ログインRionaldo Xaviero berdiri di serambi perpustakaan istana, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku tua yang berjajar rapi,Ia tidak benar-benar membaca,sejak pagi, pikirannya melayang di antara nama-nama yang semakin sering terdengar seperti gema di dinding batu Aethelgard.
Jagatra.Lucas.Michael.Kaesar.Dan kini… Rafka.Ia menghela napas pelan,Rionaldo bukan yang paling vokal,bukan juga yang paling diperhitungkan,namun ia cukup cerdas untuk memahami satu haBalai Agung Aethelgard dipenuhi ketegangan.Kabar hilangnya Ellisha baru saja mengguncang seluruh kerajaan. Para perwira masih berdiri mengelilingi peta perbatasan. Laporan terus berdatangan.Namun tidak ada satu pun yang memberi jawaban.Tidak ada jejak.Tidak ada saksi.Tidak ada petunjuk.Seolah Putri Ellisha benar-benar ditelan bumi.Justin memukul meja pelan.“Gue nggak suka ini.”Lucas yang masih pucat bersandar di kursinya.“Semua orang juga nggak suka.”Rionaldo menyilangkan tangan.“Kalau ini penculikan, berarti pelakunya udah nyiapin semuanya jauh-jauh hari.”Rafka mengangguk pelan.Dan itu membuat suasana semakin buruk.Karena musuh yang tidak terlihat selalu lebih berbahaya.Namun sebelum pembahasan berlanjut...TOK.TOK.TOK.Suara ketukan terdengar dari pintu aula.Seorang pelayan tua masuk perlahan.Wajahnya tampak ragu.“Paduka.”Jagatra mengangkat pandangan.“Ada apa?
Setelah sidang berakhir dan Audina dibebaskan, suasana istana terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.sejak perang saudara berakhir...tidak ada teriakan.Tidak ada darah.Tidak ada kabar kematian.Hanya suara langkah para pelayan yang kembali bekerja dan percakapan pelan yang memenuhi koridor kerajaan.Namun kedamaian itu tidak bertahan lama.Karena menjelang siang...sebuah kabar tiba dari perbatasan timur.Dan kabar itu langsung membuat seluruh istana terdiam.Di ruang kerja sementara milik Jagatra.BRAK!Seorang kurir kerajaan berlutut cepat di tengah ruangan.Napasnya masih memburu.“Paduka!”Jagatra mengangkat kepala dari tumpukan dokumen.Lucas yang duduk di dekat jendela ikut menoleh.Justin menghentikan kunyahannya.Rionaldo mengangkat satu alis.Sementara Rafka yang sedang membaca laporan perlahan menutup bukunya.“Ada apa?” tanya Jagatra tenang.Kurir itu menelan ludah.
Kalimat terakhir Jagatra seolah masih bergema di antara pilar-pilar tinggi aula kerajaan."Kerajaan ini sudah kehilangan terlalu banyak orang.""Jangan tambah lagi dengan ketidakadilan."Tidak ada yang membantah.Tidak ada yang bergerak.Bahkan para bangsawan yang sebelumnya paling keras menentang Audina kini hanya menundukkan kepala.Karena mereka tahu.Mereka kalah.Dan kali ini...mereka kalah secara telak.Audina masih berdiri di tempatnya.Untuk beberapa saat... ia bahkan tidak sadar bahwa semuanya sudah berakhir.Tangannya perlahan mengepal ujung pakaiannya.Dadanya terasa sesak.Bukan karena takut.Melainkan karena lega.Lega yang datang setelah terlalu lama menahan kecemasan.Nara menyentuh lengannya pelan."Audina."Gadis itu berkedip kecil.Lalu perlahan menoleh.Nara tersenyum hangat."Semuanya selesai."Dan saat itulah...Audina akhirnya benar-benar menyadarinya.Ia bebas.
Fajar datang perlahan ke Aethelgard.Kabut pagi masih menggantung di antara menara-menara istana. Cahaya matahari yang pucat mulai menyentuh dinding batu yang rusak akibat perang.Namun pagi itu... seluruh kerajaan bergerak lebih cepat dari biasanya.Karena hari ini...sidang Dewan Bangsawan akan dilaksanakan.Dan seluruh Aethelgard tahu siapa yang akan hadir.Jagatra.Balai Agung kembali dipenuhi orang.Para bangsawan duduk berjejer di sisi kanan dan kiri aula.Jubah-jubah mewah memenuhi ruangan.Bisikan-bisikan pelan terdengar di mana-mana.Sebagian gugup.Sebagian marah.Sebagian berharap.Namun satu hal sama,tidak ada seorang pun yang bisa mengabaikan tekanan yang memenuhi aula pagi itu.Di ujung ruangan...Audina berdiri di bawah pengawalan.Tidak dirantai.Namun tetap berstatus tahanan sementara.Wajahnya masih pucat.Meski begitu...tatapannya tetap tenang.Nara berdiri tidak jauh darinya.
Di taman belakang...Rafka masih duduk diam di bangku batu.Sementara Jagatra tetap berada di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi.Karena malam itu, kesunyian terasa lebih jujur daripada kata-kata.Namun di bagian lain istana...seseorang akhirnya mencapai batasnya.Setelah meninggalkan balkon bersama Justin...Rionaldo tidak kembali ke ruang pengobatan.Ia berbelok sendiri ke koridor timur.Langkahnya pelan.Tanpa tujuan jelas.Tanpa sadar.Ia hanya berjalan.Melewati aula kosong.Melewati lorong panjang.Melewati jendela-jendela tinggi yang memperlihatkan langit malam kelabu.Sampai akhirnya...langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.Rionaldo membeku.Karena ia mengenali tempat itu.Kamar Cristian.Sunyi.Pintu itu sudah tertutup sejak pemiliknya pergi.Tidak ada penjaga.Tidak ada pelayan.Tidak ada siapa-siapa.Hanya sebuah ruangan kosong yang ditinggalkan se
Malam masih menyelimuti Aethelgard.Kabut tipis mulai turun perlahan di halaman-halaman istana. Obor penjaga berkelip pelan diterpa angin dingin, sementara suara langkah prajurit malam terdengar samar dari kejauhan.Di balkon sayap barat...Justin dan Rionaldo masih berdiri dalam diam.Tak ada lagi yang perlu dikatakan malam itu.Karena beberapa luka memang tidak bisa dijahit dengan kata-kata.Akhirnya Justin mengembuskan napas panjang."Ayo balik."Rionaldo mengangguk kecil.Mereka berdua mulai berjalan kembali menuju ruang pengobatan.Namun saat tiba di depan pintu...keduanya berhenti.Karena seseorang sudah tidak ada di sana.Rafka.Pria itu menghilang tanpa suara.Justin mengernyit."Mana dia?"Rionaldo melirik ke dalam ruangan.Jagatra masih duduk dekat ranjang Lucas.Para tabib sibuk bekerja.Namun memang...Rafka tidak terlihat.Di sisi lain istana...Rafka duduk sendirian di taman be
Di Balai Arsip Kerajaan, lampu minyak masih menyala.Meski matahari sudah tinggi.Di tengah ruangan yang dipenuhi dokumen tua, Pangeran Justin Stewart Andrian masih berdiri di depan meja.Tangannya membuka satu gulungan.Membaca.Menutup.Lalu beralih ke yang lain.Seo
Pagi di Kerajaan Aethelgard Silvanus terus berjalan.Namun bagi sebagian orang,Hari ini bukan tentang terang. Melainkan tentang siapa yang masih berdiri di bawahnya. Di balai latihan militer, suara logam kembali terdengar. Clang! Dua pedang beradu keras.
Pagi di Kerajaan Aethelgard Silvanus semakin terang.Namun cahaya tidak selalu berarti kejelasan.Kadang,Ia justru membuat bayangan terlihat lebih tajam.Di salah satu menara yang jarang digunakan, seorang pria berdiri menghadap halaman istana.Pangeran Lucas Zander Maxime.Ta
Fajar akhirnya tiba di Kerajaan Aethelgard Silvanus.Langit perlahan berubah dari hitam menjadi abu-abu pucat. Cahaya pagi menyentuh menara-menara tinggi istana, membuat bayangan panjang jatuh di halaman batu.Istana mulai hidup kembali.Para pelayan berjalan membawa air dan makanan.







