MasukAnindya terkesiap mendengar ucapan Kaizar. Dia langsung mendongak menatap pria bertubuh tinggi itu dengan dada bergemuruh.
“Kenapa? Tertarik dengan tawaranku?” Kaizar menatapnya sinis. Sungguh dia tidak takut ada yang mendengar padahal mereka berada di depan ruang rektor. “Tuan. Saya memang miskin, tapi saya masih punya harga diri.” Kaizar langsung berdecih sinis. “Berapa memang harga dirimu?” Mata Anin langsung memerah. Kenapa manusia ini keterlaluan sekali? Padahal selama ini semua anak di kampus ini mengenal baik nama Kaizar. Tapi nyatanya, dia tak lebih dari lelaki brengsek yang berani merendahkan seseorang. “Jangan berlagak sok suci. Siapapun perempuan yang masuk ke dalam keluarga Vayudipta pasti merencanakan sesuatu. Apalagi hanya pelayan sepertimu.” “Tapi saya tidak seperti itu!” geram Anin dengan nada suara yang tertahan. Kaizar terkekeh sinis melihat tatapan marah itu. “Oh, ya. Kita buktikan saja nanti. Mana duluan dari mereka yang akan menjadi teman tidurmu. Si cacat Arkalana, atau si brengsek Alaric,” ucap Kaizar. Dia menjauhkan tubuhnya dari Anin, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku. Lalu dengan senyum remeh dia berbalik dan pergi dari sana. Meninggalkan Anindya yang hanya bisa mematung dengan wajah memerah dan mata yang berair. Jujur saja, perkataan Kaizar cukup melukai hatinya. Apa pelayan miskin seperti dia memang selalu direndahkan seperti ini? “Anindya? Kenapa kamu diluar. Masuk!” Suara pak Hartono memecah lamunannya. Rasa sakit itu harus dia redam, dan dia gantikan dengan senyum terpaksa untuk menghadapi masalah selanjutnya. Sungguh, moodnya hari itu benar-benar berantakan karena perkataan Kaizar. Rasanya muak dan enggan sekali untuk bertemu lelaki itu lagi. Tapi mau bagaimana lagi. Ketika sore hari, Anindya harus kembali ke rumah itu untuk melakukan pekerjaannya. Ini baru hari ketiga. Masih ada hari-hari berikutnya yang lebih berat. Begitu tiba di rumah keluarga Vayudipta, Anindya langsung mengerjakan tugasnya untuk menyiapkan makan malam. Rumah itu sepi seperti tidak ada kehidupan. Mungkin karena orang-orangnya yang belum ada pulang ke rumah. “Anin. Bibi dengar kalau tuan besar nggak pulang beberapa hari,” ucap bibi Maria saat membantunya membereskan dapur setelah makanan selesai dia buat. “Memangnya tuan besar kemana, bibi?” “Ke Bandung. Beliau memang sering pergi ke luar kota. Tapi kalau tuan sudah pergi, tuan Arka yang kasihan.” “Kenapa?” Bibi Maria melirik area dapur yang sepi, lalu dia mendekati Anin dan berbisik. “Tuan Alaric pasti akan memarahinya, bahkan gak jarang tuan Arka dikurung berhari-hari di kamarnya sampai tuan besar pulang.” Anin terkesiap. Lagi? Apa sebegitu bencinya dia pada Arkalana? “Jadi hari ini tuan Arka belum ada keluar kamar, bibi? Terus bagaimana makannya?” tanya Anin iba. “Ya gak ada lah. Pintu kamar tuan Arka dikunci setiap kali tuan Alaric pergi. Tuan Arka cuma keluar pagi tadi sewaktu keluarga Adiningrat datang. Setelah itu sampai sekarang dia masih di dalam kamar.” “Jadi dia gak ada makan siang? Bahkan sarapan juga gak ada tadi pagi saya antarin. Tuan Alaric melarang.” “Ya itu berarti tuan Arka gak ada makan.” Ya Tuhan. Anindya terpaku di tempatnya. Dia memandang nanar pada ambang pintu dapur. Pantas saja Arkalana seperti orang yang kelaparan setiap kali dia memakan bubur yang Anin berikan. Dan itu bukan karena buburnya enak, tapi karena lelaki itu yang jarang diberi makan. “Hei, kenapa kamu melamun ha? Sendok yang kamu pegang itu bisa terbang kalau kamu biarkan lama di sana.” Tiba-tiba suara Alaric mengejutkan Anin. Dia terkesiap, sendok yang dia pegang langsung terjatuh ke atas lantai. “Ya ampun, maaf, tuan. Maaf.” Anin langsung menunduk setelah mengambil sendoknya. Sedangkan bibi Maria sudah menjauh dari mereka setelah membuat Anin larut dalam lamunan. Alaric memutar bola mata jengah. “Sudah selesai makanan untuk arka?” “Sudah, tuan.” Alaric menatap bibi Maria. “Pergi siapkan air hangat ku,” ujarnya. “Baik, tuan.” Tanpa banyak membuang waktu, bibi Maria langsung pergi dari sana. Bahkan tidak ada lagi menatap Anindya. Setelah kepergian wanita itu, Alaric mendekati Anindya sembari mengeluarkan obat dari saku kemejanya. “Campurkan ini ke buburnya.” Tubuh Anindya langsung menegang. Obat ini lagi? “Aku tahu kemarin kau tidak meminumkan Arka obat itu kan. Sampai dia bisa bangun pagi tadi.” “Tu-tuan …” Anindya mundur dengan langkah takut saat Alaric terus mendekatinya dengan tatapan tajam. Tubuhnya sampai merapat pada meja wastafel. Bahkan Anindya semakin gemetar saat lelaki itu malah meletakkan tangannya di kedua sisi tubuh Anindya. Jantung Anin hampir lepas karena ulah lelaki ini. “Tuan mau apa? Jangan begini,” lirihnya gemetaran. Pagi tadi adiknya, dan sekarang kakaknya. Kenapa dengan tiga pria di rumah ini? Kenapa mereka selalu membuat Anin takut? “Kenapa kau tidak meminumkan obat itu pada Arka?” tanya Alaric dengan nada bicara tajam. Jelas saja Anin takut. Dia ketahuan, padahal dia pikir jika Alaric tidak akan sadar. “Tuan … saya … saya lupa.” “Lupa katamu? Kau mau aku pecat, ha?” “Jangan tuan, jangan, saya mohon. Saya butuh uang untuk pengobatan ibu dan biaya kuliah saya. Tolong jangan dipecat. Hanya ditempat ini saya bisa bekerja.” Anindya menatap Alaric dengan wajah memelas. Dia takut, tapi dia juga tidak mau jika sampai kehilangan pekerjaan. Alaric tersenyum sinis. “Aku tidak mau mempekerjakan orang yang tidak bisa mendengar ucapanku.” Anindya tertunduk. ‘Bagimana ini?’ “Berikan obat itu, cukup diam dan bekerja mengurusnya tanpa ikut campur apapun, maka aku akan memberikan uang muka padamu hari ini juga. Atau kau pilih keluar dari sini tapi kau tidak akan bisa kuliah lagi, dan ibumu sekarat.” “Tuan…” “Pilihan ada di tangan mu, Anindya.”Hari sudah cukup larut. Bahkan sudah lewat tengah malam. Anin masuk ke dalam kamar Arka kembali setelah dari dapur untuk mengambil jatah makan malam yang belum sempat dia sentuh.“Gila banget, kayak rumah hantu ternyata tengah malam begini,” ucapnya sembari membuka pintu dengan sedikit kepayahan. Sebab kedua tangannya memegang piring dan juga gelas.Anin sengaja makan di dalam kamar Arka, karena dia ingat pesan Ziyan tadi jika Arka akan terbangun saat tengah malam atau menjelang pagi.Jadi beginilah caranya untuk bekerja. Anin baru sempat makan, perutnya sudah lapar sekali. Ternyata membersihkan tubuh Arka dan membersihkan kamar ini perlu waktu berjam-jam.Sekarang kamar yang kotor dan bau sudah bersih dan harum karena Anin memberi pengharum ruangan. Jadi dia tidak akan mual meskipun makan di dalam kamar ini.“Astaga.” Betapa terkejutnya Anin saat dia masuk ke dalam, ternyata Arka sudah sadar. Hanya saja lelaki itu masih terbaring dengan tubuh kaku di atas ranjang. Hanya matanya saja
Lelaki berwajah datar itu masuk ke dalam. Dia berdiri di hadapan Arka yang sudah tidak sadarkan diri. Tampak helaan nafasnya cukup panjang. Matanya melirik Anin. “Kau anak bu Asnah?”Anin terkesiap. Kenapa lelaki ini bisa tahu, pikirnya.“Benar, tuan.”“Kau dibayar untuk mengurus Arka?”“Iya.” Anin memandangi pergerakan lelaki itu. Dia berlutut di hadapan Arka, Anin pikir dia akan memindahkan Arka ke atas tempat tidur. Tapi ternyata lelaki ini malah mengeluarkan sebuah jarum suntik dari balik saku jasnya.“Tuan …” Jantung Anin berdenyut saat jarum itu disuntikan di lengan Arka. Dan karena suntikan itu, Arka terlihat sedikit bergerak.“Bantu aku mengangkatnya,” ujar lelaki yang belum Anin ketahui namanya.Anin hanya menurut. Dia langsung membantu lelaki yang tak lain adalah Ziyan_asisten Arka. Mereka memindahkan tubuh lemah Arka ke atas tempat tidur. Membaringkannya di sana agar lelaki itu bisa beristirahat dengan baik. Entah beristirahat atau apa, Anin tidak tahu.“Baru satu Minggu
Tidak ada pilihan lain, Anindya tidak bisa mengorbankan kesehatan ibunya dan juga kuliah yang sudah diperjuangkan selama ini hanya karena tidak menurut.Tidak ada pilihan yang baik. Jika dia dipecat, maka kehidupannya bukan hanya sulit, tapi pasti juga tidak akan aman karena Alaric sudah sadar jika Anindya curiga tentang obat itu. Dan jika dia tetap bekerja di rumah ini, maka Anindya harus kuat untuk melihat kesakitan yang Arkalana rasakan.Tok tok tok“Tuan, saya masuk,” ucapnya ketika Alaric membukakan pintu kamar Arka.Hening, tidak ada jawaban apapun. Kamar itu benar-benar gelap tanpa cahaya apapun.Sebelum masuk, Anin menoleh pada Alaric yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu tampak meringis jijik saat pintu kamar terbuka.“Memang jorok sekali. Kenapa hanya untuk buang air pun dia tidak tahu ke kamar mandi,” Alaric menutup hidung dengan wajah muak dan mual.Kamar ini memang sangat kotor dan bau. Anin juga merasakannya, tapi dia tidak mungkin bersikap seperti Alaric.“Nanti biar
Anindya terkesiap mendengar ucapan Kaizar. Dia langsung mendongak menatap pria bertubuh tinggi itu dengan dada bergemuruh.“Kenapa? Tertarik dengan tawaranku?” Kaizar menatapnya sinis. Sungguh dia tidak takut ada yang mendengar padahal mereka berada di depan ruang rektor.“Tuan. Saya memang miskin, tapi saya masih punya harga diri.”Kaizar langsung berdecih sinis. “Berapa memang harga dirimu?”Mata Anin langsung memerah. Kenapa manusia ini keterlaluan sekali? Padahal selama ini semua anak di kampus ini mengenal baik nama Kaizar. Tapi nyatanya, dia tak lebih dari lelaki brengsek yang berani merendahkan seseorang.“Jangan berlagak sok suci. Siapapun perempuan yang masuk ke dalam keluarga Vayudipta pasti merencanakan sesuatu. Apalagi hanya pelayan sepertimu.”“Tapi saya tidak seperti itu!” geram Anin dengan nada suara yang tertahan.Kaizar terkekeh sinis melihat tatapan marah itu. “Oh, ya. Kita buktikan saja nanti. Mana duluan dari mereka yang akan menjadi teman tidurmu. Si cacat Arkala
“Sebenarnya ibu juga gak yakin dengan apa yang ibu dengar. Tapi di satu waktu, saat ibu mengantar makanan untuk tuan Arka, ibu pernah mendengar pembicaraan tuan Arka dan adiknya_Alaric.”Anindya terdiam tegang mendengar ucapan ibunya. Tatapan matanya begitu serius hingga tanpa sengaja tangannya sudah mencengkram tali tas yang belum sempat dia lepas.“Tuan Alaric menyimpan dendam pada tuan Arka.”“Dendam, Bu?”Bu Asnah mengangguk. “Iya. Ibu tuan Alaric meninggal karena tuan Arka.”Hah? Anindya terkejut. “Kenapa bisa?”“Ibu gak tahu, nak. Mereka bertengkar di dalam kamar itu. Ibu cuma dengar kalau tuan Alaric berkata jika sampai kapanpun dia gak akan pernah memaafkan tuan Arka. Karena selain membuat ibunya meninggal, tuan Arka juga sudah merebut kekasih tuan Alaric. Iyalah dia nona Viona.”Astaga. Anindya benar-benar tak habis pikir. Dia langsung geleng-geleng kepala mendengar cerita yang rasanya tidak masuk di akal ini. Tapi, pantas saja Alaric membenci Arkalana kalau ternyata dia pu
Anin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban







