MasukRionaldo Xaviero berdiri di serambi perpustakaan istana, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku tua yang berjajar rapi,Ia tidak benar-benar membaca,sejak pagi, pikirannya melayang di antara nama-nama yang semakin sering terdengar seperti gema di dinding batu Aethelgard.
Jagatra.Lucas.Michael.Kaesar.Dan kini… Rafka.Ia menghela napas pelan,Rionaldo bukan yang paling vokal,bukan juga yang paling diperhitungkan,namun ia cukup cerdas untuk memahami satu haTangga menuju singgasana Aethelgard kini dipenuhi darah.CLANG!Benturan pedang terus menggema tanpa jeda.Namun arah perang mulai berubah.Sedikit demi sedikit…pasukan Kaesar mulai terdorong mundur.Jalan yang Terbuka Paksa“Dorong mereka keluar dari tangga!”Rafka membentak keras.Pasukan bawah tanah yang tadi bergerak bersamanya langsung maju serempak.BRAK!Barisan pertahanan sisi kiri Kaesar runtuh.Beberapa prajurit terpental jatuh ke lantai aula.Rionaldo langsung memanfaatkan celah itu.Gerakannya melesat cepat seperti bayangan.CLANG!Satu prajurit tumbang.Putaran berikutnya..BRAK!Dua lainnya jatuh bersamaan.“…rapuh banget,” gumamnya dingin.Namun matanya sama sekali tidak santai.Karena ia tahu…mereka harus memaksa perang ini selesai sebelum Cristian benar-benar tumbang.Jagatra Terus NaikJagatra menaiki satu anak tangga lagi.Lalu satu lagi.Tatapannya tidak
CLANG!Benturan pedang kembali menggema keras di aula utama Aethelgard.Perang semakin brutal.Prajurit berjatuhan.Lantai marmer kerajaan kini dipenuhi jejak darah dan pecahan senjata.Namun di tengah semua kekacauan itu…Jagatra masih terus bergerak maju.Menuju tangga singgasana.“Jangan biarkan mereka naik!”Bentakan komandan Kaesar menggema.Puluhan prajurit langsung menutup jalur menuju tangga utama.Cristian menoleh cepat.“Rafka! Kiri!”“Sudah!” balas Rafka sambil menahan dua serangan sekaligus.Rionaldo bergerak cepat di sisi kanan.Pedangnya menebas tanpa pola yang mudah ditebak.Namun jumlah musuh…terlalu banyak.Mereka mulai menekan kembali.Sedikit demi sedikit.Jagatra menyadari itu.Tatapannya bergerak cepat mengamati seluruh aula.Dan saat itulah…ia melihat sesuatu.Di balkon atas aula.Tiga pemanah.Diam.Mengarah lurus ke bawah.Ke arahnya.“Jagatra
BRAKK!Suara benturan besar kembali mengguncang istana Aethelgard.Lilin-lilin kecil di ruang penyembuhan bergetar pelan.Beberapa pelayan refleks menahan napas.Namun di dekat jendela…Ellisha justru berdiri diam.Tatapannya tertuju pada Audina.Pada cara gadis itu menatap ke arah aula utama.Penuh keyakinan.Penuh kepercayaan.Ellisha menyadari sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui.“Audina.”Suara Ellisha pelan.Audina menoleh perlahan.Ellisha tersenyum kecil.Namun kali ini…senyum itu terasa sangat lelah.“Aku dulu berpikir…” katanya lirih, “…kalau aku terus berada di dekat Jagatra… mungkin suatu hari beliau akan melihatku.”Ruangan menjadi sunyi.Nara perlahan menunduk.Karena ia tahu…kalimat itu sudah terlalu lama disimpan oleh putrinya.Ellisha menatap jendela.Tatapannya jauh.“Beliau selalu baik.”“Terlalu baik.”“Tapi aku tidak pernah benar-benar bisa menyentuh
Di tengah perang yang mengguncang aula utama Aethelgard…ada satu ruangan kecil yang tetap dipenuhi cahaya lilin redup.Namun bahkan tempat itu… tidak lagi benar-benar jauh dari perang.Karena setiap benturan dari aula utama masih terdengar samar sampai ke sana.CLANG!BRAK!DUGG!Setiap suara membuat para pelayan saling menoleh dengan wajah tegang.Dan di atas ranjang sederhana dekat jendela…Audina perlahan membuka mata.Napasnya masih berat.Lukanya belum pulih sepenuhnya.Namun suara itu…suara perang di dalam istana…tidak memberinya kesempatan untuk benar-benar beristirahat.Pelayan yang berjaga langsung mendekat.“Nona Audina, Anda belum boleh bangun.”Audina menoleh pelan ke arah jendela.Cahaya pagi masuk samar.Namun yang lebih jelas terdengar…adalah suara pertempuran.“…mereka mulai,” bisiknya lirih.Tangannya perlahan menggenggam selimut.Pikirannya langsung menuju satu nama.
CLANG!Suara puluhan pedang yang terhunus menggema memenuhi aula utama Aethelgard.Prajurit Kaesar mulai bergerak maju. Teratur. Rapih. Menekan dari segala arah.Sementara di tengah aula…Jagatra tetap berdiri diam.Rionaldo di depannya. Cristian di sisi kanan. Rafka baru saja masuk dari pintu belakang aula bersama beberapa prajurit bawah tanah.sejak malam panjang itu dimulai… orang-orang mulai berkumpul di belakang satu nama.Jagatra.“MAJU!”Bentakan salah satu komandan Kaesar memecah udara.Prajurit langsung menyerbu.BRAK!Rionaldo bergerak pertama.Pedangnya menghantam barisan depan tanpa ragu. Membuka ruang.“Sebelah kiri!” teriak Cristian.Pasukan kecil di sisi Jagatra langsung bergerak mengikuti arah itu.Benturan mulai pecah di seluruh aula.CLANG! BRAK! DUGG!Jeritan. Langkah kaki. Suara logam.Aula kerajaan… akhirnya berubah menjadi medan perang sungguhan.Di tengah kekacauan itu, Jagatra tet
Aethelgard perlahan memasuki pagi.Namun istana itu… tidak terasa seperti tempat yang menyambut matahari.Lorong-lorongnya masih dipenuhi prajurit bersenjata. Darah masih belum sepenuhnya dibersihkan dari lantai batu. Dan di balik setiap pintu…orang-orang mulai memilih pihak.Aula yang Tidak Pernah Benar-Benar TenangDi aula utama, Jagatra masih berdiri di depan singgasana.Pertarungan dengan Kaesar sempat terhenti setelah kekacauan sebelumnya. Namun ketegangan… tidak benar-benar hilang.Kaesar berdiri di tangga atas. Tatapannya dingin.Sementara beberapa prajurit mulai memenuhi sisi aula perlahan.Jagatra menyadari itu.“…kau mulai menyembunyikan pasukan sekarang?” tanyanya datar.Kaesar tersenyum tipis.“Dan kau mulai kehabisan orang.”Sunyi.Kalimat itu… tidak sepenuhnya salah.Lucas menghilang. Justin dipenjara. Michael sudah mati.Jagatra benar-benar berdiri dengan lebih sedikit orang di sisinya.Namun ekspres
Pagi bergerak seperti biasa di istana Kerajaan Aethelgard Silvanus.Namun bagi Pangeran Mahkota Jagatra Eduardo Batistuta, pagi itu membawa sesuatu yang lebih berat dari kabar perang.Ia menerima laporan itu tanpa banyak kata,Berkas tipis. Segelnya rapi.Jagatra me
Rafka duduk di tepi bangku kayu, punggungnya menempel dinding yang lembap. Cahaya lampu minyak menipis, bergetar setiap kali angin menyelinap lewat celah. Ia tidak menghitung waktu. Ia membiarkannya lewat, karena waktu yang dihitung terasa seperti dituntut.Sejak keluar dari lorong sempi
Pagi belum benar-benar terang ketika Justin berdiri di ambang Balai. Ia tidak masuk. Ia menunggu hingga orang-orang yang terburu-buru lewat berhenti berlari,saat itu, keputusan terasa paling ringan untuk digeser.Seorang penghubung menghampirinya dengan senyum administratif. “Ada pembaru
Setelah langkah pertama Kaesar diambil, istana memasuki jeda yang sunyi. Di sela-sela sunyi itulah Lucas Zander Maxime bergerak,tanpa tanda, tanpa jejak. Ia tidak datang sebagai pangeran; ia datang sebagai celah.Lucas memahami satu hal yang Kaesar abaikan: kekuasaan paling efektif adala