Mag-log inTubuh Deo menegang sejenak mendengar pertanyaan Sera. Tangannya yang mengusap kepala anak perempuan berkuncir dua itu membeku di udara. Deo berdeham canggung, mencoba memasang senyum kaku di wajahnya sembari menarik perlahan tubuh mungil itu agar berdiri di sampingnya."Ini... keponakan saya, Nona. Anak sepupu yang kebetulan sedang main ke sini," jawab Deo cepat. Nada bicaranya terdengar terburu-buru, matanya bahkan sempat melirik sekilas ke arah Lana yang masih mematung di dekat mobil.Sera mengerutkan keningnya lebih dalam. Ia melangkah maju satu langkah, menatap gadis kecil itu dengan tatapan meneliti. Wajah anak itu tampak manis dengan mata bulat jernih, namun ada sesuatu pada garis rahang dan bentuk matanya yang terasa tidak asing di mata Sera."Keponakan?" gumam Sera ragu. Matanya menyipit menatap Deo. “Tapi anak ini sepertinya mirip ….”Deo gelagapan. Tenggorokannya tercekat, tangannya yang sehat bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.Sebelum Deo sempat mer
Setelah membersihkan diri dan berpamitan pada Rendra, Sera melangkah keluar kamar. Di pelataran istana, mobil dinas yang akan membawanya sudah terparkir rapi. Lana tampak berdiri tegap di samping pintu penumpang, segera membukakan pintu begitu melihat sang majikan mendekat."Pagi, Nona," sapa Lana sopan seraya menundukkan kepala sedikit."Pagi, Lana," balas Sera dengan senyum simpul yang masih menyisakan sisa-sisa rona hangat di wajahnya. "Kita langsung ke Rumah Sakit Narita, ya.""Baik, Nona."Perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.Setibanya di Rumah Sakit Narita, Sera melangkah santai menyusuri koridor lantai rawat inap. Aroma antiseptik yang khas menyambut indra penciumannya, mengingatkannya pada rutinitas koas yang selama ini dijalaninya.Saat berbelok di persimpangan lorong menuju kamar Deo, sosok Erika sudah terlihat melangkah keluar dari ruangan tersebut. Gadis itu mengenakan blus krem santai dengan rambut dikuncir kuda r
Kecupan Rendra mendarat lembut di bibir Sera, mula-mula hanya sapuan pelan yang menguji kepasrahan, sebelum kemudian menuntut lebih dalam. Sentuhan hangat itu merambat cepat ke seluruh aliran darah Sera, berpadu dengan efek ramuan Aki Banyu yang kian membakar kesadarannya dari dalam.Punggung Sera melengkung pasrah saat rengkuhan Rendra di pinggangnya mengerat tanpa celah. Jemari Sera yang semula kaku di bahu pria itu perlahan bergerak naik, meremas helai-helai rambut Rendra yang masih setengah basah. Desah napas tertahan lolos dari bibir Sera ketika ciuman itu beralih menyusuri rahangnya, turun memberi kecupan-kecupan ringan di lekuk lehernya yang peka."Mas..." bisik Sera serak, kepalanya terkulai ke belakang di atas lipatan lengan Rendra.Rendra mengangkat wajahnya beberapa senti, menatap kedua kelopak mata Sera yang sayu berkabut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir istrinya yang memerah basah. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sarat kepuasan."Kenapa? Mau me
Kain selimut yang menutupi wajah Sera bergerak perlahan saat jemarinya menarik ujung kain itu turun beberapa sentimeter, menyisakan sepasang matanya yang bulat mengerjap ragu menatap Rendra. Pria itu sudah mengenakan celana tidur panjang abu-abu, duduk bersandar di kepala ranjang dengan handuk kecil yang kini tergeletak di samping bantal."Kamu sakit?" tanya Rendra heran seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Punggung tangannya terulur hendak menempel di kening Sera.Sera sontak menggeleng pelan, namun tidak menghindar saat kulit dingin tangan Rendra bersentuhan dengan dahinya. Sentuhan itu justru membuat pipi Sera terasa makin terbakar."Tidak, Mas. Aku tidak demam," cicit Sera dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru pendingin ruangan.Rendra menarik kembali tangannya, menatap lekat ekspresi istrinya yang tampak serba salah. "Lalu kenapa wajahmu merah sekali? Di dalam selimut pengap, Sera."Alih-alih menyingkirkan selimutnya, Sera justru menarik napas dalam-dalam. Efek ramuan d
Lana menghela napas pendek sembari menatap trotoar di depan mereka. "Itu urusan pribadi, Erika. Jadi untuk apa memberitahu Nona?" Lana menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang sarat kepasrahan. "Aku tidak mau Nona Sera nanti malah merasa kasihan padaku."Erika menatap lekat lawan bicaranya itu. "Aku juga tahu soal statusmu dari Deo. Dan dia juga memintaku untuk diam saja, tidak menceritakannya ke Sera kalau bukan kamu sendiri yang cerita. Deo terpaksa menceritakan statusmu padaku karena waktu itu aku sempat curiga dan berpikir kalian berdua diam-diam punya perasaan satu sama lain."Mendengar penuturan itu, senyum geli tersungging di bibir Lana. Ia menggeleng pelan. "Aku tidak ingin mengenal urusan laki-laki dan cinta-cintaan lagi, Erika. Aku cuma ingin membesarkan anakku dengan baik."Erika terdiam sesaat, lalu mengangguk paham. Tangannya terangkat, menepuk pelan pundak Lana untuk memberi dukungan. "Aku mengerti."Lana membalas tepukan itu dengan tatapan hangat, berusaha menc
Lana memiringkan kepala, melirik celah pintu yang kini tertutup rapat kembali. "Apa Deo sedang bersama Erika?”Sera mengangguk cepat seraya mengembuskan napas pelan. "Iya. Biarkan saja dulu."Lana membalas dengan anggukan kepala mengerti. Keduanya lantas melangkah pelan menjauhi daun pintu dan memilih duduk menunggu di deretan kursi besi selasar rumah sakit. Beberapa pengawal bersetelan gelap yang ikut mengawal tampak berjaga dengan posisi berdiri tegap beberapa langkah dari mereka.Lorong itu cukup lengang, hanya sesekali terdengar langkah perawat yang lewat. Merasa jenuh daripada hanya berdiam diri tanpa suara, Sera menoleh ke samping menatap Lana lurus-lurus."Lana, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Sera tiba-tiba.Lana tersentak kaget. Matanya membulat menatap sang nona. Di dekat pilar selasar, salah satu pengawal yang mendengar celetukan Sera itu bahkan tak mampu menahan tawa kecilnya dan menyunggingkan senyum simpul.Seketika ro







