Share

Bab 128

Penulis: Lilia
Luis mengenakan topeng perak, tetapi senyuman tipis tetap terlihat di sudut bibirnya. Dia sudah terbiasa dengan sikap Anggi terhadap keluarganya.

"Hidup manusia memang penuh pilihan. Pilihan yang berbeda akan membawa nasib yang berbeda pula." Andai waktu itu Luis tidak begitu berbelaskasihan, mungkin hari ini dia tidak akan menjadi cacat.

Menatap gadis di sampingnya, Luis tersenyum pahit. Mungkin dalam tragedi ini, satu-satunya hal yang membuatnya bersyukur adalah bisa bertemu dengan Anggi.

"Pangeran memang bijaksana." Anggi memberi hormat.

Setelah melihat Wulan semakin terpuruk, Anggi merasa sangat puas. Namun, ini baru permulaan. Apa yang dia inginkan jauh dari ini.

Akan lebih baik jika Wulan bisa merasakan seluruh penderitaan yang pernah dialami Anggi di kehidupan sebelumnya. Itu baru bisa menghapuskan dendam dalam hati Anggi.

Luis melambaikan tangan. "Kamu sudah boleh keluar."

"Baik." Sura membungkuk hormat sebelum mundur.

Setelah tersisa Anggi dan Luis di dalam ruangan, Luis berka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Azkia Nindya
Iklan melolo terlalu panjang
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1171

    'Kata-kata Kak Ishaq memang benar. Ayahanda dan Ibunda benar-benar orang tua terbaik di dunia. Zenna benar-benar merasa bahagia.'Tiga hari kemudian, tanggal 9 Juni.Hari itu, sidang pagi istana digelar.Luis secara resmi mengumumkan bahwa bulan depan dia akan turun takhta, sekaligus menyampaikan bahwa Aska telah memilihkan hari yang sangat baik untuk itu. Seluruh pejabat istana terkejut, tetapi juga tidak merasa benar-benar heran.Keinginan Kaisar untuk melakukan hal itu sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.Usai sidang pagi.Para pejabat pun berbondong-bondong menuju kediaman Putri Mahkota untuk menghadiri jamuan ulang tahun Putri Mahkota.....Di Biro Falak.Ishaq menuju Paviliun Rembulan. Dia melihat gurunya mengenakan jubah putih, sedang duduk bersila bermeditasi. Dia berdiri cukup lama dan tidak berani mengganggu.Akhirnya, dia memilih mencari tempat sendiri dan duduk bersila, lalu menenangkan pikiran sambil mengingat kembali kitab-kitab Tao yang pernah dia pelajari.Dua jam kemud

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1170

    Zahra terperangah, matanya membelalak tak percaya. "Ah, mana mungkin bisa seperti itu?"Ishaq tersenyum sambil menggeleng. "Kamu seharusnya bersyukur, Ayahanda adalah ayah yang baik."Zahra kebingungan. "Ayahanda tentu saja ayah yang baik!"Ishaq teringat sesuatu, lalu mengutip berbagai kisah sejarah kepada Zenna. Dia menceritakan tentang para putri kerajaan di berbagai dinasti yang dijadikan alat pernikahan politik, serta bagaimana akhir nasib mereka.Zenna langsung menutup telinganya. "Nggak, nggak, aku nggak mau dengar.""Kalau sampai begitu, lebih baik aku mati!"Ishaq tertawa ringan. "Kamu nggak akan sampai begitu. Karena Ayahanda, juga Kak Zahra, kami semua akan melindungimu. Lalu kenapa kita malah ingin memaksa Zahra memilih suami pendamping? Bukankah itu alasan yang sama?"Zenna terdiam sejenak. "Aku hanya takut ....""Kalau itu memang ujian Zahra, maka itu juga sudah menjadi takdirnya," ujar Ishaq. Setelah berkata demikian, dia membuka kembali bukunya dan melanjutkan membaca.

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1169

    Luis menatap ke luar jendela dengan penuh harapan.Zahra mengangguk. "Ayahanda pasti akan mewujudkannya."Tentu saja akan terwujud.Semua itu telah dia persiapkan lebih dari sepuluh tahun, lintas berbagai negeri. Bukan hanya peta rute yang diberikan Keswan, tetapi juga rute yang disiapkan Gilang. Semuanya ingin mereka kunjungi satu per satu."Mulai besok, Zahra akan tinggal di istana," ujar Zahra sambil tersenyum.Sebelumnya dia sempat dibuat kalut oleh perasaan yang belum jelas arahnya. Kini dia sadar, jika sekarang tidak meluangkan waktu untuk benar-benar berkumpul sebagai keluarga, kelak Ayahanda, Ibu, bahkan Zenna mungkin akan ikut bepergian. Saat itu, sekalipun dia ingin bertemu, yang tersisa hanyalah rindu dari kejauhan."Selamat jalan, Ayahanda," ucap Zahra memberi salam.Di luar kediaman Putri Mahkota, semua orang mengantar kepergian Kaisar, "Selamat jalan, Kaisar!"Zahra menoleh ke arah Arya. "Coba tebak, apa yang Ayahanda bicarakan denganku?" Sambil berkata demikian, dia berb

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1168

    "Maksud Ayahanda ...?"Luis berkata, "Di hari ulang tahunmu, aku akan mengumumkan bahwa bulan depan aku akan turun takhta."Zahra mengernyitkan kening. Harus diakui, dia memang merasakan sedikit gejolak di hatinya. Perasaan itu bukan kegembiraan, melainkan lebih kepada ketegangan. Dia teringat apa yang pernah dikatakan Ilham, bahwa banyak anggota keluarga kekaisaran yang berebut takhta hingga kepala berdarah-darah.Saling membunuh antar saudara, pemberontakan, segala cara ditempuh demi posisi itu. Sementara dia memperolehnya dengan begitu mudah. Tidak ada perasaan yang terlalu istimewa, bahkan di dalam hatinya sempat terlintas bahwa posisi itu seharusnya diduduki oleh Ishaq.Zahra berlutut. "Zahra akan mematuhi titah Ayahanda."Luis membantunya berdiri, lalu berkata dengan nada serius, "Saat ini, Perdana Menteri Kumar memimpin para menteri. Mereka semua adalah orang-orang yang diangkat Ayahanda sendiri. Bisa jadi kelak kamu akan sulit mengendalikan mereka. Karena itu, Ayahanda meningga

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1167

    Zahra mengatupkan bibirnya. Sejak dia menyetujui Arya dan memilih Arya sebagai suami pendamping, semuanya ternyata tidak sesulit dan sepahit yang dia bayangkan.Sebaliknya, hanya dengan membayangkan jika dia keluar dan berkata pada Arya bahwa dia tidak jadi memilih suami pendamping, lalu melihat ekspresinya yang terluka dan kecewa .... Baru sekadar membayangkannya saja sudah membuat hatinya tidak tega."Ayahanda, Zahra berterima kasih kepada Ayahanda." Tatapan Zahra ke arah ayahandanya kini menyiratkan lebih banyak rasa kagum dibanding sebelumnya.Perasaan itu seperti ... seperti perasaan ketika dulu dia memandang Paman Aska.Luis menatap kilau di mata Zahra. Seolah teringat sesuatu, dia lalu menghela napas. "Sepanjang hidup, Ayahanda sudah turun ke medan perang sejak muda. Dengan satu pertempuran, namaku jadi dikenal. Tapi kemudian, di pertempuran Uraba itu, Ayahanda dikhianati oleh anak buah sendiri, menjadi buta, wajah rusak, kaki patah, hidup serasa tak lagi berarti.""Tapi, Ayahan

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1166

    "Ayahanda, sebenarnya Arya yang mengajarkanku ilmu Tao ...." Zahra akhirnya hanya bisa berkata jujur. Lagi pula, dia sudah tahu bahwa dirinya memang bukan tandingan Arya.Luis mengeluarkan suara "oh". Aska ini benar-benar sudah mengubah putranya, putrinya, bahkan menantunya, semuanya menjadi praktisi Tao."Bagaimana kalau kalian berdua beradu sebentar?" ujar Luis.Zahra agak terkejut. Namun, kemudian dia mengangguk, "Baik, Ayahanda."Arya juga merangkapkan tangan ke arah Luis, "Baik, Yang Mulia."Zahra menoleh menatap Arya, dalam hatinya dia tidak mengerti mengapa Ayahanda tiba-tiba datang dan bahkan ingin melihat mereka beradu.Arya hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu Putri duluan?"Kedatangan Kaisar ke sini, sepertinya memang karena urusan suami pendamping. Lagi pula, Zahra baru saja mengatakan bahwa dia sudah menyampaikan kepada Permaisuri soal memilih Arya sebagai suami pendamping.Pasti Permaisuri telah berbicara pada Kaisar, itulah sebabnya Kaisar datang kemari.Zahra membentuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status