Share

Bab 4

Penulis: Anonima
Sikap dinginku rupanya benar-benar menyulut amarahnya.

“Sebenarnya maumu apa, sih? Sudah berapa kali kujelaskan, Rachel baru saja pulang dari luar negeri, dia nggak punya kenalan. Dia hanya bisa menghubungi aku. Kalau bukan aku, dia mau cari siapa lagi?”

“Leo itu masih kecil, wajar kalau dia tantrum. Tapi, kamu sudah dewasa, masa masih mau bersikap nggak masuk akal begini?”

“Apa sebenarnya yang kamu mau?”

Mendengar kata-katanya, aku hanya merasa sangat konyol.

Sebagai orang dewasa, emangnya Rachel nggak punya kemampuan bersosialisasi yang paling dasar sekalipun? Emangnya nggak ada satu pun rekan kerja yang dia kenal?

Alasan ‘hanya bisa menghubungi James seorang’ itu jelas-jelas punya niat terselubung. Semuanya dilakukan hanya agar bisa berduaan dengannya.

Sementara James, entah dia memang bodoh atau hanya pura-pura bodoh, mungkin hanya dia sendiri yang tahu.

“Aku hanya ingin cerai denganmu, sekarang juga.”

Jawabku dengan tenang.

James sampai tak bisa berkata-kata sangking marahnya.

Tiba-tiba, mata Rachel tertuju pada kotak abu yang kuletakkan di atas tanah pemakaman yang belum sempat digali dan mengambilnya.

“James, aku mau memakamkan Cola di sini.”

Lalu, dia pun menoleh ke arahku. Wajahnya jelas-jelas tersenyum, tapi bagiku dia tampak seperti ular berbisa yang dingin, membuat sekujur tubuhku merinding.

“Kak Vivi, Colaku sudah mati. Seharusnya kamu juga nggak perlu bawa kotak abu palsu begini hanya untuk memesan lahan makam demi menipu James dan cari perhatian. Cola itu nyawa yang berharga, aku ingin dia bereinkarnasi dengan baik di kehidupan selanjutnya. Berikan saja lahan ini pada Cola, ya?”

Lahan ini khusus kupilih di tempat yang paling banyak terkena sinar matahari, dengan harapan di kehidupan mendatang Leo bisa hidup sehat dan bahagia.

Bagaimana mungkin aku bisa tahan melihat Rachel yang mencoba merampasnya?

Dengan penuh amarah, aku mendorong Rachel dan memeluk erat kotak abu itu di pelukanku.

“Apa hakmu menyentuh kotak abuku?! Aku yang membeli lahan ini! Cari saja tempat lain, jangan mengganggu di depanku!”

Rachel terhuyung karena doronganku. James secara reflek menahannya, lalu berbalik membentakku,

“Vivi! Kalau kamu nggak senang, lampiaskan saja padaku! Kenapa harus menyerang Rachel?! Apa hubungannya kotak abu rongsokan itu denganmu? Sampai kamu melindunginya seperti barang berharga begitu?!”

“Cepat minta maaf pada Rachel, lalu serahkan lahan makam ini. Nggak hanya ribut mau cerai, sekarang malah pakai cara rendahan begini untuk menarik perhatianku!”

Sampai tahap ini, James masih mengira aku membawa kotak abu palsu hanya untuk bersaing dengan Rachel demi mendapatkan perhatiannya.

Bahkan setelah meninggal pun, putraku yang manis dan penurut masih harus menerima penghinaan dari ayah kandungnya sendiri.

Aku benar-benar tak mengerti mengapa diriku bisa jatuh cinta pada pria seperti ini dulu.

“James, aku nggak sedang main-main. Aku pasti akan cerai denganku dan lahan makam ini nggak akan pernah kuberikan!”

James benar-benar emosi mendengar ucapanku. Dia mengayunkan tangannya, memukul kotak abu di pelukanku.

“Masih mau akting? Sini, biar kulihat apa isinya!”

Aku membelalakkan mata.

“Jangan sentuh dia!”

Namun, gerakan tangan James terlalu cepat. Aku tak sempat menghindar dan kotak abu itu sudah menghantam tanah dengan keras.

Serbuk putih di dalamnya berhamburan, tercecer ke mana-mana.

Aku jatuh berlutut dengan putus asa, berusaha mati-matian mengumpulkan serbuk di hadapanku.

Namun, abu itu sudah bercampur dengan debu tanah, sulit dibedakan.

Telapak tanganku terus bergesekan dengan tanah hingga lecet dan berdarah, tapi aku tak berani berhenti. Aku takut jika telat sedetik saja, abu putraku akan terbang tertiup angin.

Rachel menyindir di samping,

“Wah, akting Kak Vivi benar-benar totalitas.”

James juga mengerutkan kening, lalu menatapku dengan dingin.

“Vivi, perlukah sampai segitunya demi sebuah properti?”

Aku menutup telinga dari suara mereka, terus mengumpulkan serbuk di tanah.

Mungkin rasa bersalah yang terlambat mulai muncul di hati James, dia pun mencoba maju untuk menarik aku berdiri.

Tepat sedetik sebelum dia menyentuh lenganku, akhirnya petugas pemakaman datang membawa nisan yang sudah selesai dibuat.

"Bu Vivi, batu nisan putramu sudah siap, sudah bisa dimakamkan sekarang."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 7

    Setelah pergi, aku naik pesawat menuju Padang Gob yang luas untuk melihat galaxy dan langit penuh bintang.Ini adalah impian Leo. Sejak kecil, dia sangat menyukai astronomi.Hari ulang tahun itu seharusnya menjadi momen pertama kalinya dia melihat hujan meteor langsung di alam liar, tapi tak disangka tempat itu malah menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.Aku ingin mewujudkan mimpi ini untuknya.Surat cerai yang sudah ditandatangani James pun dikirimkan padaku.Mungkin karena rasa bersalah yang mendalam, dia menyusun ulang surat cerainya dan memberikan sebagian besar hartanya padaku.Tanpa basa-basi, aku menerima semuanya.Begitu tanda tangan, hatiku terasa sangat ringan, merasa kelegaan yang nyata.Sudah waktunya untuk pulang.Aku ingin menceritakan semua yang kulihat di perjalanan ini pada putraku, agar dia tahu bahwa ibunya telah mewujudkan mimpinya.Baru saja turun dari pesawat, aku menerima telepon dari asisten James.“Kak Vivi, cepat datang ke rumah sakit. Pak James kecelakaa

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 6

    Kesedihan dan penderitaan yang kupendam selama beberapa hari ini akhirnya terlampiaskan.Aku merasa kematian putraku benar-benar tidak adil.Saat dia meninggal, ayahnya malah menemani wanita lain hanya karena seekor anjing mati. Betapa konyolnya kenyataan ini.Rachel yang tidak tahan melihatku menyalahkan James, langsung pasang badan di depan pria itu.“James nggak tahu kalau terjadi sesuatu pada Leo tadi malam. Sebagai ayahnya, dia sudah sangat sedih, kok kamu masih saja menyalahkannya?”Rachel ingin terus bicara, tapi tiba-tiba James mendorongnya menjauh.“Cukup! Jangan bicara lagi!”Rachel hampir terjatuh, wajahnya tampak sangat menyedihkan.“James, aku hanya nggak tega melihat Kak Vivi bicara begitu padamu, dia….”Untuk pertama kalinya, James tidak memberikan perhatian sedikit pun pada Rachel. Dia menatap mataku lekat-lekat, lalu berkata dengan suara penuh kepedihan,“Maaf… aku nggak tahu kalau asma Leo kambuh. Dulu, aku selalu mengira dia masih kecil, waktu untuk bersamanya masih

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 5

    “Apa katamu? Nisan siapa?”James mematung di tempat dan menatap petugas pemakaman itu dengan tatapan tidak percaya. Petugas itu tampak bingung.“Ini nisan Leo Lois, putra Bu Vivi. Kalian temannya Bu Vivi?”James terhuyung beberapa langkah. Matanya menatap tajam ke arah nama yang terukir di nisan itu, seolah sedang mencari kesalahan atau bukti bahwa itu semua palsu.Namun, dia harus kecewa.Nama Leo Lois terukir dengan jelas di batu nisan itu.Itu adalah nama lengkap putraku.Saat ini, aku sudah mengumpulkan semua serbuk di tanah yang telah bercampur dengan debu ke dalam kotak abu. Dengan tangan yang penuh luka dan darah, aku memeluk erat kotak itu, tidak membiarkan siapapun menyentuhnya.Mata James berkaca-kaca, dia berteriak keras padaku,“Vivi! Kok kamu nggak bilang padaku kalau Leo kecelakaan?! Kenapa?!”Rachel yang berdiri di sampingnya tampak panik. Dia segera maju dan memegang tangan James.“James, masalah ini….”Namun, James bahkan tidak menoleh sedikit pun padanya kali ini. J

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 4

    Sikap dinginku rupanya benar-benar menyulut amarahnya.“Sebenarnya maumu apa, sih? Sudah berapa kali kujelaskan, Rachel baru saja pulang dari luar negeri, dia nggak punya kenalan. Dia hanya bisa menghubungi aku. Kalau bukan aku, dia mau cari siapa lagi?”“Leo itu masih kecil, wajar kalau dia tantrum. Tapi, kamu sudah dewasa, masa masih mau bersikap nggak masuk akal begini?”“Apa sebenarnya yang kamu mau?”Mendengar kata-katanya, aku hanya merasa sangat konyol.Sebagai orang dewasa, emangnya Rachel nggak punya kemampuan bersosialisasi yang paling dasar sekalipun? Emangnya nggak ada satu pun rekan kerja yang dia kenal?Alasan ‘hanya bisa menghubungi James seorang’ itu jelas-jelas punya niat terselubung. Semuanya dilakukan hanya agar bisa berduaan dengannya. Sementara James, entah dia memang bodoh atau hanya pura-pura bodoh, mungkin hanya dia sendiri yang tahu.“Aku hanya ingin cerai denganmu, sekarang juga.”Jawabku dengan tenang.James sampai tak bisa berkata-kata sangking marahnya.Ti

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 3

    Keesokan harinya, aku membawa kotak abu putraku ke pemakaman yang sudah kupilih untuk dimakamkan.Aku tak memberitahu James.Bagiku, dia adalah pembunuh tidak langsung putraku, kehadirannya hanya akan mengotori jalan reinkarnasi putraku.Namun, aku tak menyangka dunia ini begitu sempit. Di pemakaman pun aku bisa bertemu dengan James dan Rachel.“James, menurutmu kita harus memakamkan Cola di mana? Katanya kalau anjing dimakamkan dengan tata cara manusia, itu akan membantunya bereinkarnasi menjadi manusia di kehidupan mendatang. Kita harus pilih tempat yang bagus, ya.”Ujar Rachel sambil memeluk kotak abu.Awalnya aku tak ingin memedulikan mereka, tapi James malah melihatku.Dia mengerutkan kening, matanya memancarkan rasa kesal, seolah-olah aku ini adalah kotoran yang sulit disingkirkan.“Apain kamu di sini?”Karena James sudah memberitahuku kalau anjing Rachel mati kemarin, dia langsung berasumsi kalau kedatanganku di sini adalah untuk membuntutinya.Aku tak ingin bicara dengannya da

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 2

    Aku menghubungi temanku, Erna untuk membuat surat cerai dan menyampaikan semua tuntutanku padanya.Aku masih ingat saat pertama kali Erna bertemu James, dia sempat bercanda, “Kalau kamu berani menyakiti Vivi, aku sebagai pengacara nggak akan tinggal diam.”Saat itu James menjawab dengan serius bahwa dirinya tak akan pernah memberikan kesempatan itu padanya.Dulu, aku pun mengira hari seperti ini tak akan pernah datang.Namun kini, waktu telah menyeret kami sampai ke tahap ini.Sambil membawa surat cerai dan memeluk kotak abu putraku, aku pulang ke rumah.Begitu pintu terbuka, aku melihat sandal khusus milik putraku, mainan yang berserakan di lantai dan foto ulang tahun di atas meja….Segala sesuatu di dalam rumah masih sama seperti sebelumnya. Seolah-olah detik berikutnya putraku akan berlari ke pelukanku dan memanggilku ibu dengan suara cemprengnya.Namun, dinginnya kotak abu di pelukanku mengingatkanku bahwa putraku sudah tiada.Dia meninggal tepat di hari ulang tahun yang paling dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status