Beranda / Horor / Pelet Kopi Darah Haid / bab 2. rintangan yang begitu mudah

Share

bab 2. rintangan yang begitu mudah

Penulis: RKamila
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 12:51:38

Perayaan semalam membuat hati Sumi begitu berbunga-bunga, hingga ia terlalu bersemangat untuk menjalani hari seperti biasa.

Tidak pernah sepi job bahkan di waktu hari besar dan weekend, jasa Sumi dan tim selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemesan yang sudah pernah di potret oleh tim Sumi.

Hari ini Sumi masih bersama Tio di waktu dan tempat yang sama, hanya saja tidak cuma satu model ada beberapa model cantik yang lain, dan hanya Tio sendiri model laki-laki disana.

“Walaupun tidak bertemu setiap hari tapi, aku, bisa mengawasi para wanita centil rekan kerja Tio!” Gumam Sumi dengan suara pelan.

Sumi sedang mengeluarkan alat dan bahan, yang akan digunakan untuk memotret, karena sebentar lagi waktu bekerja akan segera dimulai.

Sumi memang orang yang disiplin akan waktu, tempat dan biaya, tak jarang orang banyak menyukai cara kerja wanita yang satu ini.

"Yang, seperti biasa ya!" lirik Tio sembari melempar senyum manis kepada sumi.

Sumi membalas dengan senyuman manis yang membuat hatinya berbunga-bunga, ia memang begitu disiplin untuk urusan pekerjaannya.

Namun, untuk urusan kekasihnya yang satu ini membuat ia lupa akan kedisiplinan yang ia gunakan.

"Kamu pasti merindukan jampi-jampi ku!" kata Sumi didalam hati dengan lirikan dan senyuman yang menyiratkan sesuatu.

Memang benar ia dan Tio tidak setiap hari bertemu bahkan kadang Sumi merasa rindu, karena harus menunggu waktu kerjanya selesai untuk bertemu Tio yang sedang tidak ada job dengan sumi.

Tentu saja Sumi tidak menyia-nyiakan waktu sekarang yang ia tunggu selama beberapa hari, ia benar-benar teliti dan cermat dalam mengambil langkah.

"tepat sekali yang, aku, sedang menstruasi sekarang dan, kamu, pasti sudah merindukan darah ku!" senyum dengan menyiratkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tau akan artinya.

Sumi berjalan menjauh dari rekan kerja dan juga Tio, ia menjauh sampai benar-benar tidak terlihat oleh para rekannya.

Sumi mulai mengeluarkan alat untuk membuat kopi, ya Tio memang sudah biasa meminta untuk dibuatkan kopi kepada sumi. Bahkan hanya Sumi yang tau selera minuman untuk Tio.

Tidak ada yang curiga akan pembuatan kopi yang sedang Sumi lakukan namun, tak sedikit juga model wanita yang melirik kemana arah Sumi melangkah jauh bahkan hanya untuk membuat kopi.

Sumi meyeduhkan air panas kedalam kopi yang ia buat, tak lupa pula ritual yang selalu ia gunakan untuk membuat kopi yang begitu enak untuk kekasihnya tersebut.

Ia mulai membuka celana dalamnya dengan mata yang melirik ke segala arah, untuk memastikan tidak ada satupun orang yang mengetahui perbuatannya.

“Ada apa dengan, Sumi, mengapa ia membuat kopi dengan cara mengendap dari semua orang bahkan sampai membuka celana dalamnya?” Sophia tak sengaja melihat dari balik pintu kamar mandi.

Sophia mengendap pelan, seperti tidak melihat sesuatu lalu menjauh pergi.

Setelah Sumi membuka celana dalamnya, yang ternyata ia sedang menstruasi tersebut. Tiba-tiba saja ia mencolek darah segar menstruasi dengan jari telunjuknya.

Begitu tercium darah yang ia keluarkan begitu amis. Kemudian ia mencelupkan jari tersebut kedalam gelas kopi yang masih hangat.

Seperti sudah terbiasa akan hal itu bahkan ia tak merasa panas ketika tangannya masuk kedalam segelas kopi yang masih mengeluarkan uap itu.

Diaduk-aduknya kopi bercampur darah tersebut kemudian ia membaca jampi-jampi yang entah apa ia sebutkan di mulutnya .

Ia kembali ke posisi awal dimana ia dan tim bekerja, kopi tersebut pun langsung ia berikan kepada Tio yang sedari tadi sudah menunggu dirinya.

"Terimakasih sayang!"senyuman manis tergambar jelas dari wajah Tio

Tio dengan bersemangat menyeruput kopi tersebut dengan santai,karena ia sebentar lagi akan memulai bekerja.

"kamu gak mau merasakan kopi buatanku juga?"ujar Sophia teman wanita sesama model yang di kontrak oleh Sumi.

Sophia mengetahui perihal kopi tersebut namun, berusaha menutupnya sendiri.

Kemudian Tio menjawab dengan santai, karena Tio tidak hanya sekali atau dua kali mendengar sopia berkata demikian, Tio hanya tetap menginginkan kopi buatan Sumi seorang.

Sophia memang teman model Tio dari dulu awal mereka merintis karir, tak heran jika Sumi terkadang dibuat cemburu oleh Sophia.

Bukan hanya cantik parasnya namun, Sophia memiliki kulit putih bersih dan body goals, yang membuat setiap laki-laki melihatnya menjadi suka.

"Kamu masih belum menyerah juga, Sophia?gumam Sumi di dalam hati dengan wajah yang mengerut.

Sumi memberontak di dalam hati melihat Sophia selalu saja mendekati Tio, padahal sudah jelas bahwa Tio memiliki hubungan dengan Sumi, dan itu sudah bertahan lama. Jadi tak usah diragukan lagi.

Tapi Sumi tidak perlu takut dan cemas walau terkadang ia suka cemburu, karena Sumi yakin ia mampu menaklukkan Tio

Dengan semua yang ia lakukan selama ini. Menggunakan darah haidnya untuk bisa membuat Tio bertekuk lutut dengan Sumi.

Rupanya tidak perlu menunggu lama jampi-jampi tersebut sudah berhasil merasuki tubuh tio, Dan benar saja Tio yang saat itu sedang mengobrol dengan teman model lainnya.

Membuat ia langsung menghampiri Sumi dan memeluknya dengan sangat erat. Bak mabuk kepayang.

Sumi merasa sangat senang didalam hatinya sedang menari-nari dengan perlakuan Tio terhadapnya sekarang.

Sumi kembali merasa senang saat Tio berbisik kepadanya dengan perkataan

"I love you,"

Seakan membuat rasa cinta dan sayang itu semakin tinggi akibat efek dari kopi itu.

"apa, aku, perlu membuatkan kopi lagi, yang?"ujar Sumi kepada Tio

Sumi merasa bahwa Tio masih menginginkan kopi lagi.

"Iya!, tapi nanti ya setelah kita selesai bekerja"jawab Tio memanis-maniskan senyuman.

Mereka kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa, terlebih lagi hari ini ada 3 job yang harus ditangani.

***

Pemotretan sudah dimulai.

Sumi hanya melihat dari layar laptop, begitunya Tio bekerja dengan sangat profesional sebagai model laki-laki yang tampan dan mempesona tersebut.

Tak jarang pula Sumi melihat Sophia melakukan gerak-gerik bahwa ia mulai mendekati Tio dengan kode yang begitu rahasia.

Namun, Sumi hanya melihat dari kejauhan tak perlu ia tunjukan jika ia cemburu. Ia begitu percaya jika Tio tidak akan mendua apalagi tadi sudah selesai ia berikan pelet terbaik untuknya.

Didalam hatinya bergemuruh seakan langit mengeluarkan petir yang menyelimuti hatinya, melihat Sophia yang semakin tidak tau malu menggoda laki-laki kesayang Sumi tersebut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 54. Benang Terakhir

    Naya jatuh terduduk, jarum bening di tangannya kini punya garis kesembilan. Garis berwarna merah muda. Rumput bening di halaman berdiri lagi dengan tegak, Naya tersenyum rasanya lelah sekali. “Kak, ternyata menjahit orang jahat juga bagian dari menjaga ya?” Angin menjawab dengan desiran pelan, malamnya ia menulis di buku kecilnya. “Hari ini benang kesembilan, Sophia bukan dijahit tapi sengaja dipulangkan, ternyata ada orang yang benangnya kusut karena tidak pernah diberi rumah dan tugasku memberi jalan pulang,”Naya menutup buku, di luar saung Tio datang lagi kali ini bersama Sophia. Ia sedang membawa benang putihnya sendiri, bahkan sudah tidak kusut lagi. “Latihan,” katanya sambil tersenyum malu. Naya mengangguk, kini Desanya semakin tenang. Karena sekarang, bahkan benang yang paling kusut pun punya kesempatan untuk pulang. Naya mengerti satu hal lagi, kak umi memilih kosong agar orang lain bisa bebas. Naya memilih menjaga agar orang lain bisa pulang, dua sisi dari benang yang

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 53. Benang yang Kembali dari Kota

    Tiga malam setelah Tio berhasil dirapikan, rumput bening di halaman Naya telah berubah menjadi layu. Bukan mati hanya menunduk, semua helainya mengarah ke timur. Ke arah kota. Naya duduk di depannya dengan hati yang cemas dan gelisah, jarum bening ia letakkan di pangkuannya. Garis pelangi di jarum itu kini sudah menjadi delapan. “Kak Sumi,” bisiknya. “Ada yang tidak beres?”Rumput itu bergetar sekali dengan keras, angin malam itu datang dengan membawa bau. Bau parfum yang mahal, Naya menebaknya itu datang dari kota. Namun bau itu tidak seharusnya ada di desa mereka. Pagi harinya, ada seorang kurir yang datang ke saungnya. Ia tampak membawa kotak kardus, tidak ada nama pengirim yang ada hanya alamat Naya, itupun ditulis dengan spidol hitam. “Dari kota,” kata kurir. “Katanya penting!”Naya membuka kotak itu di luar saung, tidak di dalam karena takut akan terjadi apa-apa. Di dalamnya ada bungkusan kain sutra berwarna merah. Saat kain itu dibuka, Naya mundur dengan terkejut. “Ben

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 52. Naya Menjadi Dukun Baru di Desa

    Berita menyebar dengan sangat cepat, karena anak Mbak Lurah bisa berbicara lagi. Bahkan Mbak Lurah merekomendasikannya, pada orang-orang kota dan juga desa sebrang. Malam itu juga Dimas makan hingga habis dua piring, membuat ibunya merasa sangat senang. Karena Naya yang masih kecil sudah bisa menyembuhkan orang. Desas-desus warga terdengar di telinga Naya, rumah bekas Pak Wira, atapnya roboh dengan sendirinya di keesokan paginya. Orang-orang desa mulai menyebut saung itu “Saung Benang”. Bahkan mereka juga ikut menjaga tempat itu, juga menjaga Naya. Hari berikutnya datanglah Pak Karso, seorang petani tua. Benangnya berwarna kuning, Naya melihatnya karena ia berhutang pada tengkulak. Bahkan benang itu menjadi sangat kusut, membuatnya seakan menarik perutnya tiap malam. Naya berhasil meluruskannya kembali. Lalu datang Mbak Yuni, seorang janda muda yang cantik menawan. Benangnya berwarna merah, benang itu ditarik mantan suaminya dari kota. Membuat hidup Mbak Yani terasa kosong dan

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 51. Jahitan Pertama Naya

    Di malam Jumat Kliwon, Naya selalu duduk di depan rumput bening itu. Ia bercerita tentang desa dan tentang orang, rumput itu selalu bergetar sebagai jawaban. Karena Naya sangat yakin bahwa Kak Sumi tidak benar-benar pergi, bagi Naya kak Sumi menjadi langit dan angin. Menjadi benang bening yang sekarang ada di tangan Naya. Selama ada satu orang yang memilih untuk menjaga, bukan mengikat maka desa tidak akan pernah punya rantai lagi. Naya kini sudah mendirikan Saung yang berdiri di pematang, menghadap sawah dindingnya terbuat dari bambu. Atapnya ijuk dan di dalamnya hanya ada tikar, kendi air, dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu tersimpan dengan baik jarum bening pemberian Sumi, belum pernah ia pakai. Tiga minggu sejak Pak Wira diusir, orang mulai datang kesana. Bukan karena sakit, bukan pula karena kerasukan tapi karena benangnya terasa salah.Mereka berkata bahwa dadanya sesak saat melewati rumah seseorang, jari mereka gatal saat memegang uang dari orang tertentu. Bahk

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 50. Penjaga Baru

    Naya tidak menjawab. “Aku tahu kamu bisa melihat benang, makanya aku datang karena desa ini kosong sekarang dan tempat kosong, harus diisi!”Ia menunjuk koper. “Ini warisan, sama seperti buku kulit kambing milik Buyutnya Sumi hanya berbeda bentuk!”“Ka– kkamu mau mengikat kami lagi?” tanya Naya, suaranya kecil tapi jelas. Pak Wira tertawa. “Mengikat itu kata kasar, aku hanya mau menata, manusia tanpa ikatan itu akan kacau,” Naya mengangkat boneka kainnya. “Benangku tidak akan bisa kamu sentuh!”Benang bening itu melesat, menusuk koper. Koper itu berteriak bukan suara manusia, tapi suara rantai. Pak Wira terkejut, ia meraih kopernya tapi sudah terlambat. Benang bening itu membelah koper, gulungan benang di dalamnya perlahan berhamburan. Saat benang merah darah itu menyentuh lantai, tanah mulai bergetar. Dari retakan sumur tua, asap hitam itu keluar lagi. “Tidak!” Pak Wira menjerit. “Itu Rantai Iblis! Kamu membebaskannya!” Naya mundur. “Kamu yang membawanya!”Asap itu berkumpul,

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 49. Sumi Dayang Desa

    Dari dadanya keluar benang merah, tipis, kuat dan bebas. Ia menatap ke arah sumur yang sudah rata dengan tanah. “Terima kasih, Kak Sumi,” bisiknya. Angin seakan datang membawa jawaban, bukan sepatah kata tapi hanya suara desir. Seperti seseorang mengangguk dari jauh. Di tempat Sumi berdiri terakhir kali, tumbuh satu helai rumput hitam satu-satunya. Naya memetiknya, lalu ia lilitkan di pergelangan tangannya. Bukan untuk mengikat, tapi ini ia anggap untuk mengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang memilih kosong, agar orang lain bisa bebas. Naya akhirnya tahu bahwa rantai yang paling berat bukanlah dari besi, tapi dari harapan untuk dicintai dan mencintai. Bahwa kadang, kemenangan sejati adalah saat kamu bisa melepaskan semuanya, termasuk dirimu sendiri. Tiga hari setelah Sumi menghilang, desa berubah dalam sekejap mata. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab.Tidak ada anak yang menangis tengah malam karena dicekik sesuatu yang tak terlihat, tidak ada lagi yang me

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 4. efek dari pelet

    Sophia berjalan masuk ke dalam toilet, yang bersebelahan dengan toilet yang di masuki Sumi.Sumi kembali melakukan aksi gilanya tersebut, ia membuka celana dan memasukkan darah segarnya ke dalam segelas kopi.Tak lupa untuk membaca jampi jampi menggunakan nama sang kekasih.Bau darah yang ia buka m

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 3. wanita penggoda

    Kini sesi pemotretan sedang fokus kepada Sophia dan Tio. Sumi yang terbakar api cemburu tersebut, masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh.Disana terlihat sekali tangan Sophia yang sudah berani mencolek salah satu dada bidang laki-laki tampan itu.Tak sesekali juga Sumi meli

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 1. Perasaan yang Sedang Berbunga-bunga

    Banyaknya debu di sekitar kota itu, tidak membuat hati Sumi kesal ataupun bermalas-malasan. Untuk keluar bekerja, tidak seperti hari-hari sebelumnya, yang hanya bermodalkan nekad untuk bekerja mencari uang. Padahal didalam hatinya ia malas untuk bekerja di luar ruangan. Pasalnya Sumi, yang setiap h

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 10. Dasar Wanita Angkuh

    Wanita cantik nan anggun tengah duduk di dekat mereka, yang sedang bermesraan." kenapa, Tio, jadi semakin lengket begini? " Gumam Sophia lirih.Ia kaget dengan perlakuan Tio dan Sumi, bukankah harusnya mereka sedang bertengkar, kalau tidak pun mereka sedang tidak baik-baik saja. Sophia hanya terd

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status