Share

134. Rencana Dinner

last update Last Updated: 2026-01-06 19:29:28

Sera baru selesai menyapu ruang tamu ketika dia melihat David masuk sambil menelepon seseorang.

“Saya sudah di rumah Anda, Pak. Baik. Bagaimana dengan makan siang Anda, Pak Raven? Ya? Anda akan melewatkan makan siang lagi?” David menghela napas pelan. “Oh. Ya. Baik. Saya akan mencari dokumennya sekarang.”

Sera yang sejak tadi diam, akhirnya mendekat. “Pak Raven tidak makan siang?” tanyanya ragu.

David memasukkan ponsel ke saku jasnya, lalu mengangguk. “Iya. Beliau terlalu sibuk akhir-akhir ini sampai melewatkan makan siangnya.”

Sera menghela napas pelan. Tadi pagi pun Raven melewatkan sarapan karena harus buru-buru pergi ke kantor.

“Aku mau ngambil dokumen di ruangan kerja Pak Raven,” kata David.

Sera mengangguk, tapi pikirannya sudah melangkah jauh. Dia cepat-cepat bertanya saat David sudah melangkah pergi, “Berapa lama Pak David di sini?”

“Sekitar….” David melirik arloji. “Dua puluh menit. Ada yang harus aku kerjakan dulu di atas.”

Dua puluh menit.

Sera seharusnya tidak peduli. Dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Gita
Oke. Mulai tau si raven apa kemaun hatinya.
goodnovel comment avatar
fauziah Zie
Mulai sadar sama. perasaannyaney si Raven
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   136. Kecelakaan

    Jari-jari Sera saling meremas karena gugup. Membayangkan malam ini dirinya akan bertemu Raven membuat jantungnya berdebar kencang.Ya, pada akhirnya Sera memutuskan untuk pergi memenuhi undangan Raven.Meski ini salah, dan meski masih ada luka yang belum sembuh, tapi malam ini Sera memilih untuk mengikuti kata hatinya.Sera berangkat dari kediaman Raven setelah matahari tenggelam.Dia mengenakan semua yang Raven berikan kemarin. Lalu melapisi tubuhnya dengan cardigan karena tak ingin terlalu mencolok di mata pekerja yang lain.Hari itu jam kerja berakhir lebih awal. Raven sengaja memberi keringanan pada semua pekerja agar istirahat lebih awal hari ini.Sera mengerti, alasan Raven melakukannya agar Sera bisa pergi dengan leluasa sehingga pekerja yang lain tidak menghakiminya yang pergi keluar pada jam kerja.Kini, Sera menumpangi taksi online, menuju Star Restaurant.Jari-jari tangan Sera terasa semakin dingin. Perasaannya tak karuan. Raven tengah menunggunya di sana, Sera tahu itu.Da

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   135. Alasan Untuk Pulang

    “Sera, kamu dapat paket,” kata Bima sambil menghampiri Sera dengan kotak cukup besar di pelukannya.“Aku gak pesan apa-apa, kok.” Sera menjawab sambil mengelap guci antik dengan hati-hati.“Tapi ini penerimanya atas nama kamu.”“Masa, sih?”“Lihat dulu deh.”Sera menjeda aktifitasnya, lalu menghampiri Bima dan melihat nama penerima dalam kotak tersebut.Benar.Nama dirinya dan nomor teleponnya tertera di sana. Itu kotak berwarna biru muda dan dihiasi pita merah muda di atasnya.“Mungkin hadiah dari seseorang yang kamu kenal,” ucap Bima kemudian. “Lihat dulu aja isinya apa. Yang jelas nggak mungkin isinya bom.”Sera terkekeh mendengar candaan Bima. Pada akhirnya Sera menerima kotak itu dengan penuh rasa penasaran.Lalu membawanya ke dalam kamarnya, dan dia buka kotak itu di sana.Seketika itu juga, Sera tertegun.Kotak itu berisi sebuah gaun berwarna ivory yang lembut, sling bag dan sepasang wedges berwarna senada dengan gaun.Lalu terdapat kotak kecil yang berisi sepasang anting mutia

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   134. Rencana Dinner

    Sera baru selesai menyapu ruang tamu ketika dia melihat David masuk sambil menelepon seseorang.“Saya sudah di rumah Anda, Pak. Baik. Bagaimana dengan makan siang Anda, Pak Raven? Ya? Anda akan melewatkan makan siang lagi?” David menghela napas pelan. “Oh. Ya. Baik. Saya akan mencari dokumennya sekarang.”Sera yang sejak tadi diam, akhirnya mendekat. “Pak Raven tidak makan siang?” tanyanya ragu.David memasukkan ponsel ke saku jasnya, lalu mengangguk. “Iya. Beliau terlalu sibuk akhir-akhir ini sampai melewatkan makan siangnya.”Sera menghela napas pelan. Tadi pagi pun Raven melewatkan sarapan karena harus buru-buru pergi ke kantor.“Aku mau ngambil dokumen di ruangan kerja Pak Raven,” kata David.Sera mengangguk, tapi pikirannya sudah melangkah jauh. Dia cepat-cepat bertanya saat David sudah melangkah pergi, “Berapa lama Pak David di sini?”“Sekitar….” David melirik arloji. “Dua puluh menit. Ada yang harus aku kerjakan dulu di atas.”Dua puluh menit.Sera seharusnya tidak peduli. Dan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   133. Ingin Memiliki Selamanya

    “Sebenarnya…,” gumam Sera seraya mengeratkan cengkeramannya di lengan Raven. “Saya ini apa untuk Bapak?”Raven terdiam sesaat, tapi alih-alih langsung menjawab, Raven kembali mengecup bibir ranum wanita itu.Kemudian Raven menempelkan dahi mereka, dan ibu jarinya bergerak halus di garis rahang Sera.“Kamu… wanita yang ingin saya lindungi,” bisik Raven pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat. “Kamu juga wanita yang membuat saya… takut kehilangan.”Sera seketika tertegun. Dadanya bergetar.Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara lantang. Namun karena kata-kata itu keluar dari mulut seorang Raven, Sera merasakan dadanya seolah diremas oleh sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan.Bukan sakit karena terluka. Tetapi karena Sera sadar bahwa yang mengatakannya adalah Raven. Pria yang memiliki dunia yang berbeda dengannya.“Kalau saya hilang dari hidup Bapak,” gumam Sera lagi dengan tenggorokan tercekat. “Apa Bapak akan berusaha menemukan saya kembali?”“Tidak,” jawab Raven, yang membu

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   132. Kebersamaan

    “Ya?” Sera menatap Raven penuh tanya sambil berusaha meredakan tawanya. Dia tidak mendengar ucapan pria itu barusan. “Bapak bilang apa?”“Tidak.” Raven memalingkan wajahnya ke arah lain dengan cepat. “Lupakan.”Sera mengerjap. Tapi belum sempat dia bertanya lebih jauh, Raven sudah pergi.Raven melangkah cepat dan lebar, dengan rahang mengeras.Bagaimana bisa tadi dia mengatakan ingin melihat tawa wanita itu selamanya?Raven mengembuskan napas kasar. Sepertinya dirinya sudah benar-benar gila.Sementara itu, Sera langsung menyusul Raven sambil mengeluarkan ponsel lalu memotret pemandangan di sekitarnya.Sera bergerak memutar, berhenti berjalan. Setelah puas mendapatkan beberapa foto, dia melanjutkan langkahnya lagi tapi dirinya sudah kehilangan jejak Raven.“Kemana dia?” gumam Sera sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tetapi sosok Raven tak kunjung terlihat.Ketika Sera sedang sibuk mencari, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan es krim rasa stroberi ke arahnya.Sera tertegun, p

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   131. Tawa Pertama

    “Pak, tolong lepaskan tangan saya,” pinta Sera sambil berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Raven.Namun, Raven tidak menghiraukan permintaan Sera. Dia tetap berjalan sembari mengeratkan genggaman tangan mereka.“Ini tempat umum. Bagaimana kalau ada yang mengenali Bapak?”“Mereka tidak akan mengenali saya, kecuali kalau kamu bersikap mencurigakan seperti ini,” jawab Raven tenang.Sera seketika mengatupkan bibirnya.Kalau dipikir-pikir, sikapnya saat ini memang cukup mencurigakan. Sera berusaha melepaskan diri dari Raven, itu membuat Raven terlihat seperti sedang memaksanya di mata orang yang melihat mereka.Pada akhirnya Sera memilih berjalan di samping pria itu.Hangatnya genggaman tangan Raven membuat Sera harus berulang kali menarik napas dalam-dalam.Ketika di loket, Raven memilih membeli tiket reguler alih-alih tiket premium.Padahal dia jauh dari kata mampu untuk membeli tiket premium yang memiliki akses eksklusif dan tanpa antre.Namun, justru hal itu yang membuat Sera tere

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status