Beranda / Romansa / Pelukan Hangat Tuan Presiden / 26. Seolah Nyawanya Terancam

Share

26. Seolah Nyawanya Terancam

Penulis: Adinasya Mahila
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 20:16:12
Langkah kaki Sera yang basah meninggalkan jejak-jejak air di atas lantai. Jas hitam Rendra yang tersampir di bahu Sera terasa berat karena ikut menyerap air.

Saat Rendra dan Sera mendekati tangga, Lana sudah berdiri di sana dengan wajah cemas, memegang sehelai handuk putih tebal yang masih hangat. Begitu melihat kondisi Sera, Lana segera mendekat dan menyelimuti pundak Sera, menumpuk di atas jas Rendra.

"Terima kasih, Lana," bisik Sera dengan suara sedikit bergetar karena dingin.

Rendra menghent
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
sesungguhnya Rendra curang gak sih, dia masih bisa tersenyum terhadap Sera. Lah, Sera masih di dunia gelap nya ...
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
mampusss emg enk lu Sofia.. g bsa brkata² kn lu Klo Pak Presiden yg ngmg lgs
goodnovel comment avatar
Marwah Cacabila
betul kata pak presiden gimana kinerja sofia dipertanyakan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   89. Sisi Lain Presiden

    Sera masih menatap layar ponselnya yang menggelap, saat suasana sunyi mendadak terusik oleh derit pintu yang terbuka. Rendra keluar dari dalam kamar ganti dengan langkah yang lebih santai. Ia tidak lagi mengenakan kemeja yang dikancing penuh. Matanya menangkap sosok Sera yang duduk mematung di tepi ranjang. Rendra melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Sera yang diam. "Sedang apa?" tanya Rendra singkat. Suaranya rendah, namun cukup untuk membuat Sera tersentak kecil. Sera segera meletakkan ponselnya di atas nakas, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak terbaca. "Eh... tidak sedang melakukan apa-apa, Tuan," jawabnya cepat, sedikit gugup. Rendra memerhatikan Sera sejenak sebelum bibirnya bergerak lagi. "Apa kamu mau pergi keluar?" Mata Sera membulat. "Keluar? Malam-malam begini? Ke mana?" "Mencoba memakai uang jajanmu," jawab Rendra santai, seolah mengajak pergi ke taman belakang saja. Sera mengerutkan dahi, bingung dengan maksud Rendra. Belum sempat ia me

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   88. Pengakuan Dosa Ke Suami

    Sera melangkah masuk ke ruang koas, meletakkan cup kopi latte-nya yang masih mengepulkan uap tipis di atas mejanya yang penuh dengan jurnal medis. Erika menyusul di belakang, melakukan hal yang sama dengan gerakan mantap. Di tengah ruangan, suasana tampak kontras. Beberapa anak koas lainnya terlihat asyik mengelilingi meja tengah, tangan mereka sibuk meraih potongan kue dan buah-buahan premium yang dibawa oleh Karina. Karina, yang sejak tadi berdiri sambil bersedekap, memperhatikan Sera dan Erika dengan tatapan yang tidak bersahabat. Matanya yang tajam menyoroti cup kopi di meja mereka, lalu beralih ke tumpukan stroberi Korea miliknya yang sama sekali tidak disentuh oleh kedua gadis itu. Ia mendengus, merasa kemurahhatiannya diabaikan. "Sera, Erika," suara Karina meninggi, membelah kebisingan ruang koas. Semua mata seketika tertuju padanya. "Kenapa kalian berdua tidak mau mencicipi makanan yang aku bawa? Apa makanan ini kurang cocok untuk lidah kalian?" Sera menoleh, mencob

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   87. Kartu Sakti

    Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   86. Notifikasi Kartu

    Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   85. Kejanggalan Bencana

    Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   84. Tak Sekeras Itu

    Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status