Share

bab 34 Audina Dituduh.

Author: Pita
last update Last Updated: 2025-10-25 16:57:46

Angin sore berhembus pelan di halaman istana, tapi suasananya jauh dari tenang. Di ruang rapat kecil yang biasanya digunakan para penasihat kerajaan dan beberapa bangsawan berkumpul. Wajah mereka serius, sebagian malah tampak seperti menunggu pertunjukan yang menarik.

Di meja utama, Kaesar duduk dengan ekspresi datar tapi penuh kendali. Di sebelahnya, seorang pejabat istana muda bernama Lord Amsyar yang dikenal licik dan ambisius membuka gulungan laporan dengan suara lantang.

“Ada laporan dari penjaga wilayah timur kota. Seorang gadis rakyat biasa… disebut-sebut sering terlihat bersama Pangeran Jagatra di luar istana.”

Ruang itu seketika dipenuhi gumaman pelan.

Kaesar tampak terkejut, tapi terlalu halus untuk terlihat seperti benar-benar terkejut. Cristian, yang duduk bersandar tidak jauh dari situ, hanya menatap dengan tatapan penuh analisa… seolah ingin melihat ke arah mana arah angin akan berhembus.

Lord Amsyar melanjutkan dengan nada yang dibuat penuh khawatir.

“Dikabarkan bahwa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 111 Justin menyimpan dendam.

    Di sayap barat laut istana bagian yang jarang disentuh percakapan politik,Justin Stewart Adrian berdiri sendirian di ruang arsip latihan lama. Cahaya obor memantul di dinding batu, menyorot wajahnya yang kaku, rahang terkatup rapat. Tangannya menggenggam gagang pedang latihan. Bukan untuk bertarung melainkan untuk menahan sesuatu yang lebih berbahaya. Amarah yang tidak pernah diberi tempat. Justin selalu berada satu langkah di belakang. Di belakang Jagatra yang terlalu terang. Di belakang Lucas yang terlalu berani. Di belakang Michael yang terlalu licin. Dan bahkan di belakang Kaesar yang meski disingkirkan, tetap diperhitungkan. “Aku ada,tapi tak pernah dianggap.”gumam Justin Ia mengayunkan pedang ke udara kosong sekali,lalu dua kali. Tiba-tiba pintu kayu tua berderit. Seorang perwira muda masuk dengan ragu. “Yang Mulia latihan sudah selesai.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 110 Michael Bermuka dua.

    Di aula sarapan keluarga kerajaan, suara peralatan makan beradu pelan, tawa kecil terdengar sesekali terlalu normal untuk istana yang semalam berdenyut oleh konspirasi.Michael Lloris duduk di sisi meja panjang, posturnya santai, senyum sopan terpasang rapi. Ia menyesap tehnya seolah tak ada apa-apa yang berubah.“Lucas membuat suasana istana terlalu tegang,” katanya ringan, memecah obrolan. “Kita seharusnya menenangkan keadaan, bukan memperkeruhnya.”Beberapa pangeran mengangguk setuju. Michael selalu pandai memilih nada,cukup bijak untuk terdengar masuk akal, cukup lembut untuk tak memancing curiga.Jagatra mengangkat pandangannya. “Menentang persekongkolan bukan memperkeruh,Itu membersihkan.”ucap Jagatra dengan ekpresi datar.Michael tersenyum lebih lebar. “Tentu,aku hanya khawatir cara yang terlalu terbuka memberi mereka alasan untuk bergerak lebih cepat.”Lucas menatap Michael, lama. “Atau memberi mereka kepastian bahwa kit

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 109 Pangeran Lucas menentang.

    Pagi datang dengan langit pucat di atas Aethelgard,di ruang dewan kecil sayap utara ruangan yang jarang dipakai sejak Jagatra membuka arsip-arsip lama para pangeran berkumpul tanpa protokol resmi.Lucas Zander Maxime berdiri paling depan, kedua tangannya bertumpu pada meja kayu tua,wajahnya tenang, namun rahangnya mengeras tanda bahwa kesabarannya sudah menipis.“Aku mendengar Kaesar menerima pesan semalam,pesan tanpa nama dan tanpa cap.”Beberapa saudaranya saling pandang.“Dan?” tanya Jema dengan nada datar. “Bukankah itu biasa terjadi sejak dia dicabut dari pengaruh politik?”“Tidak,” potong Lucas. “Yang tidak biasa adalah siapa yang menginginkannya merasa itu pilihannya sendiri.”Michael mendecak pelan. “Balai Rahasia.”Lucas mengangguk. “Mereka ingin memaksa Jagatra memilih,dan mereka mengira Kaesar adalah tuasnya.”Pintu ruangan terbuka, Jagatra masuk tanpa pengumuman,tidak ada ekspresi marah di wajahnya hanya keten

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 108 persekongkolan di balai Rahasia.

    Balai Rahasia ruang tua yang tidak tercantum dalam peta istana kini kembali bernapas,pintu batu tebal bergeser perlahan, disusul langkah-langkah yang sengaja dibuat senyap,jubah-jubah gelap menyatu dengan bayangan, wajah-wajah disembunyikan di balik tudung.“Pangeran Mahkota terlalu cepat,” ucap salah satu dari mereka, suaranya serak. “Ia membuka arsip, membiarkan rakyat bicara, dan sekarang bahkan fitnah pun gagal.”“Karena dia tidak sendirian,rakyat berdiri di belakangnya,dan itu lebih berbahaya daripada pasukan.”sahut yang lain.Di ujung meja batu, seorang pria duduk tanpa tudung,wajahnya tak asing bagi siapa pun di ruangan itu,anggota senior lingkar kekuasaan lama, orang yang bertahan di setiap rezim.“Jagatra bukan masalah utamanya,masalahnya adalah preseden,jika dia berhasil, tidak ada lagi tempat aman bagi kita.”Seorang bangsawan perempuan mengepalkan jemarinya. “Dewan Peninjau sudah mulai menggali terlalu dalam,nama-nama akan muncul.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 107 Cristian yang tak menyerah.

    Riuh Balai Rakyat memang telah mereda, namun gema keberanian itu menjalar ke lorong-lorong istana, menyentuh mereka yang selama ini mengira kekuasaan selalu berada di tangan yang utuh dan tak terluka.Di sayap timur istana tamu, Pangeran Cristian terbaring setengah duduk di ranjang besar berseprai putih,perban masih membalut bahunya, kainnya bersih namun tubuhnya belum pulih. Setiap tarikan napas terasa berat, bukan karena luka saja, tapi karena kabar yang datang silih berganti.Seorang tabib kerajaan baru saja mundur beberapa langkah. “Luka Anda belum stabil, Yang Mulia. Anda seharusnya belum melakukan perjalanan jauh, apalagi menghadiri urusan politik.”Cristian tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai tekad keras. “Kerajaan boleh menunggu, tapi permainan kekuasaan tidak pernah menunggu orang sembuh.”Di samping ranjang, seorang pengawal kepercayaannya menunduk. “Kabar dari Balai Rakyat sudah menyebar,audina dibebaskan. Rakyat berdiri di pi

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 106 Ellisha memilih mundur.

    Riuh di Balai Rakyat semakin mengental,pintu aula kecil itu dibuka lebih lebar sesuai instruksi baru, tirai ditarik, cahaya pagi masuk tanpa izin,bersama bisik-bisik warga yang kini boleh menyaksikan.Penyelidik utama menatap Audina lebih lama dari sebelumnya.“Jika Anda bersaksi, pahami bahwa setiap kata Anda akan dicatat dan diuji.”Audina mengangguk. “Itulah yang sejak awal tidak diberikan oleh fitnah.” Ia menarik napas dalam.“Aku tidak pernah meminta akses ke istana,aku dipanggil, diajak bicara, dan diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai alat,jika itu dianggap pengaruh, maka masalahnya bukan padaku, tapi pada sistem yang terbiasa mengatur dari balik tirai.”Beberapa warga di belakang saling berpandangan, salah satu anggota dewan menyela, suaranya hati-hati.“Apakah ada pihak yang mencoba mendekati Anda sebelum tuduhan ini muncul?”Audina terdiam sejenak, lalu mengangguk.“Ada, tapi bukan dengan ancaman, tapi dengan t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status