Se connecter“Kenapa kau masih saja menangis?” Tangan Zhafran menyeka air mata yang masih saja mengalir di pipi Elea.“Kupikir aku akan kehilanganmu. Kupikir kau akan meninggalkanku. Kenapa kau begitu lama di ruang operasi?”Zhafran terkekeh. “Ini hanya luka tusukan, Elea. Butuh beberapa jahitan. Dan sekarang dokter sudah menanganinya dengan baik.”“Tetap saja kau membuatku cemas, Zhafran.”Zhafran hanya tersenyum. Kepanikan Elea masih tampak begitu kental menggurati wajah sang istri. “Bagaimana kau datang ke sana?”“Kau yang memintaku datang, kan?”Elea terdiam.Zhafran tersenyum lagi, ujung jemarinya menyentuh ujung mata sang istri. keduanya saling pandang untuk saat yang cukup lama. “Matamu mengatakan semuanya, Elea. Semuanya.”Ada perasaan haru yang membuncah di dalam dada Elea. “Kita sudah saling mengenal dan terikat sangat lama, Elea. Bagaimana mungkin aku tak tahu apa yang coba kau rencan
"Tidak. Aku tidak mau, Chris." Elea menarik tangannya.Pegangan Chris yang tak benar-benar kuat berhasil membuat Elea terlepas. Elea berbalik dan nyaris mencapai pintu lift yang bergerak tertutup.Wanita itu menggedor-gedor pintu lift, berusaha membuka dengan sia-sia.Chris mendekat, memegang pinggang Elea dan menariknya menuju landasan helikopter. Tubuh Elea memberontak, sedikit menyulitkannya. Tetapi ia bisa mengendalikan situasi menggunakan kekuatan prianya."Aku tidak mau pergi. Lepaskan, Chris!" Elea memukul-mukul lengan Chris yang melingkari perutnya. Kakinya menendang-nendang ke segala arah.Chris sama sekali tak mengurangi kecepatan langkahnya. Membalik tubuh Elea dan membopongnya di pundak seperti sekarung beras. Mengabaikan jeritan dan rontaan wanita itu yang semakin menjadi. Kakinya baru saja menginjak landasan helikopter ketika tiba-tiba suara mesin berhenti dan gerakan baling-balingnya mulai memelan.Langkah Chris membeku
Lama Elea hanya tenggelam dalam kebisuan. Fera? Anak Galena?“J-jadi … semua itu perbuatanmu? Kalian bekerja sama sejak awal.”“Teror itu? Ya. Pada awalnya semua adalah rencanaku. Kau mulai menarik perhatian Zhafran. Kami memang berteman sejak kecil, tetapi kau selalu menjadi permen kesukaannya karena kepolosanmu yang memuakkan itu. Karena sikap manjamu yang menjijikkan itu. Dia tak berhenti memperhatikanmu. Bahkan ketika kau hanya berjalan menghampirinya. Menyebalkan.”Elea tak bergeming. Masih menelaah kebingungannya yang berkepanjangan. “Kupikir dengan membiarkan kalian bertunangan dan menikah, pada akhirnya kau akan menginginkannya. Sementara Zhafran sudah menjadi milikku, kupikir aku akan menggunakannya untuk membalaskan dendam mamaku pada keluargamu yang membuatnya menderita. Tapi … semakin aku mengenalnya, aku semakin menginginkannya. Dengan perasaanku yang tulus, yang malah dia campakkan hanya karena anak kecil sepertimu.”
Tak ada pelayan maupun pengawal yang menjaga mereka di dalam rumah. Elea turun lebih dulu dan pergi ke dapur untuk membuatkan minum Zhafran. Sembari menunggu pria itu berpakaian di kamar.Gerakan tangannya terhenti ketika hendak menaburkan serbuk obat di tangannya ke minuman Zhafran.‘Tenanglah, Elea. Aku tak mungkin membuatmu menjadi seorang pembunuh. Pembunuh suami sendiri.’‘Itu hanya obat tidur. Percaya padaku.’Elea mengangguk, menyakinkan dirinya dan memasukkan serbuk tersebut, mengaduknya dengan sendok. Zhafran baru saja muncul ketika ia keluar dari dapur. Keduanya saling melemparkan senyum dan duduk di kursi masing-masing.“Jadi, apa yang kau bicarakan dengan Chris?”Elea tak menatap wajah pria itu, mendekatkan gelas minumannya kea rah Zhafran ketika menjawab, “Masih sama seperti pembicaraan terakhir kami.”Zhafran tak bertanya lagi. Menatap gelas yang diberikan Elea.Elea memegang tangan pria
“Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Chris menoleh ke samping. Menyadari kegusaran El Noah yang sejak tadi bernapas dengan kasar dan bergerak tak nyaman di sampingnya.El Noah menggeleng, tanpa melepaskan pandangannya yang kosong ke arah depan. Tangannya yang bersandar di jendela mobil, menyentuhkan telunjuk di mulut, sesekali menggigit dengan pikiran yang masih berkelit. “Sepertinya ada yang aneh dengan Elea. Sesuatu terjadi dengan hubungan mereka.”“Pernikahan mereka?”El Noah mengangguk. Memutar kepala ke arah Chris. “Apakah ini masuk akal? Galena, aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi aku melupakan di mana. Ada hubungannya dengan papaku. Lalu Fera. Suatu malam terjadi sesuatu dengan Elea, yang membuat Elea marah. Apakah Zhafran tidur dengan Elea?”Chris tampak kebingungan, tetapi akhirnya bisa mencerna kalimat membingungkannya El Noah. “Siapa Galena?”El Noah mengerutkan keningnya dalam. Berusaha keras mengingat. Sa
Ponsel Elea jatuh ke lantai ketika hasil gambar itu muncul di ponselnya. Dari nomor ponsel El Noah. Telapak tangan membekap mulut, menahan kesiapnya tak sampai terdengar dari balik pintu kamar mandi. Yang memisahkannya dengan Zhafran.“Elea?” Baru saja wanita itu memikirkan Zhafran, wajah pria itu sudah muncul dari balik pintu. “Suara apa itu?“A-aku hanya tak sengaja menjatuhkan ponselku,” jawab Elea sambil membungkuk dan meraih ponselnya di samping kaki. Kemudian sengaja meletakkan dengan posisi terbalik, memberikan seulas senyum pada Zhafran. Meyakinkan pria itu bahwa semuanya baik-baik saja dan Zhafran pun kembali menutup pintu.Setelah yakin langkah Zhafran yang semakin menjauh, barulah Elea kembali meraih ponselnya. Tetapi gambar itu sudah dihapus.‘Lama tak saling bersua, Manis. Merindukanku?’Elea berusaha menahan gemetar yang menyerang jemari tangannya. Tetapi mempertahankan benda pipih itu berada dalam genggamannya. Ba
“Maaf, maafkan aku, Rega.” Erang kesakitan membangunkan Davina. Mata gadis itu segera terbuka dan menoleh ke samping. Melihat kepala Dirga yang bergerak ke kiri dan kanan degan mata masih terpejam. Sementara wajah pria itu dibanjiri keringat. “Aku tak akan memaafkan mereka. Aku tak akan mengampuni m
Dirga cukup terkejut dengan kata-kata yang baru saja didengarnya dari Davina. Wajahnya seketika menggelap, menyadari ada tantangan yang tersirat di kedua mata Davina. Bahkan gadis licik itu menyebutkan namanya dengan bibir tipis yang sialan menggoda di saat yang bersamaan. Dagu Davina juga sedikit t
“Sekarang, gadis licik,” ulang Dirga melihat Davina yang hanya tertegun mendengarkan perintahnya. “D-di sini?” Davina mengigit bibir bagian dalamnya. Tatapan Dirga begitu dingin dan tegas. Memaksa dirinya untuk menuruti perintah tersebut meski ia masih bergeming di tempatnya. Menahan malu yang lebi
“A-aku …” Davina tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika bibirnya dilumat oleh Dirga. Membungkam jawaban apa pun yang hendak ia ucapkan.Davina tersentak kaget, menarik wajahnya mundur menyadari mereka berada di tempat umum. Wajahnya merah padam merasakan pandangan orang di sekitar mereka.Dirga t







