ログインRafka Narendra Afsar berdiri di balkon kecil sayap timur, memandangi halaman bawah dengan dahi berkerut,sejak fajar, dadanya terasa sempit,ada sesuatu yang tidak bisa ia beri nama bukan firasat, bukan pula ketakutan,lebih seperti perasaan bahwa langkah-langkahnya sedang diarahkan tanpa ia sadari.
“Yang Mulia,” ucap seorang pelayan, menunduk hormat. “Anda dipanggil ke Balai Konsultasi. Ratu Elean menunggu.”Rafka menoleh cepat.“Ibu?”“Ya, Yang Mulia. Segera.”Malam semakin dalam di Aethelgard.Hujan di luar perlahan mereda, meninggalkan suara tetesan air dari atap batu istana. Ruang pengobatan mulai sedikit tenang setelah Lucas akhirnya sadar kembali.Para tabib masih sibuk mengganti ramuan dan membersihkan racun dari tubuhnya.Namun ketegangan yang tadi memenuhi ruangan…belum benar-benar hilang.Rionaldo duduk di lantai dekat dinding sambil menundukkan kepala. Rafka berdiri diam di dekat jendela. Jagatra masih berada di sisi ranjang Lucas tanpa banyak bicara.Sementara Justin…perlahan berjalan keluar ruangan sendiri.Tidak ada yang menghentikannya.Karena semua orang mengira ia hanya butuh udara.Koridor istana terasa panjang dan dingin malam itu.Langkah Justin bergema pelan melewati obor-obor redup.Tatapannya kosong lurus ke depan.Isi kepalanya masih dipenuhi Michael.Cristian.Lucas.Dan semua orang yang hampir hilang satu per satu.Namun semakin lama ia berjalan
saat Lucas dibawa menuju ruang pengobatan kerajaan. Para tabib berjalan cepat melewati koridor sambil membawa ramuan dan kain hangat.Sementara di belakang mereka…tidak ada satu pun yang bicara.Jagatra berjalan paling depan.Tatapannya lurus.Dingin.Rionaldo mengepalkan tangannya sejak tadi. Justin menunduk sambil mengusap wajah kasar berkali-kali. Dan Rafka terus menatap bercak darah kecil yang tertinggal di lantai batu tempat Lucas jatuh tadi.Semuanya terasa terlalu mirip.Terlalu dekat dengan kehilangan lain yang belum sempat mereka kubur.Pintu ruang pengobatan terbuka keras.BRAKK!Tabib segera membaringkan Lucas di atas ranjang besar.“Cepat, siapkan penawar!”“Air panas!”“Bersihkan lukanya lagi!”Suara para tabib memenuhi ruangan.Namun Lucas sendiri hanya memejamkan mata sambil menahan napas berat.Racun hitam samar mulai terlihat jelas di bawah kulit lehernya sekarang.Dan itu membuat suasana ruang
Hujan kecil belum berhenti sejak ruangan penghormatan itu ditinggalkan. Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor redup dan langkah pelan para pelayan yang berbicara nyaris berbisik.Namun setelah keluar dari ruangan Cristian…tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa bisa bernapas lega.Jagatra berjalan paling depan di koridor utama.Tatapannya lurus.Diam.Sementara di belakangnya, Justin menunduk sambil memasukkan tangan ke saku jubah. Rafka berjalan pelan dengan wajah pucat. Rionaldo masih memegang gelas kecil kosong sejak tadi.Dan Lucas…langkahnya mulai terasa berat.Sangat berat.Awalnya tidak ada yang sadar.Sampai....BRUKK!Tubuh Lucas tiba-tiba oleng keras menghantam dinding batu.“Lucas!”Rafka langsung bergerak cepat menangkap bahunya sebelum pria itu jatuh sepenuhnya ke lantai.Rionaldo membeku.Justin langsung mendecak panik.“Anjir.!”Lucas tertawa kecil sambil menahan napas kasar.“
Malam turun perlahan di Aethelgard.Hujan tipis kembali membasahi halaman istana. Cahaya obor memantul di lantai batu yang masih menyisakan retakan perang. Dan di tengah kerajaan yang sedang mencoba bangkit kembali…nama Cristian kembali memenuhi udara.Karena besok pagi… pemakamannya akan dilaksanakan.Di ruang persiapan kerajaan, beberapa pelayan berjalan pelan sambil membawa kain putih dan lambang bahrasta.Tidak ada suara keras.Tidak ada percakapan panjang.Semua orang bergerak hati-hati…seolah takut merusak kesunyian yang menyelimuti istana malam itu.Di ruangan paling ujung…tubuh Cristian terbaring tenang.Pakaiannya sudah diganti dengan jubah kerajaan berwarna hitam dan emas. Luka di dadanya ditutupi kain kehormatan perang.Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai…wajah pria itu terlihat benar-benar damai.Pintu ruangan terbuka perlahan.KREEKK…Jagatra masuk lebih dulu.Di belakangnya ada Lucas, Ju
Balai Agung Aethelgard berubah sunyi.Namun sunyi itu… bukan ketenangan,Melainkan tekanan yang membuat udara terasa berat.Jagatra masih berdiri di tengah aula.Tatapannya dingin mengarah lurus ke depan.Prajurit yang tadi melapor bahkan tidak berani mengangkat kepala lagi.Lucas mengusap wajahnya kasar.“…dewan bangsawan mulai gerak.”Justin mendecakkan lidah keras.“Mereka takut kehilangan kuasa.”Rafka mengepalkan tangannya kecil.“Dan mereka pakai Audina.”Rionaldo langsung berbalik menuju pintu aula.“Gue ambil dia sekarang.”Namun...“Berhenti.”Langkah Rionaldo langsung terhenti.Semua mata berpindah ke Jagatra.Pangeran mahkota itu perlahan berjalan turun dari tangga aula.Langkahnya tenang.Terlalu tenang.Dan justru itu yang membuat semua orang semakin waspada.Lucas menyipitkan mata kecil.“…lo mau apa?”Jagatra berhenti beberapa langkah dari mereka.Tatapannya tidak berubah.
Pagi di Aethelgard mulai bergerak perlahan.Balai Agung kembali dibuka.Para pelayan membersihkan sisa reruntuhan. Prajurit berjaga di setiap lorong utama. Dan untuk pertama kalinya sejak perang saudara pecah…kerajaan mulai terlihat hidup kembali.Namun kedamaian itu… tidak bertahan lama.Di sayap utara istana, Audina sedang duduk di ruang pemulihan kecilnya.Lukanya masih belum benar-benar sembuh. Bahunya masih diperban tebal. Namun dibanding beberapa hari lalu…warnanya sudah jauh lebih baik.Di dekat jendela, sinar matahari pagi masuk lembut menyinari ruangan.Nara berdiri di samping meja sambil menuangkan air hangat.Meskipun Putri Ellisha sudah meninggalkan Aethelgard… Nara masih tinggal sementara untuk membantu pemulihan para korban perang.“Audina, kau harus istirahat lebih lama,” katanya pelan.Audina tersenyum kecil.“Aku bosan terus di kamar.”Nara menghela napas kecil pasrah.Namun sebelum ia sempat menjawab—
Di bagian bawah istana, penjara kerajaan masih diselimuti udara dingin dan sunyi. Obor kecil di lorong-lorong batu terus bergetar pelan, menciptakan bayangan yang bergerak lambat di dinding.Namun jauh di atas sanaDi salah satu balkon menara istana.Seorang pria berdiri sendirian.
Para penjaga berdiri di pos masing-masing, obor-obor masih menyala, dan angin malam sesekali berdesir di antara lorong batu.Namun tidak semua orang di istana berhenti bergerak.Di salah satu bangunan yang jarang diperhatikan Balai Arsip Kerajaan.Ruangan besar itu dip
Malam semakin larut di Kerajaan Aethelgard Silvanus.Angin malam bertiup lebih dingin dari biasanya, membawa aroma lembap dari taman istana yang luas. Obor-obor di sepanjang tembok masih menyala, tetapi cahaya mereka tidak mampu menembus seluruh sudut gelap istana.Beberapa temp
Senja turun perlahan di Kerajaan Aethelgard Silvanus.Langit di atas istana berubah warna,biru yang memudar menjadi jingga tipis. Cahaya matahari terakhir menyentuh menara batu dan membuat bayangan panjang merayap di halaman.Para penjaga mulai mengganti giliran.Di kor