INICIAR SESIÓNNicole menatap Helen dengan terpaku, terlalu terkejut untuk berkata-kata. Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana kebenarannya bisa seperti ini?
Namun, penjelasan Helen tampaknya masuk akal. Kalau tidak begitu, mengapa Tristan membiarkan seseorang menargetkan nyawanya dan tidak melakukan apa-apa?
Melihat mata Nicole yang merah dan penuh ketidakpercayaan, Helen berkata, “Aku hanya korban dari perang emosi mereka, Nicole. Menurutmu, apa arti dirimu bagi Tristan? Lalu kenapa
Tristan menarik Scarlett ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut sang istri sembari menghirup aroma familier yang selalu berhasil menenangkannya. Ketegangan yang tadi sempat menghiasi wajahnya kini perlahan memudar, digantikan oleh tatapan penuh kehangatan."Sudahlah, Sayang," bisik Tristan lembut, jemarinya mengusap pipi Scarlett dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak ingin kamu membuang energi dan pikiranmu untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting."Scarlett hanya menganggukan kepalanya, Ia tahu apa yang akan dilakukan Tristan. Keputusannya tidak dapat diubah, kecuali jika hal itu menyangkut tentang Scarlett atau Nathan. Tristan punya cara sendiri untuk menyelesaikannya."Fokus kita sekarang adalah masa depan kita. Aku ingin kamu tetap melanjutkan persiapan resepsi pernikahan kita tanpa ada beban pikiran sedikit pun."Mendengar kata 'resepsi pernikahan', binar di mata Scarlett kembali hangat. Hal yang selalu diinginkannya sejak 8 tahun
Sementara itu, Elena dihempaskan keluar dari lobi gedung Scarnet. Berulang kali ia menghentakkan kakinya ke lantai, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitar lobi. Napasnya memburu, dipenuhi rasa murka karena tujuannya membawa pulang Tristan justru berakhir dengan penghinaan."Sialan! Dasar kakak tidak tahu diuntung!" umpat Elena kasar.Ia tahu, kembali ke Ravenwood dengan tangan kosong hanya akan membuat ibunya makin merana.Elena memutar otak bagaimana caranya membawa Tristan ke hadapan ibunya. Amarah dan rasa malu masih membakar dadanya, tetapi ia menolak untuk menyerah begitu saja.Lalu, sebuah nama terlintas di kepalanya: Keith. Kakeknya kandungnya yang tidak pernah ia temui.Sebagai kepala keluarga River yang dihormati, Keith pasti memiliki kuasa untuk memaksa Tristan tunduk. Elena segera melangkah menuju tepi jalan, mengangkat tangannya untuk menghentikan taksi yang melintas, dan memberikan alamat kediaman mewah milik kakek
Andrew menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ada seorang wanita muda bernama Elena di lobi kantor, Tuan. Dia mengaku sebagai adik kandung Anda... dan dia memaksa ingin bertemu. Katanya, dia datang untuk membawa Anda pulang ke Ravenwood untuk meminta maaf kepada nyonya Minerva."Tristan terdiam seketika. Ekspresi hangat dan sisa senyuman yang baru saja ia bagikan bersama Scarlett langsung menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es. Aura di sekitar ruang makan berubah mencekam dalam hitungan detik."Tolak dia, Andrew. Aku tidak punya adik," jawab Tristan dengan nada rendah, namun penuh penekanan yang mutlak."Tapi Tuan, dia bersikeras dan membuat keributan kecil di lobi. Dia bahkan mengancam tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Anda," lapor Andrew dari seberang telepon dengan nada makin gelisah.Tristan melirik sekilas ke arah Scarlett yang sedang memperhatikannya dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir. Ia mengembuskan
Minerva menggeleng lemah, Keith saja tidak bisa melunakkan hati Tristan, apalagi Elena. “Tidak perlu, sayang. Itu semua sudah berlalu. Tristan bahkan tidak mengetahui keberadaan kami. Sampai pada akhirnya ibu menemui Dia dirumah sakit, ketika kakekmu sedang dirawat.”“Dia mempunyai hidup baru dan membangun dinding es di hatinya. Dia bilang tidak ingin mengenal ibu dan ayah.”Suara Minerva benar-benar hancur. Ia menutupi wajahnya sambil terisak hebat.Elena tidak sanggup diam lagi. Ia memeluk ibunya sambil berbisik menenangkan.Namun di dalam hatinya, sebuah tekad mulai tumbuh, Elena akan menemui kakaknya.Dia akan membawa Tristan ke Ravenwood, membuatnya berlutut di hadapan Minerva, dan memohon maaf atas setiap air mata ibunya yang jatuh.---Elena berjalan dengan langkah mantap menuju ruang kerja ayahnya.Ia mengetuk sekali lalu masuk tanpa menunggu izin.Hans duduk di balik meja mahoni besar, me
Sementara itu, Hans dan Minerva akhirnya memutuskan untuk kembali ke Ravenwood. Keith sama sekali tidak berniat memaafkan mereka. Namun, meskipun sifat Keith keras, Hans sebagai putra tunggalnya tidak berniat menyerah untuk memperbaiki hubungan antara dirinya dan sang ayah.Setelah perjalanan panjang yang melelahkan—membawa seluruh kenangan pahit dan manis dari Woodland—kedua orang paruh baya itu akhirnya keluar dari terminal kedatangan.Meski gurat kelelahan dan beban masa lalu masih terlihat jelas di wajah mereka, tatapan Hans kini tampak lebih fokus dan penuh kehati-hatian. Kepergian mereka dari Woodland untuk kedua kalinya terasa seperti penutup dari sebuah babak panjang. Kini, setibanya di Ravenwood, Minerva hanya ingin memusatkan perhatian pada keluarga dan bisnis yang telah Hans bangun.“Ayah! Ibu!”Sebuah lambaian tangan penuh semangat memecah keramaian.Leo berjalan cepat menghampiri mereka dengan senyum hangat. Put
Dengan hati yang puas, Keith merenungkan kesabarannya selama bertahun-tahun, bersyukur atas kebahagiaan yang akhirnya bisa ia rasakan di masa tuanya.“Kakek, jangan khawatir. Kami akan mengunjungi Kakek dan Nenek kapan pun kami bisa,” janji Tristan, menenangkan hati Keith.Malam pun berlanjut dengan santai. Sebagian orang menonton televisi, sebagian lainnya bermain permainan, sementara Scarlett menghabiskan waktu bersama anak-anak di taman yang asri, dikelilingi bunga hydrangea kesukaan Ruby yang harum.“Nak,” panggil Keith kepada Scarlett.Scarlett segera berdiri sambil tersenyum.“Kamu harus lebih banyak beristirahat selama kehamilanmu.”Karena tidak ada kursi kosong untuk Keith, Scarlett memilih tetap berdiri dan mengatakan bahwa ia memang perlu meregangkan kaki.Keith tidak bisa menahan diri untuk memuji kecerdasan dan sikap Scarlett, mengakui bahwa Tristan benar-benar telah menemukan wanita yan
Wajah Nancy berubah pucat, seolah disapu gelombang badai yang tak kunjung reda. Di sisi lain, Scarlett tetap tenang seperti biasa. Dengan gerakan santai, ia merogoh tas tangan, mengambil ponsel, dan membuka galeri foto sebelum menyodorkannya kepada Nancy dengan sentuhan ringan. “Bukankah itu Tuan H
Tristan bertanya, "Sudah tidak tertarik lagi dengan proyek Digital Springs?"Scarlett langsung membuka pintu di sisi penumpang dan masuk sambil tersenyum, "Bicara bisnis juga tidak masalah bagiku."Ekspresi Tristan tetap menunjukkan ketidaksukaan. Scarlett memang selalu menginginkan hal-hal yang ny
Nicholas baru saja selesai berbicara ketika Tristan terkekeh pelan dengan nada menggoda. “Terima kasih! Aku benar-benar berutang budi padamu.” Tanpa ragu, ia segera menambahkan, “Tim Bruce sedang kekurangan orang, dan menurutku, kamu sangat cocok untuk membantu sekaligus berolahraga.”Mendengar nam
Kembali di Bougenville ResidenceWajah Tristan mengeras saat ia berkata, “Pergi sendiri ke rumah keluarga Oswald—kau pikir mereka tak akan berani menyentuhmu?”Scarlett tertawa ringan, tenang dan percaya diri. “Aku tak pernah ambil risiko tanpa kepastian.”Tristan hanya menatap diam, hingga Scarlet







