MasukGemini. Jeda sejenak. Amira dan Rayyan ya. Rayyan tadi baru aja ngangkat Amira jadi selir resminya.Bab 87: "Agh!"Sebuah rintihan halus yang tertahan mendadak memotong napas Rayyan. Pria itu menyentak kepalanya sedikit ke belakang, menghentikan ciuman secara tiba-tiba dengan mata yang tertutup rapat dan kening menyengkit menahan nyeri.Amira berkedip linglung, kelopak matanya yang basah terbuka pelan seraya napasnya memburu. Pandangannya yang tadinya kabur seketika membelalak saat menangkap setetes darah segar berwarna merah pekat muncul membasahi sudut bibir kanan Rayyan. Luka robek akibat hantaman cincin permata milik Ibu Suri Soraya tadi pagi kembali terbuka, tergesek kasar akibat ciuman panas mereka yang terlalu intens."Y-Yang Mulia...!" cicit Amira panik. Rasa cemas seketika melumpuhkan seluruh rasa malu yang tadinya menyergap.Tanpa sadar, kedua telapak tangan halus Amira terangkat, membingkai penuh rahang tegas Rayyan. Tangannya gemetar pelan saat ibu jarinya dengan teramat
Tirai sutra tebal berwarna merah marun tersingkap perlahan, diiringi derak halus gumpalan benang emas yang bergesekan dengan pilar kayu jati.Langkah kaki Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz terdengar begitu mantap namun berat, menapak di atas karpet Persia yang meredam setiap suara. Pria itu melangkah masuk ke dalam Sayap Kanan Kamar Agung dengan jubah kebesarannya yang sedikit berantakan di bagian kerah.Di sudut bibir tegasnya, menyisa jejak memar kemerahan yang samar—bekas tamparan brutal Ibu Suri Soraya di koridor tadi. Namun, bukannya tampak terluka, binar mata hitam Sang Sultan justru memancarkan aura kemenangan yang liar dan mematikan.Amira tetap berdiri mematung di dekat cermin emas. Ia membalas tatapan Rayyan melalui pantulan kaca, tubuhnya yang terbalut gaun sutra emas bergetar tipis saat pria itu makin mengikis jarak di antara mereka.Rayyan berhenti tepat di belakang Amira. Pria perkasa itu menatap pantulan Amira dari cermin—menelusuri setiap jengkal perubahan visual gadis itu dar
Deklarasi Sultan Rayyan Al-Fariz masih menggantung pekat di udara, menyisakan keheningan mencekam yang menusuk hingga ke tulang. Para anggota Dewan Tetua berdiri terpaku dengan wajah pucat keabuan, tak percaya bahwa penguasa tiran itu secara sepihak mengangkat seorang pelayan menjadi Selir Kerajaan."Yang Mulia! Ini pelanggaran hukum adat yang sangat berat!" seru Ketua Dewan Tetua, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak. "Gadis ini hanyalah rakyat biasa berstatus pelayan! Sultana Soraya dan Dewan Adat tidak akan pernah merestui wanita ini merusak kesucian garis keturunan Al-Fariz!"Rayyan tidak bergeming. Tatapan mata elangnya menyapu wajah-wajah para pejabat tua itu dengan dingin. Ia mempererat lingkar tangannya di pinggang Amira, menarik tubuh wanita itu kian rapat hingga tak menyisakan celah sedikit pun."Restu?..." Rayyan menyunggingkan senyum sinis yang mengintimidasi. "Aku adalah Sultan Al-Fariz. Hukum, tahta, dan hak veto kesultanan ini berada di genggaman tanganku! Si
Gema kata-kata Sultan Ar-Rayyan masih memantul keras di atas langit-langit batu pualam Balai Agung. Kalimat singkat itu bagaikan petir yang menyambar di tengah hari bolong, membakar habis seluruh keberanian para pejabat dan anggota Dewan Tetua yang hadir. Amira terperanjat di dalam dekapan Rayyan. Lingkaran tangan kokoh Sultan di pinggangnya terasa begitu panas, mengunci tubuhnya rapat-rapat hingga ia bisa merasakan detak jantung Rayyan yang bergemuruh kencang di balik jubah merah mewahnya. Amira mendongak perlahan, menatap rahang tegas Rayyan yang mengeras bagaikan pahatan batu granit. Binar mata hitam pria itu menyala penuh dengan intimidasi yang sanggup meremukkan mental siapa pun. "Apa... apa maksud Anda, Yang Mulia?!" seru Ketua Dewan Tetua, suaranya bergetar antara keterkejutan dan rasa murka yang berusaha ia tahan. "Nama wanita ini terdaftar secara sah di dalam Kitab Tawanan dan Pelayan Istana! Berdasarkan hukum tata negara Al-Fariz, statusnya adalah pelayan! Anda jangan men
Langkah kaki Amira terasa begitu berat melintasi lorong-lorong batu pualam yang dingin. Ia terus teringat kekacauan yang baru saja terjadi di dalam peraduan pribadi Sang Sultan—penolakan tegas yang ia lemparkan, tawaran tahta permaisuri yang tak masuk akal, serta tatapan kehampaan Rayyan yang tertinggal di balik pintu mahoni.Dalam lima belas menit setelah mengganti pakaian dan merapikan rambutnya, Amira sampai di Balai Utama, tempat perjamuan agung pagi ini digelar.Meja-meja panjang telah terisi oleh para pejabat tinggi Kerajaan Al-Fariz, anggota Dewan Tetua yang mengenakan jubah keagungan, serta rombongan utusan diplomasi dari Kesultanan Ash-Shaf.Di meja kehormatan paling depan, Putri Sahira duduk bak seorang ratu. Di samping tempat duduknya, berdiri Zurie—Kepala Pelayan istana yang selama ini menaruh dendam dan rasa iri membara pada Amira. Zurie mengawasi pintu masuk dengan binar mata gelisah yang menyimpit penuh intrik.Amira menarik napas dalam-dalam, berusaha menundukkan panda
"Asal kau mau berada di sisiku... menjadi selirku, aku akan memastikan seluruh kerajaan ini tunduk di bawah kakimu. Kau tidak perlu takut lagi, Amira. Maukah kau?"Atmosfer di dalam kamar mendadak membeku.Rayyan menunggu respons gadis itu. Ia membayangkan Amira akan meneteskan air mata haru, mengangguk pasrah dalam dekapannya, atau setidaknya memeluknya dengan rasa syukur atas perlindungan mutlak yang baru saja ia tawarkan.Namun, Amira hanya diam terpaku.Rona merah di pipi gadis itu perlahan surut, digantikan oleh warna pucat yang dingin. Binar hangat di mata Amira mendadak padam secara perlahan, menyisakan tatapan kosong yang teramat dalam dan asing.Kata 'Selir' bergema liar di kepala Amira.Selir.Wanita simpanan. Pemuas gairah yang dilegalkan hukum kerajaan. Wanita yang akan selalu berada di bawah bayang-bayang seorang Permaisuri berdarah murni seperti Sahira. Seorang pemuas dahaga yang statusnya bisa dibuang kapan saja jika intrik politik mendesak.Rayyan mengira ia sedang men







