INICIAR SESIÓNKamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.
Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika dia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya. Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya dia ingin masuk ke dalam kantong celana. “Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan. “Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika dia masih bayi dan dimandikan oleh kedua orang tuanya yang kini sudah tiada. Tetapi sekarang, yang melakukannya adalah seorang pria dewasa—pria yang telah membelinya. Ara menurunkan tangannya perlahan ketika mendengar pintu tertutup. Dia memeluk lututnya dan menumpukan dagu di sana, mencoba menenangkan diri. Di sisi lain, dia tidak menyangka bisa mandi dengan air hangat seperti ini lagi. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan air, juga wangi sabun dan sampo yang lembut. Jika ini bukan hotel, lalu tempat apa ini? Ara membuka matanya, kemudian merendam seluruh tubuhnya di dalam air hangat. Dia menatap langit-langit kamar mandi dengan pikiran yang mulai melayang. Baru sekarang dia benar-benar menyadari bahwa dirinya telah meninggalkan rumah yang menyesakkan itu. Selama ini Ara tidak benar-benar hidup—dia hanya bertahan. Bertahan untuk melihat sejauh mana dirinya mampu menahan dunia yang terus berlaku kejam padanya. Beberapa kali dia bahkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya, sama seperti ibunya yang memilih melompat dari lantai empat tepat di depan mata Ara ketika dia masih kecil. Namun, pada akhirnya Ara tidak pernah memiliki keberanian sebesar itu. Dia selalu kembali pulang, hanya untuk menerima kemarahan dan pukulan dari kerabatnya. Bahkan setelah kejadian itu pun, di saat dirinya mengira sudah pandai memeluk trauma dan lukanya, kedua tangan kurusnya dipaksa merengkuh luka baru. Jika bukan karena Anthony yang menyembuhkan lebam di tubuhnya tadi, mungkin bekas itu akan bertahan entah sampai kapan. “Kau tidak apa-apa?” Suara Anthony dari balik pintu membuat Ara tersentak hingga air di sekitarnya beriak. Dia hampir lupa bahwa dirinya tidak sendirian di tempat ini. “S-saya tidak apa-apa! Jadi … Tuan tidak perlu masuk,” jawabnya cepat. Ara segera berdiri dan meraih handuk yang tergantung di tepi bathtub, lalu melilitkannya pada tubuh. Dia melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan pakaiannya sama sekali. Saat dia hendak berjalan melewati kaca pembatas, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Tentu saja Ara terkejut. Anthony sudah berdiri di sana. “Pakai ini. Kita harus segera berangkat,” katanya singkat sambil meletakkan sebuah paper bag putih di dekat wastafel sebelum berbalik pergi. Begitu pintu kembali tertutup, jantung Ara langsung berdebar keras. Dengan langkah sedikit gemetar, dia menghampiri wastafel dan membuka paper bag tersebut. Di dalamnya ada dress putih tanpa lengan, sweter berwarna peach, serta pakaian dalam yang tampak baru. Ara mengambil pakaian tersebut dan mencocokkannya di depan cermin. Bahkan sebelum mencobanya pun, dia sudah yakin ukurannya pas. Bagaimana pria itu bisa tahu? Mengerikan. *** Setelah berkali-kali memikirkan tentang bagaimana Anthony mengetahui ukuran pakaiannya, akhirnya Ara keluar dari kamar mandi dan mendapati Anthony berdiri menghadap jendela. Dia mencoba untuk tidak peduli, mungkin pria itu hanya asal membeli, dan kebetulan ukurannya sama dengan tubuhnya. “Sudah selesai?” tanya pria itu. Ara tertegun, dia mengusap tengkuknya ketika menjawab, “Sudah, Tuan.” Anthony berbalik. Cahaya dari belakang membuat siluet tubuhnya terlihat semakin tinggi dan besar. Ara baru menyadari bahwa jika berdiri di samping pria itu, kepalanya bahkan hanya sampai bahunya. “Kalau begitu, kita berangkat.” Ara berjalan mendekat dengan ragu. Ketika dia sudah cukup dekat, Anthony merangkul bahunya tanpa peringatan. Ara sedikit terkejut, meski perlahan mulai terbiasa dengan sikap pria itu yang sering bertindak tiba-tiba. “Perjalanan kali ini cukup jauh,” ujar Anthony. “Kau mungkin akan merasa lebih kesulitan dibanding kemarin.” Ara mengangguk, lalu mencengkeram ujung kemeja Anthony sambil memejamkan mata. Tanpa Ara sadari, pria itu menyunggingkan senyuman tipis sebelum fokus untuk mengatur titik koordinat tempat yang mereka tuju. Dalam sekejap, udara dingin menyelimuti tubuhnya. Angin berputar di sekeliling mereka, membuat Ara menahan napas ketika tekanan aneh menekan dadanya. Cengkeramannya kian kuat. Lebih menyakitkan, dadanya seperti ditindih benda berat. Beberapa detik kemudian, rangkulan di bahunya mengendur. Perasaan aneh itu langsung berhenti. “Kita sampai.” Ara membuka mata, lalu mendongak menatap Anthony. Seperti biasa ekspresi pria Wallenstein terlihat datar. Lalu dia segera menoleh saat merasakan hawa di sekelilingnya berbeda. Di hadapannya, berdiri bangunan bergaya Eropa yang khas seperti yang pernah dia lihat di buku. Pohon-pohon tinggi mengelilinginya, angin yang berembus sungguh terasa berbeda dengan yang ada di Busan. Sementara itu, langit malam yang dipenuhi bintang membuat Ara takjub. Bukankah tadi masih pagi? “Sepertinya aku harus mengatur ulang titik koordinatnya." Pria itu bergumam, lalu menoleh pada Ara yang masih memandangi sekitar, masih tercengang. “Yang kau lihat sekarang adalah bagian dari rumahku. Mulai hari ini, akan menjadi rumahmu juga.” “T-tunggu … kita di mana?” Ara menyusul Anthony yang sudah lebih dulu berjalan. Anthony menghentikan langkahnya dan berbalik, nyaris membuat Ara menabraknya. “Kita berada di sebelah barat London. Lebih tepatnya di desa pinggiran England.” “E-england?” Ara membelalakkan mata. Dia pernah bermimpi pergi ke salah satu negara Eropa suatu hari nanti. Namun, dia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya benar-benar akan berada di sana. Pantas saja di sini gelap, karena waktu di Korea Selatan lebih cepat 9 jam dari Inggris, Britania Raya. Mungkin di sini sekitar pukul sebelas malam. “K-kenapa Anda membawa saya ke sini?” Anthony menatapnya sebentar sebelum menjawab tenang, “Karena kau milikku. Aku bebas membawamu ke mana saja, termasuk ke dasar neraka sekali pun.” "Neraka?" Ara bergumam, pupilnya bergetar saat menatap punggung Anthony ketika pria itu berbalik, lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan sulit diartikan. “Aku menyambutmu di sini, My Puppy Girl ….” Anthony berhenti sejenak, lalu mengoreksi dirinya. "Tidak. Maksudku, Ara.” Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari bibir pria Wallenstein. Entah mengapa, dada Ara terasa bergetar. Apa orang-orang juga merasakan hal serupa ketika namanya dipanggil? “Ayo. Masuk.” Ara memandang Anthony beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Dia membiarkan Anthony berjalan lebih dulu, sementara dia melihat rumah di hadapannya dengan saksama. Dia ingin memotret baik-baik tempat yang katanya akan menjadi rumahnya dengan kedua matanya. Namun, sebelum dia menyusul, terdengar suara tawa hingga membuat langkahnya terhenti, dan terkejut saat melihat benda kecil tiba-tiba melintas di depannya. Apa saat ini dirinya sedang berhalusinasi? Mengapa dia melihat makhluk kecil bersayap dengan pakaian seperti daun melayang tepat di depan wajahnya? “Hmm … aku mencium aroma yang manis,” kata makhluk itu ceria. "Ternyata berasal darimu." “P-peri?” Makhluk itu tersenyum lebar. Ini pertama kalinya dia melihat makhluk kecil dengan telinga runcing dan memiliki sayap di punggungnya. Level makhluk gaib di sini ternyata berbeda. “Begitulah manusia biasa menyebut kami.” Dia terbang mendekati bahu Ara dan berbisik pelan. “Jadi kau pengantin Jattandier, ya?” Ara mengernyit bingung. Kata pengantin lagi. Lalu, Jattandier? Siapa dia? “Ara, kenapa berdiri di situ?” Tentu Ara tersentak saat mendengar seruan tersebut. Dia lekas berlari menghampiri Anthony, lalu menoleh sebentar ke belakang. Peri itu sudah menghilang. []"Dengarkan aku dulu—" "Kubilang lepaskan! Tidak ada yang ingin aku dengar darimu, semuanya sudah jelas!" Ara berteriak. Refleks dia menepis tangan Anthony yang hendak meraih tangannya, lalu membingkas turun dari pangkuan pria itu. Kini dia berdiri di hadapan sosok yang menjadi tuannya tanpa berniat menatapnya. "Ara, kumohon ...." Ara menggeleng. Dia menghindari tangan Anthony yang kembali mencoba meraih jemarinya. Butuh beberapa saat bagi Ara untuk mengatur napasnya yang kacau. Namun, ketika akhirnya dia mendongak, Anthony langsung berdiri. Raut wajah pria itu berubah drastis. "Ara ...." Anthony mencekal pergelangan tangan kirinya. "Hidungmu berdarah." Ara mengangkat tangan untuk menyentuh bawah hidungnya. Cairan merah pekat menempel di jemarinya, tetapi gadis itu justru tersenyum tipis. Miris. "Biarkan saja," ujar Ara. Dia lalu meraih tanga
"Tolong hentikan aku, dan mari kita bersatu." Perlahan, Ara membuka kedua matanya. Napasnya terasa berat. Pandangan gadis itu tampak kosong beberapa saat sebelum akhirnya dia mengusap sudut matanya yang basah. Apa yang baru saja dia alami? Mimpi? Namun, mengapa semuanya terasa begitu nyata? Perasaan dingin di tempat asing itu masih terasa jelas di kulitnya. Begitu pula sosok wanita bermandikan cahaya dengan pakaian berlumuran darah. Dan suara itu— 'Tolong hentikan aku ....' Ara mengembuskan napas pelan, lalu tanpa sadar menggulirkan pandangan ke bawah. Seketika tubuhnya menegang ketika melihat lengan kokoh melingkari tubuhnya erat. Ara mengerjapkan mata beberapa kali untuk memfokuskan penglihatan, kemudian perlahan mendongak. Dan tepat saat itu, dia mendapati Anthony tengah menatapnya. Ara langsung menundukkan kepala. Baru sekarang dirinya menyadari posisi mereka, dia berada di atas pangkuan sa
Sejauh mata memandang, Ara hanya melihat warna putih. Kosong, sunyi dan tak berujung. Kedua mata beriris dark brown itu bergerak gelisah, menatap ke segala arah dengan napas yang perlahan memburu. Tak ada apa pun di sana selain hamparan putih yang terasa luas tak terhingga, seolah tempat itu tidak memiliki batas maupun ujung. Dia lalu mulai melangkah, berusaha mencari jalan keluar. Namun, sejauh apa pun dirinya berjalan, pemandangan di sekelilingnya tetap sama. Tidak ada pintu, tidak ada bayangan, bahkan tidak ada suara selain deru napasnya sendiri. Perasaan asing mulai merayapi dadanya. Rasanya sesak. Tempat ini membuat Ara merasa kesepian. "Ara ...." Tubuh Ara sontak menegang. Suara itu terdengar lembut, nyaris seperti bisikan, tetapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ara segera menoleh. Tak jauh darinya berdiri seorang wanita, mungkin hanya berjarak tiga atau empat langkah. Kedua alis Ara menger
Pemandangan yang sama kembali kulihat saat ingatan masa lalu itu berhenti bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka. Aku berdiri di sana, memandang Tuan Wallenstein dan Ara yang berada di dalam gendongannya. Manusia itu terlelap. Wajar. Dia baru saja berhadapan dengan Tuan Wallenstein yang kehilangan kendali. Meski Ara berhasil menyadarkannya, warna biru samudera itu masih belum hilang dari mata sang iblis. Namun, kali ini berbeda. Tak ada lagi kesedihan di sana. Yang tersisa hanya penyesalan hingga alisku mengernyit tidak nyaman. Tanpa banyak bicara, aku menyerahkan selimut yang kubawa yang langsung diterima Tuan Wallenstein. Dia membungkus tubuh Ara dengan hati-hati, setelah itu berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa, membiarkan Ara tertidur dalam pangkuan serta dekapannya. Aku memandang mereka diam-diam. Dan entah mengapa, pemandangan itu mengingatkanku pada Joel dan Mariel. Meski sofa ini sudah berkali
"Ah, apa kau gadis yang dimaksud Ilayda?" Aku menatap pria tua di hadapanku dengan bingung. Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara seseorang bertanya siapa gerangan yang bertamu di malam selarut ini. Tak lama kemudian, seorang wanita muncul di belakang pria tua itu. Mungkin, dia adalah istrinya. "Berpakaian aneh, wajah cantik, kulit seputih susu, dan rambut panjang keemasan ...." Wanita itu menatapku lama, lalu menoleh pada pria di sampingnya. "Sayang, benar dia gadis yang dimaksud Ilayd.Eum ... siapa namanya, ya? Apa kau sempat bertanya?" Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, saat mereka menatapku bersamaan, lalu berseru bahwa aku tampak memukau seperti bunga dengan wajah berbinar, aku tersadar bahwa aku sedang tersenyum. Aku menemukan keluargaku. "Benar! Lily!" Pria tua itu bertepuk tangan. "Aku baru ingat! Hahaha!" Suara tawanya menggema. Dan entah kenapa, hatiku
"Apa yang dilakukan banshee di tempat seperti ini? Kau terlihat merana, anakku yang manis." Mata merahku mengerjap pelan, air mata masih mengalir di pipi. Sejujurnya, aku tidak bisa menghentikannya. Mungkin ini adalah balasan bagiku karena sudah menyebabkan beberapa keluarga lenyap. Kesedihan itu terus menggerogoti diriku. Dan aku pantas menerimanya. "Di mana rumahmu?" Suaranya mengalun lembut. Begitu lembut hingga hatiku terenyuh. Lalu telapak tangan halus itu mendarat di pipiku. Hangat. Menyejukkan. Dan perlahan, kesedihan di dalam diriku mulai berkurang. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat, tapi Spirit kecil berjirah batu itu tampak kesal saat aku memeluk sosok cantik di hadapanku. "A-aku ...." Suaraku bergetar. Tubuhku terasa ringan saat sejumlah air keluar dari tubuhku dan melayang di udara. Kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari lima puluh tahun aku tidak berbicara. Bukan







