แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Anonima
Keesokan harinya, aku membawa kotak abu putraku ke pemakaman yang sudah kupilih untuk dimakamkan.

Aku tak memberitahu James.

Bagiku, dia adalah pembunuh tidak langsung putraku, kehadirannya hanya akan mengotori jalan reinkarnasi putraku.

Namun, aku tak menyangka dunia ini begitu sempit. Di pemakaman pun aku bisa bertemu dengan James dan Rachel.

“James, menurutmu kita harus memakamkan Cola di mana? Katanya kalau anjing dimakamkan dengan tata cara manusia, itu akan membantunya bereinkarnasi menjadi manusia di kehidupan mendatang. Kita harus pilih tempat yang bagus, ya.”

Ujar Rachel sambil memeluk kotak abu.

Awalnya aku tak ingin memedulikan mereka, tapi James malah melihatku.

Dia mengerutkan kening, matanya memancarkan rasa kesal, seolah-olah aku ini adalah kotoran yang sulit disingkirkan.

“Apain kamu di sini?”

Karena James sudah memberitahuku kalau anjing Rachel mati kemarin, dia langsung berasumsi kalau kedatanganku di sini adalah untuk membuntutinya.

Aku tak ingin bicara dengannya dan langsung berbalik untuk pergi.

Namun, Rachel memasang wajah memelas dan menahanku.

“Kak Vivi, anjing yang kupelihara dari kecil mati kemarin. Dia sudah seperti keluargaku sendiri. Aku benar-benar sedih, makanya menelepon James. Hari ini dia juga menemaniku untuk memakamkan anjing ini, tolong jangan salahkan dia.”

Wajah Rachel yang pura-pura polos itu sudah terbaca jelas olehku. Dulu, karena memikirkan dia bekerja di perusahaan James, aku tidak membongkar kedoknya. Sayangnya, sekarang tak punya kesabaran untuk meladeninya.

“Kenapa? Aku harus membakar dupa juga untuk anjingmu?”

“Vivi, apa yang kamu bicarakan? Kenapa harus bicara ketus begitu?”

James langsung pasang badan untuk melindungi Rachel di belakangnya, seolah-olah diriku ini siluman yang mau menerkamnya.

Dulu, aku pasti akan sakit hati dan berdebat dengannya. Sekarang, aku hanya tak ingin berhubungan dengannya sedikit pun.

Aku membalikkan badan tanpa menjawab sepatah kata pun.

Rachel menarik-narik lengan baju James.

“James, ayo kita cari makamnya dulu. Mungkin Kak Vivi hanya khawatir padamu saja.”

Namun yang mengejutkan, James malah tak menuruti Rachel kali ini. Dia malah melunakkan suaranya padaku.

“Soal hari ulang tahun Leo kemarin, itu salahku. Pulang nanti, aku akan minta maaf pada Leo. Aku juga janji padamu kalau nggak ada apa-apa antara aku dan Rachel. Kamu jangan marah lagi, ya?”

Mungkin sampai sekarang dia masih mengira aku sedang cemburu dan marah, makanya dia merendahkan gengsinya untuk minta maaf.

Kalau dulu, aku pasti sudah luluh dan memaafkannya.

Namun kali ini, orang yang seharusnya menerima permintaan maaf James sudah tiada.

Dan aku juga tidak akan pernah memaafkannya, untuk selamanya.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 7

    Setelah pergi, aku naik pesawat menuju Padang Gob yang luas untuk melihat galaxy dan langit penuh bintang.Ini adalah impian Leo. Sejak kecil, dia sangat menyukai astronomi.Hari ulang tahun itu seharusnya menjadi momen pertama kalinya dia melihat hujan meteor langsung di alam liar, tapi tak disangka tempat itu malah menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.Aku ingin mewujudkan mimpi ini untuknya.Surat cerai yang sudah ditandatangani James pun dikirimkan padaku.Mungkin karena rasa bersalah yang mendalam, dia menyusun ulang surat cerainya dan memberikan sebagian besar hartanya padaku.Tanpa basa-basi, aku menerima semuanya.Begitu tanda tangan, hatiku terasa sangat ringan, merasa kelegaan yang nyata.Sudah waktunya untuk pulang.Aku ingin menceritakan semua yang kulihat di perjalanan ini pada putraku, agar dia tahu bahwa ibunya telah mewujudkan mimpinya.Baru saja turun dari pesawat, aku menerima telepon dari asisten James.“Kak Vivi, cepat datang ke rumah sakit. Pak James kecelakaa

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 6

    Kesedihan dan penderitaan yang kupendam selama beberapa hari ini akhirnya terlampiaskan.Aku merasa kematian putraku benar-benar tidak adil.Saat dia meninggal, ayahnya malah menemani wanita lain hanya karena seekor anjing mati. Betapa konyolnya kenyataan ini.Rachel yang tidak tahan melihatku menyalahkan James, langsung pasang badan di depan pria itu.“James nggak tahu kalau terjadi sesuatu pada Leo tadi malam. Sebagai ayahnya, dia sudah sangat sedih, kok kamu masih saja menyalahkannya?”Rachel ingin terus bicara, tapi tiba-tiba James mendorongnya menjauh.“Cukup! Jangan bicara lagi!”Rachel hampir terjatuh, wajahnya tampak sangat menyedihkan.“James, aku hanya nggak tega melihat Kak Vivi bicara begitu padamu, dia….”Untuk pertama kalinya, James tidak memberikan perhatian sedikit pun pada Rachel. Dia menatap mataku lekat-lekat, lalu berkata dengan suara penuh kepedihan,“Maaf… aku nggak tahu kalau asma Leo kambuh. Dulu, aku selalu mengira dia masih kecil, waktu untuk bersamanya masih

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 5

    “Apa katamu? Nisan siapa?”James mematung di tempat dan menatap petugas pemakaman itu dengan tatapan tidak percaya. Petugas itu tampak bingung.“Ini nisan Leo Lois, putra Bu Vivi. Kalian temannya Bu Vivi?”James terhuyung beberapa langkah. Matanya menatap tajam ke arah nama yang terukir di nisan itu, seolah sedang mencari kesalahan atau bukti bahwa itu semua palsu.Namun, dia harus kecewa.Nama Leo Lois terukir dengan jelas di batu nisan itu.Itu adalah nama lengkap putraku.Saat ini, aku sudah mengumpulkan semua serbuk di tanah yang telah bercampur dengan debu ke dalam kotak abu. Dengan tangan yang penuh luka dan darah, aku memeluk erat kotak itu, tidak membiarkan siapapun menyentuhnya.Mata James berkaca-kaca, dia berteriak keras padaku,“Vivi! Kok kamu nggak bilang padaku kalau Leo kecelakaan?! Kenapa?!”Rachel yang berdiri di sampingnya tampak panik. Dia segera maju dan memegang tangan James.“James, masalah ini….”Namun, James bahkan tidak menoleh sedikit pun padanya kali ini. J

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 4

    Sikap dinginku rupanya benar-benar menyulut amarahnya.“Sebenarnya maumu apa, sih? Sudah berapa kali kujelaskan, Rachel baru saja pulang dari luar negeri, dia nggak punya kenalan. Dia hanya bisa menghubungi aku. Kalau bukan aku, dia mau cari siapa lagi?”“Leo itu masih kecil, wajar kalau dia tantrum. Tapi, kamu sudah dewasa, masa masih mau bersikap nggak masuk akal begini?”“Apa sebenarnya yang kamu mau?”Mendengar kata-katanya, aku hanya merasa sangat konyol.Sebagai orang dewasa, emangnya Rachel nggak punya kemampuan bersosialisasi yang paling dasar sekalipun? Emangnya nggak ada satu pun rekan kerja yang dia kenal?Alasan ‘hanya bisa menghubungi James seorang’ itu jelas-jelas punya niat terselubung. Semuanya dilakukan hanya agar bisa berduaan dengannya. Sementara James, entah dia memang bodoh atau hanya pura-pura bodoh, mungkin hanya dia sendiri yang tahu.“Aku hanya ingin cerai denganmu, sekarang juga.”Jawabku dengan tenang.James sampai tak bisa berkata-kata sangking marahnya.Ti

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 3

    Keesokan harinya, aku membawa kotak abu putraku ke pemakaman yang sudah kupilih untuk dimakamkan.Aku tak memberitahu James.Bagiku, dia adalah pembunuh tidak langsung putraku, kehadirannya hanya akan mengotori jalan reinkarnasi putraku.Namun, aku tak menyangka dunia ini begitu sempit. Di pemakaman pun aku bisa bertemu dengan James dan Rachel.“James, menurutmu kita harus memakamkan Cola di mana? Katanya kalau anjing dimakamkan dengan tata cara manusia, itu akan membantunya bereinkarnasi menjadi manusia di kehidupan mendatang. Kita harus pilih tempat yang bagus, ya.”Ujar Rachel sambil memeluk kotak abu.Awalnya aku tak ingin memedulikan mereka, tapi James malah melihatku.Dia mengerutkan kening, matanya memancarkan rasa kesal, seolah-olah aku ini adalah kotoran yang sulit disingkirkan.“Apain kamu di sini?”Karena James sudah memberitahuku kalau anjing Rachel mati kemarin, dia langsung berasumsi kalau kedatanganku di sini adalah untuk membuntutinya.Aku tak ingin bicara dengannya da

  • Pemandangan Terakhir Anakku   Bab 2

    Aku menghubungi temanku, Erna untuk membuat surat cerai dan menyampaikan semua tuntutanku padanya.Aku masih ingat saat pertama kali Erna bertemu James, dia sempat bercanda, “Kalau kamu berani menyakiti Vivi, aku sebagai pengacara nggak akan tinggal diam.”Saat itu James menjawab dengan serius bahwa dirinya tak akan pernah memberikan kesempatan itu padanya.Dulu, aku pun mengira hari seperti ini tak akan pernah datang.Namun kini, waktu telah menyeret kami sampai ke tahap ini.Sambil membawa surat cerai dan memeluk kotak abu putraku, aku pulang ke rumah.Begitu pintu terbuka, aku melihat sandal khusus milik putraku, mainan yang berserakan di lantai dan foto ulang tahun di atas meja….Segala sesuatu di dalam rumah masih sama seperti sebelumnya. Seolah-olah detik berikutnya putraku akan berlari ke pelukanku dan memanggilku ibu dengan suara cemprengnya.Namun, dinginnya kotak abu di pelukanku mengingatkanku bahwa putraku sudah tiada.Dia meninggal tepat di hari ulang tahun yang paling dia

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status