Home / Romansa / Pelayan Sang Tuan / 59. Cincin Pengganti 2

Share

59. Cincin Pengganti 2

last update Last Updated: 2024-06-28 12:09:50

Meera mengangguk dengan mantap. “Memangnya apalagi alasannya. Tentu saja karena kehadirannya tidak lagi dibutuhkan di rumah ini. Ck, bahkan sejak awal kehadirannya pun memang tidak dibutuhkan.”

“Apakah Dirga benar-benar membuangnya?” Davina menggumam rendah. Kembali teringat kata-kata Reyna. “Semudah itu?”

“Sepertinya membuang bukan kata yang tepat. Tapi keberadaannya di rumah ini lebih tidak tepat lagi.”

Davina tak menanggapi kata-kata Meera. Ya, memang semudah itu Dirga membuang orang di hidu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Agustin
selalu kasihan lihat davina
goodnovel comment avatar
raenii
ditunggu selanjutnya kk knp dirga marah ya
goodnovel comment avatar
Saldy
ditunggu kelanjutannya ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Sang Tuan   Part 7 Masih Perang Dingin

    “Kau tidak menjawab panggilanku.”“Dan kau tahu apa artinya itu.” Jawaban Zhafran dingin, menyeberangi ruangannya sambil melepaskan jas dan menggantungnya di gantungan. Sementara Fera menurunkan kedua lengannya dengan senyum yang kemudian melengkung ke bawah. Memperbaiki raut wajahnya sebelum berbalik dan mendekati meja Zhafran.“Kau marah padaku?”“Kau cukup paham bagaimana perasaanku, Fera.” Bibir Zhafran menipis tajam, nyaris tak bergerak dengan amarah yang berusaha ditahannya kuat-kuat pada wanita satu ini. “Kau tahu aku mempercayaimu.”“Malam itu aku mendapatkan malam yang buruk, Zhafran.” Raut Fera berubah memelas. “A-aku membutuhkanmu. Agar pikiranku tetap jernih dan aku tak berbuat sesuatu yang akan membuatku menyesal.”Zhafran terdiam. Menatap lebih dalam ekspresi di raut Fera.“Aku putus dengan Niel.” Suara Fera berubah menjadi kesedihan.Zhafran masih bergeming untuk beberapa saat. Mengingat keb

  • Pelayan Sang Tuan   Part 6 Wanita Itu

    "Jawaban seperti apa yang papa inginkan?" Suara Zhafran berhasil keluar dengan tanpa keraguan sedikit pun. Ya, tentu saja ia tahu seberapa banyak kasih sayang papa mertuanya yang dilimpahkan pada Elea. Ia sangat menyesali telah melakukan keteledoran yang fatal tersebut. "Apakah papa berpikir saya sengaja membuat Elea dalam bahaya? Membunuh darah daging saya sendiri?"Dirga terdiam, masih menilai ekspresi dan jawaban sang menantu yang sama sekali memuaskannya. "Kau tak menjawab pertanyaan papa," tandasnya setengah mendesak."Jika papa meragukan saya, sekarang. Tidakkah sudah sangat terlambat menjadikan saya sebagai suami putri kesayangan papa?" Zhafran beranjak berdiri, sengaja menampilkan ketersinggungannya akan kata-kata sang papa mertua. "Apakah sudah sejauh ini dan papa masih tidak mempercayai saya untuk melindungi Elea?"Dirga bergeming dengan jawaban cerdik sang menantu. Yang mungkin sedikit melegakannya, meski masih tak sepenuhnya melenyapk

  • Pelayan Sang Tuan   Part 5 Pertanyaan Papa Mertua

    Zhafran menahan kegeramannya sembari menyelesaikan mengemas semua barang-barang Elea ke dalam tas. Kedua mertuanya sudah ada di dalam ruang perawatan Elea, memastikan sang putri dalam keadaan baik-baik saja. Beruntung lebam-lebam di seluruh tubuh Elea juga sudah memudar dan wanita itu cukup cerdik untuk mengenakan pakaian lengan panjang. Papa Elea, Banyu Dirgantara sibuk mengamati gerak-geriknya dengan penuh kewaspadaan. Sementara mama Elea, Davina Dirgantara sibuk memeluk Elea dengan isakan yang berusaha ditahan. Tak berhenti mengelus punggung tangan sang putri.Ya, Elea punya alasan yang bagus membawa mereka ke sini. Mengatakan wanita itu mengalami keguguran karena terpeleset di kamar mandi. Cerita yang tidak sepenuhnya benar dan memang hanya itu yang dibutuhkan sang istri untuk memaksanya keluar dari tempat sialan ini.Zhafran terpaksa mengurus kepulangan Elea dan keberadaan kedua mertuanya membuatnya tak punya pilihan. Terutama dengan fisik Elea yang terlihat sangat baik-baik saja

  • Pelayan Sang Tuan   Part 4 Ikatan Yang Merapuh

    “Kau pembunuh. Kau membunuhnya!” Suara Elea kembali memenuhi seluruh ruangan. Mata wanita itu menyorotkan kebencian yang begitu dalam dan pekat meski tak lagi meronta dan histeris, setelah tertidur selama beberapa jam oleh obat penenang.Zhafran sama sekali tak menyangkal tuduhan tersebut. Ialah yang bertanggung jawab atas kematian anak mereka. Juga atas apa yang dialami sang istri.“Jangan mendekat!” jerit Elea ketika kaki Zhafran bergerak, hendak mendekat. “Aku tak ingin melihatmu. Pergilah.” Elea menghapus air matanya, memeluk kedua kakinya yang terlipat dan menenggelamkan wajahnya di lutut.“Aku akan kembali setelah …”“Aku tak ingin melihatmu lagi.” Suara lemah Elea memenggal kalimat Zhafran. Diselimuti permohonan yang begitu kental.Mata Zhafran terpejam, kakinya bergerak maju. Yang membuat kepala Elea terangkat dan menjerit padanya.“Kubilang jangan mendekat.”“Aku tahu kau begitu membenciku, Elea. Sejak

  • Pelayan Sang Tuan   Part 3 Duka Yang Dalam

    “Keguguran?” Suara Zhafran tercekik di tenggorokan. Di antara semua keterkejutan yang datang silih berganti, yang terburuk dari yang terburuk kini datang bersamaan. Karena kekerasan seksual yang dialami sang istri, Elea mengalami keguguran. Nyaris kehabisan darah jika tidak terlambat datang menemukan wanita itu dan membawanya ke rumah sakit.Dadanya serasa dikoyak dengan keras, sebelum kemudian jantungnya dibetot dengan cara yang paling buruk yang tak pernah terbayangkan akan di hidupnya. Dadanya kesulitan bernapas, dan ia berharap udara di paru-parunya direnggut paksa.Ia tak bisa menghadapi penyesalan terlalu besar ini seorang diri. Yang menggerogoti hidupnya dengan perlahan, hingga ia berharap lebih baik mati saja. Namun, bagaimana dengan Elea? Istrinya mengalami mimpi buruk ini karena dirinya. Ia tetap meninggalkan Elea meski wanita itu sudah memohon. Melakukan segala cara untuk mendapatkan seluruh perhatiannya. Tetapi ia dibutakan oleh perhatiannya t

  • Pelayan Sang Tuan   Part 2 Penyesalan Tiada Akhir

    Tepat jam dua belas malam, kecepatan mobil Zhafran mulai berkurang ketika mendekati gerbang tinggi rumahnya. Yang masih terbuka lebar. Sepertinya Elea benar-benar pergi ke rumah orang tua wanita itu. Keningnya berkerut penuh tanya, apakah Elea lupa menyuruh penjaga untuk menutupnya? Batinnya bertanya, gegas menginjak pedas gas dan berhenti di teras rumah. Yang salah satu pintunya terbuka.Zhafran mendesah pelan. Masih mencoba memahami sikap Elea yang kekanakan. Wanita itu meninggalkan rumah dalam keadaan gerbang dan pintu terjemblak terbuka seperti ini. Ia turun dari mobil dan berjalan ke carport, memanggil salah satu penjaga di ruang CCTV yang bersebelahan dengan carport."N-nyonya?" Penjaga tersebut tampak mengembalikan kesadarannya. Mengucek mata, mengembalikan kesadaran yang hanya setengah dan rasa pusing di kepalanya yang semakin menusuk. Bukannya menjawab sang tuan yang mempertanyakan kenapa tidak menutup gerbang ketika istrinya pergi dan malah meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status