/ Romansa / Pelayan Sang Tuan / 7. Menghilang

공유

7. Menghilang

last update 게시일: 2024-04-17 17:54:29

“Butuh bantuan?”

Kepala Davina masih terasa pusing ketika perawat datang untuk membawakan makan malam. Sejak tadi siang, hanya ada Clay yang duduk di sofa. Pria itu sama sekali tak bicara dan menyibukkan diri dengan beberapa panggilan dan ponsel. Dan itu pertama kalinya pria itu bicara padanya.

Davina menggeleng pelan, menahan rasa sakit yang masih tersisa untuk bangun terduduk. Mengambil nampan yang diletakkan di meja kecil, tetapi karena tubuhnya masih lemah dan tak banyak kekuatan yang masih tersisa, nampan itu hanya beberapa detik berada dalam genggamannya sebelum jatuh ke lantai.

Clay yang terduduk di sofa hanya mendengus tipis. “Tidak butuh bantuan dan hanya merepotkan saja, begitu?”

Davina tak mengatakan apa pun. Tertunduk malu.

“Inilah alasan Dirga begitu bersenang-senang denganmu. Kau sangat mudah dipermainkan dan sangat merepotkan. Membuat hidupnya yang membosankan jadi sedikit menyenangkan.” Clay bangkit berdiri dan melangkah mendekati ranjang pasien.

Ada kerutan yang tersamar di kening Davina, menelaah kata-kata Clay dan berpikir lebih dalam.

Tangan Clay terulur menyentuh dagu Davina dan sedikit mengangkatnya naik agar tatapan keduanya bertemu.

“Maaf.”

Clay malah terkekeh, semakin mendekatkan wajahnya ke wajah mungil Davina yang pucat. “Maaf? Ck, asal kau tahu, aku bukan orang yang pemaaf. Aku jelas tak lebih baik dari Dirga.”

Davina tak membalas lagi.

“Bagaimana denganmu? Apa kau bersenang-senang dengan hukumanmu?” bisik Clay lirih.

Mata Davina melebar akan pertanyaan Clay yang memang disengaja untuk melecehkan dirinya. Ia memang pelayan Dirga, pelacur Dirga, dan ia berusaha mengebaskan hati akan semua pelecehan tersebut. Akan tetapi, ia masih terkejut dan hatinya masih tercubit dengan keras. Wajahnya yang sudah pucat, tak bisa lebih pucat lagi.

“Kenapa? Kau tersinggung?”

Bibir Davina menipis. Terbiasa direndahkan oleh Dirga membuatnya mudah beradaptasi dengan pelecehan tersebut. Keduanya saling mengunci pandangan hingga cukup lama, menyelimuti keduanya dalam kesunyian.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Geraman dalam dari arah pintu membuat Clay memutus kontak mata lebih dulu. Melepaskan tangannya dari dagu Davina dan menegakkan punggung. Lalu menekan tombol di dinding di samping ranjang pasien.

“Seperti yang kau bilang, dia memang suka merepotkan orang lain.” Clay berbalik dan menjawab dengan penuh ketenangan.

Wajah Dirga mengeras, pandangannya turun ke arah lantai tempat nampan berisi makan malam Davina yang berserakan di sekitar kaki Clay. Lalu berjalan masuk dengan tatapan kecurigaan yang menusuk ke arah Davina dan Clay. Davina tampak tegang sementara Clay masih diselimuti ketenangan.

“Kau sudah selesai?” Clay bertanya lagi. “Kalau begitu aku pergi,” ucapnya melewati Dirga dan berjalan ke arah pintu sambil bersenandung lirih.

Davina menjilat bibirnya yang kering merasakan tatapan Dirga yang semakin menusuk. Tak tahan dengan tatapan pria itu yang semakin menelanjanginya, ia pun menundukkan wajahnya.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Dirga.

Davina hanya memberikan satu gelengan.

“Bermain rahasia?”

Davina menggeleng lagi. Tetapi menangkap kemarahan dalam suara Dirga, ia pun menjawab lirih, “Dia hanya kesal karena aku menjatuhkan makananku.”

Mata Dirga menyipit, mencoba mencari kebohongan di raut wajah gadis itu. Meski terlihat polos dan seperti buku yang mudah dibacanya, tetap saja ia merasa ada sesuatu dari gadis ini yang tersembunyi rapi di belakang sana. Bersembunyi dengan sangat baik dan rapi hingga Dirga berpikir belum pernah ada kebohongan sehalus dan sepolos ini.

Selama sepuluh detik penuh keduanya hanya terdiam dalam kesenyapan. Masih tak bisa mempercayai ucapan dan raut gadis itu, tetapi memutuskan untuk membiarkannya dan mencari tahunya sendiri. Dengan cara yang lain.

Tak lama, dua perawat membawa nampan makan malam Davina yang baru dan membersihkan lantai.

Perawat memasang meja dan meletakkan nampan makanan Davina.

“Terima kasih,” ucapnya lirih pada perawat tersebut yang kemudian membantu temannya membersihkan lantai.

Tak sampai lima menit, dua perawat itu melangkah keluar. Meninggalkan Davina dan Dirga yang duduk di ujung ranjang, tak melepaskan pandangan dari Davina yang sibuk menandaskan isi perut.

Ada seringai yang tersamar di ujung bibir pria itu mengamati Davina yang menghabiskan isi piring dengan lahap.

Setelah selesai makan, ada kesenyapan yang dalam terbentang di antara keduanya. Davina mulai merasa canggung. Ia hanya bisa berbaring di atas ranjang tanpa melakukan apa pun. Dan ternyata situasi semacam ini membuat kecanggungannya semakin memadat.

Dengan sikap patuhnya, ia selalu memiliki kesibukan setiap kali bersama Dirga. Di atas ranjang atau membersihkan kamar, menyiapkan pakaian, menyiapkan makan dan menunggu sang tuan makan. Saat tak menginginkannya, Dirga hanya akan mengusirnya.

“Sejak kapan kau tahu?” Dirga memecah keheningan tersebut.

“Empat hari yang lalu,” jawab Davina lirih.

Dirga mencoba menghitung, teringat ketika Davina mengeluh sakit dan sikap buruknya pada gadis itu. Yang lagi-lagi tak mampu meluruhkan dendamnya terhadap ayah gadis itu. “Dan apa yang kau pikirkan?”

Davina tak menjawab. Ia sendiri tak tahu apa yang dipikirkannya ketika mengetahui kehamilan tersebut. Ia hanya merasa badannya sakit ketika teringat tamu bulanannya yang tak pernah datang sejak Dirga menyembuhkan kakinya sekitar satu bulan yang lalu.

“Kau berpikir aku tak akan menyukainya.”

Davina masih bergeming. Merasakan desisan tajam Dirga yang membuatnya menahan napas.

“Jadi kau hanya berusaha menyelesaikan masalah secara diam-diam begitu? Yang pada akhirnya juga menjadi tak diam-diam di belakangku.”

Davina tetap bergeming.

“Sekaran Galena sudah menyelesaikan masalahmu. Kau senang?”

Davina bahkan tak yakin apa yang harus dirasakannya saat ini. Senang, lega, atau merasa kehilangan? Karena sejujurnya ada sesuatu yang hilang dari dadanya menyadari bahwa janin di perutnya sudah terbunuh karena ketidak berdayaannya menghadapi situasi. Penyesalan dan rasa bersalah yang bercampur aduk memenuhi dadanya. Membuatnya ingin ikut mati saja sehingga semua penderitaan ini cepat berakhir.

Akan tetapi ia tahu semua itu tak akan berakhir dengan mudah. Dirga jelas akan membuatnya selamat hanya untuk menerima hukuman yang lebih besar.

“Diam berarti ya?”

“Lalu apa kau ingin meratapi nasibnya yang berakhir dengan tragis?”

Dirga membeku akan kesinisan yang melapisi suara lemah Davina. “Kau melawanku?”

Davina merapatkan mulutnya kembali. Menjawab senang atau tidak, jawabannya akan tetap salah di mata Dirga.

Ada dorongan untuk mengulurkan tangan dan mencengkeram rahang Davina, tetapi ketika melihat luka di ujung bibir gadis itu yang belum sembuh membuatnya menahan diri. “Tidurlah. Kau harus sembuh lebih cepat dan menerima hukuman atas mulutmu yang lancang itu.”

Davina menelah ludahnya dan dengan patuh membaringkan tubuhnya. Sementara Dirga teralihkan oleh panggilan dari ponsel pria itu. Melangkah mendekati jendela kamar.

“Ada apa?” desisnya tajam. Mendengarkan dengan seksama dan wajahnya seketika menegang. “Di mana?”

“Aku akan ke sana. Tunggu di basement.” Dirga menurunkan ponselnya dan melihat Davina yang mulai memejamkan mata. Ia pun beranjak menuju pintu dan keluar.

Mata Davina terbuka begitu pintu tertutup. Mendengarkan suara langkah Dirga yang semakin menjauh dan memastikan tak terdengar apa pun ketika bangun terduduk dan menyingkap selimut. Bibirnya meringis menahan rintihan ketika kedua kakinya menyentuh lantai. Perutnya masih sakit, tapi ia masih bisa menahannya.

'Saat dia ke basement, kau hanya punya waktu sepuluh menit untuk pergi ke pintu belakang rumah sakit. Aku meninggalkan tanda di dinding, mulai dari tangga darurat untuk turun satu lantai di bawah. D.'

Davina membaca kembali nota kecil yang berhasil diselipkan di balik mangkuk sup makan siangnya.

D. Davina tahu pria itu pasti akan menyelamatkannya. Harapan itulah yang membuatnya bertahan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pelayan Sang Tuan   Part 54 Kejutan Yang Mengejutkan

    "Tidak. Aku tidak mau, Chris." Elea menarik tangannya.Pegangan Chris yang tak benar-benar kuat berhasil membuat Elea terlepas. Elea berbalik dan nyaris mencapai pintu lift yang bergerak tertutup.Wanita itu menggedor-gedor pintu lift, berusaha membuka dengan sia-sia.Chris mendekat, memegang pinggang Elea dan menariknya menuju landasan helikopter. Tubuh Elea memberontak, sedikit menyulitkannya. Tetapi ia bisa mengendalikan situasi menggunakan kekuatan prianya."Aku tidak mau pergi. Lepaskan, Chris!" Elea memukul-mukul lengan Chris yang melingkari perutnya. Kakinya menendang-nendang ke segala arah.Chris sama sekali tak mengurangi kecepatan langkahnya. Membalik tubuh Elea dan membopongnya di pundak seperti sekarung beras. Mengabaikan jeritan dan rontaan wanita itu yang semakin menjadi. Kakinya baru saja menginjak landasan helikopter ketika tiba-tiba suara mesin berhenti dan gerakan baling-balingnya mulai memelan.Langkah Chris membeku

  • Pelayan Sang Tuan   Part 53 Dibawa Pergi

     Lama Elea hanya tenggelam dalam kebisuan. Fera? Anak Galena?“J-jadi … semua itu perbuatanmu? Kalian bekerja sama sejak awal.”“Teror itu? Ya. Pada awalnya semua adalah rencanaku. Kau mulai menarik perhatian Zhafran. Kami memang berteman sejak kecil, tetapi kau selalu menjadi permen kesukaannya karena kepolosanmu yang memuakkan itu. Karena sikap manjamu yang menjijikkan itu. Dia tak berhenti memperhatikanmu. Bahkan ketika kau hanya berjalan menghampirinya. Menyebalkan.”Elea tak bergeming. Masih menelaah kebingungannya yang berkepanjangan. “Kupikir dengan membiarkan kalian bertunangan dan menikah, pada akhirnya kau akan menginginkannya. Sementara Zhafran sudah menjadi milikku, kupikir aku akan menggunakannya untuk membalaskan dendam mamaku pada keluargamu yang membuatnya menderita. Tapi … semakin aku mengenalnya, aku semakin menginginkannya. Dengan perasaanku yang tulus, yang malah dia campakkan hanya karena anak kecil sepertimu.”

  • Pelayan Sang Tuan   Part 52 Bertatap Muka

    Tak ada pelayan maupun pengawal yang menjaga mereka di dalam rumah. Elea turun lebih dulu dan pergi ke dapur untuk membuatkan minum Zhafran. Sembari menunggu pria itu berpakaian di kamar.Gerakan tangannya terhenti ketika hendak menaburkan serbuk obat di tangannya ke minuman Zhafran.‘Tenanglah, Elea. Aku tak mungkin membuatmu menjadi seorang pembunuh. Pembunuh suami sendiri.’‘Itu hanya obat tidur. Percaya padaku.’Elea mengangguk, menyakinkan dirinya dan memasukkan serbuk tersebut, mengaduknya dengan sendok. Zhafran baru saja muncul ketika ia keluar dari dapur. Keduanya saling melemparkan senyum dan duduk di kursi masing-masing.“Jadi, apa yang kau bicarakan dengan Chris?”Elea tak menatap wajah pria itu, mendekatkan gelas minumannya kea rah Zhafran ketika menjawab, “Masih sama seperti pembicaraan terakhir kami.”Zhafran tak bertanya lagi. Menatap gelas yang diberikan Elea.Elea memegang tangan pria

  • Pelayan Sang Tuan   Part 51 Satu-Satunya Cara

    “Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Chris menoleh ke samping. Menyadari kegusaran El Noah yang sejak tadi bernapas dengan kasar dan bergerak tak nyaman di sampingnya.El Noah menggeleng, tanpa melepaskan pandangannya yang kosong ke arah depan. Tangannya yang bersandar di jendela mobil, menyentuhkan telunjuk di mulut, sesekali menggigit dengan pikiran yang masih berkelit. “Sepertinya ada yang aneh dengan Elea. Sesuatu terjadi dengan hubungan mereka.”“Pernikahan mereka?”El Noah mengangguk. Memutar kepala ke arah Chris. “Apakah ini masuk akal? Galena, aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi aku melupakan di mana. Ada hubungannya dengan papaku. Lalu Fera. Suatu malam terjadi sesuatu dengan Elea, yang membuat Elea marah. Apakah Zhafran tidur dengan Elea?”Chris tampak kebingungan, tetapi akhirnya bisa mencerna kalimat membingungkannya El Noah. “Siapa Galena?”El Noah mengerutkan keningnya dalam. Berusaha keras mengingat. Sa

  • Pelayan Sang Tuan   Part 50 Kembalinya Sang Penguntit

    Ponsel Elea jatuh ke lantai ketika hasil gambar itu muncul di ponselnya. Dari nomor ponsel El Noah. Telapak tangan membekap mulut, menahan kesiapnya tak sampai terdengar dari balik pintu kamar mandi. Yang memisahkannya dengan Zhafran.“Elea?” Baru saja wanita itu memikirkan Zhafran, wajah pria itu sudah muncul dari balik pintu. “Suara apa itu?“A-aku hanya tak sengaja menjatuhkan ponselku,” jawab Elea sambil membungkuk dan meraih ponselnya di samping kaki. Kemudian sengaja meletakkan dengan posisi terbalik, memberikan seulas senyum pada Zhafran. Meyakinkan pria itu bahwa semuanya baik-baik saja dan Zhafran pun kembali menutup pintu.Setelah yakin langkah Zhafran yang semakin menjauh, barulah Elea kembali meraih ponselnya. Tetapi gambar itu sudah dihapus.‘Lama tak saling bersua, Manis. Merindukanku?’Elea berusaha menahan gemetar yang menyerang jemari tangannya. Tetapi mempertahankan benda pipih itu berada dalam genggamannya. Ba

  • Pelayan Sang Tuan   Part 49 El Noah

    Elea di depan pintu apartemennya. Tetapi keningnya berkerut dengan dua pria berpakaian serba hitam yang berdiri tak jauh dari wanita itu.“Kalian tunggu di sini saja,” pintah Elea, melangkah masuk ketika Chris memberinya jalan.“El Noah tidak sampai di rumah. Apakah mungkin kau tahu dia pergi ke mana?”“Apa?” Chris tampak terkejut. “Aku tak tahu dia tidak akan langsung pulang. Pantas saja papamu kemarin menghubungiku dan menanyakannya. Kupikir dia hanya sedang singgah ke suatu tempat.”Elea menggeleng. “Apakah dia mengatakan sesuatu?”Chris terdiam, tampak berpikir sejenak. “Di tengah perjalanan, ada seseorang yang menghubunginya. Aku tak tahu siapa, tapi … setelah panggilan itu berakhir, dia langsung menyuruhku untuk berhenti dan menurunkan barang-barangnya.”“Kau mendengar pembicaraan mereka?”Chris menggeleng. Kedua alisnya masih tampak menyatu, menunjukkan sedang memikirkan sesuatu. “Tapi … saat memindahkan barang-ba

  • Pelayan Sang Tuan   22. Benang Merah

    Dirga melempar pistol di tangannya dan melompat ke arah Davina. Ia hanya terlambat sedetik, satu gerakan mematikan Davina berhasil membuat amarah mendidih di ubun-ubunnya. Ia tercengang dengan keras akan kenekatan gadis licik itu yang membuat darah segar mengucur dari pergelangan tangan Davina.Kedua

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • Pelayan Sang Tuan   24. Rasa Bersalah

    “Maaf, maafkan aku, Rega.” Erang kesakitan membangunkan Davina. Mata gadis itu segera terbuka dan menoleh ke samping. Melihat kepala Dirga yang bergerak ke kiri dan kanan degan mata masih terpejam. Sementara wajah pria itu dibanjiri keringat. “Aku tak akan memaafkan mereka. Aku tak akan mengampuni m

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • Pelayan Sang Tuan   18. Lebih Banyak Rasa Sakit

    Dirga cukup terkejut dengan kata-kata yang baru saja didengarnya dari Davina. Wajahnya seketika menggelap, menyadari ada tantangan yang tersirat di kedua mata Davina. Bahkan gadis licik itu menyebutkan namanya dengan bibir tipis yang sialan menggoda di saat yang bersamaan. Dagu Davina juga sedikit t

    last update최신 업데이트 : 2026-03-18
  • Pelayan Sang Tuan   15. Di Dalam Ruangan VIP

    “Sekarang, gadis licik,” ulang Dirga melihat Davina yang hanya tertegun mendengarkan perintahnya. “D-di sini?” Davina mengigit bibir bagian dalamnya. Tatapan Dirga begitu dingin dan tegas. Memaksa dirinya untuk menuruti perintah tersebut meski ia masih bergeming di tempatnya. Menahan malu yang lebi

    last update최신 업데이트 : 2026-03-18
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status