LOGINRionaldo Xaviero berdiri di serambi perpustakaan istana, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku tua yang berjajar rapi,Ia tidak benar-benar membaca,sejak pagi, pikirannya melayang di antara nama-nama yang semakin sering terdengar seperti gema di dinding batu Aethelgard.
Jagatra.Lucas.Michael.Kaesar.Dan kini… Rafka.Ia menghela napas pelan,Rionaldo bukan yang paling vokal,bukan juga yang paling diperhitungkan,namun ia cukup cerdas untuk memahami satu haLorong menuju aula utama dipenuhi suara perang. CLANG! BRAKK! DUGG! Getaran benturan terasa sampai ke dinding-dinding istana. Namun di antara semua kekacauan itu… Rafka Narendra Afsar justru berjalan semakin cepat. Pedangnya masih berlumuran darah. Napasnya berat. Bahunya terasa nyeri akibat benturan sebelumnya. Tetapi matanya… tidak lagi dipenuhi keraguan. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia tahu apa yang harus ia lakukan. Pasukan bawah tanah bergerak di belakang Rafka. Mereka baru saja merebut jalur timur istana dan membuka beberapa akses menuju aula utama. Namun setiap langkah menuju pusat istana… semakin brutal. Tubuh prajurit bergelimpangan di lantai batu. Darah mengalir sampai ke sela marmer. Dan di ujung lorong sekelompok pasukan elit Kaesar menunggu. “Jangan biarkan mereka lew
Di bawah istana Aethelgard…perang yang mengguncang aula utama hanya terdengar seperti gema jauh.DUMM… CLANG… BRAKK…Suara-suara itu turun melewati lorong batu penjara bawah tanah.Namun di tempat paling gelap itu… ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada perang.Kesunyian.Justin Stewart Andrian duduk bersandar di dinding sel batu. Tangannya masih dirantai. Luka di bahunya belum ditangani dengan benar. Darah kering menempel di pakaiannya.Namun sejak tadi… ia tidak bergerak.Karena pikirannya masih berhenti di satu hal:Michael mati.Napas Justin terdengar berat. Kepalanya menunduk. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya.Biasanya… ia akan bercanda. Mengeluh. Atau melempar komentar menyebalkan.Namun sekarang… bahkan suara kecil pun terasa sulit keluar.Langkah kaki tiba-tiba terdengar dari lorong penjara.KREEKK…Pintu besi luar dibuka.Justin mengangkat kepala perlahan.Beberapa prajurit masuk tergesa. Waj
CLANG!Benturan pedang kembali memekakkan aula utama Aethelgard.Namun kali ini… suasana perang berubah.Bukan lagi tentang bertahan hidup.Melainkan tentang akhir yang mulai terlihat.Jagatra berdiri di tengah tangga singgasana. Lucas di sisi kirinya. Rionaldo sedikit di depan. Rafka menjaga jalur bawah. Cristian masih bertahan meski darah terus mengalir dari tubuhnya.Dan di atas sana…Kaesar mulai sendirian.Tatapannya bergerak liar ke seluruh aula. Ke prajurit-prajurit yang mulai mundur. Ke orang-orang yang mulai kehilangan keberanian menatapnya.Untuk pertama kalinya… takhta itu terlihat jauh darinya.“Paduka…” salah satu komandan Kaesar berkata pelan.Namun Kaesar langsung membentaknya.“DIAM!”Suara itu menggema keras.Beberapa prajurit refleks menegang.Namun tidak ada lagi keyakinan penuh di mata mereka.Dan Kaesar melihat itu.Ia melihat ketakutan. Keraguan. Bahkan… penyesalan.Semuanya mulai runtuh.CL
CLANG!Benturan pedang kembali menggema di tangga singgasana.Jagatra terus menekan.Kaesar terus mundur.Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai…aula utama Aethelgard mulai percaya bahwa kemenangan mungkin benar-benar bisa diraih.Namun tepat saat keadaan mulai berbalik DUGG!Suara ledakan kecil terdengar dari sisi aula.Asap tipis langsung menyebar dari dekat pilar-pilar besar.Rionaldo langsung menoleh cepat.“…lagi?” gumamnya tajam.Prajurit langsung panik sesaat.Pandangan mereka terhalang.Dan di tengah kekacauan kecil itu…satu sosok berjalan keluar dari balik asap.Pelan.Tidak tergesa.Namun cukup untuk membuat seluruh aula membeku.Langkah itu berhenti tepat di bawah cahaya aula.Pakaian hitamnya penuh noda darah kering.Sebagian lengannya dibalut kain kasar.Namun matanya…masih setajam sebelumnya.Lucas Zander Maxime.Ellisha langsung membelalak.“…Paduka Lucas?”Cristian yang setengah berlutut langsung mengangkat kepala cepat.Rafka membeku kecil.Sementara Jagat
Tangga menuju singgasana Aethelgard kini dipenuhi darah.CLANG!Benturan pedang terus menggema tanpa jeda.Namun arah perang mulai berubah.Sedikit demi sedikit…pasukan Kaesar mulai terdorong mundur.Jalan yang Terbuka Paksa“Dorong mereka keluar dari tangga!”Rafka membentak keras.Pasukan bawah tanah yang tadi bergerak bersamanya langsung maju serempak.BRAK!Barisan pertahanan sisi kiri Kaesar runtuh.Beberapa prajurit terpental jatuh ke lantai aula.Rionaldo langsung memanfaatkan celah itu.Gerakannya melesat cepat seperti bayangan.CLANG!Satu prajurit tumbang.Putaran berikutnya..BRAK!Dua lainnya jatuh bersamaan.“…rapuh banget,” gumamnya dingin.Namun matanya sama sekali tidak santai.Karena ia tahu…mereka harus memaksa perang ini selesai sebelum Cristian benar-benar tumbang.Jagatra Terus NaikJagatra menaiki satu anak tangga lagi.Lalu satu lagi.Tatapannya tidak
CLANG!Benturan pedang kembali menggema keras di aula utama Aethelgard.Perang semakin brutal.Prajurit berjatuhan.Lantai marmer kerajaan kini dipenuhi jejak darah dan pecahan senjata.Namun di tengah semua kekacauan itu…Jagatra masih terus bergerak maju.Menuju tangga singgasana.“Jangan biarkan mereka naik!”Bentakan komandan Kaesar menggema.Puluhan prajurit langsung menutup jalur menuju tangga utama.Cristian menoleh cepat.“Rafka! Kiri!”“Sudah!” balas Rafka sambil menahan dua serangan sekaligus.Rionaldo bergerak cepat di sisi kanan.Pedangnya menebas tanpa pola yang mudah ditebak.Namun jumlah musuh…terlalu banyak.Mereka mulai menekan kembali.Sedikit demi sedikit.Jagatra menyadari itu.Tatapannya bergerak cepat mengamati seluruh aula.Dan saat itulah…ia melihat sesuatu.Di balkon atas aula.Tiga pemanah.Diam.Mengarah lurus ke bawah.Ke arahnya.“Jagatra
Di Balai Arsip Kerajaan, lampu minyak masih menyala.Meski matahari sudah tinggi.Di tengah ruangan yang dipenuhi dokumen tua, Pangeran Justin Stewart Andrian masih berdiri di depan meja.Tangannya membuka satu gulungan.Membaca.Menutup.Lalu beralih ke yang lain.Seo
Pagi di Kerajaan Aethelgard Silvanus terus berjalan.Namun bagi sebagian orang,Hari ini bukan tentang terang. Melainkan tentang siapa yang masih berdiri di bawahnya. Di balai latihan militer, suara logam kembali terdengar. Clang! Dua pedang beradu keras.
Pagi di Kerajaan Aethelgard Silvanus semakin terang.Namun cahaya tidak selalu berarti kejelasan.Kadang,Ia justru membuat bayangan terlihat lebih tajam.Di salah satu menara yang jarang digunakan, seorang pria berdiri menghadap halaman istana.Pangeran Lucas Zander Maxime.Ta
Fajar akhirnya tiba di Kerajaan Aethelgard Silvanus.Langit perlahan berubah dari hitam menjadi abu-abu pucat. Cahaya pagi menyentuh menara-menara tinggi istana, membuat bayangan panjang jatuh di halaman batu.Istana mulai hidup kembali.Para pelayan berjalan membawa air dan makanan.







