登入Perayaan semalam membuat hati Sumi begitu berbunga-bunga, hingga ia terlalu bersemangat untuk menjalani hari seperti biasa.
Tidak pernah sepi job bahkan di waktu hari besar dan weekend, jasa Sumi dan tim selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemesan yang sudah pernah di potret oleh tim Sumi. Hari ini Sumi masih bersama Tio di waktu dan tempat yang sama, hanya saja tidak cuma satu model ada beberapa model cantik yang lain, dan hanya Tio sendiri model laki-laki disana. “Walaupun tidak bertemu setiap hari tapi, aku, bisa mengawasi para wanita centil rekan kerja Tio!” Gumam Sumi dengan suara pelan. Sumi sedang mengeluarkan alat dan bahan, yang akan digunakan untuk memotret, karena sebentar lagi waktu bekerja akan segera dimulai. Sumi memang orang yang disiplin akan waktu, tempat dan biaya, tak jarang orang banyak menyukai cara kerja wanita yang satu ini. "Yang, seperti biasa ya!" lirik Tio sembari melempar senyum manis kepada sumi. Sumi membalas dengan senyuman manis yang membuat hatinya berbunga-bunga, ia memang begitu disiplin untuk urusan pekerjaannya. Namun, untuk urusan kekasihnya yang satu ini membuat ia lupa akan kedisiplinan yang ia gunakan. "Kamu pasti merindukan jampi-jampi ku!" kata Sumi didalam hati dengan lirikan dan senyuman yang menyiratkan sesuatu. Memang benar ia dan Tio tidak setiap hari bertemu bahkan kadang Sumi merasa rindu, karena harus menunggu waktu kerjanya selesai untuk bertemu Tio yang sedang tidak ada job dengan sumi. Tentu saja Sumi tidak menyia-nyiakan waktu sekarang yang ia tunggu selama beberapa hari, ia benar-benar teliti dan cermat dalam mengambil langkah. "tepat sekali yang, aku, sedang menstruasi sekarang dan, kamu, pasti sudah merindukan darah ku!" senyum dengan menyiratkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tau akan artinya. Sumi berjalan menjauh dari rekan kerja dan juga Tio, ia menjauh sampai benar-benar tidak terlihat oleh para rekannya. Sumi mulai mengeluarkan alat untuk membuat kopi, ya Tio memang sudah biasa meminta untuk dibuatkan kopi kepada sumi. Bahkan hanya Sumi yang tau selera minuman untuk Tio. Tidak ada yang curiga akan pembuatan kopi yang sedang Sumi lakukan namun, tak sedikit juga model wanita yang melirik kemana arah Sumi melangkah jauh bahkan hanya untuk membuat kopi. Sumi meyeduhkan air panas kedalam kopi yang ia buat, tak lupa pula ritual yang selalu ia gunakan untuk membuat kopi yang begitu enak untuk kekasihnya tersebut. Ia mulai membuka celana dalamnya dengan mata yang melirik ke segala arah, untuk memastikan tidak ada satupun orang yang mengetahui perbuatannya. “Ada apa dengan, Sumi, mengapa ia membuat kopi dengan cara mengendap dari semua orang bahkan sampai membuka celana dalamnya?” Sophia tak sengaja melihat dari balik pintu kamar mandi. Sophia mengendap pelan, seperti tidak melihat sesuatu lalu menjauh pergi. Setelah Sumi membuka celana dalamnya, yang ternyata ia sedang menstruasi tersebut. Tiba-tiba saja ia mencolek darah segar menstruasi dengan jari telunjuknya. Begitu tercium darah yang ia keluarkan begitu amis. Kemudian ia mencelupkan jari tersebut kedalam gelas kopi yang masih hangat. Seperti sudah terbiasa akan hal itu bahkan ia tak merasa panas ketika tangannya masuk kedalam segelas kopi yang masih mengeluarkan uap itu. Diaduk-aduknya kopi bercampur darah tersebut kemudian ia membaca jampi-jampi yang entah apa ia sebutkan di mulutnya . Ia kembali ke posisi awal dimana ia dan tim bekerja, kopi tersebut pun langsung ia berikan kepada Tio yang sedari tadi sudah menunggu dirinya. "Terimakasih sayang!"senyuman manis tergambar jelas dari wajah Tio Tio dengan bersemangat menyeruput kopi tersebut dengan santai,karena ia sebentar lagi akan memulai bekerja. "kamu gak mau merasakan kopi buatanku juga?"ujar Sophia teman wanita sesama model yang di kontrak oleh Sumi. Sophia mengetahui perihal kopi tersebut namun, berusaha menutupnya sendiri. Kemudian Tio menjawab dengan santai, karena Tio tidak hanya sekali atau dua kali mendengar sopia berkata demikian, Tio hanya tetap menginginkan kopi buatan Sumi seorang. Sophia memang teman model Tio dari dulu awal mereka merintis karir, tak heran jika Sumi terkadang dibuat cemburu oleh Sophia. Bukan hanya cantik parasnya namun, Sophia memiliki kulit putih bersih dan body goals, yang membuat setiap laki-laki melihatnya menjadi suka. "Kamu masih belum menyerah juga, Sophia?gumam Sumi di dalam hati dengan wajah yang mengerut. Sumi memberontak di dalam hati melihat Sophia selalu saja mendekati Tio, padahal sudah jelas bahwa Tio memiliki hubungan dengan Sumi, dan itu sudah bertahan lama. Jadi tak usah diragukan lagi. Tapi Sumi tidak perlu takut dan cemas walau terkadang ia suka cemburu, karena Sumi yakin ia mampu menaklukkan Tio Dengan semua yang ia lakukan selama ini. Menggunakan darah haidnya untuk bisa membuat Tio bertekuk lutut dengan Sumi. Rupanya tidak perlu menunggu lama jampi-jampi tersebut sudah berhasil merasuki tubuh tio, Dan benar saja Tio yang saat itu sedang mengobrol dengan teman model lainnya. Membuat ia langsung menghampiri Sumi dan memeluknya dengan sangat erat. Bak mabuk kepayang. Sumi merasa sangat senang didalam hatinya sedang menari-nari dengan perlakuan Tio terhadapnya sekarang. Sumi kembali merasa senang saat Tio berbisik kepadanya dengan perkataan "I love you," Seakan membuat rasa cinta dan sayang itu semakin tinggi akibat efek dari kopi itu. "apa, aku, perlu membuatkan kopi lagi, yang?"ujar Sumi kepada Tio Sumi merasa bahwa Tio masih menginginkan kopi lagi. "Iya!, tapi nanti ya setelah kita selesai bekerja"jawab Tio memanis-maniskan senyuman. Mereka kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa, terlebih lagi hari ini ada 3 job yang harus ditangani. *** Pemotretan sudah dimulai. Sumi hanya melihat dari layar laptop, begitunya Tio bekerja dengan sangat profesional sebagai model laki-laki yang tampan dan mempesona tersebut. Tak jarang pula Sumi melihat Sophia melakukan gerak-gerik bahwa ia mulai mendekati Tio dengan kode yang begitu rahasia. Namun, Sumi hanya melihat dari kejauhan tak perlu ia tunjukan jika ia cemburu. Ia begitu percaya jika Tio tidak akan mendua apalagi tadi sudah selesai ia berikan pelet terbaik untuknya. Didalam hatinya bergemuruh seakan langit mengeluarkan petir yang menyelimuti hatinya, melihat Sophia yang semakin tidak tau malu menggoda laki-laki kesayang Sumi tersebut.Akhirnya Si Mbah dan istri sampai di depan rumah Denta. Terlihat ia sangat buru-buru, untuk segera masuk kedalam. "Tok.. Tok.. Tok..,"Terdengar suara ketukan pintu, Denta dan Denti segera melihat dan membukakan pintu. Orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya sampai ke rumah. "Mbah! Silahkan masuk," Kata DentaSi Mbah hanya menganggukkan kepala, Mbah melihat jelas di raut wajah mereka tak ada kegembiraan. Mereka terlihat panik dan bersedih, Mbah mulai tak enak hati pada mereka. "Mbah, langsung keatas saja ke kamar, Sophia, kami tak berani mendekatinya, Mbah!" Timpal Denti khawatir. "Baiklah!" Jawab Si Mbah. Si Mbah dan Istri mulai menaiki tangga lantai 2, di rumah megah milik Denta dan Denti. Hingga sampailah mereka di depan pintu kamar Sophia. Suasana menjadi hening, si Mbah hanya mematung di depan pintu. Ia tengah memikirkan cara, untuk membujuk Sophia dengan tenang tanpa ada paksaan. "Bu, bagaimana kalau, Ibu, saja yang berbicara dengan Sophia terlebih dahulu, bias
Setelah Sophia mendengarkan cerita panjang dari kedua orang tua, yang sudah tulus membesarkannya sedari kecil hingga sampailah ia menjadi wanita sukses seperti sekarang.Sophia memeluk mereka dengan penuh ketulusan, dan kasih sayang yang nyata. Matanya tak ada hentinya mengeluarkan air mata. Rasa sedih dan kecewa tak bisa lagi ia jelaskan dengan kata-kata, hanya tatapan mata yang mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Terlebih lagi rasa tak mau menerima sangatlah kuat namun, ia tak bisa mengelak takdir di depan matanya tersebut. Pantas saja Sophia merasa, ia memiliki ikatan batin yang kuat dengan keluarga si Mbah. Apalagi lingkungan warga di sana juga banyak, yang menyebutkan jika Sophia sangat mirip dengan istri Si Mbah. Sophia memasuki kamar dengan diam, tanpa sepatah katapun meninggalkan orang tua yang telah merawatnya selama ini. "Bagaimana ini, Pak? kasian Sophia," ucap Denti"ya, mau bagaimana lagi, Bu, sudah saatnya kita memberitahunya!" Kata DentaRuang seketika menjadi
Nasib terbalik dengan Sumi. Sedangkan di tempat Sophia, wanita matang tersebut tengah di landa kasmaran, yang berat. Ia begitu terpukau, dengan keromantisan Tio. Ia benar-benar tak menyangka, bahwa Tio sangat menghargai dirinya. Sophia seperti bak wanita, yang di Ratukan oleh pria tampan.Macam di negri dongeng Cinderella, merasakan bahagia yang sesungguhnya. Dengan keromantisan kekasihnya Tio tersebut.Bahkan akhir-akhir ini, ia lebih banyak tersenyum sendiri.Sophia kini tengah sibuk, memilah milih. WO yang cocok untuk pernikahannya, walau pun masih beberapa bulan lagi. Namun Sophia ingin semuanya, di rencanakan dengan sangat matang. Terlebih lagi keluarga Tio, bukan lah orang sembarang. Jadi tak heran, jika mereka menyiapkan semuanya. Dengan sangat matang, dan para pengurusnya, sudah Risa pesankan langsung dari luar negri. Hanya untuk membantu mengurusi, pernikahan Tio dan Sophia.Hubungan antara Risa, dan Sophia sangat lah dekat. Kini Sophia tengah di beri tugas baru, dari R
Matahari sudah ingin menjulang tinggi, namun tampaknya, Sumi enggan untuk keluar dari kamar. Pikiran wanita itu masih kacau.Tapi mau tidak mau.Para karyawan harus segera memberitahunya, entah akan bagaimana nanti hasilnya. Yang jelas mereka juga akan segera pulang. " Mba, kami mau bicara!" kata salah satu dari karyawannya tersebut.Mereka mengetuk pintu kamar Sumi, yang mana Sumi, tak kunjung keluar sedari tadi.Tak berselang lama kemudian, terdengar bunyi ceklekan pintu. Sumi keluar dengan mata sembab, dan wajahnya sayu tak terurus. Membuat para karyawan sedikit takut, untuk memberi tahu keadaannya.Sumi tampak diam tak menjawab apapun, kemudian ia duduk di kursi kayu. Ciri khas rumah orang dahulu, namun bahannya awet, hingga sampai beberapa tahun ke depan.Salah satu karyawan yang bernama Dila, segera mendekati Sumi. Ia akan memulai, membuka pembicaraan terlebih dahulu." Bu, kami para karyawan, turut berbela sungkawa ya Bu. Kami tahu bahwa ini berat sekali untuk ibu, namun ada
Sedangkan di dalam dunia Sophia, akhir-akhir ini dirinya senang sekali. Hatinya berbunga-bunga, layaknya bunga di taman, yang tengah bermekaran secara silih berganti.Mimpinya untuk bersama dengan Tio, telah di Kabulkan. Setelah bersama, beberapa Minggu lamanya. Tak jarang juga, Tio memperlihatkan kemesraan bersama Sophia. Kemesraan tersebut, akhirnya membuat gunjingan para karyawan. Akhirnya Tio memutuskan, untuk menjalin hubungan dengan serius. Bersama Sophia, dan di restui pula oleh kedua orang tua mereka.Lagi pula umur mereka sudah matang, untuk sama-sama melangsungkan pernikahan.Malam itu, para tim sukses nyonya Risa. Sedang melangsungkan acara fashion ternama. Di pegang langsung oleh Risa, ia memegang kendali penuh kali ini.Tak ingin produk dari luar negri tersebut, di kenal jelek oleh orang yang menghadiri. Tentu saja akan membuat perusahaan Risa, terkenal jelek pula.Tak hanya itu, malam ini juga Tio akan melamar Sophia. Maka dari itu, Risa ingin sekali melihat, dan memeg
Setelah air dapat masuk semua, barulah Mbah Ngatmi menatap nanar ke arah Sumi. Seakan mengisyaratkan, bahwa tak akan lama lagi kematian tersebut datang. Setelah menunggu beberapa jam lamanya, akhirnya alat yang di pakai Menik pun. Berbunyi nyaring, pelan namun selalu berbunyi. Sampai akhirnya bunyi tersebut, di iringi dengan tangisan Sumi, yang semakin menyayat hati. Langkah dokter dan para suster mulai terdengar mendekat, segera sampai di ruangan Menik. Memeriksa keadaannya, sampai akhirnya, dokter menyatakan bahwa Menik sudah meninggal dunia. netra sumi nanar, betapa hancurnya hidup Sumi. Badannya lemas seketika, tak bisa berjalan namun ia paksa. Tak ingin terlihat lemah oleh orang di sana, ia mencoba tegar. Ia tak ingin pingsan saat itu juga, karna ia harus segera membawa jenazah Menik pulang. Sedangkan Mbah Ngatmi, dan tetangga di sana sedang menghubungi warga desa. Untuk memberi tahu kalau Menik sudah meninggal, dan untuk bergotong royong. Menyiapkan alat-alat kematian







