LOGINNaya jatuh terduduk, jarum bening di tangannya kini punya garis kesembilan. Garis berwarna merah muda. Rumput bening di halaman berdiri lagi dengan tegak, Naya tersenyum rasanya lelah sekali. “Kak, ternyata menjahit orang jahat juga bagian dari menjaga ya?” Angin menjawab dengan desiran pelan, malamnya ia menulis di buku kecilnya. “Hari ini benang kesembilan, Sophia bukan dijahit tapi sengaja dipulangkan, ternyata ada orang yang benangnya kusut karena tidak pernah diberi rumah dan tugasku memberi jalan pulang,”Naya menutup buku, di luar saung Tio datang lagi kali ini bersama Sophia. Ia sedang membawa benang putihnya sendiri, bahkan sudah tidak kusut lagi. “Latihan,” katanya sambil tersenyum malu. Naya mengangguk, kini Desanya semakin tenang. Karena sekarang, bahkan benang yang paling kusut pun punya kesempatan untuk pulang. Naya mengerti satu hal lagi, kak umi memilih kosong agar orang lain bisa bebas. Naya memilih menjaga agar orang lain bisa pulang, dua sisi dari benang yang
Tiga malam setelah Tio berhasil dirapikan, rumput bening di halaman Naya telah berubah menjadi layu. Bukan mati hanya menunduk, semua helainya mengarah ke timur. Ke arah kota. Naya duduk di depannya dengan hati yang cemas dan gelisah, jarum bening ia letakkan di pangkuannya. Garis pelangi di jarum itu kini sudah menjadi delapan. “Kak Sumi,” bisiknya. “Ada yang tidak beres?”Rumput itu bergetar sekali dengan keras, angin malam itu datang dengan membawa bau. Bau parfum yang mahal, Naya menebaknya itu datang dari kota. Namun bau itu tidak seharusnya ada di desa mereka. Pagi harinya, ada seorang kurir yang datang ke saungnya. Ia tampak membawa kotak kardus, tidak ada nama pengirim yang ada hanya alamat Naya, itupun ditulis dengan spidol hitam. “Dari kota,” kata kurir. “Katanya penting!”Naya membuka kotak itu di luar saung, tidak di dalam karena takut akan terjadi apa-apa. Di dalamnya ada bungkusan kain sutra berwarna merah. Saat kain itu dibuka, Naya mundur dengan terkejut. “Ben
Berita menyebar dengan sangat cepat, karena anak Mbak Lurah bisa berbicara lagi. Bahkan Mbak Lurah merekomendasikannya, pada orang-orang kota dan juga desa sebrang. Malam itu juga Dimas makan hingga habis dua piring, membuat ibunya merasa sangat senang. Karena Naya yang masih kecil sudah bisa menyembuhkan orang. Desas-desus warga terdengar di telinga Naya, rumah bekas Pak Wira, atapnya roboh dengan sendirinya di keesokan paginya. Orang-orang desa mulai menyebut saung itu “Saung Benang”. Bahkan mereka juga ikut menjaga tempat itu, juga menjaga Naya. Hari berikutnya datanglah Pak Karso, seorang petani tua. Benangnya berwarna kuning, Naya melihatnya karena ia berhutang pada tengkulak. Bahkan benang itu menjadi sangat kusut, membuatnya seakan menarik perutnya tiap malam. Naya berhasil meluruskannya kembali. Lalu datang Mbak Yuni, seorang janda muda yang cantik menawan. Benangnya berwarna merah, benang itu ditarik mantan suaminya dari kota. Membuat hidup Mbak Yani terasa kosong dan
Di malam Jumat Kliwon, Naya selalu duduk di depan rumput bening itu. Ia bercerita tentang desa dan tentang orang, rumput itu selalu bergetar sebagai jawaban. Karena Naya sangat yakin bahwa Kak Sumi tidak benar-benar pergi, bagi Naya kak Sumi menjadi langit dan angin. Menjadi benang bening yang sekarang ada di tangan Naya. Selama ada satu orang yang memilih untuk menjaga, bukan mengikat maka desa tidak akan pernah punya rantai lagi. Naya kini sudah mendirikan Saung yang berdiri di pematang, menghadap sawah dindingnya terbuat dari bambu. Atapnya ijuk dan di dalamnya hanya ada tikar, kendi air, dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu tersimpan dengan baik jarum bening pemberian Sumi, belum pernah ia pakai. Tiga minggu sejak Pak Wira diusir, orang mulai datang kesana. Bukan karena sakit, bukan pula karena kerasukan tapi karena benangnya terasa salah.Mereka berkata bahwa dadanya sesak saat melewati rumah seseorang, jari mereka gatal saat memegang uang dari orang tertentu. Bahk
Naya tidak menjawab. “Aku tahu kamu bisa melihat benang, makanya aku datang karena desa ini kosong sekarang dan tempat kosong, harus diisi!”Ia menunjuk koper. “Ini warisan, sama seperti buku kulit kambing milik Buyutnya Sumi hanya berbeda bentuk!”“Ka– kkamu mau mengikat kami lagi?” tanya Naya, suaranya kecil tapi jelas. Pak Wira tertawa. “Mengikat itu kata kasar, aku hanya mau menata, manusia tanpa ikatan itu akan kacau,” Naya mengangkat boneka kainnya. “Benangku tidak akan bisa kamu sentuh!”Benang bening itu melesat, menusuk koper. Koper itu berteriak bukan suara manusia, tapi suara rantai. Pak Wira terkejut, ia meraih kopernya tapi sudah terlambat. Benang bening itu membelah koper, gulungan benang di dalamnya perlahan berhamburan. Saat benang merah darah itu menyentuh lantai, tanah mulai bergetar. Dari retakan sumur tua, asap hitam itu keluar lagi. “Tidak!” Pak Wira menjerit. “Itu Rantai Iblis! Kamu membebaskannya!” Naya mundur. “Kamu yang membawanya!”Asap itu berkumpul,
Dari dadanya keluar benang merah, tipis, kuat dan bebas. Ia menatap ke arah sumur yang sudah rata dengan tanah. “Terima kasih, Kak Sumi,” bisiknya. Angin seakan datang membawa jawaban, bukan sepatah kata tapi hanya suara desir. Seperti seseorang mengangguk dari jauh. Di tempat Sumi berdiri terakhir kali, tumbuh satu helai rumput hitam satu-satunya. Naya memetiknya, lalu ia lilitkan di pergelangan tangannya. Bukan untuk mengikat, tapi ini ia anggap untuk mengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang memilih kosong, agar orang lain bisa bebas. Naya akhirnya tahu bahwa rantai yang paling berat bukanlah dari besi, tapi dari harapan untuk dicintai dan mencintai. Bahwa kadang, kemenangan sejati adalah saat kamu bisa melepaskan semuanya, termasuk dirimu sendiri. Tiga hari setelah Sumi menghilang, desa berubah dalam sekejap mata. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab.Tidak ada anak yang menangis tengah malam karena dicekik sesuatu yang tak terlihat, tidak ada lagi yang me
Bodyguard tersebut kemudian membukakan pintu mobil Sophia, Sophia turun dengan membawa beberapa bingkisan. Ia berjalan terlebih dahulu di depan, sedangkan ke dua bodyguardnya, berjalan di belakangnya. Para bodyguard tersebut, sedang membawa barang berat.Mereka semua sudah di sambut si Mbah dari d
Matahari sudah ingin menjulang tinggi, namun tampaknya, Sumi enggan untuk keluar dari kamar. Pikiran wanita itu masih kacau.Tapi mau tidak mau.Para karyawan harus segera memberitahunya, entah akan bagaimana nanti hasilnya. Yang jelas mereka juga akan segera pulang. " Mba, kami mau bicara!" kata
Setelah lama ia berdiam diri, akhirnya ibunda Sumi dengan wajah yang kini berubah marah. Ia menyatakan perang, ia menyerang bagian dada si Mbah dengan tangannya. Untung saja si Mbah dengan sigap mengelak." Rupanya kamu tidak pernah berubah, kali ini aku tak akan lemah dengan mu!" kata si Mbah dal
Setelah menemukan tempat VIP yang di pesan, Sophia bergegas masuk ke tempat tersebut. Terlihat di sana sudah ada wanita paruh baya, dengan dandanan modis layaknya ibu sosialita. Sophia tidak mengetahui Wanita tersebut. Namun ia sudah terlanjur datang, mau tidak mau Sophia harus menemuinya. Merek







