INICIAR SESIÓNUndangan bersepuh emas dari Pangeran Malik Al-Mansoor menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan elit bisnis. Proyek pelabuhan logistik Al-Mansoor Maritime senilai lima puluh triliun rupiah adalah megaproyek yang diperebutkan oleh korporasi raksasa dari seluruh penjuru dunia.
Namun, fakta bahwa Pangeran Malik secara khusus meminta namaku sebagai negosiator utama menciptakan riak ketegangan yang sangat nyata di antara aku dan Adrian.Di dalam kabin mewah pesawat jet pribadi yang melaPagi hari di kantor pusat Aristha Group diwarnai oleh ketegangan yang tertahan. Berita tentang masuknya Blackwood Capital ke dalam jajaran pemegang saham minoritas sudah menyebar luas di kalangan pimpinan divisi.Di ruang rapat eksekutif lantai teratas, para anggota dewan komisaris sudah berkumpul.Di ujung meja, duduk Helena dengan pakaian serba hitam yang mewah, dilapisi perhiasan emas tebal di leher dan jemarinya. Wajahnya yang dulu terpukul saat diusir kini terpoles penuh percaya diri, menyunggingkan senyuman culas seolah-olah dia telah merebut kembali takhtanya.Di samping Helena, duduk pengacara pribadinya yang membawa tumpukan dokumen legalitas kepemilikan saham.Klek.Pintu rapat terbuka lebar.Aku melangkah masuk dengan balutan blazer suit warna merah marun yang pas di tubuh, dipadu dengan sepatu high heels hitam yang berdentang tegas di atas lantai granit. Di sampingku, Adrian melangkah mendampingi. Kehadiran sosok CEO Vane Group yang tinggi tegap dan berwajah dingin itu lan
Penandatanganan megakontrak bernilai lima puluh triliun rupiah di Istana Al-Mansoor berjalan tanpa hambatan. Keberhasilanku membungkam Sheikh Rashid membuat nama Aristha Group makin berkibar di kancah bisnis internasional. Keesokan harinya, jet pribadi Vane Group meluncur membelah awan menuju Jakarta. Setelah perjalanan udara yang cukup panjang dan melelahkan, kami akhirnya mendarat di apron VIP Bandara Soekarno-Hatta. Udara hangat khas Jakarta menyambut saat aku dan Adrian melangkah keluar dari pintu pesawat. "Akhirnya kembali ke rumah," gumamku sambil merapikan blazer hitam bergaris emas yang kupakai. Adrian melangkah di sampingku, tangannya melingkar posesif di pinggangku seperti biasa. "Istirahatlah dulu malam ini. Persiapan pernikahan kita sudah mencapai delapan puluh persen, dan kau tidak boleh tampak lelah saat memilih gaun pengantin besok." Aku terkekeh renyah, menyunggingkan senyuman miring yang menawan. "Tuan Vane, cewek yang baru saja melibas Sheikh Rashid di Dubai ti
Kata-kata Sheikh Rashid yang sarat akan prasangka dan meremehkan bergema dingin di tengah aula megah Istana Al-Mansoor. Keheningan pekat seketika menyelimuti para tamu VIP.Pangeran Malik mengernyitkan alis, hendak melangkah maju untuk memotong ucapan pamannya. "Paman Rashid, reputasi Aristha Group dan kualifikasi Clara sudah—""Biarkan saya yang menjawab, Pangeran Malik," potongku tenang namun tegas.Aku melangkah maju dua tapak, berdiri tegap tepat di hadapan Sheikh Rashid. Tidak ada ketakutan, rasa ragu, apalagi rasa minder di dalam mataku. Senyuman miring yang anggun dan sarat akan dominasi terukir indah di bibirku."Sheikh Rashid," kataku dengan suara jernih yang memantul di pilar-pilar marmer istana. "Tradisi dan usia memang membawa kearifan. Tapi di dunia pasar modal dan logistik global modern, yang menentukan keberhasilan bukanlah jenis kelamin atau berapa lama seseorang memegang takhta... melainkan angka, kecepatan, dan efisiensi."Sheikh Rashid memicing
Malam gala dinner di Istana Al-Mansoor berlangsung di sebuah aula megah berarsitektur Timur Tengah klasik. Pilar-pilar marmer putih dihiasi ukiran emas tipis, sementara pendar lampu kristal gantung memantulkan kemewahan kelas atas yang tiada tanding.Aku melangkah masuk ke dalam aula istana berdampingan dengan Adrian.Malam ini aku mengenakan gaun malam black satin berpotongan tegas yang dipadu dengan selendang emas tipis bertekstur modern. Perhiasan berlian simpel melingkar di leherku, menegaskan aura keanggunan seorang pemimpin wanita berkelas. Di sampingku, Adrian tampil sangat gagah dengan setelan tuxedo hitam khas bangsawan, tatapannya dingin dan tajam mengawasi sekeliling.Kehadiran kami langsung menarik perhatian para tamu VIP—terdiri dari para pengusaha minyak, diplomat internasional, dan anggota keluarga kerajaan Dubai."Direktur Clara, Tuan Adrian... selamat datang," sapa Pangeran Malik yang melangkah menghampiri kami.Malam ini Pangeran Malik mengenaka
Undangan bersepuh emas dari Pangeran Malik Al-Mansoor menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan elit bisnis. Proyek pelabuhan logistik Al-Mansoor Maritime senilai lima puluh triliun rupiah adalah megaproyek yang diperebutkan oleh korporasi raksasa dari seluruh penjuru dunia.Namun, fakta bahwa Pangeran Malik secara khusus meminta namaku sebagai negosiator utama menciptakan riak ketegangan yang sangat nyata di antara aku dan Adrian.Di dalam kabin mewah pesawat jet pribadi yang melaju menembus awan menuju Dubai, suasana terasa hangat namun sarat akan tensi yang unik.Aku duduk santai di sofa kulit кремо, memangku laptop sambil meneliti profil bisnis Al-Mansoor Group. Di depanku, Adrian duduk dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk membaca dokumen di tabletnya, namun tatapan matanya berkali-kali teralih padaku dengan pendar posesif yang sangat kuat."Pangeran Malik Al-Mansoor..." aku bergumam sengaja memancing reaksi pr
Tiga minggu pasca-kejatuhan Hendrik Aristha dan pembongkaran skandal Keluarga Malverne di Belgia, peta bisnis internasional bergetar. Seluruh hak waris tunggal atas Aristha Group kini telah resmi, sah, dan mengikat seratus persen di bawah nama Clara Aristha secara hukum internasional.Tidak ada lagi bayangan masa lalu. Tidak ada lagi pihak yang berani mempertanyakan legalitas kekuasaanku.Pagi ini, Ballroom Ritz-Carlton Jakarta disulap menjadi panggung megah untuk acara pengukuhan resmi reorganisasi Aristha Group sekaligus pengumuman penyatuan lini bisnis strategis dengan Vane Group. Ratusan pejabat negara, konglomerat mancanegara, serta rekan media berkumpul di bawah pendar ribuan lampu kristal.Di balik cermin ruang rias VIP, aku berdiri menatap pantulan diriku.Gaun pantsuit putih gading dengan aksen blazer berpotongan tegas membungkus tubuhku dengan sempurna. Di dada kiriku, tersemat pin bros berlian berbentuk mahkota—simbol kekuasaan baru Aristha Group. Tidak ad







