Share

Menjadi Pendengarmu

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-11 13:00:33

Hening seketika menyergap ke dalam kamar. Rendra tidak langsung menyahut, ia hanya terus memandangi sepasang manik mata Sera dengan tatapan yang mendadak terkunci.

Sera menanti selama beberapa detik, namun bibir Rendra masih saja terkatup rapat. Rasa penasaran di dalam dada Sera kian membubung tinggi. Ia memajukan wajahnya sedikit, menelisik setiap gurat halus di dahi suaminya yang tampak mengeras.

"Terjadi sesuatu yang sangat serius kah, Mas?" selidik Sera lagi, mengulangi pertanyaannya dengan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (13)
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
owalah,, ternyata evan itu sodara jauh pak wapres to??pantes sofia bilang ke rendra harus hati² pada evan,,tapi kayaknya yang dicurigai itu sofia deh bukan evan,,
goodnovel comment avatar
Wida
knp AQ yakin KLO sofialah yg wajib di curigai BKN evan
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
selidiki semuany pelan2 y ser breng2
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mereka Pacaran

    "Tentu saja," jawab Rendra mantap tanpa ada nada ragu sedikit pun di suaranya. Alisnya terangkat sebelah, mengamati raut wajah Sera yang masih tegang. "Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya?"Sera terdiam. Tatapannya tertunduk ke arah seprai ranjang, jari-jemarinya tanpa sadar saling bertaut di atas pangkuan.Rendra memperhatikan gerak-gerik itu dalam diam. Pria itu sedikit memiringkan kepala, seolah bisa membaca gundah dan keraguan yang tertahan di balik kebungkaman sang istri."Aku masih ingin mengambil kuliah spesialis, Mas," ungkap Sera lirih. Ia mengangkat wajahnya perlahan, mencoba membaca ekspresi Rendra. "Tapi kalau memang hasilnya nanti aku hamil, aku juga sama sekali tidak masalah."Rendra mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya yang hangat menempel di pipi Sera, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi wanita itu. "Kita jalani saja semuanya," ucap Rendra tenang, nada bicaranya begitu menenangkan. "Aku akan selalu ada untukmu, bagaimanapun situasinya nanti."Sentuhan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Sekantong Tespek

    Pengakuan Ara terasa bagai hantaman tak kasat mata di dada Sera. Matanya membulat sempurna, tertegun di tempatnya menatap sang adik yang kini kian menciutkan bahu. Napas Sera tercekat beberapa detik sebelum akhirnya ia membuangnya kasar lewat mulut. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya, membiarkan tubuhnya bersandar lemas seraya memijat pelipis yang mendadak berdenyut nyeri."Jangan bilang apa-apa ke Arkan," bisik Sera dengan suara bergetar tertahan. Matanya menatap lekat kedua manik mata Ara. "Rahasiakan pertemuan kita ini dari dia, ya, Ra? Jangan sampai Arkan tahu Mbak menanyakan hal ini ke kamu."Ara buru-buru mengangguk patuh. Namun, kerutan di kening gadis remaja itu makin dalam. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap kakaknya ragu-ragu. "Mbak... apa kalau Kak Arkan pacaran dengan Kak Ratu, itu akan menimbulkan masalah besar?"Sera menggeleng pelan. Sorot matanya meredup, menyiratkan beban berat yang selama ini ia pikul sendirian. "Bukan begitu, Ra..." Sera

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menanyakan Hubungan

    "Entahlah. Untuk itu aku mau mencari tahu ke Ara, semoga dia tahu," jawab Sera pelan, membalas tatapan cemas Erika.Erika mengangguk-angguk paham seraya merapatkan bibir. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menarik lengan Sera, menuntun langkah mereka membelah koridor yang mulai dipadati keluarga pasien menuju arah apotik rumah sakit.Namun, tepat beberapa langkah sebelum meja antrean apotik, langkah Erika mendadak tersendat. Ia menoleh cepat ke arah loket yang dijaga dua staf farmasi dan beberapa perawat yang berdiri menunggu obat. Keraguan seketika tergambar jelas di raut wajahnya. Erika menarik tubuh Sera lebih mendekat ke sisinya, lalu berbisik pelan tepat di telinga temannya itu."Kalau ada yang menyadari kamu membeli tespek, nanti bisa jadi gosip besar," bisik Erika cemas seraya melirik beberapa rekan koas lain yang tampak melintas tak jauh dari sana.Sera menghela napas tipis, ikut memperhatikan situasi sekitar. "Lalu bagaimana?"Erika menepuk dadanya pelan dengan dagu terang

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Hamil?

    Sera langsung berdiri. Kursinya berderit keras bergeser ke belakang saat kedua lututnya terhentak maju. Tanpa sepatah kata pun terucap dari bibir yang dibekap erat, Sera menundukkan kepala sekilas ke arah para penghuni meja makan, lalu berbalik setengah berlari menuju lorong kamar mandi terdekat.Denting alat makan seketika lenyap. Semua orang di meja makan mematung dengan mata terbelalak menatap punggung Sera yang menghilang di balik belokan lorong.Namun, air muka Eyang Utari justru berubah drastis. Kerutan di wajah tua itu tertarik ke atas, menampakkan binar cerah yang belum pernah terlihat sepanjang pagi ini."Jangan-jangan Sera hamil!" seru Eyang Utari, suaranya terdengar lantang dan bersemangat di ruang makan yang mendadak hening.Rendra terkesiap. Tubuhnya tersentak kaku mendengar ucapan sang nenek. Tanpa berpikir panjang, ia segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menyusul Sera.Di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara gemericik air keran terdengar deras

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Makan Pagi Di Mansion

    Eyang Utari tidak melewatkan perubahan gerak-gerik Sera. Sorot mata wanita tua itu berubah tajam saat memperhatikan ekspresi Sera."Ada apa, Sera? Apa Sintia membuatmu merasa tidak nyaman lagi?" tanya Eyang Utari langsung, intonasi suaranya mendatar.Sera tersentak pelan. Buru-buru ia menggeleng dan berusaha tersenyum senormal mungkin. "Tidak kok, Eyang. Tidak ada apa-apa."Eyang Utari mendengus pelan, menepuk kasur di sampingnya. "Kamu tidak bisa menutupi itu dari Eyang, Sera. Sintia itu memang susah sekali dibilangi. Hatinya sekeras batu."Sebelum Sera atau Rendra sempat merespons, Eyang Utari sudah menyingkap selimut tebal yang menutupi kakinya. Kedua kakinya diturunkan ke lantai berkarpet tebal, lalu ia menumpukan tangannya di tepi kasur untuk bersiap berdiri."Eyang?" Rendra terkesiap, bergerak sigap memegangi lengan neneknya. "Mau apa?""Ayo, kita ke ruang makan bersama," titah Eyang Utari mantap seraya menegakkan punggungnya perlahan.Sera ikut bangkit berdiri dari duduknya deng

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Asal Ada Kamu

    Rendra tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk lengkungan tipis. Matanya yang semula redup kini memancarkan binar jenaka."Kalau begitu, bagaimana kalau kita lebih berusaha agar Eyang segera punya cicit?" bisik Rendra seraya mencondongkan tubuhnya ke Sera.Mata Sera membulat sempurna. Pipinya langsung memanas mendengar penuturan tanpa aba-aba itu. Rasa terkejut bercampur malu membuat tangannya mengepal ringan, lalu melayangkan pukulan pelan ke dada bidang suaminya."Mas Rendra!" semprot Sera tertahan.Pukulan itu sama sekali tidak membuat Rendra meringis, tapi justru tertawa renyah hingga bahunya berguncang. Suara tawa Rendra terdengar lepas, memecah ketegangan yang sejak tadi membungkus kamar. Tangan Rendra bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Sera yang hendak melayangkan pukulan berikutnya, menggenggam jemari mungil itu lalu membawanya turun."Bercanda sedikit," ucap Rendra, tawanya mereda menjadi senyum hangat. Ia mengusap punggung tangan Sera de

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status