MasukHalo, Mrs.Jeon disini. Aku baca kok komen2 kalian, kebanyakan pada nanyain kenapa jarang update. Maaf ya, soalnya masih menyesuaikan diri dengan pekerjaan, kedepannya bakalan lebih sering update lagi deh. Terima kasih buat yang udah baca novelku, semoga kalian suka.
Scarlett pergi selama tiga tahun. Dan selama itu juga Tristan tidak merayakan Natal, maupun mengunjungi rumah keluarga lamanya, karena ia merasa terlalu malu untuk pulang.Bersandar di tempat tidur, Scarlett berkata, “Menghabiskan Natal di rumahmu rasanya kurang pantas.”Tristan tidak memaksanya. Ia hanya berkata, “Masih ada waktu sebulan lagi. Pikirkan saja dulu.”Scarlett tidak menolak secara langsung, hanya menjawab dengan gumaman pelan. Namun dalam waktu sebulan untuk berubah pikiran, tetap saja mustahil baginya untuk merayakan Natal bersama keluarga King.Setelah mengobrol beberapa saat, Tristan dengan enggan mengakhiri panggilan itu.Di tempat tidur, Scarlett menoleh ke arah Nathan yang sedang tertidur di ranjang kecilnya. Ia membungkuk untuk mengecupnya, lalu mematikan lampu kamar dan beristirahat.Beberapa hari berikutnya, Tristan harus bepergian untuk urusan pekerjaan. Scarlett menikmati ketenangan yang jaran
Saat Tristan berbicara seperti itu, amarah Scarlett perlahan menguap, seperti uap dari masakan panas yang baru diangkat dari kompor. Tangannya terlepas dari pinggang Tristan, dan dengan nada pasrah ia bergumam, “Baiklah… terserah kamu.”Namun Tristan belum puas. Ia meminta janji untuk benar-benar rujuk kembali. Scarlett memberikannya dengan setengah hati—dan Tristan tahu itu. Baru ketika telepon dari Nathan masuk, Tristan akhirnya melunak dan, meski enggan, namun Tristan mengantar Scarlett pulang.Begitu mereka kembali ke kediaman keluarga Wilson, Summer berkomentar sinis, “Kamu ini sama saja dengan ayahmu dulu, sulit sekali ditemui. Kerjanya keluar terus.”“Ibu.” Scarlett menggendong Nathan yang berlari menghampirinya, mengecup pipinya, lalu menoleh pada Summer. “Tidak sedramatis itu.”Tentu saja, Scarlett tidak mungkin mengaku bahwa ia menghabiskan malam panas di apartemen Tristan. Summer past
Ciuman Tristan yang membara, kehangatan samar dari napasnya, serta bayangan tentang perjuangannya melawan maut dalam mimpi membuat Scarlett berbisik, “Baik.”Tristan segera menyalakan mobil dan melaju langsung menuju Celestial Manor. Namun karena apartemen Scarlett lebih jauh, Tristan membawa Scarlett ke apartemennya karena lokasinya lebih dekat dan gedungnya tidak setinggi apartemen Scarlett.Saat itu, ia tak ingin membuang waktu sedetik pun. Yang ia inginkan hanyalah berdua saja dengan Scarlett.Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam apartemennya. Tristan menyalakan lampu, menutup pintu, dan tanpa berkata apa-apa langsung menarik Scarlett ke dalam pelukannya, lalu menciumnya dengan penuh gairah.Scarlett bisa merasakan kegelisahan Tristan dan reaksi fisiknya yang begitu nyata. Di momen itu, kenangan-kenangan pahit perlahan memudar, tergantikan oleh masa-masa indah sebelum hubungan mereka retak, aksi-aksi heroik Tristan saat menyelam
Begitu kata-kata Tristan terucap, ekspresi Helen langsung menggelap. “Tristan, apa maksudmu?” bentaknya.Tristan menatapnya lekat-lekat, pandangannya terkunci pada mata Helen, seolah berusaha menangkap sedikit saja petunjuk dari reaksi yang mungkin muncul di wajahnya.Setelah kebakaran tujuh tahun lalu, Helen dinyatakan “meninggal”, dan saat itu Tristan tidak terlalu memikirkannya. Namun tiga tahun lalu, Helen tiba-tiba muncul kembali. Kini, bukan hanya kembali dari kematian, ia juga menjadikan bukti itu sebagai alat tawar-menawar. Tristan tak punya pilihan selain memikirkan semuanya dengan lebih dalam. Segala pikiran yang berkecamuk sejak kunjungan ke rumah sakit pagi tadi mendadak terasa jernih saat ia berhadapan langsung dengan Helen.Setelah mendengar tuduhan tersirat dari Tristan, Helen membalas dengan tajam, “Kamu sudah kehilangan akal, Tristan. Kamu begitu terobsesi pada Scarlett sampai tidak mau menerima kebenaran yang jelas
Di kursi mobil Maybach-nya yang mewah, Tristan menggenggam setir dengan kedua tangan. Ia baru saja meninggalkan rumah keluarga Wilson. Ponselnya yang tergeletak di kursi penumpang bergetar, menandakan ada panggilan masuk.Nama Helen muncul di layar, membuat ekspresi Tristan sempat menggelap. Namun pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang kunjungan dokter Scarlett yang tidak membuahkan hasil hari itu, sehingga dengan enggan ia menerima panggilan tersebut.“Tristan, ayo kita bertemu,” suara Helen terdengar jelas dan tegas.Tristan terdiam sejenak sebelum menjawab, membuat Helen kembali berbicara. “Kita perlu membicarakan kebakaran tujuh tahun lalu itu. Kurasa, meskipun kamu bisa menyingkirkanku, kamu tidak ingin semuanya hancur berantakan, apalagi kalau Scarlett ikut terseret.”Lalu ia menambahkan, “Aku bisa menyerahkan semua bukti itu padamu.”Dengan suara datar, Tristan menjawab, “Baik.”
Tristan berdiri di sisi tempat tidur Scarlett, memperhatikannya yang tertidur pulas dengan posisi tubuh terbaring sembarangan di atas kasur. Ia membungkuk, lalu dengan lembut mengangkat dan membenarkan posisi Scarlett hingga berbaring telentang, posisi yang selalu ia katakan lebih baik untuk kesehatannya.Melihat Scarlett tidak bergerak sedikit pun saat dipindahkan, Tristan merasa heran sekaligus gemas melihat Scarlett yang masih tertidur nyenyak setelah dipindahkan. Ia lalu membungkuk dan mencium bibirnya. Tristan seperti ketagihan dengan ciuman itu, semakin lama semakin tenggelam dalam momen tersebut.Scarlett yang sedang tidur lelap tiba-tiba bermimpi ada anjing yang sedang menggigit mulutnya. Ia pun terkejut dan terbangun, hanya untuk mendapati Tristan sedang mencuri ciuman darinya. Wajahnya langsung berubah kesal. Ia mendorong wajah Tristan menjauh dan berkata dengan nada jengkel, “Tristan, apa kamu tidak punya rasa malu? Pagi-pagi begini pun aku tidak bisa







