MasukMalam harinya di Istana Kepresidenan, suasana kamar utama terasa hening sebelum derit pintu memecah kesunyian. Rendra melangkah masuk seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya yang mulai kusut setelah seharian berkutat dengan urusan kenegaraan.Melihat Sera yang tengah merapikan beberapa buku kedokteran di atas meja, langkah Rendra memelan. Ia mendekat, lalu mendaratkan pelukan ringan di pundak istrinya dari belakang sembari menyandarkan dagunya sejenak."Sedang apa?" tanya Rendra dengan suara rendah yang terdengar lelah namun tenang. "Bagaimana seharian ini? Apa saja aktivitasmu?"Sera menoleh sedikit, menyunggingkan senyum lembut menyambut kepulangan sang suami. "Tadi pagi aku ke Rumah Sakit Narita. Menjemput Deo karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."Alis Rendra terangkat sebelah. "Deo sudah pulang?""Iya, lukanya sudah membaik. Malah setelah itu aku, Erika, dan Lana mengantar Deo pulang ke rumahnya," lanjut Sera seraya membalikkan tubuh menghadap Rendra. Jemarinya te
"Masih lajang?" potong Lana pelan, kepalanya tertunduk sedikit dengan raut wajah penuh penyesalan. "Sekali lagi saya minta maaf, Nona Sera. Bukan maksud saya untuk sengaja menyembunyikan hal ini dari Anda."Sera menatap lekat wajah pengawalnya itu, menanti kelanjutan kalimatnya tanpa menyela.Lana mengusap pelan punggung putrinya yang masih bersandar di bahunya. "Saya sama sekali tidak bermaksud menutupi status saya yang seorang janda. Hanya saja, hal seperti ini memang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di kalangan para pengawal Nona. Maka dari itu saya memilih diam. Saya tidak mau membahasnya lebih dulu karena untuk apa juga dibicarakan? Lagipula, status pribadi saya ini sama sekali tidak penting untuk dibahas di lingkungan kerja."Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Sera tertegun beberapa detik. Helaan napas pelan lolos dari bibirnya. Sera menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap Lana dengan sorot mata yang campur aduk antara tak habis pikir dan geli."Lana, Lana... ka
Tubuh Deo menegang sejenak mendengar pertanyaan Sera. Tangannya yang mengusap kepala anak perempuan berkuncir dua itu membeku di udara. Deo berdeham canggung, mencoba memasang senyum kaku di wajahnya sembari menarik perlahan tubuh mungil itu agar berdiri di sampingnya."Ini... keponakan saya, Nona. Anak sepupu yang kebetulan sedang main ke sini," jawab Deo cepat. Nada bicaranya terdengar terburu-buru, matanya bahkan sempat melirik sekilas ke arah Lana yang masih mematung di dekat mobil.Sera mengerutkan keningnya lebih dalam. Ia melangkah maju satu langkah, menatap gadis kecil itu dengan tatapan meneliti. Wajah anak itu tampak manis dengan mata bulat jernih, namun ada sesuatu pada garis rahang dan bentuk matanya yang terasa tidak asing di mata Sera."Keponakan?" gumam Sera ragu. Matanya menyipit menatap Deo. “Tapi anak ini sepertinya mirip ….”Deo gelagapan. Tenggorokannya tercekat, tangannya yang sehat bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.Sebelum Deo sempat mer
Setelah membersihkan diri dan berpamitan pada Rendra, Sera melangkah keluar kamar. Di pelataran istana, mobil dinas yang akan membawanya sudah terparkir rapi. Lana tampak berdiri tegap di samping pintu penumpang, segera membukakan pintu begitu melihat sang majikan mendekat."Pagi, Nona," sapa Lana sopan seraya menundukkan kepala sedikit."Pagi, Lana," balas Sera dengan senyum simpul yang masih menyisakan sisa-sisa rona hangat di wajahnya. "Kita langsung ke Rumah Sakit Narita, ya.""Baik, Nona."Perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.Setibanya di Rumah Sakit Narita, Sera melangkah santai menyusuri koridor lantai rawat inap. Aroma antiseptik yang khas menyambut indra penciumannya, mengingatkannya pada rutinitas koas yang selama ini dijalaninya.Saat berbelok di persimpangan lorong menuju kamar Deo, sosok Erika sudah terlihat melangkah keluar dari ruangan tersebut. Gadis itu mengenakan blus krem santai dengan rambut dikuncir kuda r
Kecupan Rendra mendarat lembut di bibir Sera, mula-mula hanya sapuan pelan yang menguji kepasrahan, sebelum kemudian menuntut lebih dalam. Sentuhan hangat itu merambat cepat ke seluruh aliran darah Sera, berpadu dengan efek ramuan Aki Banyu yang kian membakar kesadarannya dari dalam.Punggung Sera melengkung pasrah saat rengkuhan Rendra di pinggangnya mengerat tanpa celah. Jemari Sera yang semula kaku di bahu pria itu perlahan bergerak naik, meremas helai-helai rambut Rendra yang masih setengah basah. Desah napas tertahan lolos dari bibir Sera ketika ciuman itu beralih menyusuri rahangnya, turun memberi kecupan-kecupan ringan di lekuk lehernya yang peka."Mas..." bisik Sera serak, kepalanya terkulai ke belakang di atas lipatan lengan Rendra.Rendra mengangkat wajahnya beberapa senti, menatap kedua kelopak mata Sera yang sayu berkabut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir istrinya yang memerah basah. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sarat kepuasan."Kenapa? Mau me
Kain selimut yang menutupi wajah Sera bergerak perlahan saat jemarinya menarik ujung kain itu turun beberapa sentimeter, menyisakan sepasang matanya yang bulat mengerjap ragu menatap Rendra. Pria itu sudah mengenakan celana tidur panjang abu-abu, duduk bersandar di kepala ranjang dengan handuk kecil yang kini tergeletak di samping bantal."Kamu sakit?" tanya Rendra heran seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Punggung tangannya terulur hendak menempel di kening Sera.Sera sontak menggeleng pelan, namun tidak menghindar saat kulit dingin tangan Rendra bersentuhan dengan dahinya. Sentuhan itu justru membuat pipi Sera terasa makin terbakar."Tidak, Mas. Aku tidak demam," cicit Sera dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru pendingin ruangan.Rendra menarik kembali tangannya, menatap lekat ekspresi istrinya yang tampak serba salah. "Lalu kenapa wajahmu merah sekali? Di dalam selimut pengap, Sera."Alih-alih menyingkirkan selimutnya, Sera justru menarik napas dalam-dalam. Efek ramuan d







