Share

bab 113 Rionaldo Bimbang.

Author: Pita
last update publish date: 2026-01-12 06:03:18

Rionaldo Xaviero berdiri di serambi perpustakaan istana, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku tua yang berjajar rapi,Ia tidak benar-benar membaca,sejak pagi, pikirannya melayang di antara nama-nama yang semakin sering terdengar seperti gema di dinding batu Aethelgard.

Jagatra.

Lucas.

Michael.

Kaesar.

Dan kini… Rafka.

Ia menghela napas pelan,Rionaldo bukan yang paling vokal,bukan juga yang paling diperhitungkan,namun ia cukup cerdas untuk memahami satu ha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 249 Rafka yang membunuh demi takhta.

    Lorong menuju aula utama dipenuhi suara perang. CLANG! BRAKK! DUGG! Getaran benturan terasa sampai ke dinding-dinding istana. Namun di antara semua kekacauan itu… Rafka Narendra Afsar justru berjalan semakin cepat. Pedangnya masih berlumuran darah. Napasnya berat. Bahunya terasa nyeri akibat benturan sebelumnya. Tetapi matanya… tidak lagi dipenuhi keraguan. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia tahu apa yang harus ia lakukan. Pasukan bawah tanah bergerak di belakang Rafka. Mereka baru saja merebut jalur timur istana dan membuka beberapa akses menuju aula utama. Namun setiap langkah menuju pusat istana… semakin brutal. Tubuh prajurit bergelimpangan di lantai batu. Darah mengalir sampai ke sela marmer. Dan di ujung lorong sekelompok pasukan elit Kaesar menunggu. “Jangan biarkan mereka lew

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 248 Justin menjerit.

    Di bawah istana Aethelgard…perang yang mengguncang aula utama hanya terdengar seperti gema jauh.DUMM… CLANG… BRAKK…Suara-suara itu turun melewati lorong batu penjara bawah tanah.Namun di tempat paling gelap itu… ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada perang.Kesunyian.Justin Stewart Andrian duduk bersandar di dinding sel batu. Tangannya masih dirantai. Luka di bahunya belum ditangani dengan benar. Darah kering menempel di pakaiannya.Namun sejak tadi… ia tidak bergerak.Karena pikirannya masih berhenti di satu hal:Michael mati.Napas Justin terdengar berat. Kepalanya menunduk. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya.Biasanya… ia akan bercanda. Mengeluh. Atau melempar komentar menyebalkan.Namun sekarang… bahkan suara kecil pun terasa sulit keluar.Langkah kaki tiba-tiba terdengar dari lorong penjara.KREEKK…Pintu besi luar dibuka.Justin mengangkat kepala perlahan.Beberapa prajurit masuk tergesa. Waj

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 247 Michael berkhianat.

    CLANG!Benturan pedang kembali memekakkan aula utama Aethelgard.Namun kali ini… suasana perang berubah.Bukan lagi tentang bertahan hidup.Melainkan tentang akhir yang mulai terlihat.Jagatra berdiri di tengah tangga singgasana. Lucas di sisi kirinya. Rionaldo sedikit di depan. Rafka menjaga jalur bawah. Cristian masih bertahan meski darah terus mengalir dari tubuhnya.Dan di atas sana…Kaesar mulai sendirian.Tatapannya bergerak liar ke seluruh aula. Ke prajurit-prajurit yang mulai mundur. Ke orang-orang yang mulai kehilangan keberanian menatapnya.Untuk pertama kalinya… takhta itu terlihat jauh darinya.“Paduka…” salah satu komandan Kaesar berkata pelan.Namun Kaesar langsung membentaknya.“DIAM!”Suara itu menggema keras.Beberapa prajurit refleks menegang.Namun tidak ada lagi keyakinan penuh di mata mereka.Dan Kaesar melihat itu.Ia melihat ketakutan. Keraguan. Bahkan… penyesalan.Semuanya mulai runtuh.CL

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 246 lucas muncul lagi.

    CLANG!Benturan pedang kembali menggema di tangga singgasana.Jagatra terus menekan.Kaesar terus mundur.Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai…aula utama Aethelgard mulai percaya bahwa kemenangan mungkin benar-benar bisa diraih.Namun tepat saat keadaan mulai berbalik DUGG!Suara ledakan kecil terdengar dari sisi aula.Asap tipis langsung menyebar dari dekat pilar-pilar besar.Rionaldo langsung menoleh cepat.“…lagi?” gumamnya tajam.Prajurit langsung panik sesaat.Pandangan mereka terhalang.Dan di tengah kekacauan kecil itu…satu sosok berjalan keluar dari balik asap.Pelan.Tidak tergesa.Namun cukup untuk membuat seluruh aula membeku.Langkah itu berhenti tepat di bawah cahaya aula.Pakaian hitamnya penuh noda darah kering.Sebagian lengannya dibalut kain kasar.Namun matanya…masih setajam sebelumnya.Lucas Zander Maxime.Ellisha langsung membelalak.“…Paduka Lucas?”Cristian yang setengah berlutut langsung mengangkat kepala cepat.Rafka membeku kecil.Sementara Jagat

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 245 kaesar terdesak.

    Tangga menuju singgasana Aethelgard kini dipenuhi darah.CLANG!Benturan pedang terus menggema tanpa jeda.Namun arah perang mulai berubah.Sedikit demi sedikit…pasukan Kaesar mulai terdorong mundur.Jalan yang Terbuka Paksa“Dorong mereka keluar dari tangga!”Rafka membentak keras.Pasukan bawah tanah yang tadi bergerak bersamanya langsung maju serempak.BRAK!Barisan pertahanan sisi kiri Kaesar runtuh.Beberapa prajurit terpental jatuh ke lantai aula.Rionaldo langsung memanfaatkan celah itu.Gerakannya melesat cepat seperti bayangan.CLANG!Satu prajurit tumbang.Putaran berikutnya..BRAK!Dua lainnya jatuh bersamaan.“…rapuh banget,” gumamnya dingin.Namun matanya sama sekali tidak santai.Karena ia tahu…mereka harus memaksa perang ini selesai sebelum Cristian benar-benar tumbang.Jagatra Terus NaikJagatra menaiki satu anak tangga lagi.Lalu satu lagi.Tatapannya tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 244 Criatian yang rela mati.

    CLANG!Benturan pedang kembali menggema keras di aula utama Aethelgard.Perang semakin brutal.Prajurit berjatuhan.Lantai marmer kerajaan kini dipenuhi jejak darah dan pecahan senjata.Namun di tengah semua kekacauan itu…Jagatra masih terus bergerak maju.Menuju tangga singgasana.“Jangan biarkan mereka naik!”Bentakan komandan Kaesar menggema.Puluhan prajurit langsung menutup jalur menuju tangga utama.Cristian menoleh cepat.“Rafka! Kiri!”“Sudah!” balas Rafka sambil menahan dua serangan sekaligus.Rionaldo bergerak cepat di sisi kanan.Pedangnya menebas tanpa pola yang mudah ditebak.Namun jumlah musuh…terlalu banyak.Mereka mulai menekan kembali.Sedikit demi sedikit.Jagatra menyadari itu.Tatapannya bergerak cepat mengamati seluruh aula.Dan saat itulah…ia melihat sesuatu.Di balkon atas aula.Tiga pemanah.Diam.Mengarah lurus ke bawah.Ke arahnya.“Jagatra

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 88 keputusan.

    Di kamar pribadinya, Jagatra berdiri di depan cermin tinggi berbingkai emas. Pantulan wajahnya tampak lebih dewasa dari usia sebenarnya bukan karena waktu, melainkan karena beban. Luka di punggungnya masih dibalut, namun yang membuatnya sesak adalah luka yang tak terlihat.Ia menatap dir

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 87 Jagatra terpuruk.

    Di sisi lain istana, Kaesar berdiri di depan jendela ruangannya sendiri. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat menerima laporan bisikan.“Pangeran Mahkota tidak keluar kamar sejak pagi,” ujar seorang pelayan dengan suara rendah.Kaesar mengangguk puas. “Bagus. Tekanan mulai beker

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 86 Jagatra terpuruk.

    Di Balai Agung, Jagatra berdiri tegak di hadapan Raja William. Wajahnya tenang terlalu tenang namun sorot matanya menyimpan bara yang siap menyala. Ratu Elean duduk di sisi sang raja, jemarinya saling bertaut, membaca udara yang kian memanas.“Yang mulia penahanan Audina dilakukan tanpa

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 85 saudara yang menikam.

    Langkah Cristian menjauh dari balkon semakin cepat, namun takdir bergerak lebih dulu di dalam istana.Di Balai Dalam, di ruang pertemuan keluarga kerajaan yang hanya digunakan pada saat genting, beberapa bayangan telah lebih dulu berkumpul. Lampu-lampu dinding menyala redup, menciptakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status