Share

bab 30 Kesedihan Audina.

Author: Pita
last update Last Updated: 2025-10-21 18:15:56

Senja turun perlahan di atas Kerajaan Aethelgard Silvanus. Langit oranye keemasan seindah lukisan, namun bagi Audina… dunia terasa kelabu.

Aluna duduk sendirian di sudut taman kerajaan yang jarang didatangi orang, tempat yang sebenarnya menjadi saksi diam pertemuan pertamanya dengan Jagatra.

Sepasang tangannya menggenggam mahkota bunga yang sudah hampir selesai dirangkainya, tetapi kelopak-kelopak kecilnya mulai basah… oleh air mata.

Perkataan Cristian siang tadi terus bergema di telinganya.

"Dalam kerajaan, apa pun yang penting bagimu… juga penting bagi musuhmu."

Ia bukan orang bodoh. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar peringatan biasa itu adalah ancaman tersembunyi. Entah dari siapa, tapi ia tahu… dirinya sudah menjadi titik lemah seseorang. Titik lemah Jagatra.

Dan dunia istana… tidak akan pernah membiarkan titik lemah itu hidup dengan tenang.

Sedikit demi sedikit, air matanya jatuh.

“Aku… hanya ingin bersamanya,” ucap Jagatra pelan. “Apa itu… terlalu berlebihan?”

Audina tersentak s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 108 persekongkolan di balai Rahasia.

    Balai Rahasia ruang tua yang tidak tercantum dalam peta istana kini kembali bernapas,pintu batu tebal bergeser perlahan, disusul langkah-langkah yang sengaja dibuat senyap,jubah-jubah gelap menyatu dengan bayangan, wajah-wajah disembunyikan di balik tudung.“Pangeran Mahkota terlalu cepat,” ucap salah satu dari mereka, suaranya serak. “Ia membuka arsip, membiarkan rakyat bicara, dan sekarang bahkan fitnah pun gagal.”“Karena dia tidak sendirian,rakyat berdiri di belakangnya,dan itu lebih berbahaya daripada pasukan.”sahut yang lain.Di ujung meja batu, seorang pria duduk tanpa tudung,wajahnya tak asing bagi siapa pun di ruangan itu,anggota senior lingkar kekuasaan lama, orang yang bertahan di setiap rezim.“Jagatra bukan masalah utamanya,masalahnya adalah preseden,jika dia berhasil, tidak ada lagi tempat aman bagi kita.”Seorang bangsawan perempuan mengepalkan jemarinya. “Dewan Peninjau sudah mulai menggali terlalu dalam,nama-nama akan muncul.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 107 Cristian yang tak menyerah.

    Riuh Balai Rakyat memang telah mereda, namun gema keberanian itu menjalar ke lorong-lorong istana, menyentuh mereka yang selama ini mengira kekuasaan selalu berada di tangan yang utuh dan tak terluka.Di sayap timur istana tamu, Pangeran Cristian terbaring setengah duduk di ranjang besar berseprai putih,perban masih membalut bahunya, kainnya bersih namun tubuhnya belum pulih. Setiap tarikan napas terasa berat, bukan karena luka saja, tapi karena kabar yang datang silih berganti.Seorang tabib kerajaan baru saja mundur beberapa langkah. “Luka Anda belum stabil, Yang Mulia. Anda seharusnya belum melakukan perjalanan jauh, apalagi menghadiri urusan politik.”Cristian tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai tekad keras. “Kerajaan boleh menunggu, tapi permainan kekuasaan tidak pernah menunggu orang sembuh.”Di samping ranjang, seorang pengawal kepercayaannya menunduk. “Kabar dari Balai Rakyat sudah menyebar,audina dibebaskan. Rakyat berdiri di pi

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 106 Ellisha memilih mundur.

    Riuh di Balai Rakyat semakin mengental,pintu aula kecil itu dibuka lebih lebar sesuai instruksi baru, tirai ditarik, cahaya pagi masuk tanpa izin,bersama bisik-bisik warga yang kini boleh menyaksikan.Penyelidik utama menatap Audina lebih lama dari sebelumnya.“Jika Anda bersaksi, pahami bahwa setiap kata Anda akan dicatat dan diuji.”Audina mengangguk. “Itulah yang sejak awal tidak diberikan oleh fitnah.” Ia menarik napas dalam.“Aku tidak pernah meminta akses ke istana,aku dipanggil, diajak bicara, dan diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai alat,jika itu dianggap pengaruh, maka masalahnya bukan padaku, tapi pada sistem yang terbiasa mengatur dari balik tirai.”Beberapa warga di belakang saling berpandangan, salah satu anggota dewan menyela, suaranya hati-hati.“Apakah ada pihak yang mencoba mendekati Anda sebelum tuduhan ini muncul?”Audina terdiam sejenak, lalu mengangguk.“Ada, tapi bukan dengan ancaman, tapi dengan t

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 105 Audina terseret fitnah.

    Di sudut kota bawah Aethelgard, Audina berdiri di depan kios kain tempat ia biasa membantu sejak fajar,Bisik-bisik terdengar bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik,tatapan orang-orang berubah lebih lama, lebih tajam, seolah mencari kesalahan di wajahnya.“Audina Veleryna Arsela?” tanya seorang prajurit istana, nada suaranya netral namun dingin.Audina mengangguk. “Aku.”“Kau diminta hadir di Balai Rakyat,sekarang.”Kerumunan langsung bergolak,seorang wanita tua berbisik, “Itu dia yang katanya dekat dengan Pangeran Mahkota.”Audina membeku..Di Balai Rakyat, gulungan kertas telah ditempel rapi,tinta masih segar, cap kerajaan tercetak jelas. Tuduhannya singkat namun mematikan: pengaruh tak pantas terhadap keputusan Pangeran Mahkota, koneksi rahasia dengan pihak istana, potensi ancaman stabilitas.Audina membaca semuanya tanpa berkedip,lalu ia tertawa kecil bukan karena lucu, melainkan karena pahitnya terasa terlalu nyata.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 104 Kaesar menunjukkan taring.

    Pintu Balai Agung menutup perlahan di belakang Kaesar,Lorong istana membentang dingin, Kaesar melangkah tanpa pengawal, tanpa gelar yang diteriakkan, tanpa bayang-bayang ibu yang selama ini menuntunnya.Di balik tiang marmer terakhir, seorang pelayan istana menunduk terlalu cepat.“Pangeran..”Kaesar berhenti.“Apa kau tahu bedanya bayangan dan taring?” tanya Kaesar tanpa menoleh.Pelayan itu terdiam.“Bayangan hanya mengikuti,” lanjut Kaesar. “Tapi taring menunggu,Ia diam, ia disembunyikan, tapi sekali menggigit tak ada yang lupa.”lalu melanjutkan kembali langkahnya.Di sayap barat istana, tempat para bangsawan jarang melintas, Kaesar memasuki sebuah ruang baca lama, debu menempel di rak-rak tinggi, namun satu meja sudah bersih terlalu bersih untuk ruangan yang katanya tak terpakai.Seseorang telah menunggu disana.“Pangeran Kaesar,” ucap sosok itu sambil menunduk setengah. “Atau Kaesar saja?”“Cukup Kaesar

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 103 Saudara yang berkhianat.

    Beberapa bangsawan menunduk, yang lain menatap lantai marmer seolah takut melihat pantulan wajah mereka sendiri, wajah orang-orang yang terlalu lama hidup di dalam kebohongan yang nyaman.Kaesar berdiri kaku, napasnya berat.“Sepanjang hidupku, aku diajarkan satu hal bahwa tugasku adalah menggantikan Jagatra jika ia dianggap tidak layak.”Ia menoleh ke arah Ratu Elean.“Bukan karena aku lebih pantas,tapi karena aku lebih mudah dibentuk.”Ratu Elean tidak menyangkal.“Aku membesarkanmu sebagai tameng,jika Jagatra jatuh, kerajaan tidak ikut runtuh.”Jagatra mengepalkan tangannya, namun suaranya tetap terkendali. “Dan demi tameng itu, kau menyiapkan pisau di belakangku.”Kaesar menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali.“Semua dukungan yang kudapat,” ucap Kaesar, “semua fitnah yang beredar bukan kebetulan.”Ratu Elan menghela napas panjang. “Aku tidak memulainya,tapi aku membiarkannya.”Beberapa bangsawan terperanj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status