LOGINHari sudah cukup larut. Bahkan sudah lewat tengah malam. Anin masuk ke dalam kamar Arka kembali setelah dari dapur untuk mengambil jatah makan malam yang belum sempat dia sentuh.
“Gila banget, kayak rumah hantu ternyata tengah malam begini,” ucapnya sembari membuka pintu dengan sedikit kepayahan. Sebab kedua tangannya memegang piring dan juga gelas. Anin sengaja makan di dalam kamar Arka, karena dia ingat pesan Ziyan tadi jika Arka akan terbangun saat tengah malam atau menjelang pagi. Jadi beginilah caranya untuk bekerja. Anin baru sempat makan, perutnya sudah lapar sekali. Ternyata membersihkan tubuh Arka dan membersihkan kamar ini perlu waktu berjam-jam. Sekarang kamar yang kotor dan bau sudah bersih dan harum karena Anin memberi pengharum ruangan. Jadi dia tidak akan mual meskipun makan di dalam kamar ini. “Astaga.” Betapa terkejutnya Anin saat dia masuk ke dalam, ternyata Arka sudah sadar. Hanya saja lelaki itu masih terbaring dengan tubuh kaku di atas ranjang. Hanya matanya saja yang terbuka menatap langit-langit kamar. “Tuan sudah bangun,” ucap Anin pelan. Dia menutup pintu kembali, lalu berjalan ragu mendekati Arka. Masih dengan makanan di tangannya. Lelaki itu melirik Anin. Lalu dia juga melirik jam yang ada di dinding. Sudah pukul satu dini hari. “Ziyan datang?” ucapnya. Anin mengernyit. Ziyan siapa, batin Anin bingung. Tapi dia ingat lelaki yang masuk ke dalam Arka dan menyuntikkan sesuatu di tubuhnya beberapa jam yang lalu. “Saya gak tahu siapa namanya, tuan. Tapi ketika selesai tuan makan malam dan …” ucapan Anin langsung berhenti. Dia jadi takut untuk melanjutkan. Apalagi ketika melihat tatapan mata Arka yang menyalang tajam di suasana remang kamar ini. “Maaf, tuan. Tapi setelah tuan tidak sadarkan diri tadi, ada seorang lelaki yang datang ke kamar ini. Dia membantu saya mengangkat tuan ke tempat tidur. Dan dia juga meminta saya untuk melihat tuan di tengah malam ini. Makanya saya kemari.” Arka langsung menghela nafas panjang. Sepertinya dia sadar apa yang sudah terjadi. “Kau benar mau membunuhku juga ternyata.” Anin langsung tertunduk lirih. Tangannya mencengkram erat gelas dan piring yang dia bawa. Perut yang semula lapar tadi kini langsung tidak lagi berselera. Tiba-tiba saja menjadi kenyang karena ucapan Arka. “Tuan … saya cuma disuruh. Saya juga dilema. Di satu sisi, saya butuh uang untuk pengobatan ibu, tapi di sisi lain saya sebenarnya juga tidak tega. Kalau saya keluar pun, hidup saya pasti berantakan. Dan kesehatan ibu juga terancam,” ungkapnya tak berani menatap wajah Arka. Lelaki itu menoleh ke arahnya. “Dia mengancammu?” Anin mengangguk cepat. “Saya tidak tahu kalau aturan di rumah ini sangat kejam. Saya teruskan pekerjaan saya, tapi saya harus menjadi seorang yang jahat. Dan jika saya keluar, kesehatan ibu yang menjadi taruhannya..” “Bu Asnah sakit apa?” Anin mendongak. Tak percaya jika Arka menanyakan tentang sakit ibunya. “Ibu sakit jantung, tuan. Ada kebocoran di jantungnya dan harus segera di operasi.” Arka terdiam. Dia kembali menatap langit-langit kamar dengan senyum getir. “Tetaplah bekerja, dan turutilah perintah monster itu.” “Tuan…” “Ku rasa memang sudah seperti ini jalan hidupku. Mungkin sebentar lagi aku juga akan mati.” “Tuan tidak boleh berbicara seperti itu.” Anin meletakkan piring dan gelasnya di atas meja. Dia menatap Arka lirih. Tidak ada lagi amarah, tidak ada Arka yang mengamuk, Anin pikir ketika dia sadar dia akan marah seperti yang dikatakan Ziyan dan Alaric. Tapi nyatanya tidak. Arka malah langsung menyerah padahal dia baru saja membuka mata. “Tuan kenapa menyerah?” tanyanya lagi. Kini dia sudah berdiri di samping Arka. “Kau lihat tubuhku, bahkan untuk bergerak pun aku sudah tidak bisa. Mereka benar-benar membuatku seperti seseorang yang tidak berguna lagi. Bukan langsung membunuhku, tapi malah membuatku ingin mati.” “Tuan…” “Sakit, kau tidak tahu seberapa sakit yang aku rasakan.” Kenapa ucapan lelaki ini terasa menyakiti hati Anin? Seberapa besar penderitaannya hingga orang-orang itu tega berbuat begini? “Tuan harus kuat.” Arka tersenyum getir. “Kuat katamu? Jangan terus menyemangati ku kalau kau sendiri juga ikut campur tangan di balik rasa sakitku.” “Maafkan saya. Saya tidak punya cara lain. Hanya saja, saya juga tidak bisa melihat tuan menyerah. Bukankah tuan bisa melawan. Sedikit saja.” Arka menatapnya tajam. “Setidaknya bertahan dulu untuk tubuh tuan.” “Kau tidak akan mengatakan hal ini jika kau tahu betapa kejamnya aku.” Anin langsung terpaku mendengar ucapannya. “Dan aku tahu, kau juga pasti akan dengan senang hati membunuhku secara perlahan jika kau tahu kalau aku adalah seorang pembunuh.” Deg Jantung Anin seperti diremas sesuatu. Pembunuh katanya? “Tu-tuan…” tenggorokan Anin terasa tercekat mendengar ucapan pria ini. Benarkah yang dia katakan? Dan apa benar kata ibunya, jika kematian ibu Alaric adalah karena Arka. Maka dari itu lelaki ini mengatakan jika dia lah pembunuhnya? Takut? Jelas Anin takut. Tapi … melihatnya yang seperti ini juga hati kecil Anin tidak tega. Apalagi saat melihat ada air mata yang mengalir di wajah Arka. Itu membuat hatinya ikut bersedih. “Aku jahat, tapi bukankah mereka jahat. Seharusnya nyawa dibayar nyawa. Bukan seperti ini. Aku lelah. Kakek bahkan lebih percaya pada monster itu dibandingkan denganku.” “Tuan sudah.” Anin menunduk, dia mengusap lembut bahu Arka yang bergetar. Lelaki ini menangis. Untuk pertama kalinya Anin melihat dia menangis. Seorang Arka Sigrid Vayudipta yang kata orang jahat dan hebat malah terlihat lemah dan menyedihkan dengan segala kesakitannya. “Saya tidak peduli siapa tuan dan bagaimana masa lalu tuan. Saya memang dibayar tuan Alaric, tapi di sini saya juga untuk menemani tuan dan merawat tuan. Saya tahu saya jahat, tapi jujur, saya juga ingin tuan sembuh.” “Jangan bermuka dua kau.” “Tidak. Bermuka satu saja saya tidak bisa memberikannya skincare, apalagi dua.” Arka langsung menatap tajam gadis itu. Bisa-bisanya di tengah rasa frustasinya dia malah membicarakan hal yang tidak penting.Hari sudah cukup larut. Bahkan sudah lewat tengah malam. Anin masuk ke dalam kamar Arka kembali setelah dari dapur untuk mengambil jatah makan malam yang belum sempat dia sentuh.“Gila banget, kayak rumah hantu ternyata tengah malam begini,” ucapnya sembari membuka pintu dengan sedikit kepayahan. Sebab kedua tangannya memegang piring dan juga gelas.Anin sengaja makan di dalam kamar Arka, karena dia ingat pesan Ziyan tadi jika Arka akan terbangun saat tengah malam atau menjelang pagi.Jadi beginilah caranya untuk bekerja. Anin baru sempat makan, perutnya sudah lapar sekali. Ternyata membersihkan tubuh Arka dan membersihkan kamar ini perlu waktu berjam-jam.Sekarang kamar yang kotor dan bau sudah bersih dan harum karena Anin memberi pengharum ruangan. Jadi dia tidak akan mual meskipun makan di dalam kamar ini.“Astaga.” Betapa terkejutnya Anin saat dia masuk ke dalam, ternyata Arka sudah sadar. Hanya saja lelaki itu masih terbaring dengan tubuh kaku di atas ranjang. Hanya matanya saja
Lelaki berwajah datar itu masuk ke dalam. Dia berdiri di hadapan Arka yang sudah tidak sadarkan diri. Tampak helaan nafasnya cukup panjang. Matanya melirik Anin. “Kau anak bu Asnah?”Anin terkesiap. Kenapa lelaki ini bisa tahu, pikirnya.“Benar, tuan.”“Kau dibayar untuk mengurus Arka?”“Iya.” Anin memandangi pergerakan lelaki itu. Dia berlutut di hadapan Arka, Anin pikir dia akan memindahkan Arka ke atas tempat tidur. Tapi ternyata lelaki ini malah mengeluarkan sebuah jarum suntik dari balik saku jasnya.“Tuan …” Jantung Anin berdenyut saat jarum itu disuntikan di lengan Arka. Dan karena suntikan itu, Arka terlihat sedikit bergerak.“Bantu aku mengangkatnya,” ujar lelaki yang belum Anin ketahui namanya.Anin hanya menurut. Dia langsung membantu lelaki yang tak lain adalah Ziyan_asisten Arka. Mereka memindahkan tubuh lemah Arka ke atas tempat tidur. Membaringkannya di sana agar lelaki itu bisa beristirahat dengan baik. Entah beristirahat atau apa, Anin tidak tahu.“Baru satu Minggu
Tidak ada pilihan lain, Anindya tidak bisa mengorbankan kesehatan ibunya dan juga kuliah yang sudah diperjuangkan selama ini hanya karena tidak menurut.Tidak ada pilihan yang baik. Jika dia dipecat, maka kehidupannya bukan hanya sulit, tapi pasti juga tidak akan aman karena Alaric sudah sadar jika Anindya curiga tentang obat itu. Dan jika dia tetap bekerja di rumah ini, maka Anindya harus kuat untuk melihat kesakitan yang Arkalana rasakan.Tok tok tok“Tuan, saya masuk,” ucapnya ketika Alaric membukakan pintu kamar Arka.Hening, tidak ada jawaban apapun. Kamar itu benar-benar gelap tanpa cahaya apapun.Sebelum masuk, Anin menoleh pada Alaric yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu tampak meringis jijik saat pintu kamar terbuka.“Memang jorok sekali. Kenapa hanya untuk buang air pun dia tidak tahu ke kamar mandi,” Alaric menutup hidung dengan wajah muak dan mual.Kamar ini memang sangat kotor dan bau. Anin juga merasakannya, tapi dia tidak mungkin bersikap seperti Alaric.“Nanti biar
Anindya terkesiap mendengar ucapan Kaizar. Dia langsung mendongak menatap pria bertubuh tinggi itu dengan dada bergemuruh.“Kenapa? Tertarik dengan tawaranku?” Kaizar menatapnya sinis. Sungguh dia tidak takut ada yang mendengar padahal mereka berada di depan ruang rektor.“Tuan. Saya memang miskin, tapi saya masih punya harga diri.”Kaizar langsung berdecih sinis. “Berapa memang harga dirimu?”Mata Anin langsung memerah. Kenapa manusia ini keterlaluan sekali? Padahal selama ini semua anak di kampus ini mengenal baik nama Kaizar. Tapi nyatanya, dia tak lebih dari lelaki brengsek yang berani merendahkan seseorang.“Jangan berlagak sok suci. Siapapun perempuan yang masuk ke dalam keluarga Vayudipta pasti merencanakan sesuatu. Apalagi hanya pelayan sepertimu.”“Tapi saya tidak seperti itu!” geram Anin dengan nada suara yang tertahan.Kaizar terkekeh sinis melihat tatapan marah itu. “Oh, ya. Kita buktikan saja nanti. Mana duluan dari mereka yang akan menjadi teman tidurmu. Si cacat Arkala
“Sebenarnya ibu juga gak yakin dengan apa yang ibu dengar. Tapi di satu waktu, saat ibu mengantar makanan untuk tuan Arka, ibu pernah mendengar pembicaraan tuan Arka dan adiknya_Alaric.”Anindya terdiam tegang mendengar ucapan ibunya. Tatapan matanya begitu serius hingga tanpa sengaja tangannya sudah mencengkram tali tas yang belum sempat dia lepas.“Tuan Alaric menyimpan dendam pada tuan Arka.”“Dendam, Bu?”Bu Asnah mengangguk. “Iya. Ibu tuan Alaric meninggal karena tuan Arka.”Hah? Anindya terkejut. “Kenapa bisa?”“Ibu gak tahu, nak. Mereka bertengkar di dalam kamar itu. Ibu cuma dengar kalau tuan Alaric berkata jika sampai kapanpun dia gak akan pernah memaafkan tuan Arka. Karena selain membuat ibunya meninggal, tuan Arka juga sudah merebut kekasih tuan Alaric. Iyalah dia nona Viona.”Astaga. Anindya benar-benar tak habis pikir. Dia langsung geleng-geleng kepala mendengar cerita yang rasanya tidak masuk di akal ini. Tapi, pantas saja Alaric membenci Arkalana kalau ternyata dia pu
Anin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban







