ログインDi ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.
Sejak pertama kali memasuki rumah ini, dia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya. Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua. Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Dia benar-benar disambut baik di sini. “Kau belum makan apa-apa dari kemarin. Makanlah selagi hangat,” ujar Anthony memecah keheningan. Ara menoleh pada Anthony. Memang benar perutnya sudah terasa perih karena lapar, tetapi bukankah ini sudah larut malam untuk menyantap makanan sebanyak ini? Ya, meskipun beberapa waktu lalu dia masih berada di negara yang saat itu masih pagi. Tidak ingin membuat tuannya marah, Ara lekas menyimpan mug miliknya, lalu mengambil piringnya dan mulai menyantap makanan yang disajikan untuknya. Matanya langsung berkaca-kaca ketika potongan daging itu menyentuh lidahnya. Seumur hidupnya, Ara belum pernah memakan daging. Rasanya luar biasa. Namun, rasa penasaran di kepalanya lebih kuat daripada rasa lapar. Dia diam-diam mengamati Anthony. Pria itu masih terasa misterius baginya. Di pasar gelap, orang-orang menyebutnya 'pengantin'. Peri yang tadi ditemuinya juga mengatakan hal yang sama. Belum lagi benda samar yang terbentang di punggung Anthony, mengapa benda selebar itu tidak berbenturan dengan benda di sekitarnya? Sebenarnya, siapa pria ini? Apa dia … iblis? “Sepertinya kau ingin bertanya banyak hal.” Anthony berbicara santai. “Aku akan menjawabnya, sebanyak apa pun sampai kau lelah.” Bagai mendapat jackpot sampai-sampai hampir tersedak makanannya, Ara segera menelan makannya bulat-bulat dan meletakkan garpu. “I-itu … peri yang tadi—” “Mereka Eariel,” potong Anthony sambil menopang pipinya, memandang barang yang sudah dibelinya sejenak sebelum melanjutkan, “Makhluk kecil itu pasti datang untuk menyapamu, mereka sangat suka dengan sesuatu yang baru.” “Begitu rupanya,” gumam Ara. Ternyata benar tadi dia bertemu peri, dia kira dirinya berhalusinasi. Ara sempat menunduk, menatap piringnya sebentar sebelum kembali berbicara. “Maaf kalau saya lancang—” “Sejak kemarin aku merasa terganggu dengan cara bicaramu,” sela Anthony. “Bicara santai saja.” Ara berdeham kecil, cepat-cepat mengoreksi cara bicaranya. “Kalau begitu … sebenarnya Tuan ini makhluk apa? Kuperhatikan, Tuan terlihat seperti manusia, tapi di belakang punggung Tuan—” Dia berhenti ketika melihat sudut bibir Anthony terangkat tipis. Ara langsung menunduk. “Maaf.” Mungkin pria itu mencapnya tidak sopan karena berani bertanya mengenai identitas orang yang sudah membelinya. “Aku terpukau padamu,” kata Anthony tiba-tiba, membuat Ara mengangkat kepalanya. Pria itu menumpu dagunya dengan tangan kiri, memandang Ara lekat-lekat, "Tidak ada satu pun yang bisa melihat apa yang ada di di balik punggungku, tapi kau ....” Anthony menjeda, dia melepas sarung tangan kirinya. Seekor burung gagak tiba-tiba muncul di telapak tangannya. “Kau bisa melihatnya walaupun benda itu sudah tidak ada,” lanjutnya. “Kau memang istimewa.” Ara terdiam. Tak berniat menyahuti karena dia tahu bahwa sang tuan rumah belum selesai bicara. Dan benar saja, tak lama setelahnya, penyandang nama belakang Wallenstein kembali bersuara. “Yang kau lihat itu adalah sayapku,” kata Anthony tenang. “Mereka terlihat menakutkan dengan warnanya yang hitam kelam. Aku tidak suka, jadi aku membuangnya.” Ara mengerjap tak percaya. Anthony mengatakan hal itu seolah dia hanya membuang mainan yang tidak dibutuhkan lagi, dengan mudah, dan terlihat begitu santai. Padahal, sayap itu terlihat indah. “Dan soal siapa aku .…” Anthony meliriknya bertepatan dengan hilangnya burung kematian di tangannya. “Kau sudah tahu jawabannya.” Ara menunduk sambil menggigit bibir. Benar dugaannya, Anthony J. Wallenstein adalah iblis. Tetapi sayangnya, iblis yang satu ini tidak memiliki sayap lantaran dia telah membuangnya, hanya karena warnanya. Lucu sekali. “Apa yang membuatku istimewa?” tanya Ara pelan sambil menusuk daging di piringnya. “Karena aku bisa melihat makhluk supranatural?” “Kurang lebih begitu.” Anthony menyandarkan tubuhnya. “Kau adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang memiliki keistimewaan. Karena hal itu, mereka yang tidak bisa dilihat oleh manusia dengan mata telanjang mendekatimu. Aura yang dipancarkan tiap manusia yang memiliki indra keenam itu berbeda, itulah kenapa mereka selalu dikelilingi berbagai macam hal-hal gaib. Di antara mereka, kau termasuk langka, jadi makhluk-makhluk supranatural lebih terpikat denganmu." Ara yang hendak memasukkan sepotong daging terhenti di udara mendengar penjelasan Anthony. Dia kembali meletakkan garpunya dan menatap sepatu pria itu, tak berani mendongak sekadar melihat ekspresi apa yang dipasang Anthony. "Kau berbeda. Manusia dengan indra keenam bisa melihat hal gaib seperti roh yang biasa mereka sebut hantu, tapi kau bisa melihat iblis … bahkan sayapnya yang sudah tidak ada.” Ara terdiam. Baru kali ini dia mendengar tuannya berbicara panjang lebar. “Bahkan makhluk yang sedang tidur di pangkuanmu itu pun, kau bisa melihatnya.” Ara mengepalkan tangannya. Di pangkuannya memang ada makhluk kecil berbulu putih dengan tiga ekor yang sejak tadi tertidur. Dia tidak mengusirnya karena makhluk itu terlihat lucu. “Jangan terlalu memedulikan mereka,” lanjut Anthony. “Bersikaplah seolah kau tidak melihatnya.” “Kenapa?” “Mereka bisa membawa kesialan.” Ara menegang. “Mereka mendekatimu karena kau memiliki hal istimewa dalam dirimu,” kata Anthony. “Tapi bukan berarti mereka menyukai manusia. Bagi mereka, kau hanya jembatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Ara menggenggam garpunya lebih erat. Apakah itu juga berlaku bagi Anthony? “Soal … pengantin,” gumam Ara nyaris tak terdengar. Dia memberanikan diri untuk mengangkat kepala, tetapi kursi Anthony sudah kosong. Dan dia dibuat terkejut ketika pria itu tiba-tiba berdiri di belakangnya, lalu sebuah kalung dengan liontin sayap malaikat yang memeluk kristal biru menjuntai di depan wajahnya. “Jangan sampai hilang,” kata Anthony sambil memasangkan kalung itu di lehernya. “Ini tanda bahwa kau milikku. Sekaligus pelindungmu.” Ara memegang liontin itu dengan hati-hati. “Aku memang membelimu,” lanjut Anthony, mengusap puncak kepala Ara hingga membuat gadis itu termangu. “Tapi bukan berarti aku akan memperlakukanmu seperti budak. Kau bisa bergantung padaku.” Dada Ara terasa hangat mendengarnya. Terharu sekali rasanya. “Lily,” panggil Anthony, dan beberapa detik kemudian pelayan wanita itu muncul dari dapur. “Kau pasti lelah. Jadi, hari ini cukup sampai di sini. Kau boleh berisitirahat." Ia menatap Ara sebelum mengalihkan pandangannya pada Lily. "Antarkan dia ke kamarnya." Lily mengangguk patuh. Ara lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti pelayan itu menuju lantai atas. Sepanjang perjalanan, dia diam-diam memperhatikan punggung Lily. Sejak datang ke rumah ini, pelayan itu sama sekali tidak berbicara—hanya mengangguk atau diam. Seolah-olah dia memang diciptakan hanya untuk mematuhi perintah. Aneh sekali. Dan entah mengapa, wajah itu terasa sangat familier. Seperti pernah dia lihat di suatu tempat, tetapi dia tidak ingat. Apa hanya perasannya saja? []Lorong rumah terasa begitu sunyi. Hanya suara langkah kaki Ara yang pelan menyentuh lantai kayu, disertai desir angin malam yang menyusup melalui celah jendela. Ara berjalan tanpa tujuan pasti.Yang dia inginkan hanyalah menjauh sejenak. Menjauh dari kamar. Dari rasa sesak di dadanya. Dan terutama, dari bayangan Anthony J. Wallenstein yang terus memenuhi pikirannya.Namun, baru beberapa langkah menuruni tangga, tubuhnya mendadak menegang."Ah—" Erangan lirih lolos dari bibirnya. Seketika, rasa nyeri yang tajam menusuk mata kanannya. Ara refleks mengangkat tangan dan menutup sisi wajahnya. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba. Berdenyut dan panas, menusuk hingga ke pelipis. Napasnya tercekat."A-apa ini ...."Tubuhnya sedikit limbung hingga satu tangannya harus bertumpu pada dinding. Rasa sakit itu tidak berhenti. Sebaliknya, malah semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang bergerak di balik kelopak matanya.Sesuatu yang hidup. Denyu
“Sephael.” Sosok berpakaian serba putih itu memanggil saudaranya yang tengah berjalan di tepian telaga. Bibir tebal Jivael menyunggingkan senyum ramah, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pedang perak yang masih berlumuran darah.Sosok yang dipanggil Sephael menoleh, lalu membalas dengan seulas senyum. “Jivael. Bukankah hari ini kau tidak menerima tugas apa pun dari Ayah? Kenapa pedangmu berlumuran darah seperti itu?”Helaian pirang Jivael berayun bersamaan dengan dirinya yang berdiri di samping pemegang kasta tertinggi para seraphim. Dia tertawa renyah. Dengan santai, dia melemparkan pedangnya ke telaga. Namun, air suci itu sama sekali tidak ternodai oleh darah di pedangnya.“Aku baru saja menumbangkan seekor naga yang naik ke permukaan.”“Jivael, kau memang selalu berbuat seenaknya.”“Apa? Yang kulakukan adalah perbuatan mulia.” Dia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan ke depan, membuat pedang yang sebelumnya dia lempar ki
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpikan sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Dengan kedua tangan mengepal, dia berbalik dan mengejar Anthony yang hendak menuruni tangga. Vance menggapai pundak lebar pria itu, lalu menariknya hingga langkah iblis tak bersayap tersebut terhenti. “Apa yang kau maksud dengan Ara bertemu mereka?” Sepasang mata Vance memicing saat Anthony menyingkirkan tangannya dari pundak. Dalam hati, Vance berharap semua itu tidak benar. Dia tahu, sosok yang memiliki nama Anthony J. Wallenstein bukanlah tipe yang suka bergurau. Bahkan melemparkan guyonan pun terasa mustahil bagi iblis berwajah datar itu. Namun, sesuatu dalam dirinya memaksa untuk percaya.
"Apa yang terjadi padanya?"Vance berlari mendekat begitu melihat Anthony membawa Ara yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya. Nada suaranya terdengar tajam, sarat kepanikan yang sejak tadi menyesakkan dada.Dia benar-benar khawatir.Beberapa saat lalu, Vance menyaksikan sendiri bagaimana seekor naga menculik Ara dan membawanya terbang jauh ke langit. Dia telah berlari sekuat tenaga, mengejar tanpa henti, tetapi tubuhnya tak memiliki sayap untuk menyusul makhluk terkutuk itu.Yang lebih mengusiknya adalah sesuatu yang terasa janggal. Ada bagian waktu yang seolah hilang dari ingatannya.Baru beberapa puluh detik lalu Ara dibawa pergi, dan Anthony sama sekali tidak terlihat di sana. Lalu bagaimana bisa sekarang gadis itu berada dalam pelukannya?"Apa Ara baik-baik saja?" tanya Vance lagi, langkahnya cepat mengikuti Anthony yang terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Dahi Anthony berkerut tipis. Wajahnya dingin, tetapi aura d
Sepertinya saat ini dia sedang berada di ambang kematian, atau memang dirinya sudah mati karena menyaksikan sesuatu yang indah seperti sosok bersayap itu. Jika memang benar begitu, ini adalah kematian yang cukup bagus.Saat pikiran itu terlintas, tubuh Ara hampir terhempas ke tanah. Dia melihat sosok bersayap tersebut tersenyum tipis, lalu sepasang lengan yang sangat familier menangkapnya dengan kokoh, dan memeluknya erat.Rasanya hangat dan aman.Lalu, ada suara yang memanggil namanya.Suara tuannya.Dan sesaat setelah itu, dunianya berubah putih.***“Ada keperluan apa kau di sini? Bumi bukan tempat untuk makhluk sepertimu.”Itulah kalimat pertama yang Anthony lontarkan sesaat setelah dia menyambar tubuh Ara dan menggendong Ara yang nyaris menghantam tanah.“Katakan itu pada dirimu sendiri, Juslandier Bloodfallen.”Anthony menurunkan Ara dan menyandarkannya pada batang pohon. Kedua mata Ara t
“Senjata yang kuminta, kau bisa membuatnya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Anthony sesaat setelah dia melangkah masuk ke ruangan kerja Yuuscar Vingkimanuel. Pria berkulit pucat itu mendongak dari meja kerjanya, lalu menggeleng perlahan sebelum akhirnya mengangguk ragu. Dia berjalan menuju salah satu rak penyimpanan di sudut ruangan, jemarinya menyusuri deretan botol kaca, serpihan logam, dan permata yang tersusun rapi. “Aku sedang berusaha keras membuatnya, dan masih membutuhkan beberapa bahan untuk dicampurkan.” Yuuscar menghela napas tipis. “Dan, ya, butuh waktu untuk menyelesaikannya. Kau tahu sendiri, membuat senjata seperti yang kau minta itu tidak mudah.” Anthony terdiam. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kasar. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil sebuah permata berwarna zamrud dari atas meja kerja Yuuscar, lalu berjalan menuju sofa dan mendudukkan diri di sana. Ba
Selama perjalanan kereta dari Stasiun Paddington, Ara sama sekali tidak berbicara. Dia hanya memandang ke luar jendela, menatap domba-domba yang tersebar di sepanjang bukit dan rumah-rumah batu kapur berwarna kuning madu yang berkelebat di sepanjang jalur.Anthony pun sama; pria itu memi
Ara melompat kecil saat turun dari kereta yang baru saja membawanya ke sebuah kota. Sejak keberangkatan, ia tidak banyak bertanya. Namun, begitu kakinya menjejak peron, Ara tak bisa lagi menahan keterkejutannya.London, Ara tak percaya tuannya akan membawanya ke kota yang penuh kesibukan
"Kau bisa pergi ... jika kau mau."Wajah Ara memucat, kalimat itu menghantamnya keras. Tangannya mencengkeram pakaian Anthony, gemetar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh. Kepalanya menggeleng berulang kali, sementara matanya terpejam erat."Apa Tuan i
"Anthony!" Anthony, katanya. Ara memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan. Saat itu juga, Anthony berhenti. Geramannya lenyap, tertelan oleh degup jantung Jung Ara yang berdetak begitu keras dan cepat di telinganya. Di depan sana, Mikhail memasang wajah kosong ketika sebuah tangan menyentuh punda







