แชร์

Membuka Sedikit Rahasia

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-14 08:31:52
Eyang Utari tersenyum simpul, matanya yang bijak menatap hangat Sera yang kaget mendengar ucapan Rendra. Ia menepuk sisi kursi di dekatnya, memberi isyarat agar Sera duduk lebih dekat.

Mereka kemudian terlibat dalam obrolan ringan, tentang tanaman di taman mansion hingga cerita-cerita masa kecil Rendra yang membuat Sera sesekali tertawa kecil, sementara pria di sampingnya itu hanya bisa berdehem canggung.

Namun, ketajaman insting Rendra tidak bisa dibohongi. Ia menyadari gurat kelelahan di s
Adinasya Mahila

Like & komen ya ❤️❤️ geng aku bikin igeh khusus Iraya, nanti di sana aku bakal kasih liat dunianya Rendra Sera. Difollow ya 🙏 nama igehnya : Iraya_Universe mamacih

| 34
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (14)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
kannn bnr dr dlu udh pd ska tp knp Klian msh tkut bt ungkapin ny sih?? Klo kek gni trs Klian g bkal bsa bhgia
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Gak usah takut Rendra ,kamu harus jujur tentang perasaanmu ke Sera ,karena kalian punya rasa suka yg sama
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Ternyata Rendra pun dari lama suka sama Sera dan eyang Utari tau itu ,berarti sama dong dgn Sera punya perasaan yg sama
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Jangan Masuk Jebakan

    Sera melangkah maju dua langkah, lalu meraih lengan kemeja Rendra yang hendak mengambil ponsel di atas meja. Tarikan lembut di lengannya membuat Rendra seketika menghentikan gerakan dan menoleh. "Jangan, Mas," kata Sera seraya menggelengkan kepala. Napasnya kini jauh lebih teratur, meski sisa air mata masih mengering di sudut pipinya. "Jangan temui dia." Dahi Rendra berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan. "Kenapa? Tadi kamu menangis sampai seperti ini karena omongannya, Sera. Kita harus datangi dia dan selesaikan semuanya biar wanita itu tidak semena-mena." "Karena kalau Mas menemuinya sekarang, Sofia justru mendapatkan apa yang dia inginkan," sahut Sera mantap. Tangannya beralih menggenggam jemari suaminya yang masih terasa tegang. "Tadi Mas sendiri yang bilang kan? Dia sengaja melempar cerita bohong itu padaku supaya Mas mau membuka pintu dan bicara lagi dengannya. Kalau Mas datang, rencananya berhasil. Aku tidak mau Mas masuk ke dalam perangkapnya." Rendra menatap

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Fitnah Murahan

    Kedua tangan Sera terkepal di sisi tubuhnya, gemetar menahan gejolak di dada. Ia menarik napas pendek-pendek seraya menatap lurus ke dalam manik mata Rendra yang tampak begitu bingung. "Sofia menemuiku di restoran," ucap Sera, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dia bilang... kalian berdua punya masa lalu yang Mas sembunyikan dariku." Kerutan di dahi Rendra semakin dalam. "Sofia menemuimu?" "Dia bilang, kalau bukan karena kutukan Iraya, kalian berdua pasti sudah bersama sampai sekarang," lanjut Sera seraya menyeka kasar air mata yang kembali lolos menuruni pipinya. Sera menelan ludah, dadanya sesak saat harus mengulang kalimat itu. "Dan dia bilang... Mas dan Sofia punya anak." Pupil mata Rendra melebar sempurna. Tubuh tegapnya menegang kaku di tempat. Keheningan pekat seketika menyergap ruangan luas itu selama beberapa detik. Udara di sekitar mereka seolah tersedot habis. "Sofia bilang apa?!" suara bariton Rendra meninggi, matanya membelalak tak percaya. "Dia bilang kali

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Marah dan Cemburu

    Pupil mata Sera melebar seketika. Gelas kaca di dekat tangannya hampir saja tersenggol sikut saat tubuhnya menegang kaku di kursi. Dadanya bergemuruh hebat, mencerna setiap kata yang baru saja terlontar dari bibir Sofia. "Mana mungkin..." bisik Sera seraya menggelengkan kepala pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kamu mengada-ada." Sofia tertawa remeh, melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya santai. "Mengada-ada katamu? Kamu pikir aku sejauh ini datang cuma untuk membuat lelucon murahan?" Sera mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha mati-matian meredam getaran di jemarinya. "Mas Rendra tidak mungkin menyembunyikan hal sebesar itu." "Rendra pintar menjaga citranya, Sera. Dan kamu terlalu naif untuk melihat apa yang ada di balik topeng kesempurnaannya," sahut Sofia dengan senyum tipis yang memuakkan. Tatapannya menatap lurus ke arah Sera tanpa berkedip. "Kalau saja tidak ada mitos kutukan sialan itu, aku dan Rendra pasti sudah bersama s

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Punya Anak

    Dentang halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar dari meja sudut restoran bernuansa modern itu. Sera menyesap jus jeruknya perlahan, sementara di hadapannya, Erika sedang sibuk memotong daging steik seraya bercerita panjang lebar tentang rencananya setelah wisuda. "Pokoknya aku bersyukur sudah berhasil melewati semua ini," celoteh Erika seraya menyuapkan potongan daging ke mulutnya. Sera tersenyum simpul, meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. "Aku juga sangat bersyukur." "Tidak sia-sia kita belajar dan begadang berhari-hari—" Kalimat Erika terhenti saat ponsel Sera yang tergeletak di samping piring mendadak bergetar panjang. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah nomor yang sudah lama tidak menghubunginya lengkap dengan notifikasi pesan singkat yang masuk. Dahi Sera berkerut halus. Ia mengulurkan tangan, membuka kunci layar, dan membaca pesan tersebut. [ Aku ingin bertemu denganmu hari ini ] Mata Sera sedikit membelalak. Nama mantan juru bicar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Amarah Sofia

    Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Udara di sekitar mereka seolah mendadak membeku. Sofia menatap wanita muda di hadapannya dengan mata membelalak, pupil matanya menyempit karena rasa syok yang luar biasa."Apa kamu bilang?" suara Sofia terdengar mendesis, sangat rendah namun bergetar. "Ulangi kalimatmu."Asistennya meremas tabletnya lebih kuat, napasnya memburu pelan karena ketakutan. "Ajudan Pak Rendra menyampaikan bahwa agenda Presiden hari ini sangat padat. Mereka mengatakan... Pak Rendra tidak bisa meluangkan waktu untuk pertemuan informal di luar jadwal kenegaraan. Dan pihak istana tidak memberikan alternatif jadwal lain, Bu."Sofia tetap membisu selama beberapa detik, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan. Otaknya berusaha menolak kenyataan bahwa seseorang yang pernah menjadi mitranya—seseorang yang ia yakini tidak akan berani menutup pintu padanya—baru saja mengabaikan permintaannya seolah-olah ia bukan siapa-siapa."Tidak mungkin," gumam Sofia, suaranya berget

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Jawaban Rendra

    Sementara itu, di kompleks istana kepresidenan, suasana ruang kerja tampak begitu tenang. Suara ketukan ujung pulpen di atas berkas kenegaraan beradu dengan desing pendingin ruangan yang nyaris tak terdengar.Ketukan dua kali di pintu menghentikan gerakan tangan Rendra. Pria itu mengangkat pandangannya dari map laporan anggaran."Masuk," ucap Rendra singkat.Pintu terbuka pelan. Evan melangkah masuk dengan langkah cepat namun tetap teratur. Di tangannya, pria itu memegang sebuah map tipis dan ponsel dinas yang masih menyala layarnya. Evan berhenti tepat dua langkah di depan meja kerja, membungkuk memberi salam."Selamat siang, Pak."Rendra meletakkan pulpennya ke atas tatakan. "Ada laporan mendesak?"Evan melirik layar ponselnya sebelum kembali menatap Rendra. "Baru saja asisten pribadi Ibu Sofia menghubungi protokoler kesekretariatan, Pak. Dia meminta jadwal pertemuan pribadi antara Anda dan Bu Sofia hari ini."Alis Rendra tidak bergerak sedikit pun. Sorot matanya tetap datar, tanpa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status