LOGINTidak ada pilihan lain, Anindya tidak bisa mengorbankan kesehatan ibunya dan juga kuliah yang sudah diperjuangkan selama ini hanya karena tidak menurut.
Tidak ada pilihan yang baik. Jika dia dipecat, maka kehidupannya bukan hanya sulit, tapi pasti juga tidak akan aman karena Alaric sudah sadar jika Anindya curiga tentang obat itu. Dan jika dia tetap bekerja di rumah ini, maka Anindya harus kuat untuk melihat kesakitan yang Arkalana rasakan. Tok tok tok “Tuan, saya masuk,” ucapnya ketika Alaric membukakan pintu kamar Arka. Hening, tidak ada jawaban apapun. Kamar itu benar-benar gelap tanpa cahaya apapun. Sebelum masuk, Anin menoleh pada Alaric yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu tampak meringis jijik saat pintu kamar terbuka. “Memang jorok sekali. Kenapa hanya untuk buang air pun dia tidak tahu ke kamar mandi,” Alaric menutup hidung dengan wajah muak dan mual. Kamar ini memang sangat kotor dan bau. Anin juga merasakannya, tapi dia tidak mungkin bersikap seperti Alaric. “Nanti biar saya bersihkan, tuan,” ucapnya. “Hmm. Kau urus dia, tapi pastikan jika dia meminum obat itu. Kalau aku tahu kau berbohong lagi, jangan harap hidupmu bisa tenang.” “Iya.” “Cctv ada di kamar ini. Jadi jangan coba untuk curang.” Anin hanya bisa mengangguk patuh. Dia menatap kepergian Alaric dengan hati yang berat. Demi uang, tapi dia harus ikut menjadi orang jahat. Bukankah ini kejam? Langkahnya masuk ke dalam. Dia hidupkan lampu kamar hingga keadaan kamar yang kotor ini bisa terlihat. “Ya ampun, tuan Arka.” Anin terkesiap saat melihat Arka tergeletak di atas lantai. Sedangkan kursi rodanya terguling tak jauh dari tubuhnya berada. Sepertinya dia terjatuh saat ingin turun dari tempat tidur. Atau mungkin ketika akan naik ke tempat tidur? Anin berlari mendekat, dia meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja. Lalu buru-buru dia berlutut di samping lelaki menyedihkan itu. “Tuan,” panggilnya dengan nada gemetar. Wajah Arka pucat pasi. Tubuhnya dingin. “Tuan Arka.” Anin sedikit menggoyangkan bahunya. Lelaki itu membuka mata. Begitu sayu dan lemah. Bibirnya pucat dan sangat kering. Hati Anin benar-benar tidak tega melihatnya seperti ini. “Saya bantu bangun, ya. Ayo pelan-pelan.” Dengan sekuat tenaga, Anin langsung menarik tubuh Arka untuk duduk. Mungkin karena tubuh lelaki ini sudah kurus, jadi Anin tidak terlalu kesusahan untuk membantunya. Arka tersandar di pinggiran ranjang. Rambutnya yang sudah panjang tampak berantakan, wajahnya yang pucat tampak tak lagi memiliki semangat hidup. “Minum?” Arka mengangguk lemah. Tidak ada perlawanan, tidak ada amarah, dan tidak ada cacian seperti biasa. Malam ini dia terlihat tidak berdaya. Anin mendekatkan ujung gelas ke bibirnya. Lelaki itu menerimanya dengan baik. Dia terlihat kehausan. Wajar saja, terakhir kali Arka makan adalah malam kemarin dengan semangkuk bubur dan juga air putih. “Tuan makan, ya,” Anin meraih mangkuk bubur yang sudah dicampur obat itu. Dia tidak tega, tapi dia harus melakukannya. Arka diam. Tatapan matanya menatap nanar pada dinding kosong yang ada di hadapan mereka. “Biar tubuhnya tidak lemas.” “Kenapa mereka tidak membunuhku saja.” Anin terdiam. Tangannya menggantung di udara memegang mangkuk bubur. “Kenapa mereka menyiksaku seperti binatang?” Arka berbicara dengan tatapan yang begitu kosong. Namun tak lama bibirnya tersenyum miring. “Mereka pecundang. Menggunakan cara licik untuk menjatuhkan ku dan menindasku seperti ini.” Anin menunduk, tatapannya jatuh pada mangkuk bubur yang dia pegang. “Saya tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan tuan. Tapi jika tuan berpikir seperti itu, itu berarti tuan hebat dan mereka tidak bisa melawan disaat tuan sehat. Maka dari itu mereka menjatuhkan tuan di saat keadaan tuan lemah seperti ini.” Ucapan Anindya membuat Arka menoleh ke arahnya. “Jika ada permusuhan, kenapa harus menyerah. Bukankah seharusnya terus melawan meski sesulit apapun keadaannya?” “Kau tidak akan mengerti.” Anin tersenyum lembut. “Iya,” jawabnya. “Tapi kata ibu, tuan itu orang yang hebat dan tidak gampang menyerah.” Arka kembali menatapnya. Memandang gadis asing yang tanpa sengaja malah dia terima melihat keadaannya yang menyedihkan seperti ini. “Makanlah tuan, setidaknya tuan harus berjuang untuk diri tuan lebih dulu.” Anin menyerahkan mangkuk bubur itu ke hadapan arka. Lelaki itu menatapnya. Menatap cukup lama bubur itu. Apa dia sadar jika ada obat di sana? Tangan Arka mulai terangkat. Tangan yang dulunya kekar, kini malah terlihat lemah dengan tulang yang mulai menonjol keluar. Oh! Anin terkejut saat tiba-tiba saja mangkuk buburnya hampir terlepas saat Arka meraihnya. “Tidak kuat, ya. Saya suapi saja ya, tuan.” Rahang Arka tampak mengeras. Dia marah, dia benci dengan keadaannya yang seperti ini. “Tidak apa-apa. Mungkin karena tuan lapar dan terlalu lama berada di lantai. Sekarang ayo makan,” Anin mulai menyuapi Arka. ‘Sialan. Betapa lemahnya aku di hadapan gadis ini,’ batin lelaki itu begitu pilu. Ada amarah yang tak bisa dilepaskan. Tapi ada rasa putus asa yang seakan ingin membuatnya memilih untuk mati. Tapi jika dia mati, bagaimana dengan semua harta peninggalan keluarga. Arka juga tidak rela jika Alaric berhasil mengambil alihnya. Ular itu tidak boleh menang. Tidak. Argh! Dia langsung tertunduk dan meremas dadanya saat bubur telah habis. Matanya memerah dengan deru nafas yang mulai terputus. Rasa sesak itu datang lagi. Dan obat itu mulai bekerja di dalam tubuhnya. Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk membunuhnya secara perlahan. Arka menatap Anin dengan keringat dingin. “Tuan … maaf.” Anin tertunduk, tak tega saat melihat Arka kesakitan dan kejang-kejang hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri kembali. “Bu … apa Anin jahat sekali biarin orang kesakitan demi untuk mencari uang?” lirihnya di hadapan Arka yang sudah tidak berdaya. “Untuk apa menangis setelah membuat orang hampir mati?” Deg Suara seseorang membuat Anin terkesiap. Di ambang pintu, seorang lelaki dengan pakaian formal berdiri dengan wajah datar. Dia masuk dan menatap Arka yang sudah tergeletak di atas lantai dengan helaan nafas panjang. Siapa lelaki ini?Hari sudah cukup larut. Bahkan sudah lewat tengah malam. Anin masuk ke dalam kamar Arka kembali setelah dari dapur untuk mengambil jatah makan malam yang belum sempat dia sentuh.“Gila banget, kayak rumah hantu ternyata tengah malam begini,” ucapnya sembari membuka pintu dengan sedikit kepayahan. Sebab kedua tangannya memegang piring dan juga gelas.Anin sengaja makan di dalam kamar Arka, karena dia ingat pesan Ziyan tadi jika Arka akan terbangun saat tengah malam atau menjelang pagi.Jadi beginilah caranya untuk bekerja. Anin baru sempat makan, perutnya sudah lapar sekali. Ternyata membersihkan tubuh Arka dan membersihkan kamar ini perlu waktu berjam-jam.Sekarang kamar yang kotor dan bau sudah bersih dan harum karena Anin memberi pengharum ruangan. Jadi dia tidak akan mual meskipun makan di dalam kamar ini.“Astaga.” Betapa terkejutnya Anin saat dia masuk ke dalam, ternyata Arka sudah sadar. Hanya saja lelaki itu masih terbaring dengan tubuh kaku di atas ranjang. Hanya matanya saja
Lelaki berwajah datar itu masuk ke dalam. Dia berdiri di hadapan Arka yang sudah tidak sadarkan diri. Tampak helaan nafasnya cukup panjang. Matanya melirik Anin. “Kau anak bu Asnah?”Anin terkesiap. Kenapa lelaki ini bisa tahu, pikirnya.“Benar, tuan.”“Kau dibayar untuk mengurus Arka?”“Iya.” Anin memandangi pergerakan lelaki itu. Dia berlutut di hadapan Arka, Anin pikir dia akan memindahkan Arka ke atas tempat tidur. Tapi ternyata lelaki ini malah mengeluarkan sebuah jarum suntik dari balik saku jasnya.“Tuan …” Jantung Anin berdenyut saat jarum itu disuntikan di lengan Arka. Dan karena suntikan itu, Arka terlihat sedikit bergerak.“Bantu aku mengangkatnya,” ujar lelaki yang belum Anin ketahui namanya.Anin hanya menurut. Dia langsung membantu lelaki yang tak lain adalah Ziyan_asisten Arka. Mereka memindahkan tubuh lemah Arka ke atas tempat tidur. Membaringkannya di sana agar lelaki itu bisa beristirahat dengan baik. Entah beristirahat atau apa, Anin tidak tahu.“Baru satu Minggu
Tidak ada pilihan lain, Anindya tidak bisa mengorbankan kesehatan ibunya dan juga kuliah yang sudah diperjuangkan selama ini hanya karena tidak menurut.Tidak ada pilihan yang baik. Jika dia dipecat, maka kehidupannya bukan hanya sulit, tapi pasti juga tidak akan aman karena Alaric sudah sadar jika Anindya curiga tentang obat itu. Dan jika dia tetap bekerja di rumah ini, maka Anindya harus kuat untuk melihat kesakitan yang Arkalana rasakan.Tok tok tok“Tuan, saya masuk,” ucapnya ketika Alaric membukakan pintu kamar Arka.Hening, tidak ada jawaban apapun. Kamar itu benar-benar gelap tanpa cahaya apapun.Sebelum masuk, Anin menoleh pada Alaric yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu tampak meringis jijik saat pintu kamar terbuka.“Memang jorok sekali. Kenapa hanya untuk buang air pun dia tidak tahu ke kamar mandi,” Alaric menutup hidung dengan wajah muak dan mual.Kamar ini memang sangat kotor dan bau. Anin juga merasakannya, tapi dia tidak mungkin bersikap seperti Alaric.“Nanti biar
Anindya terkesiap mendengar ucapan Kaizar. Dia langsung mendongak menatap pria bertubuh tinggi itu dengan dada bergemuruh.“Kenapa? Tertarik dengan tawaranku?” Kaizar menatapnya sinis. Sungguh dia tidak takut ada yang mendengar padahal mereka berada di depan ruang rektor.“Tuan. Saya memang miskin, tapi saya masih punya harga diri.”Kaizar langsung berdecih sinis. “Berapa memang harga dirimu?”Mata Anin langsung memerah. Kenapa manusia ini keterlaluan sekali? Padahal selama ini semua anak di kampus ini mengenal baik nama Kaizar. Tapi nyatanya, dia tak lebih dari lelaki brengsek yang berani merendahkan seseorang.“Jangan berlagak sok suci. Siapapun perempuan yang masuk ke dalam keluarga Vayudipta pasti merencanakan sesuatu. Apalagi hanya pelayan sepertimu.”“Tapi saya tidak seperti itu!” geram Anin dengan nada suara yang tertahan.Kaizar terkekeh sinis melihat tatapan marah itu. “Oh, ya. Kita buktikan saja nanti. Mana duluan dari mereka yang akan menjadi teman tidurmu. Si cacat Arkala
“Sebenarnya ibu juga gak yakin dengan apa yang ibu dengar. Tapi di satu waktu, saat ibu mengantar makanan untuk tuan Arka, ibu pernah mendengar pembicaraan tuan Arka dan adiknya_Alaric.”Anindya terdiam tegang mendengar ucapan ibunya. Tatapan matanya begitu serius hingga tanpa sengaja tangannya sudah mencengkram tali tas yang belum sempat dia lepas.“Tuan Alaric menyimpan dendam pada tuan Arka.”“Dendam, Bu?”Bu Asnah mengangguk. “Iya. Ibu tuan Alaric meninggal karena tuan Arka.”Hah? Anindya terkejut. “Kenapa bisa?”“Ibu gak tahu, nak. Mereka bertengkar di dalam kamar itu. Ibu cuma dengar kalau tuan Alaric berkata jika sampai kapanpun dia gak akan pernah memaafkan tuan Arka. Karena selain membuat ibunya meninggal, tuan Arka juga sudah merebut kekasih tuan Alaric. Iyalah dia nona Viona.”Astaga. Anindya benar-benar tak habis pikir. Dia langsung geleng-geleng kepala mendengar cerita yang rasanya tidak masuk di akal ini. Tapi, pantas saja Alaric membenci Arkalana kalau ternyata dia pu
Anin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban







