MasukSementara itu di kediaman sang ayah, jemari Sera tampak gemetar tipis di atas layar ponsel.Tanpa membuang waktu, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan kalimat dengan terburu-buru.[Mas, aku mencurigai salah satu pengawal yang menjaga rumah Ayah. Dia menepi ke pilar dan membalas pesan dengan raut tegang saat wartawan menyerbu ke sini. Aku sempat mengambil foto dan videonya.]Sera menekan tombol kirim. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding di samping jendela, menatap layar yang masih menunjukkan status kirim. Menit demi menit terasa berjalan amat lambat. Dadanya bergemuruh, membayangkan kemungkinan buruk jika ada penyusup di antara orang-orang yang seharusnya melindungi keluarganya.[Aku akan minta Evan menyelidikinya sekarang] balasan dari Rendra akhirnya masuk.Sera mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Jemarinya baru saja hendak bergerak mengetik balasan, namun sebuah notifikasi pesan baru dari Rendra kembali menyambar layar.[Aku akan melakukan konferensi
Di luar pagar rumah Angga, puluhan wartawan berlomba-lomba menerjang maju, menodongkan kamera dan mikrofon, menciptakan suara riuh yang saling tumpang tindih.Kilatan cahaya putih dari lampu kilat kamera menyambar-nyambar dengan beringas, menembus kaca jendela ruang tamu. Puluhan orang dengan kamera besar dan mikrofon di tangan tampak saling dorong, mendesak maju berusaha merobohkan barikade para pengawal yang berjaga.Sera menarik pelan ujung gorden, menyisakan celah sempit untuk mengintip ke halaman depan. Di belakang bahunya, Angga dan Siwi merapat, ikut melemparkan pandangan cemas ke luar kaca jendela.Mata Sera menyapu barisan pengawal yang berjejer menahan dorongan pagar. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada satu sosok penjaga. Pria berseragam gelap yang memang ia tahu ditugaskan khusus untuk menjaga rumah ayahnya itu justru mengambil langkah mundur perlahan.Pria itu menepi ke dekat pilar, kepalanya menunduk, sementara sebelah tangannya merogoh saku celana. Sebuah ponsel ditarik
Mata Sera seketika membelalak lebar. Rasa kantuknya terbang seketika ditelan rasa malu yang mendadak menyerbu seluruh wajahnya. Pipinya kembali memanas hebat."Tidak, Mas!" seru Sera panik seraya menggelengkan kepalanya cepat-cepat di dada Rendra, menenggelamkan wajahnya rapat-rapat di sana agar Rendra tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. "Tidak hari ini! Aku harus cek dulu apa saja komposisi ramuan itu sebelum asal meminumnya!"Rendra tak mampu lagi menahan tawa. Suara tawa nyaringnya pecah di dalam kamar, membuat dadanya naik turun dan menggetarkan kepala Sera yang menempel di sana. Sera memukul pelan dada Rendra dengan jemarinya yang mengepal, makin malu setengah mati."Mas Rendra! Berhenti tertawa!" bisik Sera kesal bercampur malu, semakin mengeratkan pelukannya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.Hari berikutnyaSinar matahari pagi sudah menembus celah gorden saat Sera melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Tangannya membawa nampan berisi sarapan seadanya
Rendra memajukan langkahnya hingga jarak di antara dirinya dan Sera terkikis habis. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut jemari Sera yang memegang telepon, lalu mengambil alih ponsel tersebut dari telinga istrinya.Rendra mengikis jarak ponsel ke mulutnya. "Erika, aku matikan teleponnya," ucap Rendra tegas namun tenang.Sebelum Erika sempat melayangkan protes di seberang sana, Rendra langsung menggeser ikon merah di layar, memutus sambungan telepon secara sepihak, lalu memberikan ponsel itu ke Sera.Sera menatap Rendra dengan kening berkerut dalam. Napasnya masih agak memburu akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya reda."Mas…"Rendra menghela napas pendek. Pandangannya lurus menatap mata Sera yang memancar penuh tanya. "Aku sudah tahu berita itu sejak tadi," akunya jujur. "Tapi aku memang memilih untuk diam dan tidak memberitahumu."Mata Sera membelalak. Ia menegakkan posisi duduknya di tepi ranjang. "Kenapa Mas melakukan itu?
"Itu ramuan herbal yang kubuat sendiri," jawab Aki Banyu santai. Ia menunjuk wajah Sera dengan dagunya. "Aku lihat tubuhmu itu lemah. Minum itu secara teratur, dan kalian akan punya banyak anak." Sera membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar menatap ramuan di tangannya, lalu beralih menatap Aki Banyu dengan mulut sedikit terbuka. Dalam hitungan detik, warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga memenuhi kedua pipinya. "A-Aki..." bisik Sera gagap, benar-benar kehilangan kata-kata karena rasa malu yang mendadak menyerbunya. Berbeda dengan Sera yang hampir tenggelam dalam rasa malu, Rendra justru terkekeh nyaring. Suara tawa lepas pria itu memecah keheningan area belakang pondok. Rendra merangkul bahu Sera pelan, menarik istrinya sedikit mendekat. "Terima kasih banyak, Aki," ujar Rendra setelah tawanya mereda. Menatap pria tua di hadapannya dengan raut penuh kesungguhan, Rendra melanjutkan, "Aki harus tetap sehat-sehat di sini. Aki harus melihat sendiri bagaimana aku
Bisikan Rendra yang begitu dekat dengan telinganya membuat napas Sera tertahan seketika. Sensasi hangat napas pria itu menyentuh kulit lehernya, meninggalkan sengatan halus yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Sera refleks melangkah mundur, menepuk dada Rendra dengan cukup keras untuk menutupi getar di dadanya. "Mas Rendra!" bisik Sera setengah memekik. Matanya membelalak menatap wajah Rendra yang justru tampak amat menikmati reaksinya. Rendra terkekeh pelan. Senyum tipis masih terpampang di bibirnya saat ia memiringkan kepala, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kenapa? Nasihat Aki Banyu tadi sangat masuk akal, bukan?" "Bukan begitu maksudnya..." Sera mengibaskan tangannya di udara, sama sekali tak berani menatap mata suaminya. Wajahnya terasa panas membakar. Tanpa menunggu balasan Rendra, Sera memutar tubuhnya cepat dan melangkah lebar-lebar menuruni jalan yang remang. "Sera, tunggu," panggil Rendra dari belakang, suara tawanya masih terdengar samar di antara derap la







