Share

Menanyakan Hubungan

last update publish date: 2026-10-02 15:10:28

"Entahlah. Untuk itu aku mau mencari tahu ke Ara, semoga dia tahu," jawab Sera pelan, membalas tatapan cemas Erika.

Erika mengangguk-angguk paham seraya merapatkan bibir. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menarik lengan Sera, menuntun langkah mereka membelah koridor yang mulai dipadati keluarga pasien menuju arah apotik rumah sakit.

Namun, tepat beberapa langkah sebelum meja antrean apotik, langkah Erika mendadak tersendat. Ia menoleh cepat ke arah loket yang dijaga dua staf farmasi dan beb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Dinar kasih 1205
wees semua anak sintia suka anak pak angga
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Wah... ternyata Arkan sama Ratu benaran ada hubungan, rumit ini, nanti keluarga Sera dituduh sengaja dekatin kelurga ratu karena punya kekuasaan 🫣🫣🫣🫣🫣
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih up nya kk 🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷🪻🪻🪻🪻
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menanyakan Hubungan

    "Entahlah. Untuk itu aku mau mencari tahu ke Ara, semoga dia tahu," jawab Sera pelan, membalas tatapan cemas Erika.Erika mengangguk-angguk paham seraya merapatkan bibir. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menarik lengan Sera, menuntun langkah mereka membelah koridor yang mulai dipadati keluarga pasien menuju arah apotik rumah sakit.Namun, tepat beberapa langkah sebelum meja antrean apotik, langkah Erika mendadak tersendat. Ia menoleh cepat ke arah loket yang dijaga dua staf farmasi dan beberapa perawat yang berdiri menunggu obat. Keraguan seketika tergambar jelas di raut wajahnya. Erika menarik tubuh Sera lebih mendekat ke sisinya, lalu berbisik pelan tepat di telinga temannya itu."Kalau ada yang menyadari kamu membeli tespek, nanti bisa jadi gosip besar," bisik Erika cemas seraya melirik beberapa rekan koas lain yang tampak melintas tak jauh dari sana.Sera menghela napas tipis, ikut memperhatikan situasi sekitar. "Lalu bagaimana?"Erika menepuk dadanya pelan dengan dagu terang

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Hamil?

    Sera langsung berdiri. Kursinya berderit keras bergeser ke belakang saat kedua lututnya terhentak maju. Tanpa sepatah kata pun terucap dari bibir yang dibekap erat, Sera menundukkan kepala sekilas ke arah para penghuni meja makan, lalu berbalik setengah berlari menuju lorong kamar mandi terdekat.Denting alat makan seketika lenyap. Semua orang di meja makan mematung dengan mata terbelalak menatap punggung Sera yang menghilang di balik belokan lorong.Namun, air muka Eyang Utari justru berubah drastis. Kerutan di wajah tua itu tertarik ke atas, menampakkan binar cerah yang belum pernah terlihat sepanjang pagi ini."Jangan-jangan Sera hamil!" seru Eyang Utari, suaranya terdengar lantang dan bersemangat di ruang makan yang mendadak hening.Rendra terkesiap. Tubuhnya tersentak kaku mendengar ucapan sang nenek. Tanpa berpikir panjang, ia segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menyusul Sera.Di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara gemericik air keran terdengar deras

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Makan Pagi Di Mansion

    Eyang Utari tidak melewatkan perubahan gerak-gerik Sera. Sorot mata wanita tua itu berubah tajam saat memperhatikan ekspresi Sera."Ada apa, Sera? Apa Sintia membuatmu merasa tidak nyaman lagi?" tanya Eyang Utari langsung, intonasi suaranya mendatar.Sera tersentak pelan. Buru-buru ia menggeleng dan berusaha tersenyum senormal mungkin. "Tidak kok, Eyang. Tidak ada apa-apa."Eyang Utari mendengus pelan, menepuk kasur di sampingnya. "Kamu tidak bisa menutupi itu dari Eyang, Sera. Sintia itu memang susah sekali dibilangi. Hatinya sekeras batu."Sebelum Sera atau Rendra sempat merespons, Eyang Utari sudah menyingkap selimut tebal yang menutupi kakinya. Kedua kakinya diturunkan ke lantai berkarpet tebal, lalu ia menumpukan tangannya di tepi kasur untuk bersiap berdiri."Eyang?" Rendra terkesiap, bergerak sigap memegangi lengan neneknya. "Mau apa?""Ayo, kita ke ruang makan bersama," titah Eyang Utari mantap seraya menegakkan punggungnya perlahan.Sera ikut bangkit berdiri dari duduknya deng

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Asal Ada Kamu

    Rendra tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk lengkungan tipis. Matanya yang semula redup kini memancarkan binar jenaka."Kalau begitu, bagaimana kalau kita lebih berusaha agar Eyang segera punya cicit?" bisik Rendra seraya mencondongkan tubuhnya ke Sera.Mata Sera membulat sempurna. Pipinya langsung memanas mendengar penuturan tanpa aba-aba itu. Rasa terkejut bercampur malu membuat tangannya mengepal ringan, lalu melayangkan pukulan pelan ke dada bidang suaminya."Mas Rendra!" semprot Sera tertahan.Pukulan itu sama sekali tidak membuat Rendra meringis, tapi justru tertawa renyah hingga bahunya berguncang. Suara tawa Rendra terdengar lepas, memecah ketegangan yang sejak tadi membungkus kamar. Tangan Rendra bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Sera yang hendak melayangkan pukulan berikutnya, menggenggam jemari mungil itu lalu membawanya turun."Bercanda sedikit," ucap Rendra, tawanya mereda menjadi senyum hangat. Ia mengusap punggung tangan Sera de

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Nyaman

    Sera menelan ludah pelan. Udara di ruang keluarga itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Jari-jemari Sera yang bertaut di atas pangkuan mencengkeram semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menyalurkan rasa kejut yang baru saja menghantam dadanya.Rendra di sebelahnya langsung menggeser posisi duduk. Bahu tegap pria itu menegang. Tatapannya beralih dari Sera menuju wanita paruh baya di seberang meja kaca."Ma," panggil Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi ada penekanan berat di setiap katanya. Matanya menatap lurus ke arah Sintia. "Sera hanya bertanya. Dia khawatir pada Eyang."Sintia perlahan mengangkat dagunya. Tangan kirinya bergerak merapikan lipatan gaun yang ia kenakan dengan gerakan lambat dan teratur, seakan ucapan putranya barusan hanyalah angin lalu."Mama juga hanya menjawab, Ren. Mama bilang Eyang sedang istirahat, dan kedatangannya hanya akan mengganggu. Apa ada yang salah dengan jawaban Mama?"Rendra membuka mulut, bersiap membalas ucapan ibunya, namun Sera

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Obrolan Yang Sampai Ke Telingaku

    "... Arkan."Kening Sera berkerut dalam. Langkah kakinya otomatis terhenti begitu nama itu tertangkap oleh telinganya. Napasnya tertahan sesaat. Berbagai pertanyaan seketika berjejalan di dalam kepalanya. Kenapa Ratu menyebutkan nama Arkan? Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua sampai Ratu harus menelepon Arkan malam-malam begini?Ujung jemari Sera meremas pelan sisi bajunya. Apakah Arkan yang dimaksud adalah adiknya?Namun, sedetik kemudian Sera menggeleng pelan. Ia berusaha menepis jauh-jauh pikiran itu. Nama Arkan tidak hanya satu di dunia ini. Pasti ada banyak orang yang bernama Arkan selain adiknya. Tidak mungkin Ratu memiliki urusan dengan adiknya malam-malam begini.Memutuskan untuk tidak mempedulikan pembicaraan itu lebih jauh, Sera memutar tumitnya perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia bergegas meninggalkan area taman pembatas itu, melangkah masuk kembali ke dalam rumah.Baru beberapa langkah melewati lorong yang terang, Sera melihat Rendra berdiri di ruang depan deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status