공유

5 - Rumah Baru?

작가: Shiooki
last update 게시일: 2026-03-10 22:04:41

Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.

Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika dia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya.

Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya dia ingin masuk ke dalam kantong celana.

“Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

“Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara.

Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika dia masih bayi dan dimandikan oleh kedua orang tuanya yang kini sudah tiada. Tetapi sekarang, yang melakukannya adalah seorang pria dewasa—pria yang telah membelinya.

Ara menurunkan tangannya perlahan ketika mendengar pintu tertutup. Dia memeluk lututnya dan menumpukan dagu di sana, mencoba menenangkan diri.

Di sisi lain, dia tidak menyangka bisa mandi dengan air hangat seperti ini lagi. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan air, juga wangi sabun dan sampo yang lembut.

Jika ini bukan hotel, lalu tempat apa ini?

Ara membuka matanya, kemudian merendam seluruh tubuhnya di dalam air hangat. Dia menatap langit-langit kamar mandi dengan pikiran yang mulai melayang.

Baru sekarang dia benar-benar menyadari bahwa dirinya telah meninggalkan rumah yang menyesakkan itu.

Selama ini Ara tidak benar-benar hidup—dia hanya bertahan. Bertahan untuk melihat sejauh mana dirinya mampu menahan dunia yang terus berlaku kejam padanya. Beberapa kali dia bahkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya, sama seperti ibunya yang memilih melompat dari lantai empat tepat di depan mata Ara ketika dia masih kecil.

Namun, pada akhirnya Ara tidak pernah memiliki keberanian sebesar itu.

Dia selalu kembali pulang, hanya untuk menerima kemarahan dan pukulan dari kerabatnya. Bahkan setelah kejadian itu pun, di saat dirinya mengira sudah pandai memeluk trauma dan lukanya, kedua tangan kurusnya dipaksa merengkuh luka baru.

Jika bukan karena Anthony yang menyembuhkan lebam di tubuhnya tadi, mungkin bekas itu akan bertahan entah sampai kapan.

“Kau tidak apa-apa?”

Suara Anthony dari balik pintu membuat Ara tersentak hingga air di sekitarnya beriak. Dia hampir lupa bahwa dirinya tidak sendirian di tempat ini.

“S-saya tidak apa-apa! Jadi … Tuan tidak perlu masuk,” jawabnya cepat. Ara segera berdiri dan meraih handuk yang tergantung di tepi bathtub, lalu melilitkannya pada tubuh. Dia melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan pakaiannya sama sekali.

Saat dia hendak berjalan melewati kaca pembatas, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Tentu saja Ara terkejut.

Anthony sudah berdiri di sana.

“Pakai ini. Kita harus segera berangkat,” katanya singkat sambil meletakkan sebuah paper bag putih di dekat wastafel sebelum berbalik pergi.

Begitu pintu kembali tertutup, jantung Ara langsung berdebar keras. Dengan langkah sedikit gemetar, dia menghampiri wastafel dan membuka paper bag tersebut. Di dalamnya ada dress putih tanpa lengan, sweter berwarna peach, serta pakaian dalam yang tampak baru.

Ara mengambil pakaian tersebut dan mencocokkannya di depan cermin. Bahkan sebelum mencobanya pun, dia sudah yakin ukurannya pas.

Bagaimana pria itu bisa tahu?

Mengerikan.

***

Setelah berkali-kali memikirkan tentang bagaimana Anthony mengetahui ukuran pakaiannya, akhirnya Ara keluar dari kamar mandi dan mendapati Anthony berdiri menghadap jendela. Dia mencoba untuk tidak peduli, mungkin pria itu hanya asal membeli, dan kebetulan ukurannya sama dengan tubuhnya.

“Sudah selesai?” tanya pria itu.

Ara tertegun, dia mengusap tengkuknya ketika menjawab, “Sudah, Tuan.”

Anthony berbalik. Cahaya dari belakang membuat siluet tubuhnya terlihat semakin tinggi dan besar. Ara baru menyadari bahwa jika berdiri di samping pria itu, kepalanya bahkan hanya sampai bahunya.

“Kalau begitu, kita berangkat.”

Ara berjalan mendekat dengan ragu. Ketika dia sudah cukup dekat, Anthony merangkul bahunya tanpa peringatan. Ara sedikit terkejut, meski perlahan mulai terbiasa dengan sikap pria itu yang sering bertindak tiba-tiba.

“Perjalanan kali ini cukup jauh,” ujar Anthony. “Kau mungkin akan merasa lebih kesulitan dibanding kemarin.”

Ara mengangguk, lalu mencengkeram ujung kemeja Anthony sambil memejamkan mata. Tanpa Ara sadari, pria itu menyunggingkan senyuman tipis sebelum fokus untuk mengatur titik koordinat tempat yang mereka tuju.

Dalam sekejap, udara dingin menyelimuti tubuhnya. Angin berputar di sekeliling mereka, membuat Ara menahan napas ketika tekanan aneh menekan dadanya. Cengkeramannya kian kuat.

Lebih menyakitkan, dadanya seperti ditindih benda berat.

Beberapa detik kemudian, rangkulan di bahunya mengendur. Perasaan aneh itu langsung berhenti.

“Kita sampai.”

Ara membuka mata, lalu mendongak menatap Anthony. Seperti biasa ekspresi pria Wallenstein terlihat datar. Lalu dia segera menoleh saat merasakan hawa di sekelilingnya berbeda.

Di hadapannya, berdiri bangunan bergaya Eropa yang khas seperti yang pernah dia lihat di buku. Pohon-pohon tinggi mengelilinginya, angin yang berembus sungguh terasa berbeda dengan yang ada di Busan. Sementara itu, langit malam yang dipenuhi bintang membuat Ara takjub.

Bukankah tadi masih pagi?

“Sepertinya aku harus mengatur ulang titik koordinatnya." Pria itu bergumam, lalu menoleh pada Ara yang masih memandangi sekitar, masih tercengang. “Yang kau lihat sekarang adalah bagian dari rumahku. Mulai hari ini, akan menjadi rumahmu juga.”

“T-tunggu … kita di mana?” Ara menyusul Anthony yang sudah lebih dulu berjalan.

Anthony menghentikan langkahnya dan berbalik, nyaris membuat Ara menabraknya. “Kita berada di sebelah barat London. Lebih tepatnya di desa pinggiran England.”

“E-england?” Ara membelalakkan mata. Dia pernah bermimpi pergi ke salah satu negara Eropa suatu hari nanti. Namun, dia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya benar-benar akan berada di sana.

Pantas saja di sini gelap, karena waktu di Korea Selatan lebih cepat 9 jam dari Inggris, Britania Raya. Mungkin di sini sekitar pukul sebelas malam.

“K-kenapa Anda membawa saya ke sini?”

Anthony menatapnya sebentar sebelum menjawab tenang, “Karena kau milikku. Aku bebas membawamu ke mana saja, termasuk ke dasar neraka sekali pun.”

"Neraka?" Ara bergumam, pupilnya bergetar saat menatap punggung Anthony ketika pria itu berbalik, lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan sulit diartikan.

“Aku menyambutmu di sini, My Puppy Girl ….” Anthony berhenti sejenak, lalu mengoreksi dirinya. "Tidak. Maksudku, Ara.”

Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari bibir pria Wallenstein. Entah mengapa, dada Ara terasa bergetar.

Apa orang-orang juga merasakan hal serupa ketika namanya dipanggil?

“Ayo. Masuk.”

Ara memandang Anthony beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Dia membiarkan Anthony berjalan lebih dulu, sementara dia melihat rumah di hadapannya dengan saksama. Dia ingin memotret baik-baik tempat yang katanya akan menjadi rumahnya dengan kedua matanya.

Namun, sebelum dia menyusul, terdengar suara tawa hingga membuat langkahnya terhenti, dan terkejut saat melihat benda kecil tiba-tiba melintas di depannya.

Apa saat ini dirinya sedang berhalusinasi? Mengapa dia melihat makhluk kecil bersayap dengan pakaian seperti daun melayang tepat di depan wajahnya?

“Hmm … aku mencium aroma yang manis,” kata makhluk itu ceria. "Ternyata berasal darimu."

“P-peri?”

Makhluk itu tersenyum lebar. Ini pertama kalinya dia melihat makhluk kecil dengan telinga runcing dan memiliki sayap di punggungnya. Level makhluk gaib di sini ternyata berbeda.

“Begitulah manusia biasa menyebut kami.” Dia terbang mendekati bahu Ara dan berbisik pelan. “Jadi kau pengantin Jattandier, ya?”

Ara mengernyit bingung. Kata pengantin lagi.

Lalu, Jattandier?

Siapa dia?

“Ara, kenapa berdiri di situ?”

Tentu Ara tersentak saat mendengar seruan tersebut. Dia lekas berlari menghampiri Anthony, lalu menoleh sebentar ke belakang.

Peri itu sudah menghilang.

[]

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Iblis Yang Mencintaiku    250 - Orang-Orang yang Akan Ditinggalkan

    Sebenarnya, apa yang terjadi pada Ara?Pertanyaan itu terus berputar di kepala Vance sepanjang perjalanan. Dan kini, jawabannya perlahan mulai terbentang di hadapannya.Hari hampir memasuki tengah hari ketika akhirnya dia berdiri di depan kamar yang dipesan Anthony J. Wallenstein untuk tiga hari ke depan. Perjalanan menuju tempat ini jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.Dia harus menaiki kereta menggunakan uang yang dititipkan Lily, mengikuti petunjuk jalan yang membingungkan, berganti bus di sekitar Stasiun Paddington, hingga akhirnya tiba di hotel dengan menyamar menggunakan "permen" sihir buatan Yuuscar.Begitulah Vance menyebut benda bulat kecil itu.Sebelum berangkat, Anthony sempat mengingatkannya, "Ada banyak makhluk dunia bawah yang mengawasi hotel ini. Di luar maupun di dalam. Karena itu, kau harus menyamar sebagai aku. Tenang saja, mereka tidak akan menyadarinya karena mereka semua bodoh. Aku sudah meminta seseorang membuat

  • Iblis Yang Mencintaiku    249 - Bayangan yang Tak Dapat Dijangkau

    "Bagaimana situasinya?""Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia," jawab Succubi seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Semuanya berjalan lancar. Para manusia mulai gelisah dan membentuk kelompok untuk memburu sang kambing hitam dari Neraka. Mara serta rekan-rekan kami di lapangan telah mengonfirmasi bahwa mereka siap bergerak sesuai waktu yang telah Yang Mulia tentukan."Jattandier Bloodfallen tertawa pelan, tawa itu terdengar sangat puas."Bagus. Bagus sekali. Ah ... betapa menyenangkannya ini." Sudut bibirnya terangkat perlahan. Dia menyandarkan tubuh pada kursinya sambil menatap kosong ke arah jendela besar di belakang ruangan.Lalu, senyumnya semakin lebar. "Manusia memang makhluk yang menarik. Cukup beri mereka rasa takut dan sedikit kebohongan, mereka akan saling membunuh tanpa perlu kusuruh."Succubi ikut tersenyum, merasa lega karena pekerjaannya mendapat pujian dari calon penguasa Abyss. Dia tetap menundukkan kepala, tak berani menatap langsun

  • Iblis Yang Mencintaiku    248 - Permintaan Terakhir yang dipercayakan Padanya

    Vance terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang terasa sangat mencurigakan.Jika Anthony hanya ingin melakukan telepati, iblis itu tidak membutuhkan perantara darah. Selama ini Anthony selalu dapat menghubunginya secara langsung.Lalu, mengapa sekarang berbeda?Apa terjadi sesuatu pada Anthony?Atau ... Ara?Tidak.Sedari awal, jika sesuatu terjadi pada pemilik kontraknya, dia pasti akan merasakannya. Ikatan familiar mereka terlalu kuat untuk dibohongi. Namun, yang dia rasakan justru sebaliknya. Ada perasaan bahagia, terasa hangat yang memenuhi dadanya, bercampur dengan kelembutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Namun, anehnya kebahagiaan itu terasa begitu menyesakkan.Vance yakin, selama di London mereka pasti mengalami sesuatu yang sangat membahagiakan hingga emosi Ara masih mengalir melalui kontrak mereka. Karena itulah firasat buruk yang memenuhi kepalanya terasa semakin tidak masuk akal.Menggeleng pelan, Va

  • Iblis Yang Mencintaiku    247 - Burung Dengan Cahaya Biru

    'Jaga rumah ini. Apa pun yang terjadi.'Mata Lily memanas, lalu satu tetes air mata meluncur di pipinya."Lily?"Suara Vance membuat tubuhnya tersentak. Banshee itu buru-buru mengusap air mata, lalu menoleh dan memberikan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Vance tidak tertipu."Kau baik-baik saja?"Lily mengangguk cepat, kemudian membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara Vance hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung Lily yang semakin menjauh."Apa aku salah lihat?" Dia menelengkan kepala, tangannya mengusap tengkuk. "Lily ... menangis?"Belum sempat dia mengejar, sesuatu yang bercahaya melintas di sudut matanya. Vance mendongak, dan mendapati seekor burung kecil berwarna biru terang terbang menuju dirinya. Tubuh burung itu terlihat transparan. Cahaya biru membentuk bulu-bulunya, sementara serpihan energi berjatuhan dari sayapnya setiap kali mengepak."Sihir?" Vance mengulurkan tangan, dan bu

  • Iblis Yang Mencintaiku    246 - Pesan Sebelum Perpisahan

    "Hah ...." Yuuscar mengembuskan napas kasar sembari mengusap wajahnya.Yeah. Tentu saja akan seperti ini.Meski Anthony J. Wallenstein merupakan sosok iblis yang konon paling sempurna setelah raja dunia bawah, seluruh kesempurnaan itu seolah menguap begitu dia berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar disayanginya.Naif. Bodoh. Dan luar biasa keras kepala.Anthony sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Ratusan tahun berkubang di tempat yang bahkan tidak mengenal arti cahaya, sampai akhirnya dia menemukan secercah terang dalam wujud seorang manusia bernama Jung Ara. Tentu saja dia menjadi tergila-gila.Masalahnya, kegilaan Anthony tidak pernah mengenal batas. Nyawanya sendiri sampai dia kesampingkan hanya demi menempatkan 'cahaya' yang ditemukannya itu di atas segala-galanya.Yuuscar menggeleng pelan, betapa bodohnya teman iblisnya ini.Benar kata pepatah. Selain membuat buta dan gila, cinta rupanya juga mampu membuat makhluk palin

  • Iblis Yang Mencintaiku    245 - Yang Tidak Termasuk Dalam Perhitungan

    "Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng

  • Iblis Yang Mencintaiku    4 - Memandikan Kucing (?)

    Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja dia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak

  • Iblis Yang Mencintaiku    7 - Peri Misterius

    Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka

  • Iblis Yang Mencintaiku    6 - Daging dan Peringatan

    Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and ch

  • Iblis Yang Mencintaiku    1 - Dia Milikku

    "Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya. Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia sembilan belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status