Главная / Fantasi / Iblis Yang Mencintaiku / 6 - Daging dan Peringatan

Share

6 - Daging dan Peringatan

Aвтор: Shiooki
last update publish date: 2026-03-10 22:35:07

Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.

Sejak pertama kali memasuki rumah ini, dia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya.

Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua.

Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Dia benar-benar disambut baik di sini.

“Kau belum makan apa-apa dari kemarin. Makanlah selagi hangat,” ujar Anthony memecah keheningan.

Ara menoleh pada Anthony. Memang benar perutnya sudah terasa perih karena lapar, tetapi bukankah ini sudah larut malam untuk menyantap makanan sebanyak ini? Ya, meskipun beberapa waktu lalu dia masih berada di negara yang saat itu masih pagi.

Tidak ingin membuat tuannya marah, Ara lekas menyimpan mug miliknya, lalu mengambil piringnya dan mulai menyantap makanan yang disajikan untuknya. Matanya langsung berkaca-kaca ketika potongan daging itu menyentuh lidahnya.

Seumur hidupnya, Ara belum pernah memakan daging. Rasanya luar biasa. Namun, rasa penasaran di kepalanya lebih kuat daripada rasa lapar. Dia diam-diam mengamati Anthony.

Pria itu masih terasa misterius baginya. Di pasar gelap, orang-orang menyebutnya 'pengantin'. Peri yang tadi ditemuinya juga mengatakan hal yang sama. Belum lagi benda samar yang terbentang di punggung Anthony, mengapa benda selebar itu tidak berbenturan dengan benda di sekitarnya?

Sebenarnya, siapa pria ini?

Apa dia … iblis?

“Sepertinya kau ingin bertanya banyak hal.” Anthony berbicara santai. “Aku akan menjawabnya, sebanyak apa pun sampai kau lelah.”

Bagai mendapat jackpot sampai-sampai hampir tersedak makanannya, Ara segera menelan makannya bulat-bulat dan meletakkan garpu.

“I-itu … peri yang tadi—”

“Mereka Eariel,” potong Anthony sambil menopang pipinya, memandang barang yang sudah dibelinya sejenak sebelum melanjutkan, “Makhluk kecil itu pasti datang untuk menyapamu, mereka sangat suka dengan sesuatu yang baru.”

“Begitu rupanya,” gumam Ara. Ternyata benar tadi dia bertemu peri, dia kira dirinya berhalusinasi. Ara sempat menunduk, menatap piringnya sebentar sebelum kembali berbicara. “Maaf kalau saya lancang—”

“Sejak kemarin aku merasa terganggu dengan cara bicaramu,” sela Anthony. “Bicara santai saja.”

Ara berdeham kecil, cepat-cepat mengoreksi cara bicaranya. “Kalau begitu … sebenarnya Tuan ini makhluk apa? Kuperhatikan, Tuan terlihat seperti manusia, tapi di belakang punggung Tuan—” Dia berhenti ketika melihat sudut bibir Anthony terangkat tipis. Ara langsung menunduk. “Maaf.”

Mungkin pria itu mencapnya tidak sopan karena berani bertanya mengenai identitas orang yang sudah membelinya.

“Aku terpukau padamu,” kata Anthony tiba-tiba, membuat Ara mengangkat kepalanya. Pria itu menumpu dagunya dengan tangan kiri, memandang Ara lekat-lekat, "Tidak ada satu pun yang bisa melihat apa yang ada di di balik punggungku, tapi kau ....”

Anthony menjeda, dia melepas sarung tangan kirinya. Seekor burung gagak tiba-tiba muncul di telapak tangannya. “Kau bisa melihatnya walaupun benda itu sudah tidak ada,” lanjutnya. “Kau memang istimewa.”

Ara terdiam. Tak berniat menyahuti karena dia tahu bahwa sang tuan rumah belum selesai bicara. Dan benar saja, tak lama setelahnya, penyandang nama belakang Wallenstein kembali bersuara.

“Yang kau lihat itu adalah sayapku,” kata Anthony tenang. “Mereka terlihat menakutkan dengan warnanya yang hitam kelam. Aku tidak suka, jadi aku membuangnya.”

Ara mengerjap tak percaya. Anthony mengatakan hal itu seolah dia hanya membuang mainan yang tidak dibutuhkan lagi, dengan mudah, dan terlihat begitu santai.

Padahal, sayap itu terlihat indah.

“Dan soal siapa aku .…” Anthony meliriknya bertepatan dengan hilangnya burung kematian di tangannya. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Ara menunduk sambil menggigit bibir.

Benar dugaannya, Anthony J. Wallenstein adalah iblis. Tetapi sayangnya, iblis yang satu ini tidak memiliki sayap lantaran dia telah membuangnya, hanya karena warnanya.

Lucu sekali.

“Apa yang membuatku istimewa?” tanya Ara pelan sambil menusuk daging di piringnya. “Karena aku bisa melihat makhluk supranatural?”

“Kurang lebih begitu.” Anthony menyandarkan tubuhnya. “Kau adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang memiliki keistimewaan. Karena hal itu, mereka yang tidak bisa dilihat oleh manusia dengan mata telanjang mendekatimu. Aura yang dipancarkan tiap manusia yang memiliki indra keenam itu berbeda, itulah kenapa mereka selalu dikelilingi berbagai macam hal-hal gaib. Di antara mereka, kau termasuk langka, jadi makhluk-makhluk supranatural lebih terpikat denganmu."

Ara yang hendak memasukkan sepotong daging terhenti di udara mendengar penjelasan Anthony. Dia kembali meletakkan garpunya dan menatap sepatu pria itu, tak berani mendongak sekadar melihat ekspresi apa yang dipasang Anthony.

"Kau berbeda. Manusia dengan indra keenam bisa melihat hal gaib seperti roh yang biasa mereka sebut hantu, tapi kau bisa melihat iblis … bahkan sayapnya yang sudah tidak ada.”

Ara terdiam. Baru kali ini dia mendengar tuannya berbicara panjang lebar.

“Bahkan makhluk yang sedang tidur di pangkuanmu itu pun, kau bisa melihatnya.”

Ara mengepalkan tangannya. Di pangkuannya memang ada makhluk kecil berbulu putih dengan tiga ekor yang sejak tadi tertidur. Dia tidak mengusirnya karena makhluk itu terlihat lucu.

“Jangan terlalu memedulikan mereka,” lanjut Anthony. “Bersikaplah seolah kau tidak melihatnya.”

“Kenapa?”

“Mereka bisa membawa kesialan.”

Ara menegang.

“Mereka mendekatimu karena kau memiliki hal istimewa dalam dirimu,” kata Anthony. “Tapi bukan berarti mereka menyukai manusia. Bagi mereka, kau hanya jembatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.”

Ara menggenggam garpunya lebih erat.

Apakah itu juga berlaku bagi Anthony?

“Soal … pengantin,” gumam Ara nyaris tak terdengar. Dia memberanikan diri untuk mengangkat kepala, tetapi kursi Anthony sudah kosong. Dan dia dibuat terkejut ketika pria itu tiba-tiba berdiri di belakangnya, lalu sebuah kalung dengan liontin sayap malaikat yang memeluk kristal biru menjuntai di depan wajahnya.

“Jangan sampai hilang,” kata Anthony sambil memasangkan kalung itu di lehernya. “Ini tanda bahwa kau milikku. Sekaligus pelindungmu.”

Ara memegang liontin itu dengan hati-hati.

“Aku memang membelimu,” lanjut Anthony, mengusap puncak kepala Ara hingga membuat gadis itu termangu. “Tapi bukan berarti aku akan memperlakukanmu seperti budak. Kau bisa bergantung padaku.”

Dada Ara terasa hangat mendengarnya. Terharu sekali rasanya.

“Lily,” panggil Anthony, dan beberapa detik kemudian pelayan wanita itu muncul dari dapur. “Kau pasti lelah. Jadi, hari ini cukup sampai di sini. Kau boleh berisitirahat." Ia menatap Ara sebelum mengalihkan pandangannya pada Lily. "Antarkan dia ke kamarnya."

Lily mengangguk patuh. Ara lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti pelayan itu menuju lantai atas.

Sepanjang perjalanan, dia diam-diam memperhatikan punggung Lily. Sejak datang ke rumah ini, pelayan itu sama sekali tidak berbicara—hanya mengangguk atau diam. Seolah-olah dia memang diciptakan hanya untuk mematuhi perintah.

Aneh sekali.

Dan entah mengapa, wajah itu terasa sangat familier. Seperti pernah dia lihat di suatu tempat, tetapi dia tidak ingat.

Apa hanya perasannya saja?

[]

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • Iblis Yang Mencintaiku    180 - Kekalahan Sang Putra Mahkota

    Juslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar,

  • Iblis Yang Mencintaiku    182 - Musnahkan Dia!

    "Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dal

  • Iblis Yang Mencintaiku    179 - Air Mata di Tengah Peperangan

    Perang demi perang kembali terjadi, telah dilakukan oleh para malaikat dan iblis, seolah hal itu memang ditakdirkan untuk saling menghancurkan. Kilatan cahaya petir menyambar langit. Guntur menggelegar tanpa henti. Awan hitam bergulung di atas kepala mereka, membuat dunia terlihat semakin suram.Di antara ribuan malaikat dan iblis yang saling bertempur, Juslandier berdiri diam. Biasanya, setiap kali Jivael turun ke medan perang, merekalah yang akan saling berhadapan karena hanya Jivael yang mampu membuatnya merasa tertantang, dan hanya Juslandier yang mampu membuat Jivael mengerahkan seluruh kemampuannya.Namun, kali ini berbeda. Jivael berada jauh darinya, target utama sang panglima Nirvana bukanlah dirinya, melainkan Jattandier. Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada satu pun malaikat yang mencoba menyerangnya."Sephael ...." Juslandier mendongak. Malaikat yang sedari tadi hanya mengamati itu perlahan turun dari langit, melayang beberapa meter di atasnya. Tatapan mereka bertemu, dan Ju

  • Iblis Yang Mencintaiku    178 - Umpan yang Tersambar

    "Juslandier!" Suara salah satu iblis menggema dari barisan pasukan Abyss.Yang dipanggil tertegun. Dia bahkan tidak menyadari bahwa namanya sedang diteriakkan hingga menggema di angkasa, pikirannya masih tenggelam di tempat lain. Masih terjebak dalam kemarahan, kehilangan, dan bayangan seseorang yang terus menghantui setiap sudut kesadarannya.Araphael.Nama itu terus muncul, dan menolak pergi. Seolah ingin mengingatkannya bahwa dirinya gagal melindungi, mempertahankan, bahkan gagal mengucapkan hal yang paling ingin dia katakan.Juslandier memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.Terima kasih, Mikhail.Meski tidak mengatakannya dengan lantang, Juslandier menyadari bahwa dirinya nyaris tenggelam dalam pikiran gelapnya sendiri, dan itu sangat berbahaya.Tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan karena lucu, melainkan karena dirinya baru menyadari betapa dekatnya dia dengan kegilaan. Seakan mengulur waktu dan tak memedulikan sang kakak serta ayahnya yang bisa mengurus diri

  • Iblis Yang Mencintaiku    177 - Wujud yang Disembunyikan

    "Apa yang kau bicarakan, Adikku? Dia sendiri yang memintanya. Dia memohon padaku untuk menodainya."Juslandier menggeram. Suara itu terdengar rendah dan kasar, lebih menyerupai raungan binatang buas daripada suara iblis. Rahangnya mengeras, giginya berderit menahan amarah. Urat-urat menonjol di pelipis dan lehernya hingga terlihat jelas di bawah kulit.Araphael tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu tanpa alasan. Dia mengenal Araphael. Jika sang malaikat sampai mengambil keputusan seperti itu, pasti ada sesuatu yang memaksanya.Dan dalam benak Juslandier, hanya ada satu pelaku. Jattandier-lah yang menyudutkannya.Tanpa peringatan, Juslandier melesat ke udara. Pedangnya membelah angin dengan kekuatan yang cukup untuk merobek ujung jubah Jattandier. Lalu, di saat yang sama, dia melemparkan pedangnya ke atas sementara dia merangsek maju membelah udara.Tentu hal tersebut membuat Jattandier tertawa melihat perjuangan adiknya yang ingin sekali memukulnya. Dia mengira sudah memahami p

  • Iblis Yang Mencintaiku    176 - Perang Saudara

    "Angkat pedangmu, Bajingan." Suara Juslandier menggema di seluruh ruangan. "Mari bertarung sampai mati."Pintu raksasa setinggi sepuluh meter yang beberapa detik lalu dia tendang masih bergetar di engselnya. Retakan menjalar di permukaannya, sementara serpihan batu berjatuhan ke lantai. Di tangan Juslandier tergenggam pedang yang telah berlumuran darah.Lebih dari dua puluh iblis mencoba menghentikannya sejak dia menerobos masuk ke kediaman Jattandier, tidak satu pun berhasil. Mereka bahkan tidak mampu memperlambat langkahnya.Sang putra mahkota Abyss benar-benar bersungguh-sungguh. Hari ini dia datang bukan untuk meminta penjelasan, bukan untuk bernegosiasi. Bukan pula untuk mencari kebenaran.Dia datang untuk berperang. Api abadi berkobar di dalam dirinya. Manik biru samudera yang biasanya tenang kini tampak gelap dan bergolak seperti lautan yang diterjang badai, dia bahkan tidak perlu repot-repot menyembunyikan kedua matanya,Sementara di hadapannya, Jattandier masih duduk santai

  • Iblis Yang Mencintaiku    135 - Saat Kata "Ibu" Menjadi Dosa

    Mereka masih mengingat hari ketika Putra Mahkota kecil itu pertama kali mengucapkan kata 'ibu', Dan senyum terang bagai bintang timur yang dulu selalu menghiasi wajah putra mahkota Abyss perlahan menghilang.Hingga akhirnya lenyap tanpa jejak.Dan sejak hari itu, tak seorang pun per

  • Iblis Yang Mencintaiku    134 - Putra Mahkota Abyss

    Juslandier Bloodfallen.Nama itu berulang kali terdengar di sepanjang lorong istana Abyss.Para iblis yang berdiri di sisi karpet merah darah segera membungkukkan tubuh ketika sosok berjubah hitam itu melintas di hadapan mereka. Tak seorang pun berani mengangkat kepala sebelum sang

  • Iblis Yang Mencintaiku    133 - Ingatan yang Tertinggal

    "Kenapa Ara tidak mengingat apa pun tentangku?"Pertanyaan itu langsung meluncur begitu Anthony menapaki anak tangga terakhir. Vance bahkan tidak memberinya waktu untuk bernapas.Anthony menghentikan langkahnya, kedua tangannya masih terbenam di dalam saku celana. Sesaat kemudian, d

  • Iblis Yang Mencintaiku    132 - Yang Tertinggal di Dalam Hati

    Sensasi hangat yang menyapu wajahnya membuat Ara menggeliat kecil di atas sofa. Perlahan kesadarannya kembali. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar di ruang tengah, mengusir sisa-sisa dingin malam yang masih tertinggal.Ara mengangkat tangan kirinya. Menatap jemari yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status