/ Horor / Pelet Kopi Darah Haid / Bab 34. Simbah Datang

공유

Bab 34. Simbah Datang

작가: RKamila
last update 게시일: 2026-05-09 22:56:47

Akhirnya Si Mbah dan istri sampai di depan rumah Denta. Terlihat ia sangat buru-buru, untuk segera masuk kedalam.

"Tok.. Tok.. Tok..,"

Terdengar suara ketukan pintu, Denta dan Denti segera melihat dan membukakan pintu. Orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya sampai ke rumah.

"Mbah! Silahkan masuk," Kata Denta

Si Mbah hanya menganggukkan kepala, Mbah melihat jelas di raut wajah mereka tak ada kegembiraan. Mereka terlihat panik dan bersedih, Mbah mulai tak enak hati pada mereka.

"Mb
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 34. Simbah Datang

    Akhirnya Si Mbah dan istri sampai di depan rumah Denta. Terlihat ia sangat buru-buru, untuk segera masuk kedalam. "Tok.. Tok.. Tok..,"Terdengar suara ketukan pintu, Denta dan Denti segera melihat dan membukakan pintu. Orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya sampai ke rumah. "Mbah! Silahkan masuk," Kata DentaSi Mbah hanya menganggukkan kepala, Mbah melihat jelas di raut wajah mereka tak ada kegembiraan. Mereka terlihat panik dan bersedih, Mbah mulai tak enak hati pada mereka. "Mbah, langsung keatas saja ke kamar, Sophia, kami tak berani mendekatinya, Mbah!" Timpal Denti khawatir. "Baiklah!" Jawab Si Mbah. Si Mbah dan Istri mulai menaiki tangga lantai 2, di rumah megah milik Denta dan Denti. Hingga sampailah mereka di depan pintu kamar Sophia. Suasana menjadi hening, si Mbah hanya mematung di depan pintu. Ia tengah memikirkan cara, untuk membujuk Sophia dengan tenang tanpa ada paksaan. "Bu, bagaimana kalau, Ibu, saja yang berbicara dengan Sophia terlebih dahulu, bias

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 33. Kenyataannya

    Setelah Sophia mendengarkan cerita panjang dari kedua orang tua, yang sudah tulus membesarkannya sedari kecil hingga sampailah ia menjadi wanita sukses seperti sekarang.Sophia memeluk mereka dengan penuh ketulusan, dan kasih sayang yang nyata. Matanya tak ada hentinya mengeluarkan air mata. Rasa sedih dan kecewa tak bisa lagi ia jelaskan dengan kata-kata, hanya tatapan mata yang mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Terlebih lagi rasa tak mau menerima sangatlah kuat namun, ia tak bisa mengelak takdir di depan matanya tersebut. Pantas saja Sophia merasa, ia memiliki ikatan batin yang kuat dengan keluarga si Mbah. Apalagi lingkungan warga di sana juga banyak, yang menyebutkan jika Sophia sangat mirip dengan istri Si Mbah. Sophia memasuki kamar dengan diam, tanpa sepatah katapun meninggalkan orang tua yang telah merawatnya selama ini. "Bagaimana ini, Pak? kasian Sophia," ucap Denti"ya, mau bagaimana lagi, Bu, sudah saatnya kita memberitahunya!" Kata DentaRuang seketika menjadi

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 32. Sophia

    Nasib terbalik dengan Sumi. Sedangkan di tempat Sophia, wanita matang tersebut tengah di landa kasmaran, yang berat. Ia begitu terpukau, dengan keromantisan Tio. Ia benar-benar tak menyangka, bahwa Tio sangat menghargai dirinya. Sophia seperti bak wanita, yang di Ratukan oleh pria tampan.Macam di negri dongeng Cinderella, merasakan bahagia yang sesungguhnya. Dengan keromantisan kekasihnya Tio tersebut.Bahkan akhir-akhir ini, ia lebih banyak tersenyum sendiri.Sophia kini tengah sibuk, memilah milih. WO yang cocok untuk pernikahannya, walau pun masih beberapa bulan lagi. Namun Sophia ingin semuanya, di rencanakan dengan sangat matang. Terlebih lagi keluarga Tio, bukan lah orang sembarang. Jadi tak heran, jika mereka menyiapkan semuanya. Dengan sangat matang, dan para pengurusnya, sudah Risa pesankan langsung dari luar negri. Hanya untuk membantu mengurusi, pernikahan Tio dan Sophia.Hubungan antara Risa, dan Sophia sangat lah dekat. Kini Sophia tengah di beri tugas baru, dari R

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 31. Nasib Sumi

    Matahari sudah ingin menjulang tinggi, namun tampaknya, Sumi enggan untuk keluar dari kamar. Pikiran wanita itu masih kacau.Tapi mau tidak mau.Para karyawan harus segera memberitahunya, entah akan bagaimana nanti hasilnya. Yang jelas mereka juga akan segera pulang. " Mba, kami mau bicara!" kata salah satu dari karyawannya tersebut.Mereka mengetuk pintu kamar Sumi, yang mana Sumi, tak kunjung keluar sedari tadi.Tak berselang lama kemudian, terdengar bunyi ceklekan pintu. Sumi keluar dengan mata sembab, dan wajahnya sayu tak terurus. Membuat para karyawan sedikit takut, untuk memberi tahu keadaannya.Sumi tampak diam tak menjawab apapun, kemudian ia duduk di kursi kayu. Ciri khas rumah orang dahulu, namun bahannya awet, hingga sampai beberapa tahun ke depan.Salah satu karyawan yang bernama Dila, segera mendekati Sumi. Ia akan memulai, membuka pembicaraan terlebih dahulu." Bu, kami para karyawan, turut berbela sungkawa ya Bu. Kami tahu bahwa ini berat sekali untuk ibu, namun ada

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 30. dengan Segenap Jiwa Raga, Ya, Aku, Mau

    Sedangkan di dalam dunia Sophia, akhir-akhir ini dirinya senang sekali. Hatinya berbunga-bunga, layaknya bunga di taman, yang tengah bermekaran secara silih berganti.Mimpinya untuk bersama dengan Tio, telah di Kabulkan. Setelah bersama, beberapa Minggu lamanya. Tak jarang juga, Tio memperlihatkan kemesraan bersama Sophia. Kemesraan tersebut, akhirnya membuat gunjingan para karyawan. Akhirnya Tio memutuskan, untuk menjalin hubungan dengan serius. Bersama Sophia, dan di restui pula oleh kedua orang tua mereka.Lagi pula umur mereka sudah matang, untuk sama-sama melangsungkan pernikahan.Malam itu, para tim sukses nyonya Risa. Sedang melangsungkan acara fashion ternama. Di pegang langsung oleh Risa, ia memegang kendali penuh kali ini.Tak ingin produk dari luar negri tersebut, di kenal jelek oleh orang yang menghadiri. Tentu saja akan membuat perusahaan Risa, terkenal jelek pula.Tak hanya itu, malam ini juga Tio akan melamar Sophia. Maka dari itu, Risa ingin sekali melihat, dan memeg

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 29. Nasib Buruk Turun Temurun

    Setelah air dapat masuk semua, barulah Mbah Ngatmi menatap nanar ke arah Sumi. Seakan mengisyaratkan, bahwa tak akan lama lagi kematian tersebut datang. Setelah menunggu beberapa jam lamanya, akhirnya alat yang di pakai Menik pun. Berbunyi nyaring, pelan namun selalu berbunyi. Sampai akhirnya bunyi tersebut, di iringi dengan tangisan Sumi, yang semakin menyayat hati. Langkah dokter dan para suster mulai terdengar mendekat, segera sampai di ruangan Menik. Memeriksa keadaannya, sampai akhirnya, dokter menyatakan bahwa Menik sudah meninggal dunia. netra sumi nanar, betapa hancurnya hidup Sumi. Badannya lemas seketika, tak bisa berjalan namun ia paksa. Tak ingin terlihat lemah oleh orang di sana, ia mencoba tegar. Ia tak ingin pingsan saat itu juga, karna ia harus segera membawa jenazah Menik pulang. Sedangkan Mbah Ngatmi, dan tetangga di sana sedang menghubungi warga desa. Untuk memberi tahu kalau Menik sudah meninggal, dan untuk bergotong royong. Menyiapkan alat-alat kematian

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status