공유

Bab 7

작가: Velune
last update 게시일: 2026-09-18 15:41:59

Anindya terkesiap mendengar ucapan Kaizar. Dia langsung mendongak menatap pria bertubuh tinggi itu dengan dada bergemuruh.

“Kenapa? Tertarik dengan tawaranku?” Kaizar menatapnya sinis.

Sungguh dia tidak takut ada yang mendengar padahal mereka berada di depan ruang rektor.

“Tuan. Saya memang miskin, tapi saya masih punya harga diri.”

Kaizar langsung berdecih sinis. “Berapa memang harga dirimu?”

Mata Anin langsung memerah. Kenapa manusia ini keterlaluan sekali? Padahal selama ini semua anak di kampus ini mengenal baik nama Kaizar. Tapi nyatanya, dia tak lebih dari lelaki brengsek yang berani merendahkan seseorang.

“Jangan berlagak sok suci. Siapapun perempuan yang masuk ke dalam keluarga Vayudipta pasti merencanakan sesuatu. Apalagi hanya pelayan sepertimu.”

“Tapi saya tidak seperti itu!” geram Anin dengan nada suara yang tertahan.

Kaizar terkekeh sinis melihat tatapan marah itu. “Oh, ya. Kita buktikan saja nanti. Mana duluan dari mereka yang akan menjadi teman tidurmu. Si cacat Arkalana, atau si brengsek Alaric,” ucap Kaizar.

Dia menjauhkan tubuhnya dari Anin, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku. Lalu dengan senyum remeh dia berbalik dan pergi dari sana. Meninggalkan Anindya yang hanya bisa mematung dengan wajah memerah dan mata yang berair.

Jujur saja, perkataan Kaizar cukup melukai hatinya.

Apa pelayan miskin seperti dia memang selalu direndahkan seperti ini?

“Anindya? Kenapa kamu diluar. Masuk!” Suara pak Hartono memecah lamunannya. Rasa sakit itu harus dia redam, dan dia gantikan dengan senyum terpaksa untuk menghadapi masalah selanjutnya.

Sungguh, moodnya hari itu benar-benar berantakan karena perkataan Kaizar. Rasanya muak dan enggan sekali untuk bertemu lelaki itu lagi.

Tapi mau bagaimana lagi. Ketika sore hari, Anindya harus kembali ke rumah itu untuk melakukan pekerjaannya. Ini baru hari ketiga. Masih ada hari-hari berikutnya yang lebih berat.

Begitu tiba di rumah keluarga Vayudipta, Anindya langsung mengerjakan tugasnya untuk menyiapkan makan malam.

Rumah itu sepi seperti tidak ada kehidupan. Mungkin karena orang-orangnya yang belum ada pulang ke rumah.

“Anin. Bibi dengar kalau tuan besar nggak pulang beberapa hari,” ucap bibi Maria saat membantunya membereskan dapur setelah makanan selesai dia buat.

“Memangnya tuan besar kemana, bibi?”

“Ke Bandung. Beliau memang sering pergi ke luar kota. Tapi kalau tuan sudah pergi, tuan Arka yang kasihan.”

“Kenapa?”

Bibi Maria melirik area dapur yang sepi, lalu dia mendekati Anin dan berbisik.

“Tuan Alaric pasti akan memarahinya, bahkan gak jarang tuan Arka dikurung berhari-hari di kamarnya sampai tuan besar pulang.”

Anin terkesiap.

Lagi? Apa sebegitu bencinya dia pada Arkalana?

“Jadi hari ini tuan Arka belum ada keluar kamar, bibi? Terus bagaimana makannya?” tanya Anin iba.

“Ya gak ada lah. Pintu kamar tuan Arka dikunci setiap kali tuan Alaric pergi. Tuan Arka cuma keluar pagi tadi sewaktu keluarga Adiningrat datang. Setelah itu sampai sekarang dia masih di dalam kamar.”

“Jadi dia gak ada makan siang? Bahkan sarapan juga gak ada tadi pagi saya antarin. Tuan Alaric melarang.”

“Ya itu berarti tuan Arka gak ada makan.”

Ya Tuhan.

Anindya terpaku di tempatnya. Dia memandang nanar pada ambang pintu dapur. Pantas saja Arkalana seperti orang yang kelaparan setiap kali dia memakan bubur yang Anin berikan. Dan itu bukan karena buburnya enak, tapi karena lelaki itu yang jarang diberi makan.

“Hei, kenapa kamu melamun ha? Sendok yang kamu pegang itu bisa terbang kalau kamu biarkan lama di sana.”

Tiba-tiba suara Alaric mengejutkan Anin. Dia terkesiap, sendok yang dia pegang langsung terjatuh ke atas lantai.

“Ya ampun, maaf, tuan. Maaf.” Anin langsung menunduk setelah mengambil sendoknya. Sedangkan bibi Maria sudah menjauh dari mereka setelah membuat Anin larut dalam lamunan.

Alaric memutar bola mata jengah. “Sudah selesai makanan untuk arka?”

“Sudah, tuan.”

Alaric menatap bibi Maria. “Pergi siapkan air hangat ku,” ujarnya.

“Baik, tuan.” Tanpa banyak membuang waktu, bibi Maria langsung pergi dari sana. Bahkan tidak ada lagi menatap Anindya.

Setelah kepergian wanita itu, Alaric mendekati Anindya sembari mengeluarkan obat dari saku kemejanya.

“Campurkan ini ke buburnya.”

Tubuh Anindya langsung menegang.

Obat ini lagi?

“Aku tahu kemarin kau tidak meminumkan Arka obat itu kan. Sampai dia bisa bangun pagi tadi.”

“Tu-tuan …” Anindya mundur dengan langkah takut saat Alaric terus mendekatinya dengan tatapan tajam.

Tubuhnya sampai merapat pada meja wastafel. Bahkan Anindya semakin gemetar saat lelaki itu malah meletakkan tangannya di kedua sisi tubuh Anindya.

Jantung Anin hampir lepas karena ulah lelaki ini.

“Tuan mau apa? Jangan begini,” lirihnya gemetaran.

Pagi tadi adiknya, dan sekarang kakaknya. Kenapa dengan tiga pria di rumah ini? Kenapa mereka selalu membuat Anin takut?

“Kenapa kau tidak meminumkan obat itu pada Arka?” tanya Alaric dengan nada bicara tajam.

Jelas saja Anin takut. Dia ketahuan, padahal dia pikir jika Alaric tidak akan sadar.

“Tuan … saya … saya lupa.”

“Lupa katamu? Kau mau aku pecat, ha?”

“Jangan tuan, jangan, saya mohon. Saya butuh uang untuk pengobatan ibu dan biaya kuliah saya. Tolong jangan dipecat. Hanya ditempat ini saya bisa bekerja.” Anindya menatap Alaric dengan wajah memelas. Dia takut, tapi dia juga tidak mau jika sampai kehilangan pekerjaan.

Alaric tersenyum sinis. “Aku tidak mau mempekerjakan orang yang tidak bisa mendengar ucapanku.”

Anindya tertunduk.

‘Bagimana ini?’

“Berikan obat itu, cukup diam dan bekerja mengurusnya tanpa ikut campur apapun, maka aku akan memberikan uang muka padamu hari ini juga. Atau kau pilih keluar dari sini tapi kau tidak akan bisa kuliah lagi, dan ibumu sekarat.”

“Tuan…”

“Pilihan ada di tangan mu, Anindya.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 20

    Malam itu, Anin kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang didengarnya di ruang kerja Alaric. Ada sesuatu tentang kecelakaan Arka yang sengaja disembunyikan, dan dia merasa rahasia itu berkaitan dengan kebencian Alaric terhadap kakaknya.Namun, semakin dia memikirkannya, semakin dia teringat pada sebuah kejadian beberapa waktu lalu.Saat itu, Anin sedang berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan ibunya. Dia melihat Alaric datang menjemput dua orang wanita paruh baya. Satu masih sehat dan satu lagi duduk di kursi roda.Saat itu, Anin mengira perempuan tersebut adalah kerabat keluarga Vayudipta. Namun, sekarang dia mulai bertanya-tanya.Mengapa Alaric menjemput perempuan itu sendirian? Mengapa tidak ada anggota keluarga lain yang menemaninya?Dan mengapa dia tidak pernah mendengar kabar tentang perempuan tersebut setelah kejadian itu?Anin membalikkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang."Jangan-jangan ..." gumamnya pelan.Pikiran itu terasa mustahil

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 19

    Malam mulai larut ketika Anin kembali ke dapur untuk mengambil nampan makan malam. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Kaizar. Dapur sudah sepi. Mungkin Bibi Maria sudah pulang ke kamarnya, sementara sebagian lampu di area dapur sudah mulai dimatikan. Seperti biasa, rumah ini akan semakin menyeramkan ketika malam hari.Setelah menyiapkan makan malam untuk Arka, tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung pergi menuju kamar lelaki itu di lantai dua.Sekarang dia sudah tidak takut lagi. Sepertinya, dia mulai terbiasa dengan suasana di rumah ini. Dan juga, mulai terbiasa dengan Arka.Saat melewati ruang kerja kecil di dekat tangga, langkah Anin mendadak terhenti. Dia mengernyit, lalu menoleh ke arah sebuah ruangan.Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Awalnya dia tidak berniat menguping. Namun, sebuah suara dari dalam membuatnya mengurungkan langkah.Setan dalam dirinya menggoda Anin untuk harus mendengarkan pembicaraan itu. Dia memasang telinga

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 18

    Arka terdiam cukup lama setelah mengatakan bahwa dirinya membenci aturan keluarga ningrat yang sudah turun-temurun itu. Tatapannya beralih ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu di balik sana yang lebih menarik daripada percakapan mereka.Anindya tidak berusaha memotong keheningan. Dia hanya berdiri di dekat meja, merapikan gelas kosong yang tadi sempat dilihatnya.“Kalau tuan nggak mencintai Nona Viona, kenapa tuan tetap menerima pertunangan itu?” tanyanya kemudian.Arka meliriknya sekilas. Dia menghela nafas panjang. “Karena sejak kecil aku sudah diajari bahwa keinginanku tidak pernah lebih penting daripada nama keluarga.”“Bahkan untuk urusan pernikahan?”“Hmm. Terutama untuk urusan pernikahan.” Arka tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Di keluarga ini, semuanya punya aturan. Siapa yang pantas menjadi pewaris, siapa yang berhak mengambil keputusan, bahkan siapa yang boleh menjadi pasangan hidupku. Kakek menyebutnya tradisi. Bagiku, itu hanya cara

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 17

    Anindya tidak tahu apa yang dibicarakan Arka dan Ziyan melalui ponselnya. Pasalnya lelaki itu hanya berbicara sebentar untuk meminta Ziyan datang ke rumah sore nanti untuk menemuinya. Setelah itu, dia memberikan lagi ponselnya pada Anin.Hanya saja Anin merasa jika Arka memang sedang merencanakan sesuatu. Tatapan matanya tak lagi kosong seperti saat pertama kali Anin datang ke rumah ini. Arka yang sekarang seperti menemukan sesuatu untuk membuat dia bisa lebih bersemangat untuk sembuh. Meskipun tetap saja, ada banyak hal yang membuat Anin bertanya-tanya.Arka tidak pernah mau berbicara dengan orang lain. Tapi dengannya, Arka tidak seperti itu. Meskipun dia pemarah, namun tetap saja banyak kata yang keluar dari bibirnya.Anin menghela nafas panjang. Dia menatap wajah ibunya yang masih tertidur dengan tenang di atas ranjang. Hari ini kesehatan ibunya sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu kondisi stabil untuk memasang ring jantung. CupAnindya memberikan kecupan hangat di wajah pucat

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 16

    Sejak enam bulan lebih setelah kecelakaan parah itu, malam tadi adalah malam pertama Arka tidak merasa sakit dan ketakutan sedikitpun. Dia tidak harus makan dengan rasa takut karena obat itu, dia tidak harus makan sambil menahan rasa yang tak bisa diterima lidah hanya karena dia kelaparan.Malam tadi Arka makan dengan tenang. Malam tadi malam pertamanya makan dan menikmati makanan yang benar-benar terasa nikmat setelah enam bulan lebih dia tersiksa. Dan semua karena Anindya. Gadis pelayan yang datang tiba-tiba dan merubah sedikit rasa takut di hidupnya. Gadis lugu yang membuka mata Arka agar dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semuanya.CeklekPintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata yang semula terbuka, langsung terpejam lagi. Ada langkah kaki yang masuk ke dalam. Dan Arka tahu kalau itu adalah langkah kaki Alaric. Lelaki ini pasti datang untuk memastikan kalau Arka meminum obatnya malam tadi.“Aku senang melihatmu tenang seperti ini kakakku. Daripada kau sehat, tapi kau selalu membua

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 15

    “Coba saja … aku ingin tahu, apakah bagian itu masih berfungsi atau tidak.”Ucapan Arka membuat Anin langsung menelan ludah. Dia memandang benda menggantung yang layu dan tersandar lemas di dua bongkahan bulat yang keriput. Matanya mengerjap, degup jantungnya tiba-tiba saja bergemuruh kuat. Untuk pertama kali dalam hidup dia malah diberikan ujian seperti ini. Memegang benda yang seharusnya tidak dia pegang.Ya Tuhan. Mata sucinya benar-benar ternodai.“Kau tidak mau?” tanya Arka sekali lagi ketika Anin malah hanya diam dan membatu di tempatnya.“A-anu, tuan. Bukan saya tidak mau. Ta-tapi …”“Aku hanya ingin tahu. Kalau itu tidak lagi berfungsi, maka hidupku juga pasti tidak akan lama lagi.”“Eh … kenapa begitu? Memangnya berpengaruh, ya?”“Ya jelas. Kenapa kau bodoh sekali. Itu juga bagian dari nyawa laki-laki. Setidaknya dia terasa ketika disentuh, tidak harus bangun sempurna.”Lagi … Anin menelan ludah. Wajahnya sudah memerah. Haruskah dia menurut? “Kalau tidak mau, jangan kau li

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status