Home / Romansa / Pelayan Sang Tuan / 6. Kerepotan Lainnya

Share

6. Kerepotan Lainnya

last update publish date: 2024-04-17 17:54:11

“Apa yang terjadi?” Dirga bertanya dengan suara dingin dan datarnya pada dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan.

Dokter muda itu memasang raut tanya yang jelas. “Apakah Anda walinya?”

Dirga sedikit kesulitan menjawab. Ya, umurnya dan Davina terpaut 15 tahun. Ditambah tubuh gadis itu yang kecil yang membuat Davina terlihat seperti pelajar. Padahal sudah jelas gadis itu sudah cukup umur untuk ditidurinya. Kecurigaan dalam pandangan dokter tersebut tentu saja membuatnya kesal, dan menjawab dengan kesal. “Ya, aku walinya.”

“Anda siapanya pasien?” Kali ini tatapan pria itu tampak mengamati.

Dirga tentu saja tahu apa yang dipikirkan oleh dokter muda itu. Terlalu muda untuk jadi ayah dan terlalu dewasa untuk dijadikan kekasih. Dan lagi, Davina juga terlalu muda untuk seorang istri.

Dirga menggeram rendah dengan tatapan mengancam yang tersorot di kedua mata. “Kenapa itu menjadi urusanmu?”

“Kami tidak bisa memberikan informasi …”

“Aku yang membawanya ke rumah sakit. Aku yang bertanggung jawab atas nyawanya. Dia adalah keponakanku.” Kemarahan Dirga tampak jelas dalam setiap kata yang diucapkannya. Kebohongan keluar tanpa keraguan sedikit pun. Ya, ia tak mungkin mengakui Davina sebagai anaknya atau kekasihnya, kan? “Jadi, katakan padaku apa yang terjadi dengannya?”

Dokter itu masih tampak mempertimbangkan. Tetapi memutuskan menurut atau ia akan terlibat dalam masalah yang lebih serius melihat emosi Dirga yang siap meluap. “Pasien mengalami pendarahan dan membutuhkan donor darah. Juga janin dalam kandungannya tak terselamatkan.”

Seluruh tubuh Dirga menegang. Janin? Tak terselamatkan? Jadi gadis itu hamil? Dan beraninya menyembunyikan hal ini di belakangnya. Kemarahan di wajah Dirga semakin menggelap. Rahangnya mengeras dengam geraham yang bergemeletuk. Sekaligus tak tahu bagaimana harus menghadapi situasi sialan ini.

Tetapi kemudian ia teringat apa yang dikatakan oleh pelayannya. Galena memaksa Davina menelan sesuatu. “Apa penyebabnya?” Bibirnya nyaris tak bergerak, suara yang keluar pun disleimuti ketenangan meski terdengar seperti akan menelan dokter itu hidup-hiduo.

Dokter muda tersebut tampak terdiam untuk sejenak. “Keponakan Anda minum obat penggugur kandungan. Dan dosisnya terlalu besar. Jadi …”

Dirga menggeram, tak butuh mendengarkan lebih banyak. Kemurkaan yang meluap-luap memenuhi dadanya, naik ke ubun-ubun. Jadi Galena sudah tahu Davina hamil dan memutuskan membunuh darah dagingnya? Begitu?

Tak hanya lancang, wanita itu rupanya menantangnya?

***

Dirga hanya duduk tertegun di sofa panjang. Pandangannya mengarah pada ranjang pasien yang ada di seberang ruangan. Davina berbaring di atasnya, dengan mata yang masih terpejam dan wajah yang pucat. Ada luka robek di ujung bibir gadis itu, juga rahang yang memerah dan bekas kuku yang menancap dalam di pipi. Ia tahu bekas luka apa pun itu yang ada di wajah Davina. Tamparan dan cengkeram. Ditambah kuku Galena yang panjang, bekas itu jadi tampak jelas. Dan ia memahami tatapan kecurigaan yang dilayangkan sang dokter ketika melihatnya.

Erangan pelan terdengar dari Davina. Kening Dirga berkerut dan melihat kelopak mata Davina yang bergerak-gerak dengan perlahan. Begitu terbuka sepenuhnya, pandangan gadis itu beredar ke seluruh ruangan dan langsung bertatapan dengannya.

Dirga mendengus tipis ketika Davina terkesiap pelan dan hendak bangun terduduk, tetapi mengerang ketika merasakan kesakitan di daerah perut.

“Dokter menyuruhmu jangan banyak bergerak. Rahimmu sedang bermasalah.”

Ada keterkejutan di wajah gadis itu yang polos. Ck, selalu terlihat rapuh, lemah, dan polos. Ya, hanya itu senjata Davina, kan? Bangkit berdiri, Dirga melangkah dengan perlahan mendekat dan berhenti di samping ranjang pasien. “Adakah yang ingin kau jelaskan padaku?"

Bibir Davina bergetar dan menjadi semakin pucat. Seperti tikus kecil yang terpojok, hanya saja bahkan gadis itu tak akan berani mencicit. Karena ia tak suka cicitan dan gadis itu tahu.

Tangan Davina bergerak pelan ke perut. Rahimnya sedang bermasalah. Lalu, apakah janinnya masih hidup atau …

“Mendadak bisu, hah?”

Davina masih membungkam. Tak yakin apa yang ingin didengarkan oleh sang tuan. Tentang kehamilannya atau tentang apa yang dilakukan Galena padanya.  “A-apa saja yang dikatakan oleh dokter?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Davina kembali menutup mulut. Mencoba mengamati raut sang tuan. Apakah marah kehamilannya atau karena ia tak memberitahu tentang kehamilannya? Tetapi Davina jelas tak bisa membaca ekspresi Dirga selain bongkahan gunung es di kedua mata pria itu setiap kali menatapnya. Yang kadang bisa menjadi seperti kobaran abi ketika marah padanya. Selain kedua hal itu, tak ada ekspresi apa pun yang ada di sana.

“Jadi sejak awal kau memang tahu dirimu sedang hamil?” dengus Dirga.

“Kupikir kau tak akan suka mendengarnya. Jadi …”

“Dengan lancangnya kau mencoba menyembunyikannya dariku, begitu?”

Davina merapatkan mulut. Merasakan kemarahan yang mulai menyelimuti wajah Dirga. Pria itu kemudian mengulurkan tangan, menyentuhkan ujung jemari di bekas kuku Galena di pipi, juga luka di ujung bibir sebelum mencengkeram wajah Davina. Kuat meski tak cukup untuk membuat gadis itu merintih. Lalu ia membungkuk dan mulai memangkas jarak di antara wajah mereka.

“Kau tahu hanya aku yang berhak merendahkan dan menyiksamu, kan? Dan kau membiarkan orang lain memperlakukanmu seperti ini?” Ada kemarahan yang berkilat di kedua mata Dirga yang berhasil membuat bibir Davina bergetar.

“M-maaf.”

“Apakah itu akan mengembalikan semua kerepotan yang sudah kulakukan untukmu? Apa kau tahu berapa banyak kerepotan yang sudah kulakukan untukmu? Berapa banyak darah yang harus kuberikan untukmu karena rumah sakit kehabisan stok darah?”

Davina kembali merapatkan bibirnya. Kedua matanya mulai memanas dan air mata merebak di kedua kelopak matanya. Oleh ketakutan yang selalu tak sanggup dihadapinya ketika berhadapan dengan sang tuan.

Bibir Dirga menipis, menyentakkan wajah Davina dan menegakkan punggungnya kembali. “Ck,” decaknya pelan ketik gadis itu mulai terisak. Meski ia yakin gadis itu hanya sengaja melebih-lebihkan, tetap saja mengingat kondisi Davina yang lemah membuatnya menahan diri. Kali ini Dirga membiarkan gadis itu meratapi kesedihan tersebut. Sebelum kemudia melangkah ke arah pintu.

Tepat ketika Dirga menutup pintu ruang perawatan di belakangnya, Clay muncul di ujung lorong. Langsung menemukan keberadaannya dan melangkah lebih cepat.

“Apa yang terjadi?” tanya Clay.

Dirga terdiam. Kekhawatiran Clay terlalu jelas, membuatnya menjadi lebih kesal pada pria itu.

“Kudengar Davina masuk ke rumah sakit karena keguguran. Dia hamil?”

Dirga tak menjawab. “Bukankah bagus jika anak itu lenyap juga?”

“Kau yakin?” Tatapan Clay lebih dalam. “Lalu kenapa wajahmu terlihat begitu gusar?”

Dirga tak langsung menjawab. “Aku hanya kesal dia membiarkan Galena melecehkannya.”

“Ya, melihat dia hanya pelayan dan meski lancang, Galena sang calon tuan rumah, kau pikir dia akan berani melawan?”

Dirga menatap Clay lebih tajam, kata-kata Clay terkesan membela Davina. Ya, pria itu sempat menyangsikan hukuman yang ia pilih ketika menyelamatkan Davina hari itu. Setelahnya pun Clay tak pernah berkomentar apa pun. “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Jika hanya merasa bosan, sebaiknya kau pikirkan lagi, Dirga. Dia tak ada sangkut pautnya.”

Mata Dirga menyipit, “Kau salah besar. Kesalahan terbesarnya adalah menjadi anak Jimi.”

Clay pun mengatupkan bibirnya. “Oke. Segala hal tentang dia memang salah, kan? Bahkan cara dia bernapas.”

“Kenapa itu terdengar seperti sindiran?”

“Apa sekarang kau mendadak jadi sensitif?”

Dirga terdiam, begitu pun dengan Clay. “Kau dipecat.”

Clay hanya memutar kedua bola matanya. “Oke. Aku akan memeriksa keadaan pelayanmu. Dan … ada setumpuk laporan yang kutinggalkan di mobilmu. Lebih banyak tumpukan hal yang harus kau tanggung setelah kau melempar Galena ke ayahnya.Ah, aku yang melakukannya. Dia terlalu lama mengemas barang-barangnya. Jadi aku membuangnya ke tempat sampah.”

Dirga terdiam dan Clay berjalan melewatinya, menghilang di balik pintu perawatan Davina masih dengan ketenangan yang membuatnya kesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Sang Tuan   Part 56 Kabar Tak Terduga (End)

    Kepanikan Zhafran akhirnya mereda setelah dokter memeriksa tekanan darah Elea yang memang lemah dan Hb yang rendah. Juga hasil tes darah yang diambil dokter.Tangannya tak berhenti mengusap lengan Elea dengan lembut, menunggu wanita itu terbangun. Hingga penantiannya akhirnya berakhir. Elea terbangun tak lama kemudian. Ia menyambut mata wanita itu yang terbuka dengan senyum terbaiknya.“A-apa yang terjadi?” Elea merasakan elusan lembut jemari Zhafran di pipinya. Membuat pusing di kepalanya mereda dan senyum pria itu yang seketika memperbaiki suasana hatinya.Ia tak ingat bagaimana bisa jatuh pingsan. Kepalanya hanya tiba-tiba pusing karena semua yang ada disekitarnya seperti berputar dalam pandangannya. Dan ia tak ingat apa pun lagi setelahnya.“Kau hamil.”Elea terpaku, cukup lama dan hanya menatap Zhafran yang duduk di sampingnya. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna penjelasan Zhafran yang terasa tak masuk akal. Ia berusaha

  • Pelayan Sang Tuan   Part 55 Semuanya Baik-Baik Saja

    “Kenapa kau masih saja menangis?” Tangan Zhafran menyeka air mata yang masih saja mengalir di pipi Elea.“Kupikir aku akan kehilanganmu. Kupikir kau akan meninggalkanku. Kenapa kau begitu lama di ruang operasi?”Zhafran terkekeh. “Ini hanya luka tusukan, Elea. Butuh beberapa jahitan. Dan sekarang dokter sudah menanganinya dengan baik.”“Tetap saja kau membuatku cemas, Zhafran.”Zhafran hanya tersenyum. Kepanikan Elea masih tampak begitu kental menggurati wajah sang istri. “Bagaimana kau datang ke sana?”“Kau yang memintaku datang, kan?”Elea terdiam.Zhafran tersenyum lagi, ujung jemarinya menyentuh ujung mata sang istri. keduanya saling pandang untuk saat yang cukup lama. “Matamu mengatakan semuanya, Elea. Semuanya.”Ada perasaan haru yang membuncah di dalam dada Elea. “Kita sudah saling mengenal dan terikat sangat lama, Elea. Bagaimana mungkin aku tak tahu apa yang coba kau rencan

  • Pelayan Sang Tuan   Part 54 Kejutan Yang Mengejutkan

    "Tidak. Aku tidak mau, Chris." Elea menarik tangannya.Pegangan Chris yang tak benar-benar kuat berhasil membuat Elea terlepas. Elea berbalik dan nyaris mencapai pintu lift yang bergerak tertutup.Wanita itu menggedor-gedor pintu lift, berusaha membuka dengan sia-sia.Chris mendekat, memegang pinggang Elea dan menariknya menuju landasan helikopter. Tubuh Elea memberontak, sedikit menyulitkannya. Tetapi ia bisa mengendalikan situasi menggunakan kekuatan prianya."Aku tidak mau pergi. Lepaskan, Chris!" Elea memukul-mukul lengan Chris yang melingkari perutnya. Kakinya menendang-nendang ke segala arah.Chris sama sekali tak mengurangi kecepatan langkahnya. Membalik tubuh Elea dan membopongnya di pundak seperti sekarung beras. Mengabaikan jeritan dan rontaan wanita itu yang semakin menjadi. Kakinya baru saja menginjak landasan helikopter ketika tiba-tiba suara mesin berhenti dan gerakan baling-balingnya mulai memelan.Langkah Chris membeku

  • Pelayan Sang Tuan   Part 53 Dibawa Pergi

     Lama Elea hanya tenggelam dalam kebisuan. Fera? Anak Galena?“J-jadi … semua itu perbuatanmu? Kalian bekerja sama sejak awal.”“Teror itu? Ya. Pada awalnya semua adalah rencanaku. Kau mulai menarik perhatian Zhafran. Kami memang berteman sejak kecil, tetapi kau selalu menjadi permen kesukaannya karena kepolosanmu yang memuakkan itu. Karena sikap manjamu yang menjijikkan itu. Dia tak berhenti memperhatikanmu. Bahkan ketika kau hanya berjalan menghampirinya. Menyebalkan.”Elea tak bergeming. Masih menelaah kebingungannya yang berkepanjangan. “Kupikir dengan membiarkan kalian bertunangan dan menikah, pada akhirnya kau akan menginginkannya. Sementara Zhafran sudah menjadi milikku, kupikir aku akan menggunakannya untuk membalaskan dendam mamaku pada keluargamu yang membuatnya menderita. Tapi … semakin aku mengenalnya, aku semakin menginginkannya. Dengan perasaanku yang tulus, yang malah dia campakkan hanya karena anak kecil sepertimu.”

  • Pelayan Sang Tuan   Part 52 Bertatap Muka

    Tak ada pelayan maupun pengawal yang menjaga mereka di dalam rumah. Elea turun lebih dulu dan pergi ke dapur untuk membuatkan minum Zhafran. Sembari menunggu pria itu berpakaian di kamar.Gerakan tangannya terhenti ketika hendak menaburkan serbuk obat di tangannya ke minuman Zhafran.‘Tenanglah, Elea. Aku tak mungkin membuatmu menjadi seorang pembunuh. Pembunuh suami sendiri.’‘Itu hanya obat tidur. Percaya padaku.’Elea mengangguk, menyakinkan dirinya dan memasukkan serbuk tersebut, mengaduknya dengan sendok. Zhafran baru saja muncul ketika ia keluar dari dapur. Keduanya saling melemparkan senyum dan duduk di kursi masing-masing.“Jadi, apa yang kau bicarakan dengan Chris?”Elea tak menatap wajah pria itu, mendekatkan gelas minumannya kea rah Zhafran ketika menjawab, “Masih sama seperti pembicaraan terakhir kami.”Zhafran tak bertanya lagi. Menatap gelas yang diberikan Elea.Elea memegang tangan pria

  • Pelayan Sang Tuan   Part 51 Satu-Satunya Cara

    “Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Chris menoleh ke samping. Menyadari kegusaran El Noah yang sejak tadi bernapas dengan kasar dan bergerak tak nyaman di sampingnya.El Noah menggeleng, tanpa melepaskan pandangannya yang kosong ke arah depan. Tangannya yang bersandar di jendela mobil, menyentuhkan telunjuk di mulut, sesekali menggigit dengan pikiran yang masih berkelit. “Sepertinya ada yang aneh dengan Elea. Sesuatu terjadi dengan hubungan mereka.”“Pernikahan mereka?”El Noah mengangguk. Memutar kepala ke arah Chris. “Apakah ini masuk akal? Galena, aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi aku melupakan di mana. Ada hubungannya dengan papaku. Lalu Fera. Suatu malam terjadi sesuatu dengan Elea, yang membuat Elea marah. Apakah Zhafran tidur dengan Elea?”Chris tampak kebingungan, tetapi akhirnya bisa mencerna kalimat membingungkannya El Noah. “Siapa Galena?”El Noah mengerutkan keningnya dalam. Berusaha keras mengingat. Sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status