로그인Sambil melirik Tristan di sampingnya, Scarlett berkata, “Bu, tidak apa-apa kalau Nathan tinggal bersama kalian beberapa hari. Aku tidak bisa datang.”
Audrey segera menjawab dengan tergesa-gesa, “Jangan khawatir, Sayang! Datang saja dan tinggal di sini. Ibu yang akan menjaga Nathan. Kamu dan Tristan bisa menjalani waktu kalian sendiri, Nathan tidak akan mengganggu.”
Dua hari setelah Scarlett keluar dari rumah sakit, Tristan diam-diam tinggal di rumah selama dua malam berturut-tur
Keesokan paginya, saat Scarlett dan Tristan turun untuk sarapan, Nathan sudah duduk di meja sambil menyantap serealnya. Audrey yang sedang menyajikan bubur oat berkata, "Bibi kalian menelepon pagi ini. Katanya Zoe sedang mengalami masa kehamilan yang cukup berat. Semua makanan terasa tidak enak, dia juga sering mual dan muntah, bahkan sekarang tidak bisa masuk kerja."Sambil mengambil sendoknya, Scarlett menjawab, "Kehamilan Zoe memang terlihat cukup berat. Semoga dia bisa segera melewati trimester pertama."Saat mereka berbincang santai, Nathan mendengarkan dengan saksama. Setelah sarapan, ketika Tristan bersiap mengantar Nathan ke tempat penitipan anak dan kemudian pergi bekerja, Nathan tiba-tiba bersandar lemas di kursi makannya sambil mengernyitkan dahi.Ketika Scarlett menyuruhnya bergerak lebih cepat, Nathan menggelengkan kepala. "Bu, mulutku tidak ada rasanya dan aku merasa ingin muntah. Aku tidak bisa pergi ke daycare."Keluhan Nathan membuat Scar
Di dalam Maybach.Tristan baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan Audrey. Dengan hati-hati, Andrew melaporkan, "Tuan, Nona Scarlett makan malam bersama Tuan Cedric malam ini dan baru saja tiba di rumah."Tristan menjawab dengan tenang, "Baik, aku tahu."Ia memang mengetahui bahwa Scarlett makan malam bersama Cedric, tetapi kali ini ia tidak terlalu cemas. Ia percaya pada cinta mereka dan tidak merasa perlu mencari tahu lebih jauh.Sesampainya Scarlett di rumah Tristan, Audrey mengambil tas Scarlett sambil memberi tahu bahwa Nathan baru saja tidur. Ia juga mengatakan bahwa Tristan sedang makan malam bersama Gary dan akan segera pulang.Scarlett memutuskan untuk menunggu Tristan. Setelah sempat membahas sebuah kasus kenakalan remaja yang cukup kontroversial dan membuat Audrey kesal.Setelah mandi, Scarlett menyambut Tristan dengan senyum cerah. Hubungan mereka tetap erat seperti sebelumnya, meskipun telah melewati banyak cobaan.T
Menjelang malam, saat Tristan dan Scarlett pulang ke rumah, Audrey ternyata sudah lebih dulu menjemput Nathan.Sejak Tristan dan Nathan pernah tinggal bersamanya untuk sementara waktu, suasana hati Audrey terlihat jauh lebih baik. Melihat Tristan dan Scarlett kembali rukun, ditambah keputusan Tristan untuk tidak pergi, menjadi kebahagiaan tersendiri baginya."Ibu!""Ibu, lihat gambar yang aku buat!""Aku juga menggambar Ayah!"Begitu Scarlett dan Tristan masuk ke rumah, Nathan langsung berlari menghampiri mereka sambil menunjukkan hasil gambarnya.Selain catur yang baru-baru ini menjadi kegemarannya, menggambar kini menjadi hobi favorit Nathan. Meski harus diakui, bakat seninya masih perlu banyak diasah. Biasanya anggota keluarganya selalu menjadi objek gambar karena, menurut Nathan, menggambar orang asing bisa saja menimbulkan masalah."Anakku, ini luar biasa! Kamu hebat sekali menggambar!" Scarlett memuji sambil menerima gambar ters
Joshua menarik napas dalam-dalam sebelum menatap Scarlett. Suaranya terdengar hati-hati namun tetap penuh hormat. "Nona Scarlett, Nyonya Ashcroft meninggal dunia di penjara pagi ini."Scarlett terdiam sejenak. Perlahan, ia meletakkan dokumen yang sedang dipegangnya ke atas meja.Setelah dijatuhi hukuman, Catrina sempat diizinkan keluar untuk menjalani operasi kanker payudara dan berhasil. Saat itu para dokter cukup optimis. Mereka mengatakan bahwa dengan pengobatan yang tepat dan kondisi mental yang baik, ia masih bisa hidup lima hingga delapan tahun lagi.Namun, bagaimana mungkin seseorang yang telah menjalani hidup dengan caranya sendiri selama puluhan tahun tiba-tiba bisa menerima kenyataan hidup dalam kurungan?Setelah beberapa saat tenggelam dalam keheningan, Scarlett hanya berkata, "Aku mengerti."Setelah Joshua keluar dan menutup pintu di belakangnya, Scarlett pun kembali sendirian bersama pikirannya.Usianya hampir tiga puluh tahun,
Ucapan Scarlett membuat Summer tidak senang. Ia menghentikan kegiatannya mengemas barang dan menatap Scarlett dengan tajam. "Apa maksudmu 'hanya beberapa minggu?" katanya. "Kali ini tidak usah kembali lagi."Kemudian ia menoleh kepada Tristan. "Dan kamu, jangan lupa janji yang pernah kamu buat pada Ibu. Ibu menunggu kalian berdua segera memberi Ibu seorang cucu lagi!"Setelah jeda sejenak, ia kembali memandang Scarlett. "Jangan khawatirkan Ibu. Mengurus anak-anak setiap hari sudah membuat ibu kelelahan. Ibu juga akan mengambil cuti beberapa hari, berkunjung ke Bougenville, dan menghabiskan waktu bersama kalian."Summer tampaknya sudah merencanakan masa depannya dengan sangat matang.Scarlett tersenyum dan menenangkan ibunya. "Baik, Bu. Kalau Ibu merindukan aku dan Nathan, kami akan menjemput Ibu."Summer langsung menanggapi, "Rumah kalian juga tidak jauh. Hanya sekitar dua puluh menit berkendara."Kali ini, Summer tampak lebih bisa menerima
Setelah berhasil menenangkan hati Tristan, Scarlett akhirnya membuatnya mengalah. Tristan pun memberikan kecupan lembut di bibirnya sebelum menemaninya makan siang.Di meja makan, mereka duduk berdampingan.Saat menyajikan makanan untuknya, Scarlett dengan penasaran menanyakan obat yang sebelumnya ia temukan di laci kamar, yang sebelumnya tidak ada. Ia sebenarnya tidak sengaja menggeledah laci saat mencari ponselnya di tempat tidur. Namun ketika menemukan obat Ativan (Obat untuk gangguan kecemasan dan insomnia), ia menyadari bahwa Tristan telah mengonsumsinya cukup lama, bukan baru-baru ini saja.Pertanyaan mendadak dari Scarlett membuat Tristan sedikit terkejut. Namun, ia segera kembali tenang dan menjelaskan sambil tersenyum, "Hanya sedikit kesulitan tidur. Tapi belakangan ini sudah jauh lebih baik. Beberapa hari terakhir aku bahkan tidak membutuhkannya lagi."Sejak mengetahui bahwa dirinya bukan putra kandung Lucian, Tristan memang mengalami insomnia.
Amarah Tristan yang meledak tiba-tiba, disertai hentakan keras ke dinding, membuat Scarlett merasa seolah dadanya dihantam hingga napasnya nyaris terputus.Ia mencengkeram pergelangan tangan Tristan dengan sekuat tenaga. Wajahnya memerah saat ia meronta dan terengah-engah. “Tristan… lepaskan aku…”
Saat Scarlett kembali ke kota, Tristan sudah diliputi rasa jengkel. Pembicaraan tentang perceraian yang tak henti-hentinya, ditambah kemunculan anak secara tiba-tiba, benar-benar membuatnya muak. Karena itu, ketika Scarlett dengan tegas menyangkal identitas Nathan, Tristan sama sekali tidak berniat
Keesokan malamnya, saat Scarlett makan malam bersama Nathan, Bruce, dan Zoe, Zoe langsung meledak begitu mendengar bahwa Scarlett menolak saham yang ditawarkan Tristan.“Ya ampun, apa kamu tahu berapa nilai King International? Setelah bertahun-tahun Tristan begitu pelit, akhirnya dia mau buka dompe
Scarlett menghela napas. “Aku tidak tahu, Nicholas. Dan sejujurnya, itu bukan urusanku.”Nicholas terkekeh, sengaja menggoda. “Aku hanya memberitahumu, Tristan kita sedang sakit karena terlalu merindukanmu. Sejak kamu menjatuhkan bom berupa dokumen perceraian itu, dia tumbang total. Demamnya tembus







