LOGINkalian jangan lupa follow Igeh dan Fbeh aku ya di Nasyamahila. mamacih 🥰
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Udara di sekitar mereka seolah mendadak membeku. Sofia menatap wanita muda di hadapannya dengan mata membelalak, pupil matanya menyempit karena rasa syok yang luar biasa."Apa kamu bilang?" suara Sofia terdengar mendesis, sangat rendah namun bergetar. "Ulangi kalimatmu."Asistennya meremas tabletnya lebih kuat, napasnya memburu pelan karena ketakutan. "Ajudan Pak Rendra menyampaikan bahwa agenda Presiden hari ini sangat padat. Mereka mengatakan... Pak Rendra tidak bisa meluangkan waktu untuk pertemuan informal di luar jadwal kenegaraan. Dan pihak istana tidak memberikan alternatif jadwal lain, Bu."Sofia tetap membisu selama beberapa detik, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan. Otaknya berusaha menolak kenyataan bahwa seseorang yang pernah menjadi mitranya—seseorang yang ia yakini tidak akan berani menutup pintu padanya—baru saja mengabaikan permintaannya seolah-olah ia bukan siapa-siapa."Tidak mungkin," gumam Sofia, suaranya berget
Sementara itu, di kompleks istana kepresidenan, suasana ruang kerja tampak begitu tenang. Suara ketukan ujung pulpen di atas berkas kenegaraan beradu dengan desing pendingin ruangan yang nyaris tak terdengar.Ketukan dua kali di pintu menghentikan gerakan tangan Rendra. Pria itu mengangkat pandangannya dari map laporan anggaran."Masuk," ucap Rendra singkat.Pintu terbuka pelan. Evan melangkah masuk dengan langkah cepat namun tetap teratur. Di tangannya, pria itu memegang sebuah map tipis dan ponsel dinas yang masih menyala layarnya. Evan berhenti tepat dua langkah di depan meja kerja, membungkuk memberi salam."Selamat siang, Pak."Rendra meletakkan pulpennya ke atas tatakan. "Ada laporan mendesak?"Evan melirik layar ponselnya sebelum kembali menatap Rendra. "Baru saja asisten pribadi Ibu Sofia menghubungi protokoler kesekretariatan, Pak. Dia meminta jadwal pertemuan pribadi antara Anda dan Bu Sofia hari ini."Alis Rendra tidak bergerak sedikit pun. Sorot matanya tetap datar, tanpa
“Sofia jangan bertindak gegabah, kamu masih belum mengerti situasi yang sedang kita hadapi. Ini bukan sekadar persoalan kamu mendapatkan jabatan atau tidak. Ada hal-hal yang jauh lebih serius daripada ambisimu di partai.”Sofia terkekeh pendek.“Lalu apa yang sebenarnya dikatakan Rendra kepada Anda sampai Anda berubah pikiran secepat ini?”Irawan terdiam.“Kenapa diam, Pak?” Sofia memiringkan kepalanya. “Anda datang ke sini untuk mencabut dukungan kepada saya, tetapi bahkan tidak berani menjelaskan alasannya. Apa dia menunjukkan dokumen tertentu? Rekaman? Atau mungkin foto-foto yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan saya?”“Cukup, Sofia!”Bentakan Irawan membuat ruangan itu mendadak sunyi.Untuk sesaat, Sofia tidak bergerak. Ia menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam, seolah-olah sedang menimbang apakah orang itu masih pantas diperlakukan sebagai sekutu atau sudah berubah menjadi penghalang.Irawan menarik napas panjang. Kedua tangannya bertaut di atas meja.“Aku sudah melih
Ruang kerja pribadi Sofia tampak sunyi, hanya dipecahkan oleh gesekan kertas memo dan denting halus gelang di pergelangan tangannya. Di balik meja kaca, Sofia duduk tegak seraya menandatangani beberapa dokumen rancangan deklarasi partai. Senyum percaya diri tersungging di bibirnya saat pintu kayu ruangan itu terbuka.Irawan melangkah masuk. Pria paruh baya itu tidak langsung menyapa. Langkah kakinya gontai, jas abu-abunya tampak sedikit kusut, dan wajahnya keruh bagai air selokan setelah hujan lebat.Sofia meletakkan pulpennya ke atas meja, tersenyum ramah menyambut kedatangan sang pimpinan partai. "Pak Irawan. Tepat waktu sekali. Saya baru saja selesai memeriksa draf pidato untuk musyawarah nasional minggu depan. Susunan panitia juga sudah beres—""Tahan dulu draf itu, Sofia," potong Irawan pelan, suaranya berat dan nyaris tanpa tenaga.Sofia menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut halus. Ia mengamati pria di depannya yang menarik kursi di hadapannya tanpa izin seperti biasanya, la
Rendra melipat kedua tangannya di atas permukaan meja. Sorot matanya menembus tepat ke manik mata Irawan yang semakin gelisah.Irawan menarik napas pendek yang terdengar berat. Jemarinya merapikan jasnya yang kusut, lalu perlahan bangkit berdiri seraya menundukkan kepala dengan takzim."Saya mengerti poin Anda, Pak Presiden.""Keputusan bijak selalu menyelamatkan kapal yang sedang berlayar di tengah badai, Pak Irawan," sahut Rendra datar tanpa senyum sedikit pun.Irawan pamit undur diri dengan langkah kaku. Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat di belakang pria itu, Evan melangkah masuk tanpa suara dari pintu samping, membawa tablet kerja dan berkas harian."Pak," panggil Evan dengan nada hormat. "Apa anda ingin langsung menuju agenda berikutnya, atau …. “Rendra bangkit dari kursinya, membetulkan kancing jasnya yang terbuka. "Aku mau menemui Sera dulu.”Evan kemudian mengangguk, memersilahkan Rendra untuk menemui Sera lebih dulu.Langkah Rendra membawanya menyusuri selasar menuju l
Keheningan menyelimuti kamar tidur utama istana malam itu. Kebaya wisuda dan jubah toga sudah tergantung rapi di dalam lemari. Sera duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama katun santai, membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas setelah seharian disanggul kencang.Rendra yang baru kembali dari ruang kerjanya melangkah masuk, hanya mengenakan kaus polos dan celana panjang rumah. Raut wajahnya yang seharian tampak tegas di depan kamera dan publik kini mengendur sepenuhnya, digantikan ekspresi santai yang hanya ia tunjukkan di dalam ruangan ini.Rendra berjalan mendekat, lalu duduk tepat di samping Sera di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangan, merapikan beberapa helai rambut Sera yang jatuh menutupi pipi."Pusing kepalamu sudah hilang?" tanya Rendra pelan, suaranya terdengar lembut memecah keheningan kamar.Sera tersenyum tipis seraya menoleh, menyandarkan pipinya pada telapak tangan Rendra yang hangat. "Sudah jauh lebih baik setelah sanggulnya dilepas, Mas. Seharian tadi rasanya berat







