Share

bab 112 Rafka yang terjebak.

Penulis: Pita
last update Tanggal publikasi: 2026-01-11 06:19:39

Rafka Narendra Afsar berdiri di balkon kecil sayap timur, memandangi halaman bawah dengan dahi berkerut,sejak fajar, dadanya terasa sempit,ada sesuatu yang tidak bisa ia beri nama bukan firasat, bukan pula ketakutan,lebih seperti perasaan bahwa langkah-langkahnya sedang diarahkan tanpa ia sadari.

“Yang Mulia,” ucap seorang pelayan, menunduk hormat. “Anda dipanggil ke Balai Konsultasi. Ratu Elean menunggu.”

Rafka menoleh cepat.

“Ibu?”

“Ya, Yang Mulia. Segera.”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 273 Ellisha menghilang.

    Setelah sidang berakhir dan Audina dibebaskan, suasana istana terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.sejak perang saudara berakhir...tidak ada teriakan.Tidak ada darah.Tidak ada kabar kematian.Hanya suara langkah para pelayan yang kembali bekerja dan percakapan pelan yang memenuhi koridor kerajaan.Namun kedamaian itu tidak bertahan lama.Karena menjelang siang...sebuah kabar tiba dari perbatasan timur.Dan kabar itu langsung membuat seluruh istana terdiam.Di ruang kerja sementara milik Jagatra.BRAK!Seorang kurir kerajaan berlutut cepat di tengah ruangan.Napasnya masih memburu.“Paduka!”Jagatra mengangkat kepala dari tumpukan dokumen.Lucas yang duduk di dekat jendela ikut menoleh.Justin menghentikan kunyahannya.Rionaldo mengangkat satu alis.Sementara Rafka yang sedang membaca laporan perlahan menutup bukunya.“Ada apa?” tanya Jagatra tenang.Kurir itu menelan ludah.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 272 Audina kembali.

    Kalimat terakhir Jagatra seolah masih bergema di antara pilar-pilar tinggi aula kerajaan."Kerajaan ini sudah kehilangan terlalu banyak orang.""Jangan tambah lagi dengan ketidakadilan."Tidak ada yang membantah.Tidak ada yang bergerak.Bahkan para bangsawan yang sebelumnya paling keras menentang Audina kini hanya menundukkan kepala.Karena mereka tahu.Mereka kalah.Dan kali ini...mereka kalah secara telak.Audina masih berdiri di tempatnya.Untuk beberapa saat... ia bahkan tidak sadar bahwa semuanya sudah berakhir.Tangannya perlahan mengepal ujung pakaiannya.Dadanya terasa sesak.Bukan karena takut.Melainkan karena lega.Lega yang datang setelah terlalu lama menahan kecemasan.Nara menyentuh lengannya pelan."Audina."Gadis itu berkedip kecil.Lalu perlahan menoleh.Nara tersenyum hangat."Semuanya selesai."Dan saat itulah...Audina akhirnya benar-benar menyadarinya.Ia bebas.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 271 Jagatra menang besar.

    Fajar datang perlahan ke Aethelgard.Kabut pagi masih menggantung di antara menara-menara istana. Cahaya matahari yang pucat mulai menyentuh dinding batu yang rusak akibat perang.Namun pagi itu... seluruh kerajaan bergerak lebih cepat dari biasanya.Karena hari ini...sidang Dewan Bangsawan akan dilaksanakan.Dan seluruh Aethelgard tahu siapa yang akan hadir.Jagatra.Balai Agung kembali dipenuhi orang.Para bangsawan duduk berjejer di sisi kanan dan kiri aula.Jubah-jubah mewah memenuhi ruangan.Bisikan-bisikan pelan terdengar di mana-mana.Sebagian gugup.Sebagian marah.Sebagian berharap.Namun satu hal sama,tidak ada seorang pun yang bisa mengabaikan tekanan yang memenuhi aula pagi itu.Di ujung ruangan...Audina berdiri di bawah pengawalan.Tidak dirantai.Namun tetap berstatus tahanan sementara.Wajahnya masih pucat.Meski begitu...tatapannya tetap tenang.Nara berdiri tidak jauh darinya.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 270 Rionaldo menangis.

    Di taman belakang...Rafka masih duduk diam di bangku batu.Sementara Jagatra tetap berada di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi.Karena malam itu, kesunyian terasa lebih jujur daripada kata-kata.Namun di bagian lain istana...seseorang akhirnya mencapai batasnya.Setelah meninggalkan balkon bersama Justin...Rionaldo tidak kembali ke ruang pengobatan.Ia berbelok sendiri ke koridor timur.Langkahnya pelan.Tanpa tujuan jelas.Tanpa sadar.Ia hanya berjalan.Melewati aula kosong.Melewati lorong panjang.Melewati jendela-jendela tinggi yang memperlihatkan langit malam kelabu.Sampai akhirnya...langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.Rionaldo membeku.Karena ia mengenali tempat itu.Kamar Cristian.Sunyi.Pintu itu sudah tertutup sejak pemiliknya pergi.Tidak ada penjaga.Tidak ada pelayan.Tidak ada siapa-siapa.Hanya sebuah ruangan kosong yang ditinggalkan se

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 269 Rafka diam.

    Malam masih menyelimuti Aethelgard.Kabut tipis mulai turun perlahan di halaman-halaman istana. Obor penjaga berkelip pelan diterpa angin dingin, sementara suara langkah prajurit malam terdengar samar dari kejauhan.Di balkon sayap barat...Justin dan Rionaldo masih berdiri dalam diam.Tak ada lagi yang perlu dikatakan malam itu.Karena beberapa luka memang tidak bisa dijahit dengan kata-kata.Akhirnya Justin mengembuskan napas panjang."Ayo balik."Rionaldo mengangguk kecil.Mereka berdua mulai berjalan kembali menuju ruang pengobatan.Namun saat tiba di depan pintu...keduanya berhenti.Karena seseorang sudah tidak ada di sana.Rafka.Pria itu menghilang tanpa suara.Justin mengernyit."Mana dia?"Rionaldo melirik ke dalam ruangan.Jagatra masih duduk dekat ranjang Lucas.Para tabib sibuk bekerja.Namun memang...Rafka tidak terlihat.Di sisi lain istana...Rafka duduk sendirian di taman be

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 268 justin yang terlupakan.

    Malam semakin dalam di Aethelgard.Hujan di luar perlahan mereda, meninggalkan suara tetesan air dari atap batu istana. Ruang pengobatan mulai sedikit tenang setelah Lucas akhirnya sadar kembali.Para tabib masih sibuk mengganti ramuan dan membersihkan racun dari tubuhnya.Namun ketegangan yang tadi memenuhi ruangan…belum benar-benar hilang.Rionaldo duduk di lantai dekat dinding sambil menundukkan kepala. Rafka berdiri diam di dekat jendela. Jagatra masih berada di sisi ranjang Lucas tanpa banyak bicara.Sementara Justin…perlahan berjalan keluar ruangan sendiri.Tidak ada yang menghentikannya.Karena semua orang mengira ia hanya butuh udara.Koridor istana terasa panjang dan dingin malam itu.Langkah Justin bergema pelan melewati obor-obor redup.Tatapannya kosong lurus ke depan.Isi kepalanya masih dipenuhi Michael.Cristian.Lucas.Dan semua orang yang hampir hilang satu per satu.Namun semakin lama ia berjalan

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 171 Ellisha menangis darah.

    Istana Kerajaan Aethelgard Silvanus tampak tenang dari luar. Menara batu berdiri kokoh. Bendera kerajaan berkibar pelan diterpa angin siang.Para penjaga berjalan di jalur patroli dengan ritme yang terlihat biasa.Namun di salah satu sayap istana yang jarang dikunjungi tamu, ket

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 170 Audina yang tegar.

    Pagi datang perlahan di kota yang berdiri di bawah bayang-bayang Kerajaan Aethelgard Silvanus.Kabut tipis masih menggantung di antara atap-atap rumah ketika Audina membuka jendela kecil rumahnya. Udara dingin masuk bersama bau tanah basah dan suara langkah orang-orang yang sudah memula

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 169 jagatra terluka lagi.

    Pagi bergerak seperti biasa di istana Kerajaan Aethelgard Silvanus.Namun bagi Pangeran Mahkota Jagatra Eduardo Batistuta, pagi itu membawa sesuatu yang lebih berat dari kabar perang.Ia menerima laporan itu tanpa banyak kata,Berkas tipis. Segelnya rapi.Jagatra me

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 167 Rafka terpuruk.

    Rafka duduk di tepi bangku kayu, punggungnya menempel dinding yang lembap. Cahaya lampu minyak menipis, bergetar setiap kali angin menyelinap lewat celah. Ia tidak menghitung waktu. Ia membiarkannya lewat, karena waktu yang dihitung terasa seperti dituntut.Sejak keluar dari lorong sempi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status