar Rayyan di pinggang Amira justru mengetat. Rayyan memutar posisi tubuh mereka dalam satu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Disava lasmawati
langsung dah di hap hhhh amira tindakanmu itu bikin rayyan nggak bisa untuk nggak lepas kendali
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 81: Maukah Kau Menjadi Selirku?

    Teriakan Amira yang menggelegar di peraduan pribadi Sultan langsung memotong lamunan liar Rayyan. Pria itu berkedip perlahan, menyerap raut wajah Amira yang memerah padam antara amarah, malu, dan kepanikan yang bertumpuk menjadi satu.Sebuah kekeh rendah yang amat serak meluncur dari tenggorokan Rayyan. Pria itu menyandarkan kepala di sandaran ranjang sutra, menatap Amira dengan pandangan yang kian pekat oleh rasa kepemilikan."Aku tidak melamun, Amira," bisik Rayyan lembut namun sarat akan kejahilan yang memabukkan. "Aku hanya sedang mengutuk bahu kiriku sendiri... karena retak di saat yang paling tidak tepat.""Astaga, Yang Mulia... Yang kau katakan itu benar-benar membuat malu, jika didengar orang lain!" Pekik Amira menahan napas, dadanya kempis-kembang. Gadis itu meletakkan cawan obat berbahan porselen ke atas meja samping ranjang dengan dentang yang sedikit kasar. "Makanya... tubuhmu jangan secandu ini, dong," kekeh Rayyan lagi, matanya mengkilat jahil.Dengan satu tarikan man

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 80: Gairah dan Amukan Gemas

    ​Bisikan Rayyan yang sarat ancaman mematikan itu menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Amira terpaku kaku di atas bantal sutra, menatap manik mata hitam Sang Sultan yang memancarkan kegilaan tanpa penyesalan sedikit pun.​Namun, saat mata Amira turun menelusuri bahu kiri Rayyan, napas gadis itu tertahan.​Di balik kemeja hitam tipis yang melekat pada dada bidangnya, noda darah segar berbau hanyir merembes pelan, membendung kain yang robek akibat tersayat pengait pelana saat kuda itu melintas kencang.​"Anda... Anda terluka, Yang Mulia," cicit Amira, kepanikannya mendadak bergeser dari masalah diplomasi menuju rasa cemas yang tak sanggup ia kekang.​Tanpa memedulikan pening di kepalanya, Amira mendorong dada tegap Rayyan pelan. "Luka bahu Anda sangat parah. Kita harus memanggil tabib—"​"Aku tidak peduli pada luka ini, Amira," potong Rayyan serak, menolak bergeser satu inci pun.​"Tapi hamba peduli!" pekik Amira tertahan, matanya mendadak berkaca-kaca oleh perpaduan rasa lelah, a

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 79: Penyelamatan Seorang Pelayan

    Derap langkah tegap Rayyan memantul keras di atas pualam lorong Istana Dalam, memecah keheningan mencekam yang merayap cepat ke seluruh penjuru kerajaan.Di sepanjang koridor, puluhan pelayan dan pengawal bertopeng perak berjatuhan bersujud di lantai. Wajah mereka pucat pasi, tak berani mendongak sedikit pun melihat Sang Sultan berjalan membopong seorang pelayan rendahan yang tak sadarkan diri di dadanya, dengan jubah kebesaran yang penuh noda debu arena dan sisa darah dari luka di bahunya!BAM!Rayyan menendang pintu kayu mahoni kamar pribadinya hingga terbuka lebar, lalu membawa Amira masuk dan membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang berseprai sutra emas miliknya."Tabib Utama! Masuk sekarang juga!" bentak Rayyan, suaranya menggelegar dipenuhi amarah yang membakar.Tabib Kerajaan bersama tiga asistennya menerobos masuk dengan tubuh gemetar hebat. Mereka berdiri di ambang pintu, tak berani menatap mata Sang Sultan yang memancarkan aura membunuh yang kental."Periksa Amira sekara

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 78: Ternyata Sultan Sendiri!

    "Mm... Lagipula... Amira terlihat sangat kuat. Dia pasti tidak keberatan... bukan begitu, Amira?"Amira menahan napasnya yang terasa membakar di kerongkongan. Gadis itu tahu betul bahwa jika Rayyan membela dirinya saat ini di depan seluruh Pejabat Ash-Shaf, rahasia hubungan mereka dan martabat Sang Sultan akan hancur seketika.Dengan sisa-sisa kesadaran yang terancam padam, Amira membungkukkan tubuhnya kaku.Dan sebagai seorang pelayan rendahan... ia sama sekali tidak pantas!"Hamba... akan segera melaksanakannya, Tuan Putri," desis Amira sangat lirih.Gadis itu membalikkan badannya, lalu melangkah menuruni undakan batu panggung utama, berjalan menuju hamparan debu arena yang mendidih di bawah sengatan matahari.Setiap langkah kaki Amira yang menyentuh batu pelataran arena bawah terasa bagaikan menapak di atas bara api. Entah mengapa siang ini, gaun pelayan hitam yang membungkus tubuhnya serasa menekan dadanya hingga sulit bernapas.Pandangan Amira mulai bergoyang parah. Bintik-binti

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 77: Duri di Balik Senyuman

    "Astaga, Amira... pengawal mana yang tega berbuat sekasar itu padamu?"Suara renyah Putri Sahira bergema memantul di dinding pualam kamar mandi, bercampur dengan uap hangat bermekar aroma mawar. Tangan sang putri tertahan di udara, jari-jemarinya yang berhiaskan cincin batu rubi menunjuk tepat ke arah bawah rahang Amira.Amira tersentak pelan. Refleks, ia langsung menarik kerah kemeja hitamnya ke atas, merapatkan kain itu hingga menutupi bekas ciuman dan gigitan panas Rayyan yang masih membengkak.Namun, sebelum Amira sempat merangkai alasan atau menyusun kata maaf, Sahira mendadak mengerlingkan matanya."Astaga... aku seharusnya tidak menanyakan hal pribadi seperti itu, Amira," bisik Sahira dengan nada penuh penyesalan yang teramat halus. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud lancang. Sungguh."Amira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menekan detak jantungnya yang sempat berpacu liar di balik dada. "Tidak apa-apa, Tuan Putri. Hamba yang memohon maaf atas ketidaknyamanan ini."Sahira me

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 76: Bekas Merah di Leher Pelayan Putri

    Bentakan Rayyan memantul di dinding-dinding kamar tidur yang luas itu, menciptakan keheningan yang jauh lebih pekat dan mematikan. Cengkeraman pada pinggang Amira mengeras, menyisakan jarak nol di antara tubuh mereka. Punggung gadis itu ditekan begitu rapat pada permukaan kayu mahoni pintu yang tertutup rapat, membuat detak jantung mereka beradu dalam tempo yang sama kacaunya.Amira menelan ludah dengan susah payah. Sisa-sisa pertahanan es yang ia bangun dengan susah payah selama tiga hari terakhir mulai retak, terkikis oleh hawa panas yang menguap dari tubuh Rayyan.Pria itu benar-benar terlihat mengerikan sekaligus rapuh di saat yang bersamaan—pucat pasi dengan keringat dingin yang masih membasahi pelipisnya, namun sorot matanya berkilat memancarkan obsesi yang tak memberi ruang bagi kata tidak."Anda sudah gila, Yang Mulia..." desis Amira lirih, suaranya kehilangan sedikit nada dinginnya, menyisakan getaran halus yang tak mampu ia sembunyikan."Aku tidak peduli," potong Rayyan tanp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status