LOGINEyang Utari tidak melewatkan perubahan gerak-gerik Sera. Sorot mata wanita tua itu berubah tajam saat memperhatikan ekspresi Sera."Ada apa, Sera? Apa Sintia membuatmu merasa tidak nyaman lagi?" tanya Eyang Utari langsung, intonasi suaranya mendatar.Sera tersentak pelan. Buru-buru ia menggeleng dan berusaha tersenyum senormal mungkin. "Tidak kok, Eyang. Tidak ada apa-apa."Eyang Utari mendengus pelan, menepuk kasur di sampingnya. "Kamu tidak bisa menutupi itu dari Eyang, Sera. Sintia itu memang susah sekali dibilangi. Hatinya sekeras batu."Sebelum Sera atau Rendra sempat merespons, Eyang Utari sudah menyingkap selimut tebal yang menutupi kakinya. Kedua kakinya diturunkan ke lantai berkarpet tebal, lalu ia menumpukan tangannya di tepi kasur untuk bersiap berdiri."Eyang?" Rendra terkesiap, bergerak sigap memegangi lengan neneknya. "Mau apa?""Ayo, kita ke ruang makan bersama," titah Eyang Utari mantap seraya menegakkan punggungnya perlahan.Sera ikut bangkit berdiri dari duduknya den
Rendra tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk lengkungan tipis. Matanya yang semula redup kini memancarkan binar jenaka."Kalau begitu, bagaimana kalau kita lebih berusaha agar Eyang segera punya cicit?" bisik Rendra seraya mencondongkan tubuhnya ke Sera.Mata Sera membulat sempurna. Pipinya langsung memanas mendengar penuturan tanpa aba-aba itu. Rasa terkejut bercampur malu membuat tangannya mengepal ringan, lalu melayangkan pukulan pelan ke dada bidang suaminya."Mas Rendra!" semprot Sera tertahan.Pukulan itu sama sekali tidak membuat Rendra meringis, tapi justru tertawa renyah hingga bahunya berguncang. Suara tawa Rendra terdengar lepas, memecah ketegangan yang sejak tadi membungkus kamar. Tangan Rendra bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Sera yang hendak melayangkan pukulan berikutnya, menggenggam jemari mungil itu lalu membawanya turun."Bercanda sedikit," ucap Rendra, tawanya mereda menjadi senyum hangat. Ia mengusap punggung tangan Sera de
Sera menelan ludah pelan. Udara di ruang keluarga itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Jari-jemari Sera yang bertaut di atas pangkuan mencengkeram semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menyalurkan rasa kejut yang baru saja menghantam dadanya.Rendra di sebelahnya langsung menggeser posisi duduk. Bahu tegap pria itu menegang. Tatapannya beralih dari Sera menuju wanita paruh baya di seberang meja kaca."Ma," panggil Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi ada penekanan berat di setiap katanya. Matanya menatap lurus ke arah Sintia. "Sera hanya bertanya. Dia khawatir pada Eyang."Sintia perlahan mengangkat dagunya. Tangan kirinya bergerak merapikan lipatan gaun yang ia kenakan dengan gerakan lambat dan teratur, seakan ucapan putranya barusan hanyalah angin lalu."Mama juga hanya menjawab, Ren. Mama bilang Eyang sedang istirahat, dan kedatangannya hanya akan mengganggu. Apa ada yang salah dengan jawaban Mama?"Rendra membuka mulut, bersiap membalas ucapan ibunya, namun Sera
"... Arkan."Kening Sera berkerut dalam. Langkah kakinya otomatis terhenti begitu nama itu tertangkap oleh telinganya. Napasnya tertahan sesaat. Berbagai pertanyaan seketika berjejalan di dalam kepalanya. Kenapa Ratu menyebutkan nama Arkan? Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua sampai Ratu harus menelepon Arkan malam-malam begini?Ujung jemari Sera meremas pelan sisi bajunya. Apakah Arkan yang dimaksud adalah adiknya?Namun, sedetik kemudian Sera menggeleng pelan. Ia berusaha menepis jauh-jauh pikiran itu. Nama Arkan tidak hanya satu di dunia ini. Pasti ada banyak orang yang bernama Arkan selain adiknya. Tidak mungkin Ratu memiliki urusan dengan adiknya malam-malam begini.Memutuskan untuk tidak mempedulikan pembicaraan itu lebih jauh, Sera memutar tumitnya perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia bergegas meninggalkan area taman pembatas itu, melangkah masuk kembali ke dalam rumah.Baru beberapa langkah melewati lorong yang terang, Sera melihat Rendra berdiri di ruang depan deng
Malam harinya di Istana Kepresidenan, suasana kamar utama terasa hening sebelum derit pintu memecah kesunyian. Rendra melangkah masuk seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya yang mulai kusut setelah seharian berkutat dengan urusan kenegaraan.Melihat Sera yang tengah merapikan beberapa buku kedokteran di atas meja, langkah Rendra memelan. Ia mendekat, lalu mendaratkan pelukan ringan di pundak istrinya dari belakang sembari menyandarkan dagunya sejenak."Sedang apa?" tanya Rendra dengan suara rendah yang terdengar lelah namun tenang. "Bagaimana seharian ini? Apa saja aktivitasmu?"Sera menoleh sedikit, menyunggingkan senyum lembut menyambut kepulangan sang suami. "Tadi pagi aku ke Rumah Sakit Narita. Menjemput Deo karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."Alis Rendra terangkat sebelah. "Deo sudah pulang?""Iya, lukanya sudah membaik. Malah setelah itu aku, Erika, dan Lana mengantar Deo pulang ke rumahnya," lanjut Sera seraya membalikkan tubuh menghadap Rendra. Jemarinya te
"Masih lajang?" potong Lana pelan, kepalanya tertunduk sedikit dengan raut wajah penuh penyesalan. "Sekali lagi saya minta maaf, Nona Sera. Bukan maksud saya untuk sengaja menyembunyikan hal ini dari Anda."Sera menatap lekat wajah pengawalnya itu, menanti kelanjutan kalimatnya tanpa menyela.Lana mengusap pelan punggung putrinya yang masih bersandar di bahunya. "Saya sama sekali tidak bermaksud menutupi status saya yang seorang janda. Hanya saja, hal seperti ini memang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di kalangan para pengawal Nona. Maka dari itu saya memilih diam. Saya tidak mau membahasnya lebih dulu karena untuk apa juga dibicarakan? Lagipula, status pribadi saya ini sama sekali tidak penting untuk dibahas di lingkungan kerja."Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Sera tertegun beberapa detik. Helaan napas pelan lolos dari bibirnya. Sera menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap Lana dengan sorot mata yang campur aduk antara tak habis pikir dan geli."Lana, Lana... ka







